Dua Belas: PEMBERITAHUAN RAHASIA

1068 คำ
Butuh waktu 10 jam dari keberadaanku di kafe untuk meyakinkan diri. Ya, tepat jam 7 malam, aku akhirnya yakin juga dengan apa yang akan kuberitahu kepada mereka. Skenarionya sudah tersusun sempurna. Tidak ada Irina. Hanya aku, ibu, dan Ashton, di kamarku, di rumah keluarga Gardner. Entahlah, aku tidak berhasrat untuk membuat pemberi-tahuan ini krusial—seperti misalnya mengajak mereka ke tempat sepi, romantis, membuat makan malam, atau ke pantai. Tempat-tempat itu adalah tempat yang tepat untuk mengeksekusi, masalahnya. Kau tahu kan, aku tidak akan membunuh lagi? Cukup Si k*****t Hudson saja sudah membuatku terancam jadi tersangka atas dua kasus.... Huh. Aku tengah menyusun kata yang tepat untuk mereka, sambil menghadap ke arah malam yang sedang terang di depan sana. Jendela kamarku yang besar, menghadap langsung ke halaman belakang. Kiranya itu sempurna untuk dijadikan jalan pelarian dengan terjun bebas lalu kabur, sebagai opsi terakhir bila mereka tidak mau mendengarkan penjelasanku sampai selesai. Tak lama, langkah kaki mereka terdengar menuju kamar ini. Obrolan-obrolan tentang perkembangan penyelidikan kasus Wayne dari keterangan Charles menghiasi langkah mereka. “Ya, tidak ada petunjuk berarti yang ditemukan di TKP. Kali ini aksinya cukup rapi katanya.” “Berarti itu tandanya dia cepat belajar, Lizzie.” “Tapi bukan itu definisi belajar yang baik, Yankee, ayolah.” Ashton tergelak. “Apa yang membuat Charles berkata begitu? Apa pembunuhnya tidak meninggalkan debu sepatu sama sekali, atau mengepel sekitar mayat Wayne untuk menghilangkan jejak?” “Tidak lucu!” “Lalu apa?” “CCTV tidak merekam gerak-geriknya. Dia punya keterampilan jaringan yang mumpuni dengan mematikan sistem keamanan kantor polisi.” KLK! Pintu dibuka. Oleh ibu. “Wow, berarti itu bukan penduduk Devensville,” Ashton masih melanjutkan obrolan mereka soal kasus Wayne. “Disini tidak ada penjahat yang serapi itu. Kita masih konvensional.” Aku memutuskan untuk memulai, karena menemukan celah bagi pemberitahuan ini. “Ya, Ashton benar. Pembunuhnya bukan dari Devensville.” Aku berbalik, menemukan ibu dan Ashton yang kini mengerenyit melihatku. Mungkin mereka merasakan keseriusan dan kebenaran dari ucapanku barusan. Padahal, crap, darimana aku tahu? Hanya menebak. Itu jawaban tertepat. “Tahu dar—” “Tapi pembunuh Hudson adalah dari Devensville.” “Laura, kau ikut menyelidiki kasus ini? Ternyata kebersamaanmu dengan Earl—” Kupotong ucapan terkejut Ashton itu dengan cibiran yang kentara. Mungkin dia menyangka kalau kebersamaanku dengan Earl begitu berkualitas sampai berhasil mengungkap klue kedua pembunuhan ini. Tapi tidak. Sama sekali tidak. Kebersamaanku dengan Earl menjadi begitu sedikit karena kasus itu. “Tidak kah kalian lihat?” “Sayang,” Ibu mendekatiku, khawatir dengan arah pembicaraan aneh ini. Belum lagi ucapan-ucapan balasanku yang pasti terdengar begitu janggal di telinga mereka. “Ada apa? Apa yang mau kau beritahu?” “Ya, ada yang ingin kau bicarakan, kan? Beritahu kami.” Sungguhan, aku melihat sosok sepasang orangtua yang sudah sangat kuidam-idamkan setelah sekian lama, dari ibu dan Ashton. Beberapa kalimat ke depan mungkin akan membuat mereka berpaling dariku. Malu. Jijik, tepatnya. AH! Kenapa aku mesti menuruti sisi itu?! Kenapa? Kenapa ada sisi psikopat sialan itu di dalam diriku?! Sekarang, aku membisu, kembali bingung dengan apa yang seharusnya kukatakan. “Laura, bicara saja.” Suara penyayang itu.... Seketika, aku memejamkan mata, dan berpaling dari ibu dan Ashton. Kembali ke jendela besar itu. Rasanya sangsi mereka tidak akan menuruti hukum setelah ini. Kedua orang itu sangat patuh terhadap hukum Devensville. Berbeda denganku. “Maafkan aku.” “Aku mulai tidak suka kau bertele-tele, Nak. Bicaralah.” Ashton mendesak. Kutebak, ia akan mengucapkan kalimat-kalimat bermakna sama sebelum aku membungkamnya. Kalimat langsung yang ia butuhkan. Bukan analogi lagi. Laura, jangan gugup. Kendalikan dirimu. Katakan semuanya. Tiga.... Dua.... Satu. “Akulah yang membunuh Hudson. Sisi psiko itu tak bisa kukendalikan ketika melihatnya berlaku kasar, dan menyadari begitu banyaknya kecurangan yang dia lakukan.. Maafkan aku.” Sedetik.... Dua detik.... Tiga detik.... Diam. Tidak ada balasan. Aku kira mereka masih mencerna apa maksudku. Tapi tiba-tiba, sebuah gamparan kuterima dari Ashton. “ASHTON!?” Aku sempurna tersungkur di sudut ruangan. Sesaat kulihat, wajahnya kecewa. Ashton saja kecewa padaku, apalagi ibu? Sedetik berlalu, tidak ada yang beranjak ke sisiku. Aku terpaku memandang dinding yang kini terasa dingin itu. Membisu. Jelas aku tak berani menyangkal mereka karena memang aku yang salah. Kulihat dari sudut mata, Ashton berbalik dariku. Dia tertawa? Apa yang dia pikirkan? Namun kemudian pria itu lanjut meringis pelan ketika duduk di sisi tempat tidurku. “Sudah kuduga.” Mata hitam itu memandangku tidak menyangka, tak menghiraukan ibu yang sudah nyaris menangis mendengar pengakuanku. “Begitu beratnya kah meredam keinginan membunuh itu?” Aku diam, tak bisa berkata-kata apapun untuk melanjutkan pembicaraan ini. Aku hanya membeku dan tertunduk dari tatapan kecewanya itu. Tiba-tiba ibu terduduk di sisiku, merengkuh wajahku. Dari dekat, aku bisa mendengar nafasnya yang sudah terisak sesak. “Nak ... Laura, lihat ibu.” Tidak.... Ibu seharusnya tahu aku tidak akan sanggup melihat wajah kecewanya itu.. Aku tetap stagnan ke arah lain, kukuh memalingkan pandanganku. “Dunia memang tak adil ... kejam karena kehadiran manusia seperti Hudson. Tapi begitulah cara kerjanya, Nak. Hidup tak akan berbumbu kalau tak seperti itu. Adanya manusia berkelakuan buruk bukan untuk kita hakimi secara sembarangan. Mereka adalah contoh untuk kita agar tak berkelakuan buruk kepada sesama.” Ah, ya...seandainya sedetik saja aku sempat memikirkan itu kemarin, tidak akan seperti ini jadinya. Ibu benar soal itu. Ia selalu menjadi penasihat yang baik untukku. Bahkan saat sekarang: saat harusnya ia ikut menghukumku dengan gamparan seperti Ashton barusan. Akhirnya aku memberanikan diri menoleh padanya. “Maafkan aku, Bu.... Kalau ibu mau melaporkanku ke polisi...tak—” Terlihat sekali, ibu berusaha mengulas senyum. “Tidak dulu.” Tidak...dulu? Aku sampai mengerenyit mendengar perkataannya. Jawaban itu memang sekilas tak aneh. Tapi ibu dan Ashton sangat taat hukum. Jadi aku pikir— “Tapi bukan kau yang membunuh Wayne, kan?” Aku hanya bisa menggeleng menjawabnya. Aku rasa dugaan itulah yang membuat perkataan ‘tidak dulu’ itu keluar. Ibu menduga kalau yang membunuh Hudson dan Wayne adalah orang yang berbeda. Dia ingin pembunuh Wayne ditemukan dulu, barulah melaporkanku ke polisi. Ah...ibu. Sementara itu, Ashton berdiri, mungkin saja sudah menyelesaikan amarahnya. Ia berusaha memandang kami berdua seperti biasa. Nampaknya ia pun berpikiran sama dengan ibu. “Masuk akal. Cara membunuhnya begitu berbeda. Akupun yakin dengan dugaan itu, Lau. Kau tahu sesuatu?” Perlahan, bak membawa tubuh rapuh, ibu menuntunku berdiri. Kini kami masuk ke percakapan berbeda. “Tidak... T-tapi aku mencurigai seseorang....” . . . BERSAMBUNG ....
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม