Malam Paling Dingin.
"Kamu tahu apa yang lebih nikmat dari mengalahkan Adrian?" Julian berbisik, jemarinya yang kasar menelusuri leher Elena yang terbalut kalung berlian pemberiannya.
"Menjamah miliknya yang paling berharga."
Elena memejamkan mata, merasakan sensasi dingin dari berlian itu kontras dengan napas panas Julian yang menerpa telinganya. Di ruangan VIP yang remang-remang ini, wangi maskulin Julian yang bercampur aroma whisky terasa seperti candu yang berbahaya. Padahal, hanya beberapa kilometer dari sini, suaminya—Adrian—mungkin sedang memeluk wanita lain di ranjang yang seharusnya milik Elena.
"Aku bukan miliknya lagi, Julian," desah Elena, suaranya parau.
"Dia sudah membuangku sejak dia membawa wanita itu masuk ke rumah kami."
Julian terkekeh rendah, suara yang menggetarkan d**a Elena. Tangan pria itu berpindah, mencengkeram dagu Elena agar menatap langsung ke netra gelapnya yang penuh obsesi.
"Justru itu menariknya. Dia membuang berlian demi kerikil, dan aku ... aku paling suka mengambil apa yang bodohnya dia sia-siakan."
Elena tahu ini salah. Bermain api dengan musuh bebuyutan suaminya adalah tiket menuju kehancuran sosial. Namun, saat Julian menciumnya—sebuah ciuman yang penuh tuntutan dan rasa lapar—Elena tidak merasa hancur. Untuk pertama kalinya setelah setahun dipaksa menjadi istri yang "mandul" dan tak berguna, ia merasa hidup.
Ia tidak lagi peduli pada suara rintihan Tyas yang sering menembus dinding kamarnya di rumah. Di sini, di bawah kuasa Julian, Elena bukan lagi korban. Ia adalah ratu yang sedang menyiapkan langkah pertama untuk menghancurkan kerajaan pria yang telah mengkhianatinya.
===
Jemari Elena gemetar saat ia menghaluskan sprei sutra berwarna merah marun di atas ranjang king size itu. Kamar ini bukan miliknya. Ini adalah kamar tamu paling mewah di sayap timur mansion keluarga Adiguna, yang kini telah disulap menjadi kamar pengantin baru. Setiap lipatan kain yang ia rapikan terasa seperti sembilu yang menyayat telapak tangannya. Sebagai istri pertama, ia dipaksa oleh hukum adat keluarga dan tekanan mental dari suaminya sendiri—Adrian—untuk memastikan segala sesuatu sempurna bagi wanita yang akan berbagi ranjang dengannya mulai malam ini.
Elena menatap buket bunga lili putih yang tertata rapi di meja samping tempat tidur. Aroma bunga itu sangat kuat, memenuhi paru-parunya hingga ia merasa mual. Lili adalah bunga favoritnya, dan Adrian tahu itu. Menggunakan bunga favorit Elena di kamar pengantin istri keduanya adalah bentuk penghinaan halus yang direncanakan dengan sangat rapi.
"Elena? Kenapa lama sekali? Adrian dan Tyas sudah hampir selesai menyapa tamu di bawah."
Suara tajam Rina, ibu mertuanya, memecah kesunyian yang mencekam. Wanita tua itu berdiri di ambang pintu dengan gaun brokat emas yang sangat megah, wajahnya memancarkan keangkuhan yang tak tertandingi. Bagi Rina, Elena hanyalah sebuah produk gagal. Sebuah investasi yang tidak memberikan imbal balik berupa pewaris tahta.
"Sudah selesai, Ma," jawab Elena lirih, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi.
"Bagus. Ingat posisi pribadimu malam ini, Elena." Rina melangkah masuk, mengusap permukaan meja rias dengan ujung jarinya yang berkutek merah, memeriksa debu.
"Jangan memasang wajah murung seperti itu di depan tamu. Tyas adalah wanita muda, dia masih segar dan subur. Dia akan memberikan apa yang tidak bisa kamu berikan selama lima tahun pernikahanmu. Sambut dia dengan senyum, atau kamu tahu pintu keluar dari rumah ini selalu terbuka untuk wanita yang tidak berguna."
Elena hanya bisa mencengkeram pinggiran ranjang hingga buku-buku jarinya memutih.
Mandul.
Kata itu adalah vonis mati yang dijatuhkan Adrian setahun lalu setelah ia membawa hasil laboratorium dari klinik keluarga. Elena masih ingat bagaimana dunianya runtuh saat itu; bagaimana ia menangis di pelukan Adrian, memohon maaf karena merasa telah mengecewakan suaminya. Dan Adrian, dengan liciknya, memanipulasi rasa bersalah itu untuk menggiring Elena menyetujui pernikahan kedua ini.
"Aku mengerti, Ma," bisik Elena.
Rina berlalu pergi dengan langkah yang berderap di atas lantai marmer, meninggalkan aroma parfum melati yang menyesakkan. Elena berdiri mematung. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di sudut ruangan. Ia mengenakan kebaya hitam yang sederhana namun elegan. Wajahnya cantik, kulitnya mulus, dan matanya menyimpan kecerdasan seorang lulusan terbaik universitas ternama. Namun di rumah ini, semua prestasi dan kecantikannya tidak berarti apa-apa tanpa seorang bayi laki-laki di pelukannya.
Tak lama kemudian, suara tawa terdengar dari lorong. Jantung Elena berdegup kencang, sebuah alarm alami yang meneriakkan rasa sakit dan mual secara bersamaan.
Pintu terbuka lebar. Adrian masuk dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Ia tampak sangat tampan, namun di mata Elena, pria itu kini tampak seperti monster yang memakai topeng manusia. Di lengannya, Tyas menggelayut manja. Wanita itu mengenakan kebaya putih transparan yang sangat provokatif, dengan riasan wajah yang berlebihan untuk menunjukkan kemudaannya.
"Semua sudah siap, Elena?" tanya Adrian dengan nada datar, seolah ia sedang berbicara pada pelayan pribadinya.
Elena menelan ludah yang terasa pahit. "Sudah. Semua sudah sesuai keinginan Mama."
Tyas tersenyum manis, senyum yang mengandung bisa ular.
"Terima kasih banyak, Kak Elena. Maaf ya sudah merepotkan Kakak untuk mengurus kamar kami. Mas Adrian bilang, Kakak memang paling pintar mengatur urusan rumah tangga."
"Sudahlah, Tyas. Elena memang sudah seharusnya membantumu, dia kakak madumu sekarang," potong Adrian, namun matanya sempat bersirobok dengan mata Elena. Ada kilatan aneh di sana—mungkin rasa puas melihat istrinya yang berpendidikan tinggi kini tunduk tak berdaya.
Elena berjalan melewati mereka tanpa kata. Namun, saat ia berada tepat di samping Adrian, ia bisa mencium aroma parfum suaminya yang bercampur dengan wangi Tyas. Sebuah pengkhianatan yang kini memiliki aroma nyata.
Elena masuk ke kamarnya sendiri yang berada tepat di sebelah kamar pengantin itu. Ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, dan merosot ke lantai. Ia tidak menyalakan lampu. Dalam kegelapan, ia merasa lebih aman.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Dinding mansion ini memang tebal, namun di tengah kesunyian malam yang mencekam, suara-suara itu mulai merambat masuk. Tawa genit Tyas, suara berat Adrian yang memuji betapa indahnya istri barunya, dan kemudian ... suara ranjang yang berderit secara berirama.
Elena menutup telinganya dengan kedua tangan, namun suara itu seolah menembus kulit dan dagingnya, langsung menghujam jantungnya. Ia membayangkan suaminya—pria yang lima tahun ini memeluknya dan membisikkan kata cinta—kini sedang melakukan hal yang sama pada wanita lain hanya beberapa meter dari tempatnya duduk.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya. Isak tangisnya pecah, tertahan oleh telapak tangannya sendiri agar tidak terdengar ke sebelah. Rasa sakitnya luar biasa; sebuah penghinaan yang sangat telanjang. Ia merasa seperti sampah yang dibuang di pojok ruangan sementara pemiliknya menikmati mainan baru.
Di tengah kehancurannya, sebuah kilatan amarah mulai muncul di dasar hatinya. Amarah yang dingin dan jernih.
'Cukup.'
Elena menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri dan menyalakan lampu meja rias. Di sana, di laci paling bawah yang terkunci rapat, tersimpan sebuah dokumen yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Sebuah investasi rahasia yang ia terima secara anonim beberapa minggu lalu dari seorang investor yang mengaku sebagai pengagum rahasia karyanya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya yang merah karena tangis kini mulai menajam.
"Kamu ingin aku menjadi istri yang patuh, Adrian?" bisiknya pada kegelapan. "Maka aku akan menjadi sangat patuh hingga kamu tidak akan sadar saat aku perlahan-lahan menguras semua yang kamu miliki."
Malam itu, di bawah suara rintihan pengkhianatan dari balik dinding, Elena tidak lagi menangis. Ia mulai menyusun rencana. Jika Adrian ingin bermain api dengan mendatangkan istri kedua, maka Elena akan membakar seluruh rumah ini dengan cara yang paling elegan.