Prolog
"Goda Evan, Melani. Rebut dia dariku."
Kalimat itu menggantung di udara, membuat ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Melani membeku. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam tangan sang kakak perlahan mengendur. Wajahnya memucat, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil terjadi.
"Apa...?" Suaranya bergetar. “Sepertinya aku salah dengar, Kak.”
Rose tersenyum tipis dari atas ranjang. Senyum yang terlalu rapuh untuk disebut baik-baik saja.
"Kamu nggak salah dengar."
Air mata Melani langsung menggenang.
"Kak... jangan bercanda."
"Aku serius."
"Tapi... Evan itu pacar Kakak."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa Kakak menyuruh aku merebutnya?"
Rose tidak segera menjawab. Tatapannya beralih ke langit-langit kamar, seolah sedang menghitung sisa waktu yang tak lagi berpihak padanya.
"Karena suatu hari nanti... dia akan sendirian."
Melani menggeleng berkali-kali.
"Nggak. Aku nggak bisa."
“Kenapa?”
"Itu namanya mengkhianati Kakak."
Rose menggeleng pelan.
“Tidak, Mel…”
"Iya. Itu namanya merebut kebahagiaan Kakak." Melani bersikeras.
Rose kembali menatap adiknya. Sorot matanya begitu lembut, justru membuat daada Melani semakin sesak.
"Bagaimana kalau yang permintaanku agar kamu merebutnya adalah kebahagianku?"
Tangis Melani pecah. Ia bangkit dari kursinya dan mundur beberapa langkah.
"Nggak! Aku nggak mau, Kak!"
"Aku nggak akan pernah melakukan itu!"
Rose memejamkan mata sejenak.
“Mel… kakak tidak pernah minta apapun padamu selama hidup…”
Dadaa Melani terasa seperti diremas mendengar itu.
“Jadi… aku mohon…”
“Kak…”
"Aku sudah berhenti mencintai Evan, Mel."
“Apa?” Mata Melani terbelalak.
“Dia tidak boleh tahu itu.” Rose menatap Melani lekat. "Karena itu... aku ingin orang yang menjaganya nanti adalah seseorang yang benar-benar mencintainya."
Melani termangu.
"Tolong, Mel... buat dia jatuh cinta padamu..."
Melani menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa anyir. Ia ingin membantah dan mengatakan bahwa permintaan itu gila. Namun tak satu kata pun berhasil keluar. Sebab ada satu rahasia yang selama ini ia kubur sendirian. Rahasia yang bahkan tak pernah berani ia akui kepada dirinya sendiri.
Rose menarik napas panjang sebelum kembali bersuara.
"Andai kata, nanti seluruh dunia membencimu pun ...maukah kamu tetap melakukannya demi Kakak?"
Melani hanya mampu menangis. Ia tidak sanggup mengangguk atau menggeleng. Permintaan itu terlalu gila.
Sementara di luar sana, seseorang sedang menunggu dengan senyum bahagia dengan cincin yang siap untuk diberikan pada kekasih tercinta. Seorang pria yang sama sekali tidak tahu... bahwa perempuan yang paling dicintainya baru saja meminta perempuan lain merebut dirinya.