Dua: EKSEKUTOR

1770 คำ
Sebelum memutuskan bulat-bulat untuk benar-benar mengeksekusinya malam ini, kucari segala tentangnya dari internet dan obrolan dengan warga sekitar. Jangan sekali-kali bilang aku kurang kerjaan. Bagiku, betapa banyak kebejatan yang telah dia perbuat, membuat alasanku untuk mengeksekusinya dengan cara tersadis adalah tepat. Anggap saja, itu sebagai pengganti siksaannya di Neraka. Maka akupun kembali ke tempat itu. Jam di lobi kantor ini baru saja menunjukan pukul 8.47 malam ketika aku tiba. Tempat sudah sepi pengunjung. Pegawai pun banyak yang sudah pulang, entah sejak kapan. Dari salah satu pekerja kasar di kantor ini, aku mendapat informasi bahwa Hudson akan tinggal sampai jam 9 malam karena ada rapat dengan tim utama dan Senator Thompson. Makanya, aku memilih kembali ke mari saat jam malam—bukannya menghampiri rumahnya yang sudah pasti berkeamanan tingkat tinggi itu. Yah, orang busuk ini ternyata pernah cukup berpengaruh di tata pemerintahan Devensville, kawan.. Aku jelas tidak akan terlalu bodoh untuk nekat masuk ke rumahnya. Eksekusi yang aku rencanakan tidaklah rumit—setidaknya kalau ini disamakan dengan eksekusi psikopat-psikopat Amerika lainnya. Mereka jauh lebih rumit. Mereka terbiasa menghabiskan tiga jam untuk bermain-main dengan korbannya. Aku tidak akan seperti itu malam ini. Tiga jam? Yang benar saja? Bisa-bisa polisi keburu menangkapku di sini.. Eksekusi ini hanya akan berlangsung paling lama satu jam (acara inti-nya). Hudson hanya harus diam di ruang kerjanya dan memandangiku beraksi pada tubuhnya. Bukan, aku bukan hendak menyetubuhinya atau apapun itu. Aku hanya akan menyekapnya di ruang kerjanya sendiri, dan mungkin...memeraktekan pelajaran anatomi manusia. Kau pernah mempelajarinya? Jujur saja, aku hanya membaca detil tubuh manusia dari buku biologi. Aku sama sekali belum pernah melihat dalamnya secara langsung. Membayangkan bagaimana darah akan mengalir dari setiap luka yang aku buat di tubuhnya, entah kenapa membuatku semangat. Yah, mungkin itu salah satu kelebihan psikopat? Entahlah haha. Jika tadi aku menyamar sebagai tukang kebun, sekarang kostumku lebih fleksibel. Baju-baju politikus—celana bahan, atasan kemeja putih, dengan jas yang melingkupinya. Aku masuk dengan mudah, menyelinap diantara kegelapan, lewat pintu belakang kantor yang letaknya kutemukan ketika menaruh sampah ke pembuangannya. Di dalam, aku membaur, masuk ke ruangan Hudson yang entah kenapa tidak dikunci, dan selesai. CCTV merekamku? Ahahaha, tenang saja.. Tidak. Kau tahu kenapa? Bagusnya, di sekitar jalur perjalananku menuju ruangan Hudson, tidak ada CCTV. Jadi tebak, aku aman. Beberapa saat kemudian, aku mendengar di depan ruangan ini mulai ramai. Pelan, aku mengambil satu senjata pamukasku dari tas peralatan yang kubawa. Pistol bius. Aku pinjam alat itu dari polisi tertampan kota ini. Namanya Earl Hawkins. Cerita tentangnya akan menyusul ya, setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Si i***t Hudson ini. KLK! Tuas pintu ruangan ini ditarik. Sigap, aku bersembunyi di balik dinding yang sejajar dengan pintunya. Tak lama, benar saja—Hudson masuk, hendak mengemas barang-barangnya dan beberapa file pekerjaan untuk dibawa pulang. Ketika dia tiba di depan brangkasnya (jelas yang pertama akan diambil orang itu adalah uang sogokan tadi siang..), sisi psikoku melaksanakan tugas. Satu tembakan pistol bius berhasil membuatnya tergeletak tak berdaya. Huh, untung saja aku memperhatikan pelajaran dari Earl tentang menembak tepat sasaran. Hahaha. Sekali tembak, Hudson pingsan di hadapan brangkas mini-nya sendiri. Kemudian, aku benar-benar memilikinya—di dalam ruang kerjanya sendiri yang kukunci dari dalam, seolah si pemilik ruangan sudah pulang ke sarang megahnya. * Selama Hudson pingsan—atau tepatnya empat jam setelah aku tembak (aku juga heran dia bisa pingsan se-lama itu.. -_-)— aku melapisi ruangan yang tak terlalu luas ini dengan dinding kedap suara. Orang itu tidak akan bisa memanggil bantuan sekarang. Begitu terbangun, Hudson menyadarinya, makanya mata biru itu langsung memandang sekelilingnya dengan mencerna. Wajahnya lebih banyak berkata, apa-apaan...? Lalu pandangannya beralih kepadaku. “S-siapa kau...?!” Kulirik Hudson sekilas. Matanya terlihat membulat melihat apa yang aku lempar-lempar dengan santainya ke atas. Alat favoritku, omong-omong. Pisaaau lipat. Tepat.  “Aku tidak akan memberitahu biodataku, jika itu yang kau maksud, bajingan.” Sialan—muka Hudson berkata keras-keras. Dia panik, haha. “K-kau pasti pembunuh bayaran yang dikirim Gustaf?! Huh?! JAWAB!” Pembunuh bayaran? Segitu takutnya kah ia mati ketika hendak menuju ke ambang kejayaannya yang diraih dari cara kotor? Sangkaan dangkalnya itu terang membuatku tertawa keras seraya mendekatinya yang terikat di tangan, di depan brangkas penuh uang haram itu. Aku sengaja meletakan pisauku dahulu ke atas meja kerjanya, agar tak langsung menghabisinya. Aku masih ingin mengobrol dengan pria ini, kau tahu. Dari dekat dia tampan juga.. Sayang, tampan tapi busuk! “Pembunuh bayaran...? Hahaha! Itu ucapan terparanoid yang pernah kudengar dari mulut seorang asisten senator, anda tahu!” Kucengkram dagu kekar Hudson. Mata psikoku memandangnya mengamati, “Atau pastinya anda sudah membuat satu-dua kesalahan fatal hingga mengira aku adalah pembunuh bayaran dari lawan politik Thompson... Gustaf Eduardo...? Saingan Thompson dari Texas itu, kan? Hmm?” “D-darimana kau—Mau apa kau hah?! Kenapa kau tahu—” “Oh, JELAS aku TAHU!” Tak berminat memberikan keterangan lebih lagi kepadanya, aku hanya mengetuk-ngetukan telunjukku ke kepala seolah mengatakan, aku punya otak, Pak. Kau bingung kenapa aku tahu soal itu? Para tukang gosip tentang politik lah yang memberitahuku, siapa lagi? Ketika aku menanyakan tentang kursi parlemen Amerika Serikat, obrolan tentang Gustaf Eduardo: seorang pria setengah abad yang dikenal rela menyogok tim internal dan simpatisan lawan politiknya hanya agar dia bisa memenangi pemilu, bergulir begitu saja.   “Gila!” Sigap, aku menahan gerakan kepalanya untuk memukulku dengan menghentakkan kepala berambut blonde itu ke lantai ruangan ini. Aku tahu ia hanya menggeretak, makanya sisi psikopatku tak tersulut. Aku hanya tersenyum lebar saat memandang Hudson lekat-lekat. Aku punya satu pembuka penyiksaan yang menyenangkan untuknya.. Ayo tebak.. Sementara kau menebak, aku kembali ke tasku yang diletakan di pintu ruangan ini—semata-mata untuk menutup celah bawah pintunya. Ketemu. Mata biru itu membulat memandang botol cairan yang kubawa ke hadapannya. Ah, dia sudah bisa menebak apa yang akan kulakukan dengan ini, rupanya.. “Tidak...tidak, jangan a—” BYURRR! “b*****t! Oh, SIALAN!” Ketahuilah, dua makian itu bagai musik indah di telingaku sekarang. Aku memutuskan menjauh, membiarkannya meronta sekuat tenaga di tengah proses pengelupasan kulit wajahnya yang tampan itu karena baru saja kusiram air raksa. Perlahan, aku menyempatkan diri memandang ruang kerjanya. Senyum sinis terulas di bibirku. Sisi psikopatku makin merasa benar saja mengeksekusinya malam ini. Sini kuberitahu, ruangannya begitu mencirikan seseorang yang rela bermain kotor demi mendapat ketenangan materi. Hudson meringis di hadapanku. Pandangannya kini lebih banyak menatapku penasaran dan takut, daripada marah. “A-Apa salahku, hah?! Bahkan aku tidak mengenalmu sama sekali!” Oh.. “Boleh aku bertanya, Asisten Senator?” Tidak dulu menghiraukan pisau-pisauku, kembali, aku mengeluarkan alat lainnya. Kali ini, tiga. Palu, paku beton, dan gunting jahit. Sambil mendekatinya (lagi), sengaja aku menggeretak Hudson dengan memukulkan bidang bundar palu ke paku, seolah menunjukan apa yang akan kulakukan padanya setelah ini. “...Apa...seorang pembunuh harus berkenalan dengan korbannya?” “Sialan! Lepaskan aku!” Emosi sisi psikopatku di dalam sana memuncak. Ia tiba di sisi Hudson kembali dengan lebih cepat. Aku bisa merasakan pandangan jijik khas-nya memenuhi mataku sekarang. Ia terkekeh sinis pada Hudson, “Dan— Apa salahmu? BANYAK, PAK!” “A-p—” TAK! “AKH! b******k!” Hahahahaha! Kesini, bayangkan ini: Hudson dengan tangan terikat di belakang, wajah yang sudah mengelupas dan mata nyaris buta, lalu paku yang baru saja berkenalan dengan daging perutnya. Wow, pemandangan yang...menyenangkan. Aku menyeringai sambil kembali menjauhinya. “Bagaimana? Kau sudah merasakan kelaparan wanita tua peminta-minta yang kau acuhkan itu? BEGITULAH RASANYA! Seperti TERTUSUK PAKU!” Wah, tak ada balasan dari Hudson selain tatapan takut yang tak berujung, padaku. Ia yang sudah kehilangan cukup banyak darah akibat tusukan paku di perutnya itu, hanya bisa memundur menjauh dariku. Aku sengaja tak menghiraukannya dulu dengan fokus ke hal lain: uang sogokan itu. Brangkasnya sudah terbuka bekas tadi. Aku ambil uang yang masih di amplop itu, dan memasukannya ke tasku. Terdengar gelakan payah dari Hudson. Tubuh kekar itu sudah merapat ke dinding ruangan. Cepat juga dia merayap.. “Bilang saja kau ingin... merampas isi brangkasku... Apa bedanya kau dengan— Hhhhkk!” “Ups, tidak sengaja.” Huh, dia terlalu banyak omong. Sayang, selama lebih dari satu dekade—mungkin saja—suara indah dan macho itu malah dia gunakan untuk membicarakan dan menegosiasikan berbagai kesepakatan picik. Ah, kiranya balasan setimpal diterimanya kini. Tepat di bagian tengah lehernya, lemparan guntingku jitu—melubangi jakun itu hingga mata Hudson terbelalak menerimanya. Kini ia berkubang darah di hadapanku. Tapi sayang, aku tidak peduli. Hanya memandangnya datar lah yang aku lakukan. Hudson memang menggelepar dan telah kehilangan banyak darah, tapi dia masih hidup. Matanya saja masih berkedip-kedip. Mungkin, ia tengah melihat malaikat maut sungguhan di hadapannya karena sorot matanya seperti melihat hal horor. Hm, tapi entahlah yang ia definisikan sebagai malaikat maut itu adalah aku, atau malaikat maut sungguhan. “Mulai kebas, Asisten Senator? Bagaimana pita suaramu? Terselamatkan kah?” Ahaha, jujur saja aku agak geli mendengar ucapan basa-basiku padanya. Nada perhatian itu—yang mana bukan ciri khas diriku yang sebenarnya—aku pelajari dari Earl-ku. “Hhhkk....!” “P-polisi...akan...m-menangkap...mu... L-laura..” “Ooooohhh! SELAMAT! Akhirnya kau tahu namaku!” Aku berkomentar, lalu bertepuk tangan seperti yang baru saja Hudson ucapkan itu adalah pengumuman undian besar atau semacamnya. Yah, aku tidak kaget. Ia pasti sudah pernah makan di Kafe Gardner dan berbicara dengan ibu tentang pekerja lain kafe. Bisa saja ibu pernah memberitahunya soal diriku. Sisi psikoku mendukung raut wajahku berubah sedetik kemudian. Air mukaku berubah serius, memandang Hudson dengan tatapan yang sama. “Maaf ya, guntingku jadi mendarat di lehermu... Aku hanya ingin memeraktekan pelajaran lempar sasaran di kelas olahraga dulu.” Di hadapanku, Hudson memucat. Ia sudah melemah. Ah, tapi tunggu! Aku kan belum selesai mengeksekusinya! Alatku belum dipakai semua! “Hei! Tunggu sebentar... Kau jangan coba-coba mengacaukan eksekusi pertamaku dengan mati duluan, lah, Hudson..” Seakan tidak menghiraukan, nafas lelaki itu sudah satu-satu. Aku bisa memperkirakan kalau ia akan mati beberapa menit lagi. Maka, cepat aku ambil alat terakhirku. Alat terakhir sebelum menuju ke sesi anatomi manusia—pisau lipat yang sejak tadi menonton aksiku dari atas meja kerja Hudson. Tebak saja aku akan menggunakannya untuk apa. Ayo tebak! Tebak! Ah, lama! Jleb! Jleb! Jleb! “Hahaha....!” Sempurna. Tawaku mengakhiri nafas lelaki busuk itu di dunia ini. Maha karyaku terlihat pada tubuhnya. Tiga tusukan pisau lipat di kepala, d**a, dan itu-nya (kalau yang ini, meleset. Sebenarnya aku ingin menusuk kakinya. Jadi yah...maaf saja..) , satu tusukan gunting di leher, satu tusukan paku di perut, dan kelupasan kulit wajah. Bagaimana? Dia makin tampan, kan? Aku diam, namun tersenyum miring memandang korban pertamaku ini. Tak lama kemudian, aku terpikir pengemasan yang tepat untuk Si Tuan Parlente Glenn Hudson yang Terhormat.  . . . BERSAMBUNG ....
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม