Bab 1 | Hari Pernikahan
Katedral Grand Archy berkilau di bawah naungan pinar pancarona dari jendela mawar, namun atmosfer di dalamnya terasa seperti ruang eksekusi yang senyap. Di atas altar, Eleanor berdiri tegak. Gaun putihnya menjuntai berat, kontras dengan wajahnya yang pucat, dingin, dan tanpa ekspresi.
Bisikan demi bisikan beracun melayang di udara, menusuknya dari segala penjuru arah. Tatapan merendahkan, jijik, dan penuh kebencian tertuju padanya.
Bangsawan Kekaisaran Solstheim tak pernah sudi menerima putri dari sisa-sisa musuh yang kalah perang. Mereka menganggap kehadirannya di sisi sang pahlawan adalah sebuah penodaan terhadap kemenangan kekaisaran.
Namun, Eleanor sama sekali tidak terusik oleh bisikan itu. Di balik topeng ketenangannya yang sempurna, pikirannya sedang berpacu hebat, memproses kekacauan hidup yang berputar di luar nalar dalam dua hari terakhir.
Kabar baiknya, keluarga asalnya—para b******n keji yang selama belasan tahun mengurung dan menyiksanya—telah tewas rata dengan tanah dalam pembantaian benteng terakhir Kerajaan Rauer.
Kabar buruknya, sebagai rampasan perang nan bernyawa, ia justru diserahkan sebagai istri kepada musuh terbesarnya.
Dan musuh itu kini berdiri tepat di hadapannya.
Arjan Violart.
Sang Duke, pahlawan perang yang diagung-agungkan oleh satu kekaisaran, sekaligus malaikat maut paling nyata dalam mimpi buruk Eleanor. Pria yang memimpin pasukan yang meratakan Kerajaan Rauer. Pria yang menghancurkan dunianya.
Eleanor melirik sekilas ke arah Arjan. Jantungnya bergemuruh hebat, hampir melompat keluar dari d**a. Sensasi dingin menjalar di ujung jemarinya karena rasa takut yang luar biasa.
Ia tahu betul reputasi pria itu—dingin, tanpa ampun, dan mematikan. Berdiri sedekat ini dengan Arjan terasa seperti menari di tepi jurang bersama naga yang sedang tidur.
Tenang, Eleanor. Kau sudah melewati neraka yang lebih buruk dari ini, batinnya memperingatkan diri sendiri, mengeratkan jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan gaun.
Arjan menatapnya. Tatapan tajam pria itu menghunjam tepat ke mata Eleanor, seolah ingin merobek pertahanan mentalnya hingga hancur berkeping-keping. Tiada senyum kemenangan di wajah Arjan, hanya selarik rasa penasaran yang gelap dan dingin.
Ketika tangan bersarung tangan hitam itu terulur untuk menyingkap veil pengantin, Eleanor menahan napas, mempertahankan tatapan datarnya yang paling mematikan.
Tangan itu terulur perlahan, memangkas jarak di antara mereka. Di balik kain transparan veil pengantin, mata Eleanor menatap lurus, mempertahankan topeng es yang telah ia tempa selama bertahun-tahun di ruang bawah tanah keluarganya.
Bagi dunia luar, ia tampak seperti patung porselen yang arogan. Namun, Arjan bukan bangsawan bodoh yang hanya melihat penampilan luar.
Sebagai orang yang telah mengecap ribuan medan pertempuran, insting Arjan teramat tajam untuk mengabaikan detail-detail kecil.
Di balik ketenangan yang dipaksakan itu, ia dapat menangkap getaran mikroskopis pada ujung jemari Eleanor yang mencengkeram lipatan gaun. Ia bisa melihat kilat kepanikan yang melintas di manik mata gadis itu, bagaikan mangsa kecil yang terpojok di hadapan pemangsa puncak rantai makanan.
Seekor kelinci kecil, batin Arjan sinis, sudut bibirnya terangkat sebelah membentuk senyum tipis yang tersembunyi. Kelinci malang yang mencoba berlagak seperti serigala.
Arjan menyingkap veil itu dengan gerakan tegas. Udara dingin katedral seolah membeku ketika tatapan mereka terkunci sepenuhnya.
Dari jarak sekecil ini, bau dupa suci bercampur dengan aroma cedar yang melekat pada tubuh Arjan merasuk ke hidungnya. Pria itu menunduk sedikit, memanfaatkan perbedaan tinggi badan mereka untuk mengintimidasi. Tatapannya menelusuri wajah Eleanor—pucat, tanpa cela, namun menyiratkan lelah dan ketegangan yang luar biasa.
Arjan tahu betul siapa gadis ini. Eleanor von Rauer, putri yang tak diunggulkan dari musuh bebuyutannya, seorang putri yang selama ini disembunyikan di balik tembok tinggi istana Rauer sebelum akhirnya hancur lebur. Alih-alih mengeksekusinya atau menjadikannya b***k, Arjan justru meminta sebuah hadiah pernikahan yang membuat kaisar dan dewan bangsawan terhenyak.
Bukan karena belas kasih. Tentu saja tidak. Arjan adalah monster yang dibentuk oleh darah dan api.
"Kau gemetar, Yang Mulia," bisik Arjan rendah, suaranya berat, serak, dan begitu dekat hingga mampu menggetarkan bulu kuduk Eleanor.
Suara itu—yang dalam mimpi buruk Eleanor kerap menjadi lonceng kematian bagi bangsanya—terdengar begitu santai, namun sarat akan cemoohan nan menggelitik.
Eleanor menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sekering gurun. Ia benci kenyataan bahwa tubuhnya berkhianat, bahwa rasa takut itu begitu kentara hingga pria di hadapannya bisa membacanya dengan mudah.
Kendatipun demikian, ia tidak akan menyerah pada rasa takut. Jika ia harus mati di tangan sang pahlawan perang, maka ia akan mati dengan harga diri utuh.
Dengan sisa-sisa keberanian yang dimilikinya, Eleanor mendongak lebih tinggi, memaksa suaranya terdengar datar dan dingin, meski hatinya mencelos.
"Aku hanya... merasa udara di sini terlalu buruk untuk bernapas, Yang Mulia," balas Eleanor tanpa mengalihkan pandang, menantang sang malaikat maut secara langsung.
Arjan terdiam sejenak. Alih-alih marah atau tersinggung atas nada bicara Eleanor yang nyaris tidak sopan untuk ukuran seorang tawanan perang, mata tajam Arjan justru membulat kecil.
Seringai tipis, dingin, dan berbahaya akhirnya terbit di bibir Arjan. Menarik. Kelinci kecil hasil buruannya ternyata memiliki taring yang tersembunyi.
Namun di dalam kepala Eleanor, situasi yang terjadi justru sangat, sangat berbeda…
'KENAPA DIA TERSENYUM?! SIALAN, CEPAT SELESAIKAN INI DAN BIARKAN AKU MENGURUNG DIRI DI KAMAR! AKU TIDAK PEDULI KAU MAU MEMBAWA WANITA LAIN KE KAMARMU, AKU CUMA MAU TIDUR!'
Jeritan histeris itu berputar-putar tanpa henti di benaknya, menciptakan badai kepanikan yang kontras dengan wajah datarnya yang nyaris tanpa kedip. Otaknya yang lelah akibat trauma masa lalu dan ketegangan hari pernikahan kini hanya mendambakan satu hal, yakni kasur empuk, selimut tebal, dan keheningan total tanpa ancaman kematian.
Arjan masih menikmati ekspresi tertahan di wajah istrinya. Ia bisa melihat manik glaucous Eleanor sedikit melebar, lalu kembali menyipit tajam—reaksi yang begitu jujur di mata seorang jenderal.
Alih-alih melancarkan intimidasi fisik seperti yang dikhawatirkan, Arjan justru kembali mendekatkan wajahnya hingga pipi mereka nyaris bersentuhan, membisikkan sesuatu tepat di daun telinga gadis itu.
"Udara di katedral ini memang buruk," suara Arjan rendah, sengaja dibuat intim agar para bangsawan di belakang mereka bisa melihat betapa mesranya sang pahlawan perang memperlakukan istrinya. "Tapi kau harus bersabar, Yang Mulia. Acara penyambutan di kediaman kita... baru akan dimulai."
Penyambutan? d**a Eleanor kembali mencelos. Maksudnya siksaan mental babak kedua?
Sebelum Eleanor sempat melontarkan sarkasme lain untuk membentengi diri, Arjan menarik diri. Pria itu mengangkat tangannya, memberi gestur singkat kepada pendeta agung untuk meresmikan upacara tersebut.
Detik berikutnya, sorak-sorai artifisial dan tepuk tangan kaku menggema di seluruh ruangan. Pernyataan sah telah diucapkan. Ikatan maut antara sang pahlawan dan putri rampasan perang telah resmi terkunci di atas kertas.
Saat mereka hendak berbalik untuk berjalan berdampingan keluar katedral, Arjan mengulurkan sikunya. Lengan kokoh terbalut kain mewah itu menawarkan jarak yang mau tak mau harus Eleanor ambil.
Dengan tangan yang masih terasa dingin, Eleanor menyelipkan jemarinya di lekuk siku Arjan. Sengguhan napas halusnya tertahan begitu ia merasakan otot keras di balik lengan mantel suaminya.
Bertahanlah, Eleanor, ratap batinnya, melangkah anggun di samping malaikat mautnya menuju kereta kuda yang akan membawa mereka ke sarang sang monster. Tinggal lewati malam ini, besok kau bisa pura-pura mati suri.