Nampaknya pencarian bukti itu harus kubatalkan dulu untuk sementara. Esok paginya, setelah malam panjang yang diisi dengan rencana ibu dan Ashton terkait orang yang aku curigai, dan kesepakatan cara mereka untuk tidak dulu melaporkanku kepada polisi, ada yang menyambutku di depan pintu rumah—dengan modus seperti biasa; sarapan bersama. Kalau kau bertanya-tanya siapa, Earl lah orangnya.
Sesaat setelah kami pamitan pada ibu dan Ashton, Earl langsung membawaku ke tempat sarapan favoritnya. Tempat yang agak tidak wajar, memang. Tapi tempat ini sangat memorial untuk kami.
Tepat. Tempat itu adalah tempatku pertama kali merasakan martini terbaik di kota ini, sekaligus tempat Earl pertama kali melihat kalau aku bukan lagi seorang Laura yang baik-baik saja—tapi kelihaianku, ibu, dan Ashton yang menyembunyikan sisi anehku itu, membuatnya tetap menganggapku sebagai Laura yang sama.
Butuh sepuluh menit untuk sampai ke bar Elliot. Dia memang buka sejak pagi, tapi hanya menyediakan menu sarapan dan makanan-makanan seperti di restoran. Barulah sore hingga malam dia mengeluarkan senjata terbaik barnya—dari mulai bir botol, sampai martini.
Begitu masuk, Elliot langsung melihat kami. Dia tersenyum begitu lebar, sampai-sampai kupikir dia masih terlalu menjiwai peran menjadi joker dalam kelompok drama Devensville. Huh.Dia membawa kami ke salah satu meja kosong di bar-nya.
“Jangan bir dulu. Masih pagi.” Elliot nyengir, melirikku dan Earl bergantian.
Earl terkekeh membalasnya. “Tidak. Roti isi terbaikmu saja, Ellie. Dua porsi. Berikut teh hangatnya.”
Oh, Earl memilih menu sarapan orangtua. Aku menahan diri untuk tidak mendengus mendengarnya. Kurasa pilihan pesanan itu mulai dipengaruhi umur dan pikirannya. Earl begitu murung sepanjang perjalanan kesini. Itu membuatku jadi yakin kalau dia sedang banyak pikiran, dan akan membaginya padaku. Disini.
“Kopi?” tawar Ellie.
“Tidak dulu. Aku sudah jetlag semalaman ini.”
Dan Ellie tertawa membalas ucapan murung itu. Taruhan, ketika sesi curhat mereka, Earl sering jadi bahan olokannya.. Haha. Kasihan sekali pacarku ini.
Elliot beralih kepadaku sebelum pergi, “Laura, nampaknya setelah ini dia akan bermanja-manja lagi padamu. Kenapa kalian tidak memesan ruangan VIP saja di kafe tengah kota?”
“Kau tahu dia hanya suka sarapan dan bicara di sini.” balasku seraya menyeringai.
“Aku harap apapun obrolan kalian itu, tidak akan menarik perhatian pengunjungku.”
Dari sudut mata, aku bisa melihat Earl mulai kesal dengan nada meledek terselubung di ucapan sahabatnya ini. “Pergi sana!”
Haha. Tepat.
Satu hal tentang mereka berdua; kalau sudah berada di satu ruangan, akan ada saja ledek-ledekan yang tak ada habisnya. Dari mulai pekerjaan, cinta, sampai keluarga. Earl sudah seperti adik bagi Ellie. Kebersamaan mereka yang sudah sejak kecil, membuatnya menjadi teman pria pertama yang Earl sebutkan bakal jadi pendamping pengantin pria-nya ketika pernikahan kami. Entah ia masih ingat dengan obrolan itu atau tidak.
Sesaat setelah Elliot pergi, aku fokus menatap Earl. Jauh ke dalam matanya. Benar saja; dia sedang banyak pikiran.
“Hei, ada apa?”
“Kasus itu jadi semakin rumit. Tidak ditemukan satupun petunjuk berupa barang bukti yang mengarah kepada pelaku, pada saat olah TKP.” Kemudian Earl mengatupkan kedua tangannya, “Aku rasa beberapa hari ke depan akan jadi perjalanan panjangku dan kawan-kawan mengungkap semua ini.”
Tanganku terulur ke rahang tegas itu—memang itulah yang akan kulakukan secara naluriah begitu menyadari sosok rapuh Earl telah keluar.
“Hei, tidak ada kasus yang tidak dapat dipecahkan, oke? Jangan khawatir. Kalian pasti bisa menemukan pembunuhnya.”
Earl membalas ucapan penyemangat itu dengan mengulaskan senyum mengiyakan, “Ya. Terima kasih, Sayang. Rasanya inilah yang kubutuhkan setelah tekanan dari ayah dan Kepolisian Virginia.”
Mendengar satu pihak baru, aku tak lantas bertanya soal alasan pihak terakhir itu ikut campur dalam kasus ini. Aku hanya harus fokus menenangkannya sekarang.
“Apa kata forensik? Ada sesuatu dalam aliran darah, alergi kulit, atau apapun?”
Earl menggeleng. “Pada Wayne, semuanya normal; hanya luka tembak di leher, jantung, dan perut. Sedangkan Hudson; murni pencincangan manusia..”
Oh. Itu artinya siapapun pembunuh Wayne, dia bersih. Dia tidak murni penjahat atau orang yang terbiasa mengeksekusi karena tak berepot ria untuk melakukan pembukaan pembunuhan Wayne dengan ikatan, mulut direkat, atau menggunakan obat-obatan penyiksa. Dia hanya terfokus mengeksekusi, dan menghapus data-data kasus Hudson. Mungkin saja aksinya bisa serapi itu hanya karena ia sering menyaksikan film-film pembunuhan?
Dan dengan pembunuhannya yang seolah berupa penembakan-tanpa-pemaksaan itu, entah kenapa aku yakin pelakunya adalah orang dalam.
“Siapa yang mengurus kedua kasus itu sekarang?”
“Ada satu detektif yang ditunjuk ayah. Andrew Danielson, namanya. Orang yang waktu itu kau antar ke kantor.”
Sudah kuduga. “Andrew nampaknya punya reputasi yang cukup bagus, ya?”
Earl mengangguk, bersamaan dengan pesanan yang datang—diantar oleh pelayan bar Elliot. “Terima kasih.”
Setelah dua porsi roti isi dan teh diletakan, barulah Earl melanjutkan pembicaraan kami. “Dia berhasil menangkap mafia narkoba Meksiko di Arkansas dalam kurun waktu penyelidikan tiga bulan, dari waktu normal setahun. Benar-benar hebat.”
“Apa...” Sengaja, aku menyeruput tehku dulu, barang sedikit, “dia benar-benar ditugaskan ayah untuk menyelidiki keduanya?”
“Ya, seperti itulah,” Earl bersiap makan, “tapi khusus untuk kasus Hudson, Andrew memintaku menjadi asistennya.”
“Mengapa begitu?”
“Aku menanyakan pertanyaan yang sama padanya. Andrew hanya menjawabnya dengan, aku yakin kau bisa membantuku, kawan. Begitu katanya.”
‘Yakin’? Sangat yakin kah Andrew dengan potensi Earl?
Entahlah. Aku sendiri, tidak begitu. Kecuali ada sesuatu yang Andrew cari dari keterlibatan Earl di penyelidikan ini.
***
Aku tidak mau berspekulasi dulu tentang kelanjutan keterlibatan Earl. Aku hanya perlu fokus dalam pencarian barang bukti, sekaligus terdugaku. Orang sialan itu belum bisa kupastikan siapa. Tapi beberapa pikiran gilaku—khususnya intuisi—menuntunku untuk mencurigai satu orang. Kau akan tahu orangnya saat aku sampai di rumah.
Bukan, bukan orangnya yang mau menghampiriku. Aku hanya akan melacak asal-usulnya melalui internet.
Tepat jam 11 siang, akhirnya Earl melepasku juga dari kegiatan pagi kami. Mungkin inilah kebersamaan terakhir kami hari ini. Setelah ini katanya ia akan ke Rumah Sakit Devensville karena ditugaskan oleh Andrew untuk merangkum kembali investigasi ahli forensik dari keseluruhan potongan tubuh Hudson yang sudah ditemukan dan mencoba menyatukannya kembali. Segala investigasi itu pasti akan membuatnya sangat sibuk hingga beberapa minggu ini.
Tak apa-apa lah, yang penting kesibukan itu membuatku jadi lebih leluasa terfokus ke pencarian pembunuh Wayne.
Beberapa saat setelah Earl berlalu dari depan rumah, aku masuk. Aku mulai merencanakan apa yang ingin kulakukan—terutama di dalam kamar.
Istirahat, membuka laptop, mencari nama itu, mencari data kasus yang sudah ditangani kepolisian Washington, dan—
Crap!
“Kelihatannya kita batalkan dulu soal permintaan pemandu wisata itu, ya?”
B-bagaimana dia bisa ada di...dalam sini?
Kau tahu kan siapa yang kumaksud? Ya, Andrew. Oh, entah sejak kapan dia sudah di sini.
Dan ah, ya....
Apa saja yang sudah pria itu lihat dari rumah ini?
.
.
.
BERSAMBUNG ....