Menikah dengan laki-laki yang kita cintai seharusnya menjadi awal kebahagiaan. Begitulah yang Nadira pikir ketika dia memutuskan menerima lamaran Arga, pria yang telah menemaninya melewati banyak hal.Namun kebahagiaan itu tidak benar-benar dimulai.Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga suaminya, Nadira merasakan sesuatu yang tidak biasa. Senyum yang terlihat ramah ternyata menyimpan penolakan, dan tatapan hangat berubah menjadi dingin. Ibu mertua Arga tidak pernah benar-benar menerima Nadira sebagai bagian dari keluarga.Setiap hal yang Nadira lakukan selalu salah di mata sang mertua. Masakan yang Nadira buat dianggap tidak enak, caranya berpakaian dikritik, bahkan keberadaannya di rumah itu terasa seperti beban.Perlahan Nadira menyadari satu hal yang menyakitkan.Di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang, Nadira justru merasa seperti orang asing.Seperti tamu yang kehadirannya tidak pernah benar-benar diinginkan.Di antara cinta kepada suaminya dan luka yang terus Nadira terima dari ibu mertua, Nadira harus memutuskan:bertahan demi pernikahannya, atau pergi demi menjaga harga dirinya.Karena terkadang, rumah yang paling menyakitkan adalah rumah yang seharusnya menjadi tempat kita dicintai.
Pernikahan Nayara dan Raka terlihat baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada drama berlebihan. Sampai sebuah noda lipstik yang bukan miliknya muncul di kerah baju sang suami.
Sejak malam itu, hal-hal kecil mulai terasa berbeda. Raka masih mencium keningnya sebelum berangkat kerja. Masih tersenyum. Masih berkata βaku baik-baik saja.β Tapi kehangatan itu terasa seperti kebiasaan, bukan perasaan.
Lalu pesan misterius datang.
Nayara tidak menemukan suaminya di kamar orang lain. Dia tidak memergoki pelukan atau pengakuan cinta. Yang dia temukan adalah sesuatu yang lebih sunyiβrahasia yang disembunyikan pelan-pelan, dan kebohongan kecil yang terus dianggap sepele.
Seberapa jauh sebuah βcuma chatβ bisa menghancurkan rumah tangga?
Dan sampai di titik mana seorang istri harus bertahan sebelum harga dirinya benar-benar runtuh?