Lima: BUALAN KOSONG

881 คำ
KAFE Elliot selalu menjadi tujuan kami--atau tepatnya Earl, dan berujung dia yang memaksaku  kembali ke sini--untuk melepas lelah. Namun, di satu sisi kafe ini memiliki  ornamen American Classic yang tidak pernah menjemukan mataku. Karena itulah aku tidak pernah kapok untuk kembali lagi dan lagi. Omong-omong soal Elliot, dialah pahlawan bagi hubungan kami. Di tempatnya pertama kali aku dan Earl bertemu, di tempatnya pula pertama kali Earl menyatakan perasaannya padaku, dan di sini pula tempat kami mendiskusikan banyak hal soal masa depan. Ah, pasti kalian beranggapan ini terlalu muluk untuk seorang bipolar. Walau analisa terakhir Ashton menyebutkan bahwa aku ada indikasi menuju MPD--yang mana itu sudah terjadi, omong-omong, saat aku nekat memenuhi nafsuku membunuh Hudson--ketahuilah, aku ini masih seorang manusia yang punya perasaan. Mengenyam masa depan bersama orang yang kucintai jelas merupakan salah satu tujuan hidupku. Sekarang, di hadapanku, orang itu tengah menjelaskan hasil rapat tadi bersama Kepolisian Devensville. Dengan menggebu-gebu, Earl menyebut bahwa pembunuh Hudson tidak berperikemanusiaan dan berperilaku iblis. Tidakkah dia ketahui, asisten senator yang dipuja-puja itu lebih iblis dari sosok manapun di muka bumi ini? Atau ... harus kuberitahu? Ah, malas. Lebih baik Earl mencari tahu rekam jejak politisi itu sendiri. Namun, jangan harapkan ia dapat menyimpulkan kejahatan-kejahatan Hudson dengan cepat karena Earl sesungguhnya hanya tertarik pada kasus pembunuhan sejak memutuskan melamar sebagai detektif di kepolisian pimpinan ayahnya sendiri. Padahal, detektif hukum perdata pun tidak kalah seru. "Laura, halo? Kau mendengarkanku?" Aku tidak mengerjap, hanya mengangguk karena memang sejak tadi aku mendengarkan dia bicara. "Ya, kenapa?" "Apa yang baru saja aku bicarakan?" Sungguhan, terhadap pertanyaan menantang itu aku berusaha menahan diri untuk mengernyit. Ia yakin bertanya begitu? Deret kalimat itu amat klise untuk menanyakan ulang sesuatu yang sudah dijelaskan. Pasti Earl lupa aku memiliki memori yang bagus untuk mengingat hal tidak penting sekalipun. "Tentang penyidikanmu, dan apa saja yang akan kau lakukan di dalam tim nanti." Senyum Earl mengembang lebar. "Aku ditugaskan memeriksa TKP jam 11 nanti, setengah jam lagi. Untungnya TKP penemuan kaki Hudson di dekat sini." "Mau aku temani?" "Sebaiknya jangan. TKP itu tidak akan bersih dari darah." Seandainya Earl tahu apa yang aku lakukan setelah menggergaji kaki itu di rumah peternakan .... Aku diam, mengulum senyum saja. "Atau ... jika kau mau ikut, silakan saja. Mungkin saja kau penasaran dengan apa yang sedang kuhadapi." Nyatanya aku mengacuhkan dulu ajakan itu sampai Elliot mengantarkan pesanan terakhir kami ke meja: kentang goreng. Aku melepas senyum simpul kepadanya. "Bosan, ya, Laura?" Aku tertawa, sementara Earl menyentil nampan sahabatnya itu. "Dia sedang dalam latihan menjadi Nona Hawkins, Elliot. Tolong jangan ganggu kami." "Nona Hawkins, eh?" Nona Hawkins. Aku nyaris memutar bola mata menyadari betapa pede Earl dalam ucapannya barusan. Lihat, Elliot sampai menahan tawa hingga wajahnya memerah. Untung saja tidak membiru--- Dengar, sisi itu bicara lagi. Ashton pernah mengajarkan caranya padaku ketika pemikiran absurd dan aneh mulai muncul: mengalihkan fokus kepada hal lain yang memungkinkan perasaan positifku naik. "Seperti bernyali saja kau menikahiku, Earlie." Karena ucapanku, Elliot menyemburkan tawa geli. Tampang antusias Earl menyurut. "Hahahaha! Dengar itu! Jangan dulu berharap dia akan menjadi Nona Hawkins jika kau saja tidak berani meminangnya." "Berangan dulu, boleh, kan?" "Jangan terlalu banyak berangan. Ditelan angan, kau bisa mati." Aku terkekeh, menyeruput s**u kocokku seiring Elliot yang diusir meninggalkan sisi Earl. Saat kembali padaku lagi, Earl sudah mengambil kantong makanan. Dari kafenya Elliotlah. "Ayo, kita pergi ke tempat yang kumaksud." Tanpa aku bisa menginterupsi lebih lanjut, Earl menarikku pergi usai memasukan kentang goreng ke kantong makanan kertas itu. *** Lokasinya ternyata ada di rumah peternakan kosong tempatku mengeksekusi potongan tubuh Hudson dari pinggang ke bawah. Aku menyebar potongan-potongan itu, tapi benar-benar lupa jika kaki kuletakan di sana. Begitu turun dari mobilnya, Earl langsung mengenakan masker, lalu menyiapkan kantong-kantong barang bukti. Aku memperhatikan, terkesima melihat betapa 'terlihat' gesit Earl bekerja. Aku duduk di atas mobil sambil memperhatikan Earl mengumpulkan barang bukti. Lihat, tega kau menyakitinya? Sisi lain diriku bertanya. Tapi, aku harus bagaimana, sialan!? Mengaku. Menyerahkan diri. Kurasa tidak semudah itu. Jangan persulit hal-hal yang seharusnya bisa dilaksanakan dengan mudah. Aku mendengkus. Malu aku. Harus berapa kali lagi kalian menyimak mereka bertengkar? Dia yang memulainya lebih dulu. Tidak salah? Aku mengembuskan napas kasar untuk menyudahi konfrontasi empat sosok di dalam kepalaku. Biasanya, jika mereka dibiarkan aku akan berakhir dengan berteriak hingga percobaan bunuh diri. Tidak kuat menahan sakit kepala yang hebat. Lima menit kemudian, Earl sudah selesai dengan urusannya. Ia beranjak dari sekitar rumah peternakan itu membawa enam kantong bukti, salah satunya berisi potongan kaki .... "Itu kaki yang sebelah mana?" Earl mengangkat wajah, menyeringai. "Kanan. Yang kiri belum ketahuan." "Ada indikasi awal korban dieksekusi dengan apa?" "Kupikir...." Earl melihat sejenak bentuk potongan di pergelangan kaki itu. "... gergaji. Soalnya cukup banyak terlihat gurat potongan yang seperti dilakukan dengan asal dan bukan oleh ahli pertukangan--menurutku. Jadi ...." Earl menggantungkan ucapannya karena secara bersamaan ia pun memasukan semua barang bukti ke bagasi mobil. "Jadi, satu klue sudah kau dapatkan." "Satu. Baru satu." Earl merangkulku masuk ke mobil. "Makanya, ayo kita ke forensik untuk menyerahkan bukti ini segera agar bisa mendapatkan hasil pemeriksaan lebih cepat. Dengan begitu, kita tahu bagaimana langkah selanjunya." Ini dia Earl-ku. Earl yang selalu merasa bangga dengan bualan serba-serbi penyidikan yang ia gunakan hanya untuk menyenangkan hatinya. Aku percaya dia akan menangis suatu hari nanti harus menangkap kekasihnya sendiri. * . * BERSAMBUNG .....
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม