Author Pov.
Spindler Unversity sudah ramai dengan mahasiswa baru, hari ini ospek mahasiswa baru, memang disini sudah tidak ada tradisi saling bully membully hanya perkenalan mahasiswa dengan Dosen, dan pengenalan masing masing fakultas, semenjak Kezia mengambil alih Yayasan Spidler tidak ada lagi yang namanya Bulliying, yang ketahuan maka langsung di keluarkan, tidak perduli anak siapa, walaupun itu anaknya sendiri pun Kezia akan mengeluarkannya, beruntung si kembar bukan tipikal anak yang membuat ulah.
Fakultas Bisnis, Ekonomi, dan IT, menjadi fakultas terbanyak yang menerima mahasiswa, sednagkan fakultas Kedokteran, Farmasi, memang membatasi jumlah mahasiswa baru, hanya lima ratus untuk fakultas Dokter dan Tujuh ratus untuk fakultas Farmasi.
Ethaan sedang menyelesaikan tugas awal semesternya, baru pertama kali masuk kuliah di semester lima dan kelas Ethaan sudah mendapatkan tugas dari Dosen Anatomi, bukan hal yang sulit bagi seorang Ethaan, apa lagi dia memang menyukai dunia kedokteran, menurutnya sangat keren apa lagi tidak banyak Dokter laki laki saat ini.
“Kak Ethaan sayang jam tiga jangan lupa jemput Ale di sekolahan,”. Ethaan baru saja keluar dari ruang kelasnya ketika ponselnya berbunyi, benar ini sudah jam setengah tiga, putri barbar bentar lagi pulang sekolah.
“Ok”, Ethaan hanya membalas pesan adiknya itu dengan dia huruf.
Ethaan mengemudikan Bugatti chironnya meninggalkan halaman kampus, rata rata mahasiswa di kampus ini kuliah dengan membawa mobil bahkan jumlah mobil sport lebih banyak dari pada mobil biasa, kecuali mahasiswa yang tinggal di asrama, mereka akan naik bus penjemputan, yang tersedia tiap tiga puluh menit, dan berjalan dari satu fakultas ke fakultas lainnya hingga sampai di asrama, dan itu geratis untuk semua mahasiswa.
Ethaan sampai di sekolahan Ale, jaraknya tidak cukup jauh, lima menit lagi jam tiga, Ale sebentar lagi pulang, Ethaan menunggu di mobil saja, malas sekali dia keluar apa lagi banyak anak perempuan di sekolah ini yang menyukainya, Ethaan tidak ingin berurusan dengan anak kecil, apa lagi sampai memiliki pacar dengan anak SMA.
Mobil honda civic terparkir disampingnya, apa mereka tidak tau jika parkiran ini khusus untuk tamu penting? Namun Ethaan membiarkan saja, dia bukan tipekal orang yang mudah untuk membicarakan hal hal sepele seperti ini.
Ale masuk kedalam mobil Ethaan dengan baju kusut, rambut acak acakan, entah terkadang Ethaan tidak yakin jika Ale itu adiknya, atau dulu suster yang merawat adiknya salah mengambil bayi, jadi tertukar dengan bayi lain yang saat ini tumbuh menjadi gadis bar bar yang duduk disampingnya ini.
“Berantem lagi?,” Tanya Ethaan, memang seharusnya Ethaan tau jika Ale ada masalah di sekolah dia akan minta Ethaan menjemputnya, sedangkan saat dia tidak membuat ulah Elthan yang menjemputnya.
“Iya,, sama ketua osis, masa Ale telat dua menit upacara aja di suruh bersihin toilet, kan Ale enggak mau, jadi ya berantem.” Jawab Ale, Ethaan hanya geleng geleng, memang Ale tidak suka di atur tapi sekolah memang memiliki peraturankan?.
Sementara di luar mobil mereka dua orang beda kelamin sedang berjalan menuju mobil yang terparkir disamping mobil Ethaan.
“Kak, seriusan parkir disini?,” Tanya laki laki dengan seragam SMA Spindler.
“Kenapa emangnya, Cuma ada parkiran ini juga kok, yukk pulang kakak udah capek, tadi baru masuk kampus harus banyak banget penyesuaiannya.” Davano masuk kedalam mobil Cheril, kakak tersayangnya itu baru saja pindah ke Jakarta karena dari SMA dia memilih tinggal di Kanada menemani Grandmanya, tapi tiga bulan yang lalu Grandmanya meninggal mau tidak mau dia harus kembali ke Indonesia, padahal dia sudah nyaman dengan Kanada.
Ethaan memperhatikan mobil disampingnya, namun Ethaan tidak melihat dengan jelas siapa pengemudinya, yang pasti perempuan, tapi kenapa dia penasaran dengan pemilik mobilnya, ahhh sudah lah, mending pulang saja, Mommynya pasti sudah menunggu Ale, buat apa lagi kalau enggak di hukum ulang.
Ethaan sampai di mansion milik kedua orang tuanya, entah kenapa banyak mobil terparkir, mungkin ada tamu. Ethaan dan Ale masuk kedalam rumah, Mommynya sedang berbincang bincang dengan Tante Letisha, istri dari Om Devan asisten Daddy sekaligus sahabat Daddy.
“Ethaan, Ale, kalian baru pulang, Mommy sudah siapin makan buat kalian berdua, Elthan sudah pulang jam dua tadi, dia mungkin di kamarnya,” Ethaan hanya mengangguk, dia langsung bergegas ke meja makan, berbeda dengan Ale, dia langsung masuk kekamarnya.
Kedatangan Letisha ke mansion Xander dan Kezia, selain menemani Devan suaminya, dia mengantarkan pesanan Kezia entah apa yang Kezia pesan dari Cheril, sebenarnya Cheril ingin mengatar langsung, namun karena penyesuaian kampus dan segala macam jadi Cheril meminta Letisha untuk mengantar pesanan Kezia.
“Jadi Cheril mau pindah ke asrama?.” Tanya Kezia,
“Ya gitu, padahal aku masih kangen tapi mau gimana lagi, dia pengennya tinggal di asrama agar deket kekampusnya.” Kezia mengangguk, memang jarak rumah Devan cukup jauh dari kampus mungkin empat puluh menit jika tidak macet, dan Jakarta mana ada hari tanpa kemacetan ditambah Cheril harus menyesuaikan ulang mata kuliahnya, karena Cheril tidak ingin mengulang dari awal, jadi semester lima ini dia mengambil semester pendek.
“Nanti kita kunjungi Cheril sama sama, Cheril juga belum ketemu sama si kembar, padahal dulu mereka seperti saudara yang tidak mau dipisahkan.” Letisha mengangguk memang semenjak Cheril lahir Kezia dan Letsiah sering bertemu hanya untuk mengasuh buah hati mereka, namun saat Cheril berusia tiga tahun Devan dan Letisha pindah ke New York karena mengurus bisnis Xander yang makin berkembang. Devan dan Letisha baru kembali dua tahun yang lalu karena ingin menikmati masa tua mereka di Indonesia.
“Gimana kalau kita bikin makan malam bersama minggu depan?.” Letisha memberi usul.
“Boleh juga,,,” Setelahnya mereka membahas rutinitas sebagai seorang ibu dengan anak mereka yang cukup bandel.
Sementara dirumah Devan dan Letisha, Cheril membereskan barang barangnya yang akan dia bawa ke asrama besok pagi, dia tidak menyangka jika dia harus segera ke asrama, padahal dia masih ingin di rumah tapi mau gimana lagi orang tuanya sudah membayar untuk biaya asrama sayang kalau di biarkan begitu saja.
“Bi,, Bi Indah, tolong buatin cookies dong, Cheril suka cookies buatan Bi Indah,” Bi Indah memang masih bekerja di rumah Devan dan Letisha, sementara Bi Laila sudah meninggal beberapa tahun yang lalu di kampung halamannya.
“Iya Non, mau di buatin banyak atau dikit?.” Tanya Bi Indah,
“Banyak juga boleh Bi, mau Cheril bawa ke asrama.” Bi Indah mengangguk, dia segera menyiapkan bahan bahan untuk membuat cookies pesanan Cheril.
Davano masuk kedalam kamar Kakaknya, melihat Kakaknya sudah membereskan pakaiannya lagi, apa secepat itu Kakaknya pergi ke asrama.
“Kak, emang kapan ke asrama?.” Tanya Dava, dia sudah duduk di tempat tidur Kakaknya.
“Besok pagi kayaknya, kenapa?,” Tanya Cheril.
“Cepet banget Kak, emang enggak kangen ya sama aku?.” Tanya Dava.
“Gue malah bosen lihat muka lo,” Canda Cheril, membuat Dava langsung memanyunkan bibirnya.
“Gimana jadinya ketua osis SMA Spindler yang katanya pendiam, cuek, galak, jadi seimut ini sihhh,,,” Cheril menggoda Dava dengan mencubit pipi adiknya itu.
“Kak Cheril, awas ya,, nanti kalau Kak Cheril kesusahan Dava enggak mau bantuin.” Cheril hanya tertawa.
“Kakak juga enggak mau bantuin kamu belajar kimia kalau gitu,,” Cheril memeletkan lidahnya,
“Kak,, jangan dong, masa iya nilai aku hancur lagi, malu sama jabatan ketua osis.” Teriak Dava,
“Kalian berdua kenapa lagi?.” Tanya Devan, Devan baru saja sampai di rumah, ketika dia mendengar kedua anaknya ribut di lantai atas.
“Dad, Kak Cheril nakalin Dava,” Adu Davano pada Daddynya.
“Enggak Dad, Davano duluan yang mulai,” Cheril juga tidak mau mengalah.
“Sudah sudah, kalian ini, Dava bantuin Kakakmu beres beres, kalau enggak mending kamu bantuin Daddy mengurus file file yang belum Daddy selesaikan.” Dava mengangguk, dia segera keluar, lebih baik membantu Daddynya dari pada membantu Kakaknya yang usil itu.