Author Pov.
Cheril langsung terkenal seantero kampus gara gara penolakannya pada Elthan tadi siang, bahkan saat dia di kelas pun banyak mahasiswi yang sibuk menggosipkannya, beruntung dia selalu membawa ipodnya, jadi dia tidak akan terganggu dengan mereka yang asik bergosip.
Cheril sedang membaca buku ketika seorang dengan paksa mengambil bukunya.
“Lo, siapa?,” Tanya Cheril dengan beraninya.
“Gue peringatin ya, jangan pernah deket deket sama Elthan, dia itu milik gue, cewek kaya lo enggak pantes buat Elthan,” Cheril enggak tau siapa wanita dihadapannya ini, namun sepertinya dia salah faham.
“Gue enggak ada urusan ama lo, apa lagi Elthan, balikin buku gue,” Cheril meminta bukunya, tapi wanita itu dengan gampangnya merobek buku Cheril, wtf, padahal buku itu dari Kanada, mungkin di Indonesia belum ada dan perempuan itu merobeknya, Cheril enggak terima akan hal itu langsung merebut bukunya secara paksa.
“Lo, kalau kurang kerjaan mending belajar, jangan gangguin orang, dan juga gue minta ganti rugi buku gue,” mereka kini menjadi tontonan mahasiswa di kelas ini dan juga beberapa mahasiswa yang mengintip lewat jendela.
“Halah, buku kaya gini di gramed banyak, miskin amat sih lo, buku kaya gini minta ganti rugi.” Perempuan itu meremehkan Cheril.
“Buku itu gue beli satu bulan yang lalu di Kampus gue yang lama, buku itu hanya di terbitkan disana, gue tau lo anak orang kaya jadi gue harap lo bisa mengganti buku itu secepatnya, aahhh kampus gue Queen’s school of business Kanada.” Cheril mengambil tasnya, kemudian melangkah pergi meninggalkan kelas, memang kelas sudah selesai beberapa menit yang lalu, namun Cheril masih di kelas karena ingin belajar dulu, tapi malah ada perusak suasana.
Cheril sampai di halte, dia menunggu bus yang mengatarnya ke asrama. Lagi lagi seorang pengganggu datang, siapa lagi kalau bukan Elthan, lagian kampus sebesar ini kenapa masih bertemu dengan Elthan.
“Cheril, gue anter yuk, rumah lo dimana?.” Tanya Elthan, namun Cheril hanya diam, bahkan dia mengencangkan volume ipodnya agar tidak mendengar suara Elthan.
Sementara Elthan hanya mampu menghela nafas, segini susahnya ya mengerjar wanita ternyata, sedari dulu memang Elthan lah yang di kerja wanita, tapi sekarang Elthan yang mengejar wanita.
Bus datang tepat waktu, Cheril segera naik ke bus tanpa memperdulikan Elthan yang duduk di halte.
***
Hari ini hari jumat, Cheril pulang ke rumahnya, tapi terlebih dulu menjemput Dava, katanya ada pramuka di sekolahnya jadi pulang sore.
Cheril sampai di sekolah Dava, cukup sepi, hanya satu dua orang berlalu lalang, mana Dava coba, mending Cheril menghubungi Dava saja.
Sambil menunggu Dava Cheril duduk di kap mobilnya, suasana sejuk di sore hari dengan angin semilir membuatnya betah.
Tiba tiba ada mobil parkir disamping mobil Cheril namun Cheril hanya diam.
Ethaan sore ini kebagian menjemput Ale, entah apa lagi yang Ale lakukan, namun Ethaan beruntung, dia bertemu lagi dengan wanita yang membuatnya penasaran selama beberapa hari ini.
Ethaan segera keluar dari mobil sportnya, kali ini dia menggunakan Audi A5 miliknya, beruntung dia tadi sudah mandi di ruang pribadi miliknya, seharian ini dia mulai praktek pembedahan mayat, otomatis bau dimana mana.
Ethaan hanya memperhatikan wanita itu dari tempat duduknya, sementara Cheril sendiri heran dengan tingkah Elthan, biasanya Elthan akan bicara panjang kali lebar, merayunya kini hanya diam sambil sesekali meriliknya.
“Kak Cheril..” Dava memanggil Cheril sambil melambaikan tangannya, Cheril dengan senang hati membalas lambaian tangan Dava sambil tersenyum, hal seder hana yang mampu menggetarkan hati seorang Ethaan.
“Kak Ethaan, ayo pulang,” Ale datang di saat yang tidak tepat, mengganggu lamunan Ethaan saja.
“Dava, kenalin Kakak gue, yang paling tampan, bahkan dia dijuluki ice prince saking dinginnya dia, mahasiswa di Spindler University fakultas kedokteran.” Ale mengenalkan Ethaan pada Dava. Cheril ingat jika Elthaan memiliki saudara kembar pantesan aja sih, beda banget ternyata ini Ethaan saudara kembar Elthan.
“Ale kenalin nih Kakak gue, Cheril, wanita paling gue sayang setelah Mommy, gue panutan gue,” Dava tidak mau kalah dengan Ale, jika Ale punya Ethaan maka Dava punya Cheril.
“Dava, masuk ke mobil atau lo gue tinggal.” Dava mengangguk, dia segera masuk kedalam mobil, begitu juga Cheril, bahkan dia mengabaikan Ethaan dan Ale.
Cheril langsung merebahkan tubuhnya di sofa ketika sampai dirumah, selama empat hari ini dia jarang istirahat, bahkan malam hari saat semua orang sudah tidur dia masih belajar, memang resiko mengambil semester pendek ya seperti ini, selai banyak tugas dia harus mengejak ketertinggalan walau ada beberapa matakuliah yang dulu dia ambil di kampusnya ada di di semester depan tapi Cheril tidak ingin membuang buang waktunya.
“Cheril kamu pulang sayang?.” Letisha datang dari dapur masih dengan clemeknya, mungkin mommynya baru selesai masak.
“Cuma balikin mobil aja, nanti paling minta supir buat nganter ke asrama,”Letisha mengangguk, padahal dia masih kangen sama anaknya tapi anaknya hanya pulang sebentar.
***
Sementara di mansion Kezia, dua anak laki lakinya bertingkah aneh, yang satu uring uringan enggak jelas, yang satu sedang sibuk membaca buku tapi beberapa kali mengecek ponselnya, Kezia tau Ethaan sedang merencanakan sesuatu dan Elthan, Ale mengatakan jika Kakaknya itu sedang galau gara gara di tolak cewek.
Kezia bahkan penasaran cewek mana yang berani menolak anaknya, mungkin besok dia harus mengunjungi kampus agar tau siapa perempuan yang berhasil membuat anaknya uring uringan tidak jelas. Selama ini Elthan memang banyak memiliki teman wanita, bahkan kebanyakan dari mereka yang mengerjar Elthan, tapi sekarang mungkin anaknya sendang mendapatkan karma, gara gara sering mempermainkan wanita.
“Mom,, tau enggak tadi Kak Ethaan mandangi cewek lama banget, kayaknya bentar lagi Mommy bakalan punya mantu deh,” Ale ikut duduk disamping Mommynya, saat ini mereka sedang di ruang keluarga, menjelang makan malam memang mereka berkumpul di ruang keluarga menceritakan hari mereka masing masing.
“Siapa Dek?.” Tanya Xander penasaran.
“Kakaknya musuh aku Dad, tapi Dad, cantik banget, rambutnya pirang, cantik pokoknya, cocok sama Kak Ethaan deh, nanti kalau punya anak rambutnya pirang matanya abu abu, kalau cewek lucu abis.” Xander dan Kezia hanya mengangguk sambil tersenyum, menggoda anaknya yang sibuk membaca buku.
“Jangan percaya Ale,” Ethaan hanya memberi tanggapan itu, lalu melanjutkan membaca bukunya.
“Kak Ethaan ihhh,, kalau suka ya di kejar jangan di diemin aja, nanti di ambil orang tau rasa,” Sambung Ale.
“Anak kecil tau apa?, mulai besok aku enggak mau jemput Ale, biarin supir yang antar jemput,” Ucap Ethaan, membuat Ale tidak terima, enggak bisa pamer lagi dong kalau dia di anter jemput supir.
“Enggak mau, pokoknya Kak Ethaan harus yang anter jemput Ale,” Balas Alesha.
“Boleh aja, asal tiap hari kamu bersihin kamar Kakak, rapiin buku Kakak, cuci mobil Kakak juga,” Ale bengong dengan permintaan Ethaan.
“Kak Ethaan!!, Mom Dad, Kak Ethaan tuhh,” Ale mengadu pada kedua orang tuanya.
“Sudah sudah jangan bertengkar, kalian ini sudah dewasa kenapa masih kaya anak kecil, Ale panggil Elthan, kita makan malam,” Perintah Xander, Ale hanya menurut, tumben Kakaknya itu tidak ikut kumpul bersama.
“Ethaan, apa Elthan ada masalah?.” Tanya Xander pada anaknya.
“Entah, tapi Bryan bilang Elthan di tolak cewek,” Ucap Ethaan, Ethaan sudah melangkah terlebih dulu ke meja makan.
“Wahhhh hebat sekali perempuan itu, aku jadi pengen ketemu sama perempuan itu, aku akan kasih selamat akhirnya ada perempuan tidak terpesona dengan Elthan,” Xander bergurau pada Kezia.
“Aku juga mau lihat, katanya mahasiswi baru,” Xander dan Kezia saling pandang lalu tersenyum, ada rencana di balik senyum mereka berdua.
Mereka berlima makan malam dengan penuh canda tawa, kecuali Elthan yang galau dan Ethaan yang tidak bisa di ajak bercanda,
“Elthan kenapa, kok enggak di makan, apa masakan Mommy enggak enak ya?.” Tanya Kezia, padahal aslinya dia ingin memancing Elthan bicara.
“Enggak Mom, ini enak kok, Cuma Elthan enggak selera makan aja,” Sambung Elthan.
“Kamu mau makan apa, biar Mommy buatin?.” Tanya Kezia.
“Enggak Mom, Elthan udah kenyang, Elthan ke kamar duluan,” Elthan melangkah meninggalkan meja makan, selera makannya hilang gara gara tadi sore dia melihat Cheril makan di pinggir jalan dengan seorang laki laki, apa mungkin Cheril sudah memiliki kekasih? Makanya dia menolak Elthan, tapi masa iya Cheril punya pacar sih?.
“Ahhhh memang kalau patah hati semuanya hancur, kalau kata anak sekarang ambyar, bener enggak Ale?.” Tanya Kezia.
“Bener banget Mom,, Kak Elthan sengsara banget wajahnya, tapi biar jadi pelajaran buat Kak Elthan, biar enggak mainin cewek mulu,” Kezia mengangguk, memang Elthan itu playboy, suka tebar pesona sana sini, phpin cewek, sekarang kena karmanya deh.