Mataku menatap nisan bertuliskan “EMMET WILLIAM GARDNER” dengan sayu. Di dalam sana, ada jasad yang terbaring dengan kondisi mengenaskan. Lima tembakan bersarang di tubuhnya. Di kepala, leher, d**a, dan dua di perut. Seharusnya mereka tak perlu seperti itu. Mereka sama sekali tidak perlu menembak sebanyak itu. Hanya di kepala, apa tidak cukup?
Maksudku, aku bukan senang mengetahui ayah dibunuh. Tidak, tidak sama sekali. Aku menyayangkan alasan mereka—atau dia (?), entahlah, aku tidak tahu pasti—harus membuat mayatnya menyeramkan dengan lima lubang itu. Delapan tahun lalu, ayah roboh begitu saja di depan mataku dengan lima luka tembak itu—rupa jenazah yang cukup menyeramkan untuk dilihat oleh remaja berusia 19 tahun. Tepat delapan tahun yang lalu pula, aku mematri dalam kepalaku bahwa pembunuh bayaran lah yang menghabisi ayah karena dengan cara ditembak dari atas atap.
Rekannya sesama sniper? Aku tak tahu. Ibu tak pernah memberikanku kesempatan untuk menyelidiki siapa orangnya. Setiap kali aku bertanya tentang hari itu—apakah ayah bersikap mencurigakan atau semacamnya—ibu selalu menjawabnya dengan pengalihan perhatian. Tapi aku yakin hal itu dia lakukan hanya karena tidak ingin terjebak dalam kesedihan yang berlarut-larut setelah kepergian ayah, sebab setiap aku mengintip ibu di kamarnya, yang terlihat darinya hanya sorot tidak mengerti sambil menatap foto ayah seolah menunjukan rasa penasarannya juga tentang sebab ayah dibunuh.
Ya, dan sejauh yang aku tahu, mereka berdua sangat harmonis. Sangat saling mencintai. Ibu mengenal dan mengerti ayah, begitu juga sebaliknya. Dan sebab ayah dibunuh adalah salah satu yang tidak dia mengerti, makanya ibu tak bisa menjelaskan apapun padaku.
Di bawah namanya, ada kesaksian ibu terhadapnya semasa hidup. Kesaksian itu bertuliskan:
Hidup dengan berani, mati dengan hati. Kau akan selalu di hati kami selamanya, Emmet. Pria baik, tegar, kuat, berani, dan pantang menyerah. Kami akan merindukanmu.
Pelan, aku menghela. Nyatanya yang ibu punya sekarang tak lagi seperti itu. Ashton berhasil mengalihkan dunianya dari kedukaan selepas kepergian ayah. Aku senang akan itu. Bersamaan dengan kedukaannya yang terhapus ketika dekat dengan pria keturunan Montreal-Virginia itu, ibu jadi semangat lagi memulai hidup dan makin menjadi ibu yang kukenal sejak lahir: seorang Lizzie Gardner yang ramah dan mempunyai cita-cita mendirikan tempat makan sendiri. Ya, kini dia mencapainya bersama kafe itu.
“Dia dibunuh?”
Crap!
Aku menoleh ke sumber suara, terlalu kaget untuk membalas dengan kata terlebih dulu sebelum menoleh. Di belakangku ada seorang pria, kira-kira 29 tahun, dan memakai jaket hitam berkupluk. Dia berkacamata. Tinggi. Orang ini lebih cocok menjadi aktor, kalau bukan karena kacamata yang menghiasi wajahnya.
“Y-ya..”
“Berita tentangnya bahkan sampai tersebar ke DC.” katanya lagi, mengulaskan senyum di akhir kalimatnya. Hm, apa maksudnya? Dia menatapku ramah, seperti berbicara dengan orang yang telah dikenalnya.
Tapi jelas, aku baru melihat orang ini. Dia asing, dan jarang-jarang orang asing mau menegur pengunjung pemakaman. Kau tahu, adat individualis, berkembang lebih buruk daripada konsumtif di Amerika.
Dia mengulurkan tangan, “Detektif Danielson.”
D-detektif? Sial!
Terpaksa, demi untuk tidak dicurigainya, aku membalas uluran tangannya dan memperkenalkan diri.
“Laura. Senang bertemu dengan anda, Pak.” Tak lupa, kutambahkan kekehan khas rakyat biasa ketika tahu berhadapan dengan seorang detektif. “...Aku tidak menyangka ada kata detektif di depan nama itu.”
Dan, jabat tangan kami usai. “Aku pun begitu.”
Kemudian, diam. Aku tidak tahu mau mengobrolkan apa lagi. Salah sedikit, akulah yang akan diinterogasi olehnya. Sementara itu, dia entah kenapa menjadi diam. Kami kikuk sejenak, hingga aku memutuskan untuk menoleh kepada nisan ayahku lagi.
“Kau bisa memanggilku Daniel saja, omong-omong. Atau Andrew, nama depanku.”
O...ke. Poinnya adalah: kenapa dia tahu-tahu jadi mengajakku berkenalan dan dari kalimat itu terkesan ingin mengenalku lebih jauh?
Apa jangan-jangan Danielson—oh, maksudku Daniel, atau Andrew (?)—sudah tahu soal pelaku pembunuhan itu dan mencurigaiku? Cepat sekali responnya! Aku harus bertindak.
“Ya. Ya, tentu saja.” tanggapku langsung. Kini di dalam kepalaku tengah bermain berbagai alternatif rencana untuk menghabisinya.
“Hm, oke, kita langsung saja, ya..”
Langsung?
“Kau seperti mengenal daerah sini. Bisakah kau tunjukan padaku dimana kantor polisi Devensville? Aku dipanggil oleh Charles Hawkins untuk membantu menyelidiki satu kasus.”
Oh... Ternyata dia hanya orang yang tersesat. Aku sampai harus menahan dengusanku karena terlalu lega. Sialan. Nyaris saja sisi psikopatku merencanakan pembunuhan kedua..
“Tentu, aku tahu. Mari kuantar.”
Kemudian, kami beranjak dari pemakaman ini. Hampir di mobilnya, Andrew mengajakku berbincang lagi.
“Kebetulan dari sekian banyak tempat di Devensville, aku hanya tahu pemakaman ini, karena di sini ada pusara temanku. Aku baru selesai menjenguknya.”
Di sisinya, aku hanya mengangguk. Pelan, sungguhan aku berusaha keras menghilangkan raut mencurigakan itu. Jalan terjitunya salah satunya dengan menyambung obrolan mengikuti topiknya.
“Teman?”
“Teman seniorku, sebenarnya. Kau tahu, hubungan terikat. Seniorku seperti memberikan amanat kalau satu tahun sekali aku harus ke mari, mengunjungi makam teman yang sudah seperti keluarganya ini.”
“Siapa namanya?”
“Aku tidak tahu. Dia tidak pernah memberitahuku.”
“Kau harus bertanya padanya.”
Begitu kami di dalam mobil, aroma lavender menguak, menenangkan indera penciumanku. Sementara itu dari Andrew, gelengan menyusul sebagai jawabannya. “Dia sudah ada di pusara juga, di samping makam temannya yang tanpa nama itu.”
*
Andrew memberikanku tumpangan sampai ke Kantor Polisi Devensville. Dia mengajakku mengobrol di sepanjang jalan, tak membahas lagi soal teman seniornya itu. Dan yah, jujur saja aku juga tidak mau terlalu peduli.
Kemampuan interaksinya tidak terlalu buruk, omong-omong. Meski di awal perkenalan kami dia bersikap seperti ingin menginterogasiku, Andrew berubah menjadi sekian kali lebih ramah ketika di mobil. Alhasil, perjalanan setengah jam kami tak terasa menjengahkan.
“...Terima kasih tumpangannya. Aku turun di sini saja.”
Andrew mengangguk dan tersenyum, “Ya, sama-sama. Simbiosis mutualisme, eh?”
“Tentu.” Aku setuju, lalu keluar dari mobilnya, hendak langsung berjalan pulang.
Namun tiba-tiba dua tangan kekar mencegatku. Tepatnya, dengan pelukan. Aku tahu kali ini itu bukan orang lain. Itu Earl. Dia sudah selesai dengan rapatnya.
“Hei, Sayang!” Satu ciuman penyambutan mendarat di pipiku, lalu pemiliknya menghadapkan tubuhku padanya. Dia menyeringai lebar. “Nampaknya aku baru saja melihat pembohong di hadapanku.”
“Pembohong? Tidak!” Menanggapinya aku tergelak pelan. Sematan menyeramkan itu sama sekali tidak cocok diucapkan oleh Earl. “Aku sudah membaik setelah tidur, tadi. Makanya aku sedikit berjalan-jalan.”
“Kemana, hm?”
“Makam ayah, ke kantormu..”
Wajah Earl menjadi memaklumi. Dia selalu begitu setiap aku mengucapkan sesuatu yang berkaitan dengan ayah. Dulu, sepuluh tahun lalu saat kami masih sama-sama 17, atau dua tahun sebelum kematian ayah, Earl menjadi teman laki-lakiku yang paling rajin main ke rumah. Dari sana, ayah dan dia menjadi dekat. Berkariernya dia menjadi aparat, juga atas saran ayah.
“Menaruh bunga apa kali ini?” tanya Earl kemudian.
“Lily.”
“Bunga kesukaannya, bagus sekali.”
Lihat, bahkan Earl masih ingat bunga kesukaan ayah. Betapa dekatnya mereka dulu.
“Omong-omong, aku melihatmu mengantar seseorang yang penting, tadi. Siapa dia?”
Ah, dia memperhatikan? Tentu saja. Jarak antara keluarnya aku dari mobil Andrew dengan sapaannya versi peluk tadi, tidak begitu jauh.
“Detektif Danielson.”
“Oh, orang itu lebih terlihat seperti aktor..”
“Kau lebih terlihat seperti pelawak..”
Dan, tawa kamipun meledak, sama-sama mengiyakan kenyataan itu. Kembali sebuah ironi; zaman sekarang, tak ada isi seseorang yang sesuai dengan kemasannya. Ya, dengan Andrew yang bisa dibilang jauh lebih tampan dan muda daripada orang-orang yang seharusnya berpangkat detektif, lalu pria di hadapanku ini yang sama sekali tidak cocok menjadi polisi kalau ditilik dari segi kepribadian dan tampang.
“Mm, mengingat kau sudah lebih baik, bagaimana kalau kita berjalan-jalan?”
“Kemana?”
“Kemana saja yang kau mau, asal jangan membatalkan janji menonton CSI-NY di Minggu nanti.”
Dia masih mau menonton serial itu? Duh, Earl..
Aku hanya bisa menggeleng-geleng membalasnya. “Kau tidak akan menyerah untuk membuatku menyukainya, ya kan?”
“Tidak, Sayang.” Kemudian, aku merasakan genggaman tangan Earl. Kami bergandengan dan berjalan sejajar.
“...Jadi, mau kemana kita hari ini?”
.
.
.
BERSAMBUNG ....