Ketika maut tidak menjemput jiwamu, melainkan menuntut takdirmu.
Ishihara mengira hidupnya hanyalah deretan lara—seorang gadis buangan dari skandal perselingkuhan, menyimpan karunia kelam yang sanggup melenyapkan segalanya dalam diam. Namun, tatkala ledakan bom melumat ballroom Hotel Austeen, takdir merobek demarkasi dan melemparkan suksmanya ke alam lain.
Bukan keputusasaan yang menyambutnya, melainkan sesosok pria berjubah hitam dengan senyum nan teramat manis: sang Mair.
Terperangkap di dalam Mansion Abadi, Ishihara menolak tunduk pada status "tawanan" yang dipaksakan sang penguasa. Di bawah bayang-bayang jubah kelam yang sarat akan teka-teki, gadis itu nekat melarikan diri demi mencari jalan pulang—tanpa menyadari bahwa raga dan jiwanya telah dinyatakan lenyap tak berbekas di dunia nyata.
Namun, di balik jantra galaksi yang sekarat, sebuah kebenaran mengerikan perlahan terkuak. Ishihara tidak sekadar diculik. Ia adalah kepingan arkanum yang diperebutkan oleh entitas astral. Dan sang Mair... takkan pernah membiarkannya pergi.
Saat bahaya dimensi mengancam dan konspirasi di dunia nyata kian merayap, apakah Ishihara sanggup menjinakkan badai di dalam nadinya untuk merebut kembali kehidupannya, ataukah suksmanya akan selamanya terikat dalam dekap keabadian sang Mair?
Vienna was supposed to be about Bach, Tchaikovsky, and a ten-hour daily violin routine. Instead, Nevaeh accidentally stumbles into a high-stakes underworld deal, catching the ruthless attention of Europe's most lethal biker gang leader.
Months later, safely back to her normal life, she thinks the nightmare is over. She is wrong. The mysterious, cedarwood-scented stranger who once mocked her frantic escape turns out to be the ultimate predator of the dark—and he has already marked his territory.
Dragged into a world of leather, blood, and bullet-ridden shadows, Nevaeh realizes she is no longer just a classical musician running from chaos. She is his obsession.
"Save your screaming for the stage, maestra," he murmurs against her ear, his thumb tracing her pulse with a lethal, possessive calm as his men lock down every exit. "Because off the stage, you belong to my ride now."
Bagi Eleanor von Rauer, hari kehancuran benteng keluarganya adalah sebuah pesta kebebasan. Selama belasan tahun, ia hidup sebagai putri sah yang disiksa, dikurung di ruang bawah tanah, dan diinjak-injak karena dianggap tidak memiliki bakat sihir. Ketika pasukan Kekaisaran Solstheim meratakan kerajaannya tanpa sisa, ia mengira takdirnya telah selesai.
Ia salah besar.
Penyelamat sekaligus malaikat mautnya, Duke Arjan Violart—pahlawan perang paling mematikan dan ditakuti di seluruh kekaisaran. Alih-alih mengeksekusinya atau menjadikannya budak rendahan, Arjan justru menuntut hak istimewa atas rampasan perang yang paling mengejutkan: menjadikan Eleanor istrinya.
Ketika sang pahlawan perang menuntut penyerahan mutlak dari tubuh dan jiwa sang putri rampasan, mampukah Eleanor bertahan dari gelombang gairah dan ancaman maut yang mengurungnya?