Twins Lover's Part 2 Penolakan Cheril

1449 คำ
Author Pov. Pagi ini Cheril sudah siap dengan satu koper dan tas jinjing kecil, untuk buku buku Cheril sudah Cheril bawa ke asrama kemarin. Letisha menangis mengantar kepergian Cheril padahal tiap minggu Cheril masik bisa kembali ke rumah, memang dasar Mommynya lebay enggak ketulungan. Cheril mengemudikan mobilnya sendiri karena memang di asrama membolehkan mahasiswa untuk membawa mobil namun satu bulan hanya satu minggu, jadi minggu pertama ini Cheril membawa mobilnya dan minggu besok mungkin Daddynya yang mengantarnya ke asrama. “Sayang hati hati, kalau ada apa apa hubungi Mommy, jaga diri baik baik ya,,” Cheril mengangguk dalam pelukan Letisha. Devan dan Dava hanya geleng geleng melihat tingkah dua wanita spesial dalam hidup mereka. “Cheril pamit dulu, Lo berangkat bareng gue aja, biar Daddy enggak kesingan ngantornya,” Dava hanya mengangguk, lagian sekolah Dava dan kampus Cheril sejalan. “Ok, siap,” Dava langsung masuk ke mobil Cheril setelah pamitan pada orang tua mereka. Cheril menurunkan Dava di halaman SMA Spindler, banyak juga siswa disini. “Gue pergi dulu, bye..” Dava keluar dari mobil Cheril. “Bye, anak manja.” Ucap Cheril membuat Dava ingin kembali ke dalam mobil Kakaknya itu lalu mengacak acak rambut Kakaknya hingag menajdi singa. Tidak jauh dari tempat parkir Cheril, seorang laki laki menatap mobil Cheril, walau dia memang baru saja datang tapi dia yakin jika mobil itu mobil kemarin yang parkir disamping mobilnya. “Kak, kok bengong sih?. Ale pergi dulu, bye Kak Ethaan,” Ethaan hanya mengangguk, dia segera tancap gas ketika melihat mobil Civic hitam itu pergi meninggalkan SMA Spindler. *** Cheril sampai di asrama, dia segera mengeluarkan kopernya dan tas jinjingnya, ahhh pagi pagi begini asrama sudah banyak orang, semoga saja dia mendapat teman sekamar yang baik hati seperti di drama drama china yang sering dia tonton. Laki laki itu terus memperhatikan Cheril, namun karena Cheril menggunakan topi jadi wajahnya tidak terlalu terlihat. Wanita itu berhasil membuat seorang Ethaan, mahasiswa fakultas Kedokteran yang terkenal dingin bahkan beberapa orang menjulukinya ice prince, saat ini sedang penasaran dengan seorang wanita, wawww…. Cheril beruntung di asrama memiliki lift, dia mendapat kamar di lantai tiga, kemarin dia sempat bertemu dengan satu teman sekamarnya, dia mahasiswa IT, semester tiga, sam dengan Cheril tapi Cheril mengambil bisnis Internasional, melanjutkan jurusannya dulu di Kanada. Cheril memiliki kunci kamar asramanya, jadi dia dengan perlahan membuka pintunya, tidak ada orang apa mungkin Prisila sudah pergi ke kampus?. Tapi bukannya satu kamar ini untuk bertiga, mana teman satu kamarnya, ahh masa bodoh, mending dia segera memberskan baju bajunya di lemari, dia ada kuliah jam sepuluh pagi, dan ini jam delapan kurang, dia masih memiliki waktu selama dua jam. “Lo siapa?,” Cheril baru saja menata bajunya ketika mendengar orang bicara padanya, ternyata sedari tadi ada orang, tapi sedang ke kamar mandi. “Gue Cheril salam kenal, gue pindah ke asrama karena mengambil semester pendek, nama lo siapa?.” Cheril sudah berhadap hadapan dengan teman satu asramanya, dia terlebih dulu mengulurkan tangannya. “Gue Tania, mahasiswa Hukum semester tiga, salam kenal balik,” Cheril mengangguk, mereka berjabat tangan. “Gue kira Prisila bohongin gue lagi, ternyata benaran ada temen baru,” Cheril tersenyum. “Tunggu, lo bule ya?, tapi kok bisa bahasa indo lo lancar?.” Tania baru menyadari jika rambut Cheril pirang dan memang gen Devan yang bule tujuh puluh persen ada pada Cheril. “Daddy orang kanada, Mommy orang Jogja,” Tania mengangguk. “Jadi lo pendatang di Jakarta?.” Tanya Tania lagi. “Enggak kok, dulu gue lahir di Jakarta, tiga tahun kemudian pindah ke New York sampai lulus junior high school, terus pindah ke Kanada nemenin grandma sekolah disana, kuliah juga disana tapi terpaksa pulang ke Indo karena gue disana sendirian, Grandma udah meninggal, jadi terpaksa balik ke Jakarta.” Tania mengangguk. “Wahhh anak orang kaya ya lo?.” Tanya Tania lagi, “Enggak juga, biasa aja sih di bandingkan dengan Lo dan Prisila,” Cheril emnunjukan tas tas branded di ruang ini, walau sebenarnya Cheril mempunyai yang lebih mahal dari pada itu tapi dia di ajari Mommynya untuk merendah pada orang lain. “Oww,,, gue harus siap siap, jam sepuluh gue ada kelas,” Cheril hanya mengangguk. Lebih baik dia juga mandi dan bersiap siap. Setengah Sembilan kurang Cheril sudah di halte depan asrama, tadi dia sempat bertanya pada petugas asrama rute bus ke fakultas bisnis, katanya jam setengah Sembilan bus penjemputan datang, benar, ada bus yang berhenti Cheril segera masuk kedalam bus penjemputan. Tidak lama bus berhenti di halte Fakultas bisnis, cheril tidak menyangka jiak fakultas bisnis akan sebesar ini, memang Fakultas Bisnis menjadi fakultas favorit di Spindler University, tidak heran gedungnya sebesar ini. Cheril segera masuk ke dalam, banyak mahasiswa berlalu lalang, Kelas pertama hari ini stastika manajemen, di lantai tiga, Cheril segera menuju ke lantai tiga, beruntung ada lift jadi dia tidka perlu menggunakan anak tangga untuk naik ke atas. Cheril cukup kebingungan dimana kelas statistika manajemen, ini baru pertama kalinya dia masuk ke kampus ini, mungkin nanti jika dia memiliki teman dia akan memintanya untuk tour di kampus ini. Tanta Kezia memang hebat bisa mengelola kampus sebesar ini belum lagi SMA, SMP, SD, dan Tk milik Spindler dimana mana. Setelah bertanya pada mahasiswa yang Cheril temui di lorong akhirnya dia bisa menemukan kelasnya, masih ada sepuluh menit lagi, mungkin Cheril bisa belajar sebentar. Cheril fokus dengan bukunya, tidak memperdulikan mahasiswa lain yang berlalu lalang di kelas ini. Dosen datang tepat jam sepuluh pagi, Cheril sudah membaca beberapa halaman semoga saja materinya sama karena dia mengambil kelas Internasional. Dua jam berlalu, kelas Cheril akhirnya selesai juga, Cheril juga mendapatkan teman namanya Anggika, beruntung Delapan mata kuliah yang Cheril ambil Anggika juga mengambil enam mata kuliah yang sama, dan asrama mereka juga di Gedung yang sama, bedanya Cheril di kamar 131 sedangkan Anggika di kamar 137. Cheril bahkan meminta Anggika untuk menemaninya keliling di fakultas bisnis, agar dirinya tidak tersesat seperti tadi pagi. Mereka berdua sedang mengadakan tour di fakultas bisinis, lngsung menoleh ketika melihat segerombolan wanita sedang mengejar seorang laki laki tampan sepertinya bukan orang Indonesia asli. “Dia Elthan, anak pemilik kampus ini, dia juga memiliki saudara kembar namanya Ethaan, namun kepribadian mereka bertolak belakang, jika Elthan laki laki penuh senyum dan suka menggoda wanita sana sini, berbeda dengan Ethaan ice princenya fakultas kedokteran itu sangat dingin pada wanita, irit bicara, tapi entah kenapa banyak banget wnaita yang mengejar dia, bahkan dulu saat dia memiliki loker banyak sekali chocolate, kue, bunga, dari para fansnya, bahkan surat cintapun tidak kalah banyak.” Cheril tercengang, bagimana bisa para wanita mengejar laki laki, bukannya sebaliknya ya? Atau mungkin zaman sudah berubah. “Pantes aja sih kalau mereka dijadikan rebutan, secara keluarga Timothy sangat terpandang, apa lagi bisnisnya luar biasa, lo enggak ikutan juga kaya mereka?.” Tanya Cheril pada Anggika. “Gue enggak mau, gue udah ada tunangan, gagal nikah deh kalau tunangan gue tau gue ngejar ngejar si kembar, mana tunangan gue temenan sama mereka.” Jelas Anggika. “Kirain lo jomblo,” Canda Cheril. “Lo sendiri apa kabar?,” Tanya Anggika. “Gue belum pacaran, Daddy gue dulu badboy abis, makanya dia posesif banget sama gue, jadi ya gue jomblo deh.” Balas Cheril, dengan wajah mengenaskan. “Kasih banget sih hidup lo,” Cheril hanya mengangguk. “Udah setengah satu, mending kita makan siang dulu, biasanya kantin cukup ramai jam segini.” Cheril mengangguk, mereka berdua melangkah ke lantai satu tempat kantin berada. Benar apa kata Anggika, banyak sekali mahasiswa di kantin yang makan ataupun hanya nongkrong, lagi lagi mereka bertemu dengan segerombolan wanita yang sibuk menfoto laki laki yang katanya paling famous di fakultas bisnis, siapa lagi kalau bukan Elthan. “Cheril, lo mau makan apa?.” Tanya Anggika, saat ini mereka sedang bingung ingin makan apa, banyak sekali pilihannya. “Makan mie ayam aja deh, kayaknya enak,” Cheril ketagihan makan mie ayam gara gara Dava, saat itu Cheril baru sampai di Jakarta, Dava ngajak makan siang, Cheril kira mereka makan di restoran atau café, tapi adiknya itu membawanya makan di pinggir jalan, Cheril di pilihkan mie ayam karena Dava tau Cheril suka dengan olahan mie, saat itu juga Cheril langsung jatuh cinta bahkan selama sepuluh hari dia di Indonesia sudah tujuh kali Cheril makan mie ayam. Setelah mereka memesan mie ayam untuk Cheril dan bakso untuk Anggika mereka memilih tempat duduk, namun seorang laki laki memanggil Anggika, menyuruhnya bergabung. “Itu, tunangan gue,” Bisik Anggika sebelum mereka melakah ke meja dimana tunangan Anggika dan teman temannya kumpul. “Hai Bryan,” Anggika langsung duduk disamping Bryan, Cheril pun duduk disamping Anggika. “Wiihhh, siapa nih?.” Tanya Elthan, tentu Cheril tau, karena tadi Anggika sudah menjelaskan. “Cheril temen baru gue, mahasiswa baru semester tiga, pindahan dari Kanada,” Jelas Anggika. “Cheril, gue Elthan, cowok terganteng di fakultas bisnis, anak pemilik kampus ini, so boleh dong kapan kapan kita jalan,” Elthan memperkenalkan dirinya, Cheril hanya tersenyum, tanpa memperdulikan ucapan Elthan, beruntung mie ayamnya datang jadi dia langsung memakan mie ayamnya tanpa memperdulikan Elthan yang duduk dihadapannya. Anggika, Bryan, Zio, hanya mampu menahan tawa ketika seorang Elthan di tolak secara langsung. “Lo enggak kenal gue?, lo enggak tau siapa gue?.” Tanya Elthan penasaran. “Gue cukup tau siapa lo, geu tau siapa orang tua lo, tapi gue enggak mau buang buag waktu untuk meladeni laki laki kayak lo, mending lo pilih mereka aja, yang ngintilin lo tiap waktu,” Tunjuk Cheril pada perempuan yang sedari tadi sibuk memfoto Elthan.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม