AKU mengaku, sejak dari supermarket, aku seperti ingin segera lepas dari Andrew. Keanehan yang terjadi di antrean kasir itulah penyebabnya. Namun diriku yang lain seperti tak menyetujui itu. Mereka tetap ingin beramah-tamah dengan Andrew. Alhasil, di sinilah kami, berpisah dengan senyuman yang sama-sama ramah ketika di parkiran.
Dan, ya; Andrew menitip selamat untuk Irina. Aku memberitahu apa kegiatanku hari ini kepadanya, begitu juga dia. Pria itu tidak memiliki kegiatan yang terlalu berarti. Dia hanya mau mengisi kulkas, membersihkan rumah, dan menonton Kepolisian Devensville mengungkap kasus itu.
Oh, salah. Maksudku, kasusku.
Satu hal darinya yang masih kupikirkan. Yaitu tentang kemungkinan keterlibatannya menyelidiki kasusku.
“Yah, yang jelas kalau mereka sampai memanggil lawan-lawan politik Thompson, atau menginterogasi atasan Hudson itu, aku tak akan tinggal diam. Otak mereka harus diluruskan.”
Begitu katanya. Kau percaya? Aku, ya. Toh dia juga seorang detektif. Tanpa dokumen perizinan resmi pun, seorang detektif bisa bekerja membantu suatu kasus.
Tidak, aku tenang. Beberapa sisi diriku tenang-tenang saja menghadapi semua itu. Tapi satu sisi diantaranya, yakni si melankolis itu, langsung membuat tubuhku bergetar menyadari kesungguhan Andrew pada ucapannya.
Untungnya, itu baru terjadi setelah Andrew pergi.
Dan, perang batin pun dimulai, menemani perjalananku ke toko buku kota ini.
Perang itu diakhiri dengan...
Apa...aku harus memberitahukan yang sebenarnya?
Ya, KAU HARUS!
*
01.00 p.m.
Tentu saja tidak kepada Irina. Aku tidak ingin merusak otak pintar dan kebahagiaannya hari ini. Aku ingin dia menikmati harinya bersama Ashton dan ibu. Sekarang, dia tersenyum di tengah kami. Wajahnya memerah menahan malu karena tak menyangka akan diberikan pesta kejutan di tengah pengacuhan ayahnya hari ini.
Bahkan, Irina menangis terharu. Itu bukti seberapa jauh Ashton mengerjainya. Hahaha....
“Kalian ini.”
“Ayo, tiup lilinya!” kata ibu, antusias, seperti merayakan ulangtahun anak umur 10 tahun.
Irina meniup lilin “26” itu setelah berdoa. Dan, selesai. Kata ibu setelah ini kami akan makan siang. Dari semuanya, aku hanya menunggu itu—saat-saat dimana mereka akan membiarkanku dalam pikiranku sendiri.
“Selamat ulangtahun, Irene,” Satu persatu dari kami mengucapkannya. Diawali oleh Ashton dengan panggilan sayang itu.
Irina memeluk ayahnya. Erat.
Entah kenapa, aku iri melihatnya.
“Lihat dirimu, sudah cukup besar untuk fokus ke urusan pribadi, Nak.” Kini, gantian ibu yang mengucapkan selamat. Dia memeluk Irina. “Selamat ulangtahun, Sayang.”
Anggukan berselaput air mata bahagia menjadi balasannya. Irina beralih padaku, yang mana aku tahu itu membuat seisi ruangan—Ashton dan ibu—jadi menatapku juga. Mungkin saja mereka ingin melihat tanggapanku kepada kedekatan keluarga kami. Siapa yang tahu karena itu mereka akan memutuskan untuk benar-benar menikah? Hahaha.
“Aku tak menyangka akan punya adik, Irina.”
Dia nyengir atas ucapan penerimaanku itu. Irina beringsut memelukku. Aku membisikan ucapan selamat kepadanya.
“Selamat ulangtahun. Cepatlah cari jodoh. Berikan mereka cucu.”
Irina tergelak keras dan melepas pelukannya. Dia tersenyum lebih lebar, “Ucapan selamat yang bagus, Laura.”
“Aku tak begitu berbakat, kau tahu.”
Sesaat kemudian, Ashton, ibu, aku, dan Irina berada satu meja. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan mempunyai keluarga seutuhnya.
Ya, pertama kalinya.
Tapi entahlah. Aku tidak yakin yang akan terjadi diantara kami akan masih sama setelah nanti malam.
***
Akhirnya, kau tahu apa yang kulakukan? Rencana pemberitahuan itu batal. Batal total, karena Ashton ‘memaksa kami’ tinggal sampai makan malam. Kami berempat menghabiskan hari dengan makan malam di rumah Ashton, dan melaksanakan satu peristiwa tak terduga.
Ya, tepat; lamaran itu.
Malam tadi, aku mengingat hal itu diawali oleh pamitan Ashton ke kamarnya. Dia meninggalkan aku, ibu, dan Irina yang sedang berbincang di ruang keluarga sambil memakan kudapan. Tiba-tiba, pria itu muncul dengan wajah berseri.
“Ada apa?” tanya ibu, mengeluarkan muka polos.
Tanpa bicara, Ashton menunjukan cincinnya. Terharu ibu dan terkejutnya aku serta Irina, menjadi balasannya.
“Oh, Ash...”
Irina menyenggolku. Aku yakin kepalanya sudah penuh dengan bayangan akan dilamar seseorang, lengkap dengan caranya.
“Akan jadi lamaran tersederhana abad ini, Lau,”
“Ya, kau benar.”
Kami mengamati, menyaksikan beberapa patah kata romantis terlontar dari mulut Ashton. Ia tak begitu berbakat mengucapkannya. Tapi yah, lumayan, untuk ukuran pria yang nyaris setengah abad makan asam-garam sebagai ayah dari satu orang puteri yang ditinggal ibundanya selepas prosesi melahirkan.
“...Jadi, bagaimana? Aku sudah yakin akan semua ini. Irina juga setuju denganmu dan Laura. Kupikir—”
“Kenapa tidak?”
Malam tadi, beratus pikiran bahagia menghidupkan malamku dan ibu. Tak bohong, aku benar-benar bahagia melihatnya lepas dari kesedihan, menuju lembaran yang benar-benar baru bersama lelaki pilihannya. Satu yang terpenting dari semua itu. Ibu tidak ragu. Ibu yakin untuk serius dengan Ashton, seperti yang kulihat selama ini.
Kini, di hadapan cokelat panasku, aku menghela lega. Suasana pagi yang berangsur dingin karena mau memasuki musim salju, membuatku tenang. Pandanganku terarah ke luar sana, meredup seiring tenangnya suasana pagi ini.
Omong-omong soal pemberitahuan keterlibatanku, kupikir lagi itu sama sekali bukan ide yang bagus. Ibu baru saja bahagia. Aku tidak ingin melihatnya kalang-kabut dengan pemberitahuan-ku. Biarlah yang itu kusimpan sendiri saja dulu.
“Hei,” Ibu menyapaku. Dia sudah berlapis baju pergi.
“Hai, Bu. Hendak kemana? Rapi sekali..”
Ibu tersenyum membalasnya. “Ke makam ayah, Sayang.”
Oh..? “Kau pikir ayah juga harus tahu?”
Ibu mengangguk membalasnya. Dia mencium keningku lembut, “Bagaimanapun ibu masih mencintainya, dan dia masih ayahmu. Sampai kapanpun.”
“Ya.” Perlahan, aku mengulaskan senyum yang sama. “Hati-hati, Bu.”
Sembari berlalu dari ruang makan kami, ibu berkata lagi kepadaku. Sama sekali bukan ucapan perpisahan. Bukan. Itu bukan tipenya; mengucapkan kata-kata kepergian yang begitu puitis.
“Earl akan datang hari ini, kan? Lebih baik kau mulai memasak popcornnya, Sayang!”
Aku menjawabnya dengan menuruti intruksi di kalimat itu.
*
“Mana popcorn kita?!”
Seruan itu lagi. Yah, ketahuilah, Earl sangat suka hujan popcorn di mulutnya ketika sedang menonton film. Film apapun itu, dan rasa popcorn apa saja. Kali ini, aku menyediakan dua panci besar popcorn asin untuk kami berdua. Masih tersimpan rapat di microwave yang sudah dimatikan. Setibanya Earl di sini, kekacauan langsung terjadi. Meja ruang keluarga yang tadinya bersih, jadi dihiasi oleh... dua tumpuk (?) CD CSI-NY.
Wow, dia benar-benar berniat menghabiskan hari bersamaku. Biasanya satu tumpuk CD yang dibawanya akan berisi lima kaset, dan satu kaset berdurasi satu setengah jam, berapa waktu yang akan kami habiskan di depan teve?
Silakan hitung sendiri, haha.
Mungkin bagi yang sehobi dengannya bakal senang akan itu. Tapi tidak denganku. Kami memang pasangan sekarang, meski sayangnya hal yang sama tidak terjadi dengan hobi ini.
Hahaha, jangan bertanya mengapa aku bisa betah padanya. Earl dengan cepat bisa menjadi pengganti ayah—sosok lelaki yang kubutuhkan untuk menjadi tempat curhat. Begitulah posisi dirinya di hatiku. Tidak lebih, tidak kurang. Seperti kebanyakan wanita, awalnya menyukai prianya karena kenyamanan. Akupun begitu. Aku nyaman dengan sisi dewasa dan kekanak-kanakannya yang seringkali membuatku tertawa.
Lelaki itu sudah duduk di sofa ruang keluarga sekarang, memandangiku yang sedang mengambil popcorn kami di dapur—yang kebetulan hanya dibatasi meja dapur itu sendiri. Matanya membulat begitu melihat popcorn yang aku siapkan.
“Wow, Laura,”
“Apa?”
“Kita akan berpesta hari ini.”
Aku tidak yakin.. Karena biasanya ucapan itu—yang selalu muncul di saat-saat seperti ini, akan berakhir dengan aku yang terkantuk sendiri menyimak ceritanya. Cerita detektif yang disajikan dalam CSI-NY begitu klasik. Mudah ditebak. Sedangkan bagi Earl adalah sebaliknya. Dia kagum setengah mati kepada cara detektif-detektif itu mengungkap kasus.
Meski begitu, aku duduk juga di sisinya, mulai memasukan kaset pertama.
“Empat mata kaki?” Aku menoleh padanya, mendapati episode baru yang Earl bawa untuk menonton kami hari ini.
“Ya,” Dia tersenyum lebar padaku. “Katanya ceritanya seru. Tentang pengungkapan pembunuhan psikopat. Siapa tahu aku jadi bisa belajar untuk kasus Tuan Hudson.”
Aku tersenyum miring, entah sisi mana yang memaksanya. Tapi jauh di dalam sana, aku pesimis kalau film aneh ini akan bisa membantu pengungkapan kasus itu. Terlalu...dini kupikir, kalau mengambil referensi cara pengungkapan kasus dari sebuah film. Kasarnya, seperti sudah tidak punya otak yang kuat diajak berpikir keras....
“Ayo kita mulai filmnya!” Earl mengambil remot teveku dan mengatur mode CD. Tak lama, film itu dimulai.
Namun kemudian, ada yang menginterupsi kami. Bukan dering telepon, bukan kesalahan televise, atau pemutar CDnya yang macet. Melainkan sebuah ketukan pintu.
“Biar aku.” Aku beranjak, menuju pintu. Orang yang ada di depan sana membuatku berfirasat tidak enak. Benar-benar tidak enak.
“Siapa, Sayang?”
“Boleh aku masuk, Laura?”
“Ya, tentu.”
Orang itu melangkah masuk, mendekati Earl dengan tampang terserius yang pernah kulihat. Dia awali obrolannya dengan satu dehaman. Earl menoleh.
“A-ada apa, Yah?”
“Hari libur kita habis. Psiko itu sudah menghabisi Wayne.”
Tunggu, siapa yang Charles maksud? Psiko yang membunuh Hudson? Tentu saja bukan. Tapi dari mimiknya, aku yakin yang ia pikirkan adalah itu—pelakunya sama dengan kasus Hudson.
Siapa yang membunuh Wayne?
“Maksud ayah?” Kini Earl sudah menghadap ayahnya. Pandangan kami kepada Charles kurang lebih sama; tidak yakin, kaget. Kali ini aku kaget sungguhan, bukan dibuat-buat.
“Bukankah sudah jelas?”
Earl salah tingkah. Ia lantas mengiyakan perintah langsung ayahnya untuk kembali ke kantor. Otomatis, acara menonton kami hari ini batal. Earl berbalik padaku, menunjukan ekspresi menyayangkannya.
Tiba-tiba terlintas satu hal dalam benakku.
“Pak,”
Charles menoleh, “Ya, Laura?”
“Mengapa anda begitu yakin kalau pelakunya adalah orang yang sama?”
Ketika pertanyaan itu selesai terucap, alis Charles terangkat, memandangku sangsi. Uh, entah apa maksudnya, tapi ia terlihat meragukan intuisiku dalam pertanyaan itu.
“Menurutmu apakah bukan orang yang sama kalau dalam aksinya kali ini, dia turut melenyapkan barang bukti kasus Hudson beserta salinannya?”
.
.
.
BERSAMBUNG....