Sebelas: ILUSI

1595 คำ
Kalimat Charles terbayang-bayang di benakku. Anggapannya masuk akal. Maksudku, ya itulah yang akan kulakukan jika aku seorang pembunuh sejati. Tapi, tidak. Pertama kalinya aku membunuh, dan langsung berhadapan dengan si-(mungkin saja)-pembunuh-sejati itu yang berhasil membuatku disangkakan atas dua kasus. Rugi, jelas. Menyambung pagi dengan suasana sepi, nampaknya jadi cara terbaik saat ini. Aku harus memikirkan semuanya kembali, terutama soal pembunuh Wayne itu. Seperti sebelumnya, tempat terbaik menyepiku adalah kafeku sendiri. Memandang datar sesuatu yang abstrak tepat di depanku, nampaknya jadi cara menghilangkan kejenuhan, dan pemusatan pikiran yang paling ampuh. Tak jarang, inilah salah satu caraku menenangkan diri dari penyakit mental sialan ini. Siapa tahu saja di sini aku dapat memikirkan dengan jernih langkah pertama yang harus kuambil untuk menyelidiki pembunuh Wayne? Pelan, kusesap kopiku. Kopi buatan sendiri. Lalu, menghela. Sialan. Kalau sampai akhirnya hanya aku yang ditangkap karena dua kasus itu, hukuman yang kuterima pasti lebih berat. Hukuman mati, mungkin? Atau seumur hidup? Entahlah. Kini aku tak tahu harus apa—ragu antara mengaku sebagai pembunuh Hudson di depan polisi dan berjanji akan membantu mereka menemukan pembunuh Wayne, atau tetap seperti ini; mengamati kedua kasus itu dari jauh. Aku ragu, ya—akhirnya merasakan itu juga, setelah sekian tahun terjebak dalam kepribadian-kepribadian kontras ini dan selalu yakin dengan apa yang diperbuat masing-masing dari mereka.. Kutertunduk, menatap koran kota yang bertajuk utama PEMBUNUHAN BERANTAI DI DEVENSVILLE. Disana menjelaskan secara rinci bagaimana Wayne mati dan ditemukan. Detektif 32 tahun itu mati dengan lima luka tembak di tubuhnya. Tiga di perut, satu di jantung, dan satu lainnya di leher. Jenazahnya—meski ditutupi sensor, karena privasi—mengenaskan, terbukti dari darah yang tergenang cukup banyak di sekitarnya. Ia ditemukan oleh petugas kebersihan kantor polisi, tadi jam 5 pagi waktu setempat. Kejadian ini juga dihubung-hubungkan dengan kasus Hudson oleh koran Devensville Routine. Aku membalik koran itu, mau membaca berita lengkapnya di halaman terkait. A-apa-apaan...? Ada...sesuatu di halaman itu. Halaman berita Wayne masih utuh. Namun di sekitar kolomnya ditusuk-tusuk pena dengan suatu pola. Pola yang lebih terlihat seperti...tulisan. Kalimat. Aku teralih dari isi berita, mencoba membaca pola itu. Keraguan...maut? Apa maksudnya? Tiba-tiba, terdengar suara dari...speaker kafe(?) Siapa yang menyalakannya? Krrrskk...krrsskk.... “Laura,” Itu dia. Itu pembunuh Wayne. Tidak salah lagi. Walau hanya intuisi, entah kenapa terasa begitu kuat. Diam-diam, aku beranjak dari kursiku, menuju ke ruangan soundsystem kafe ini karena ruangan itulah tempat segala suara dari speaker kafe berasal. Entah lagu, ataupun pemberitahuan ucapan seperti ini. “Ragu adalah sifat manusia yang paling dangkal. Selalu bisa dipengaruhi. Sifat paling sial. Ya kan?” Aku tak peduli. Kuteruskan saja langkahku menuju ruangan yang terletak di belakang kafe itu. Begitupun suara itu, sebenarnya. Ia terus melanjutkan omong kosongnya. Entah siapa yang berkata. Tapi suaranya mirip penyiar-penyiar di radio. “Maka dari itu, seperti yang kau tahu, hari ini satu manusia penuh keragu-raguan sudah dilenyapkan.” Aku tiba di belakang kafe. Suara itu makin terasa mencekam. “Mungkin, kau selanjutnya...?” Oh, bukan aku, Sayang. Aku mengekeh, mendukung seringai kemenangan memenuhi wajahku saat berhasil menyentuh pintu ruangan soundsystem. “Kau siap...Nona Gardner?” KLK! Kena kau! T-tidak ada...orang? Yang kulihat dari ruangan soundsystem ini hanya kekosongan. Semuanya masih tertata rapi, terlihat tidak tersentuh sama sekali. L-lalu...siapa yang—setidaknya, meletakan rekaman suara itu? KRAAAKK! BUGH! *** Selanjutnya hanya semburat cahaya memenuhi mataku. Terang benderang, seperti yang menyambutku setelah ini adalah suasana bahagia, atau bahkan...surga. Tapi rasanya tak begitu, karena kemudian aku mendengar suara ibu, dokter, dan satu pria lain mengobrol tentang kondisiku. Tunggu, aku kenapa? Apa yang terjadi padaku? Aku hanya mengingat, berada di kafe, membaca koran yang bertajuk berita hangat hari ini sambil menunggu seseorang, menuju ruangan soundsystem... dan.... Oh! Leherku dipukul oleh seseorang. Entah siapa. Sebelum aku sempat menyelesaikan semua pikiran itu, pandanganku makin jelas. Ada seorang dokter perempuan, ibu, dan...Andrew? Apa yang dia lakukan di sini? Tiba-tiba dia melihat ke arahku. Tersenyum lebar. “Dia sudah sadar, Bu.” Sorot matanya.. Andrew seperti tahu sesuatu. Apa dia yang— “Oh! Syukurlah, Laura.” Ibu keburu mengambil wajahku, mengelusnya dengan sayang, sebelum pikiran dugaanku tentang keberadaan Andrew terselesaikan. Dia sudah pulang dari makam ayah. Dan tepat, pertanyaannya adalah: sudah jam berapa sekarang? Berapa lama aku pingsan? Ibu menatapku khawatir, “Kau pusing, mual? Berkunang-kunang?” “Tidak.” Lalu sang dokter menyela, “Sebaiknya kalian jangan terlalu banyak menanyainya dulu sebelum hasil MRI-nya keluar. Kita masih tidak tahu luka di lehernya seberapa dalam.” Luka di...leher? Aku rasa pukulan orang itu tidak terlalu kencang—atau itu menurutku (?) Entahlah. Ah, kalau benar tidak terlalu keras, pastinya aku tidak akan ada di sini sekarang. Semoga saja tidak ada cedera serius. “Ya, ya....” Tampak, ibu memaklumi perkataan Dokter Clear Rivers (namanya tertulis di jas dokternya, omong-omong). Dia menoleh pada Andrew, “Mau temani dia sebentar? Ibu akan membicarakan hal yang lain dengan dokter Rivers mengenai Laura.” “Ya, tentu.” Andrew bergeser ke tempat ibu, sementara ibu dan dokter Rivers berlalu ke luar ruangan. Lelaki itu menatapku sejenak, ragu. Kemudian dia menunduk. “Maaf, aku tidak bermaksud.” Tiba-tiba muncul gambaran lebih jelas tentang kejadian itu. Aku di kafe, menerima SMS dari...Andrew(?). Lalu berjalan ke ruangan soundsystem dengan kupluk jaket terpasang, dan... dan seseorang memukulku di bagian leher. Apa orang itu...Andrew? Dia datang ke mari karena ingin membantuku membuka kafe di hari minggu ini. Begitukah kejadiannya? Bagaimanapun aku mengelak, itulah yang kuingat. Ya, itu kejadiannya. Alhasil, aku membalas ucapan rasa bersalah itu dengan senyuman tipis. Toh, sepertinya dia tidak sengaja, mungkin karena menyangka aku akan mencuri di kafeku sendiri, hahaha. “Kau mengira itu bukan aku?” “Ya,” Andrew tergelak di sela ucapannya. “Awalnya kukira aku datang duluan—karena tidak ada konfirmasi darimu soal keberadaanmu sekarang. Ponselmu tidak aktif.” Ia mengusap tengkuk lehernya tidak enak, “Tapi pintu depan kafe sudah tidak terkunci saat aku datang, dan ada koran serta segelas kopi di dalam kafe. Jadi aku kira seseorang telah masuk ke mari. Aku kira itu...” Ah, Tuan Detektif ini ternyata bisa juga tak pandai berintuisi. Aku jadi ragu dia tidak pernah salah tangkap dalam kasusnya. Andrew tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia tertunduk lagi. “Bisa juga seorang detektif seperti itu, ya?” “Aku bukan detektif biasa, kau tahu, Nona Gardner.” No-na...Gardner? Aku merasa familiar dengan nada itu.. Nona Gardner? Nona Gardner...? Nona...Gardner? Tiba-tiba, seperti sebuah pengelihatan, potongan kejadian muncul di kepalaku. “Hei, Nona Gardner.” “Ash—” Sapaan pertama Andrew padaku saat di kafe. “Maka dari itu... seperti yang kau tahu, hari ini satu manusia penuh keragu-raguan sudah dilenyapkan.” “Mungkin... mungkin kau selanjut...selanjutnya...?” “Kau siap...Nona Gardner?” KLK! Tidak. Kejadian apa itu? Siapa yang sudah dilenyapkan? Penuh keragu-raguan? Apa maksudnya? “Laura?” Aku tersentak, sungguhan tak bisa lagi mengontrol raut wajahku sendiri di hadapan Andrew. Kenapa...kenapa kedua kejadian itu...mempunyai latar yang sama? Kenapa sama-sama di kafe dan ada aku? Tiba-tiba aku teringat kebersamaanku dengan Earl pagi tadi. Oh, yang terpotong gara-gara panggilan tugas untuk kasus pembunuhan...Wayne McKinney Landes. “Laura, ada—” Kupotong ucapan itu dengan cepat berdiri menghadap Andrew. “Siapa kau sebenarnya?” Sialan. Aku sama sekali tidak bisa mengontrol mulutku. Seharusnya pertanyaan itu jangan dulu terucap. Perlahan, muncul ingatanku yang lain tentang kebersamaan-kebersamaanku dengan sosok itu. Dengan Andrew. Dari mulai pemakaman, kafe, supermarket. Keraguan...maut? Apa maksudnya? Krrrskk...krrsskk.... “Laura,” Itu...itu kejadian di kafe. Rekaman suara. Suara terduga pembunuh Wayne. “Atau kau takut sesuatu yang lebih sakral dari kebersamaan kalian sekarang, menghantuimu? Memburumu seperti lagu tidur indah yang selalu kalian nyanyikan?” A-apa...? “Ada apa, Laura?” Tidak mungkin. Untuk apa Andrew melakukan semua itu? Untuk apa Andrew ke kafe, membunuh Wayne ... memukulku? Merekam suara itu? Aku tahu jelas itu dia karena dari cara berucap dan nadanya amat mirip dengan Andrew versi biasa. Ya, tidak salah lagi. Tiba-tiba pintu dibuka. Ada ibu dan Dokter Rivers di sana. Raut wajah ibu seketika berubah sedih. Sementara itu dokter beringsut ke sisiku. Dia menyuntikan...sesuatu. “Bisa kita bicara, Nak Andrew?” Tidak. Jangan bilang ibu mau.... Jangan bilang ibu akan mengatakan soal penyakit mentalku. Tidak! Namun sayang, aku tidak terlalu kuat untuk mencegah mereka keluar. Andrew akhirnya keluar bersama ibu, disusul dokter Rivers. Tak lama, pandanganku menggelap. Hitam. Lalu suara keramaian kafe menyusul. Tunggu, kafe? Apa yang— Pandanganku beralih ke sekitarku. Benar, kafe. Tidak ada rumah sakit. Tidak ada Andrew, tidak ada ibu, tidak ada suntikan. Dan...tidak ada...tidak ada lubang kecil di sisi kolom koran. Dalam kesunyian yang masih sama, aku memberanikan diri melirik jam tanganku. 9 pagi. Oh, hanya berjarak setengah jam dari kedatangan Earl ke rumah. Perlahan, aku menghela. Lega. Semua itu hanya bayanganku saja. Untuk memastikan—terutama soal rekaman suara itu—aku beranjak ke ruang soundsystem. Kubuka pintunya tanpa ragu. Disana, tak terlihat seorangpun. Kosong. Dan kejutan, tak terlihat kaset rekaman atau bekas perekaman apapun itu. Satu hal yang aku yakini sekarang; aku sudah benar-benar gila. Aku harus segera menemui Ashton dan ibu, lalu menceritakan semuanya—tidak peduli mereka tengah merencanakan pernikahan sekalipun. Toh, nanti, seandainya Ashton ingin langgeng dengan kepala keluarga Gardner itu, ia harus menerima aku apa adanya. Yah, dan kali ini aku benar-benar harus beritahu mereka. Setidaknya, sebelum terjadi lagi eksekusi terhadap Hudson-Hudson yang lain, atau penembakan pembunuh Wayne persis di kepala begitu aku menemukannya. Atau...bahkan sebelum satu tembakan bersarang di kepalaku sendiri karena isi kepala dan jiwa yang makin membingungkan... Ya, kalau semuanya sudah kelewat tidak masuk akal untuk kutangani sendiri, tak ada yang bisa menghalangiku untuk bunuh diri. Bahkan ibu sekalipun. . . . BERSAMBUNG ....
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม