bc

HIPNOPSIKO

book_age18+
129
ติดตาม
1K
อ่าน
ฆาตกรรม
ล้างแค้น
แนวดาร์ก
โอกาสครั้งที่สอง
ตอบโต้
กู๊ดเกิร์ล
โศกนาฏกรรม
หักมุม
ลึกลับ
waitress
like
intro-logo
คำนิยม

Setiap orang punya rahasia, itu yang diyakini Laura. Ia pun memilikinya. Laura menyimpat satu rahasia besarnya, menyekapnya dalam-dalam agar tidak diketahui orang-orang.

Namun, suatu hari pertemuan Laura dengan detektif muda Kepolisian Washington mengubah segalanya. Pria itu dengan mudahnya mengungkap siapa sebenarnya Laura di depan semua orang.

Sial bagi Sang Detektif, ia telah memilih membuka rahasia orang yang salah. Rahasia besar Laura memiliki satu peraturan. Berdasarkan peraturan itu, Sang Detektif adalah salah seorang yang patut dilenyapkan.

chap-preview
อ่านตัวอย่างฟรี
Satu: KERAMAHAN SIALAN
Distrik Queensberry, 09.00 a.m... Keramahan sialan. Itulah salah satu yang paling kubenci. Aku merutuk sendiri di kursi kafe ini. Muak rasanya menyaksikan semua pengunjuk kafe ibu yang kebanyakan orang-orang borjuis itu, tersenyum karena senang atas layanan kami. Aku sangat ingat, beberapa di antara mereka adalah orang-orang yang sering mengacuhkan para tunawisma di jalanan. Mereka yang banyak uang itu, lebih memilih memberikan uangnya ke kafe-kafe, seperti kafe milik ibuku ini, daripada menyumbangkannya meski sedikit kepada orang-orang yang membutuhkan. Bukannya aku tak bersyukur kafe kami jadi banyak  pengunjung atau semacamnya. Tapi akuilah, ironis sekali kan, kenyataan yang terjadi sekarang adalah bahwa si kaya makin kaya, dan si miskin makin berkantung kering. Menyedihkan memang. Untung saja ibu masih menjadi orang yang tidak acuh kepada para tunawisma di sekitar sini. Kalau dia sudah acuh, aku tidak yakin apa aku bisa tahan untuk tidak mengambil tindakan. Di atas kursi, aku mendengus, beranjak juga dari istirahat yang diberikan ibu dan lebih memilih mengambil alat pembersih untuk mulai membereskan bekas-bekas makan pengunjung kafe kami. “Nona Gardner!” Refleks, aku dan ibu—yang berada di balik kasir—menoleh. Diantara keramaian kafe, kepala orang itu menyembul. Pria. Tepatnya, calon pengganti ayah. “Hei, Ashton,” Kulihat, ibu keluar dan tersipu, lagi, ketika pria itu mendaratkan bibirnya ke pipi ibu. “Aku kira kau sedang terapi hari ini.” “Ah, tidak begitu banyak pasien gawat yang aku tangani, Lizzie. Lagipula sudah ada dokter jaga.” “Baguslah kalau begitu.” “Kau merindukanku?” Sungguhan, aku nyaris mendesis mendengar nada kepedean-nya itu. Kau jangan salah sangka, aku bukan tidak menyetujuinya. Seorang Ashton Yankee? Siapa yang tidak mau mempunyai ayah atau suami seperti dia? Ya, dia baik. Sebagai seorang psikiater, Ashton juga sering membantu warga Distrik Queensberry yang memiliki depresi atau kelainan mental. Banyak diantaranya, tanpa biaya. Aku setuju padanya. Ashton dan Elizabeth, sepasang manusia yang nantinya akan saling melengkapi. Aku yakin itu. Aku hanya tidak suka caranya menyapa ibu seakan tidak menganggapku ada di sekitarnya. “Kalau ya, kenapa?” Dan, satu ciuman mendarat di dahi ibu. “Aku juga, Sayang.” Carilah ruangan sana! Mulutku ingin sekali berucap begitu setiap mereka mempertontonkan kemesraannya. Ya, jujur, aku iri. Bukan karena aku tidak mempunyai pasangan. Aku punya. Dia hanya...tidak begitu mengerti diriku. Berbeda dengan ibu dan Ashton. Dengusan malas kembali ke luar dariku. Daripada terus memerhatikan mereka berdua, aku lebih memilih beranjak dari ruangan utama kafe, ke dapur. Setibanya di sana, sebuah suara mengusikku dari luar. “Bisanya minta-minta saja! Pergi! Aku tidak ada uang kecil!” Aku terpancing. Kulongokan kepala keluar, dari jendela dapur kafe. Ada seorang wanita renta yang sedang meminta makanan kepada pria parlente. Penampilan mereka bertolak-belakang. Si Wanita hanya mengenakan baju hijau lusuh, dengan celana berwarna krem yang sudah robek-robek di bawahnya. Sementara Si Pria Parlente itu memakai jas hitam, celana berwarna sama, rambut yang klimis, dan koper. Sepertinya ia mau berangkat bekerja atau menemui seseorang. “Aku mohon, Tuan... Sudah tiga hari keluargaku tak makan. Jika hari ini—” “Minta saja pada yang lain, i***t!” Oh, sial. Aku benci menyadarinya. Sisi temperamenku terbangkitkan karena perkataan kasar itu. Sebentar lagi kau akan tahu seperti apa dia bekerja. Aku hanya bisa menjelaskan, kalau sifat satu itu menguasai, akan ada satu orang gila, atau bahkan...mayat—walau aku belum pernah membiarkannya bertindak sejauh itu. Sisi itu selalu berteriak keras untuk menyiksa seseorang, atau bahkan membunuhnya. Sejauh ini, aku, dibantu ibu dan Ashton, berhasil meredam teriakan itu. “Tapi, Tuan—” Pria itu...menepis tangan Si Wanita. Sial, sial, sial! Tanganku terkepal. Kepalaku mulai lagi terisi dengan berbagai pikiran yang saling berlawanan. Aku kasihan, ya. Aku marah, ya. Aku benci, ya. Aku sedih, ya. Semua perasaan itu bercampur aduk dalam satu waktu. Namun akhirnya yang menang adalah... ...sisi temperamenku. * Sisi temperamenku paling benci dengan segala ketidak-adilan yang terjadi di sekelilingku. Sisi itu akan meningkat kebengisan-nya seiring bertambahnya orang-orang kurang ajar di sekitarku. Aku punya kelainan, ya. Silakan tebak saja kelainan itu apa. Hal itu juga yang jadi penyebab aku menyetujui keberadaan Ashton. Aku merasa dia bisa menyembuhkanku. Tapi, entahlah. Rasanya ingin mati saja karena gila. Efek terapi penyembuhannya seperti tidak terasa cukup signifikan dari hari ke hari—terlebih, hari ini. Setelah menghampiri wanita tua tadi dan memberinya beberapa porsi makanan sekaligus sedikit uang, aku mengikuti pria parlente itu. Banyak informasi yang kudapatkan soal dia. Bukan dari meretas ponsel atau apapun, karena aku bukan tipe high-tech seperti itu. Aku hanya mengikutinya ke tempat kerjanya. Untungnya, ia naik trem, tidak mobil pribadi. Namanya Glenn Hudson. Umur 37 tahun. Tuan Hudson ternyata bekerja sebagai salah satu asisten senator Thompson. Setahuku, Thompson mewakili distrik Queensberry dan kota Devensville, lalu bergabung ke Negara Bagian Virginia, untuk mencalonkan diri ke parlemen Amerika Serikat. Dia dikenal sebagai orang yang ramah dan dermawan. Nah, sebaliknya dengan asistennya yang sialan ini, tentunya. Idiot. Kau tentu masih ingat kan sebutan yang Tuan Hudson lontarkan pada wanita itu? Aku kira Si Tuan lah yang justru lebih i***t. Kini, aku tengah mengamati dia bekerja di kantor Thompson. Walau hanya dari jendela luar, aku bisa melihat semuanya. Omong-omong, aku sengaja memakai baju yang mirip tukang kebun di sini agar pengamatanku tidak terganggu. Namun tiba-tiba orang itu seolah benar-benar ingin membangunkan sisi iblisku. Dia kembali berlaku picik di dalam sana. Hudson menerima tamu di ruangannya. Kulihat, ia menerima segepok uang. Sogokan(?). Sudah pasti. Itu terlihat dari cara berbicara mereka yang mencurigakan. Oh, pasti uang itu untuk membantu Si Tamu terbebas dari peluang pemenangan Thompson di parlemen Amerika Serikat—hell, kau pikir apa lagi yang akan dilakukan tamu seorang asisten senator dengan membawa amplop uang? Jadi, ya, Si Tamu adalah antek lawan politik Thompson. Sekarang memang sedang masa tenang kampanye. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau suara senator baik hati itu akan dicurangi saat pemilu nanti. Sialan. Nampaknya aku harus benar-benar menjadi malaikat maut malam ini.. Begitu kata si... Dialah yang kumaksud... Sisi ini setingkat di atas Si Temperamen—yang akan mendukung segala penyiksaan yang dilakukan menjadi lebih sadis dari biasanya. Kau tidak akan menyukai namanya. Ingin tahu juga? Baiklah... Sisi temperamenku akan melonjak menjadi kepribadian yang tidak akan kau sukai. Sadism. Atau...psikopat. Cukup! Aku malas menyimak kelakuan b***t orang itu lagi. Oh, tepatnya sisi psikoku. Akhirnya kutinggalkan dia untuk mempersiapkan beberapa alternatif eksekusi Tuan Parlente Glenn Hudson Yang Terhormat.  . . BERSAMBUNG....

editor-pick
Dreame - ขวัญใจบรรณาธิการ

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
9.6K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K

สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook