bc

Di Rumah Suamiku, Aku Hanya Tamu

book_age18+
3
FOLLOW
1K
READ
revenge
forbidden
love-triangle
contract marriage
BE
family
HE
forced
arranged marriage
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
serious
city
office/work place
cheating
secrets
wild
like
intro-logo
Blurb

Menikah dengan laki-laki yang kita cintai seharusnya menjadi awal kebahagiaan. Begitulah yang Nadira pikir ketika dia memutuskan menerima lamaran Arga, pria yang telah menemaninya melewati banyak hal.Namun kebahagiaan itu tidak benar-benar dimulai.Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga suaminya, Nadira merasakan sesuatu yang tidak biasa. Senyum yang terlihat ramah ternyata menyimpan penolakan, dan tatapan hangat berubah menjadi dingin. Ibu mertua Arga tidak pernah benar-benar menerima Nadira sebagai bagian dari keluarga.Setiap hal yang Nadira lakukan selalu salah di mata sang mertua. Masakan yang Nadira buat dianggap tidak enak, caranya berpakaian dikritik, bahkan keberadaannya di rumah itu terasa seperti beban.Perlahan Nadira menyadari satu hal yang menyakitkan.Di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang, Nadira justru merasa seperti orang asing.Seperti tamu yang kehadirannya tidak pernah benar-benar diinginkan.Di antara cinta kepada suaminya dan luka yang terus Nadira terima dari ibu mertua, Nadira harus memutuskan:bertahan demi pernikahannya, atau pergi demi menjaga harga dirinya.Karena terkadang, rumah yang paling menyakitkan adalah rumah yang seharusnya menjadi tempat kita dicintai.

chap-preview
Free preview
Rumah Baru, Perasaan Baru
Hari itu terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Nadira berdiri di depan rumah besar milik suaminya, Arga, dengan halaman yang rapi dan suasana yang tenang. Tangannya masih digenggam oleh Arga, hangat, menenangkan, seolah memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Cincin di jari manisnya berkilau pelan saat terkena cahaya sore. Ia tersenyum kecil, menikmati perasaan menjadi bagian dari keluarga baru. Menikah dengan orang yang dicintai seharusnya memang terasa seperti ini, penuh harapan dan kebahagiaan. Langkah pertama Nadira memasuki rumah itu dipenuhi rasa harap dan keinginan untuk segera beradaptasi. Ia mengamati setiap sudut dengan hati-hati, mencoba mengingat bahwa tempat ini sekarang bukan lagi rumah orang lain, melainkan juga rumahnya. Setidaknya, seharusnya begitu, karena ia kini telah menjadi bagian dari keluarga ini. Seorang wanita paruh baya berdiri tidak jauh dari ruang tamu, dengan wajah yang tenang, rapi, dan terlihat berwibawa. Nadira langsung tahu siapa dia, bahkan tanpa diperkenalkan, karena itu adalah ibu dari suaminya, Arga. Nadira menunduk sedikit, memberi salam dengan sopan, mencoba menunjukkan rasa hormat yang ia miliki kepada ibu mertuanya. Wanita itu membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis, yang tidak dingin, tapi juga tidak benar-benar hangat. "Masuk,” ucapnya singkat, tanpa pelukan atau sambutan berlebihan. Tapi Nadira mencoba berpikir positif, bahwa tidak semua orang pandai menunjukkan perasaan, mungkin itu saja. Ia melangkah masuk lebih jauh ke dalam rumah, menyadari bahwa suasana rumah itu rapi, teratur, hampir terasa terlalu sempurna. Tidak ada barang yang tampak salah tempat, tidak ada suara yang benar-benar ramai, semuanya terasa terkendali. Hari pertama itu berjalan tanpa banyak percakapan, Nadira lebih banyak mengamati, belajar, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Sesekali Arga menggenggam tangannya, memberi senyum kecil yang cukup untuk membuat Nadira merasa tenang, itu cukup, atau setidaknya, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu cukup. Menjelang sore, Nadira memberanikan diri masuk ke dapur, ingin melakukan sesuatu, apa saja, selama itu bisa membuatnya merasa menjadi bagian dari rumah ini. Ia membuka lemari perlahan, mencari bahan yang bisa ia gunakan, tangannya bergerak hati-hati, seperti takut melakukan kesalahan. Ia mulai memasak, bukan sesuatu yang istimewa, hanya makanan sederhana, tapi ia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan harapan. Saat makanan itu tersaji di meja, Nadira berdiri sedikit kaku, menunggu, tanpa sadar, jantungnya berdetak lebih cepat. Wanita itu duduk perlahan, melihat hidangan di depannya, beberapa detik berlalu, sunyi, lalu sebuah suara terdengar. "Kamu yang masak?” Nadira mengangguk pelan, wanita itu tidak langsung menjawab, ia hanya mengambil sedikit, mencicipi, lalu meletakkan kembali sendoknya, tanpa ekspresi jelas, hanya diam. "Lain kali, perhatikan rasanya,” kalimat itu terdengar biasa, tidak keras, tidak juga tajam, namun entah kenapa, cukup untuk membuat senyum Nadira yang tadi bertahan, perlahan menghilang. Ia mengangguk lagi, lebih pelan, “Iya, Bu,” tidak ada yang salah, tidak ada yang benar-benar buruk, tapi ada sesuatu yang terasa tidak tepat, seperti ada jarak yang tidak terlihat, tapi nyata. Malam itu, Nadira duduk di tepi tempat tidur, menatap sekeliling kamar yang kini menjadi miliknya, atau setidaknya, disebut begitu. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri, mungkin ini hanya soal waktu, mungkin ia hanya perlu berusaha lebih keras. Mungkin suatu hari nanti, ia akan benar-benar diterima di rumah ini, namun jauh di dalam hatinya, ada satu perasaan kecil yang mulai muncul, perasaan yang belum ingin ia akui, bahwa di rumah ini, ia masih terasa seperti orang lain. Nadira memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir perasaan yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Belum. Masih terlalu awal untuk menyimpulkan sesuatu. Pintu kamar terbuka pelan. Arga masuk dengan langkah ringan, masih dengan kemeja yang sedikit kusut. Ia tersenyum saat melihat Nadira yang masih duduk di tepi ranjang. “Belum tidur?” tanyanya lembut. Nadira menggeleng pelan, lalu ikut tersenyum, meski tidak sepenuhnya. “Mas juga belum." Arga mendekat, duduk di sampingnya. Tangannya secara refleks meraih tangan Nadira, menggenggamnya hangat seperti sebelumnya. Sentuhan itu masih sama. Menenangkan. Tapi entah kenapa… tidak lagi cukup untuk menghilangkan semua yang Nadira rasakan. “Capek?” tanya Arga. “Sedikit,” jawab Nadira jujur, suaranya pelan. Ada jeda sebentar. Nadira ragu, tapi akhirnya tetap mencoba. “Mas… Ibu memang seperti itu ya?” Pertanyaan itu keluar lebih hati-hati dari yang ia kira. Arga tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, seperti sudah terbiasa dengan pertanyaan semacam itu. “Ibu orangnya tegas,” katanya akhirnya. “Tapi nanti juga kamu terbiasa." Terbiasa. Kata itu kembali terdengar. Sama seperti yang Nadira katakan pada dirinya sendiri beberapa saat lalu. Ia mengangguk pelan. “Iya…” Padahal jauh di dalam hatinya, ia tidak benar-benar yakin. Malam itu berlalu tanpa banyak percakapan. Nadira berbaring di samping Arga, menatap langit-langit kamar yang terasa asing. Ia mencoba memejamkan mata, mencoba tidur, tapi pikirannya tidak benar-benar tenang. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Dan mungkin… ia juga takut dengan jawabannya. Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Nadira terbangun saat sisi tempat tidur di sampingnya sudah kosong. Ia duduk perlahan, merapikan rambutnya, lalu bangkit dari tempat tidur. Udara pagi terasa lebih dingin. Atau mungkin hanya perasaannya saja. Ia melangkah keluar kamar, mengikuti suara aktivitas dari arah dapur. Langkahnya pelan. Masih ragu. Masih belajar. Namun sebelum ia benar-benar masuk, suara itu terdengar. “...kamu yakin dengan pilihanmu ini, Ga?” Langkah Nadira terhenti. Ia mengenali suara itu. Ibu mertuanya. Ia tidak berniat mendengarkan. Tapi kakinya seperti tertahan begitu saja. "Iya, Bu.” Suara Arga terdengar lebih rendah. “Yakin?” tanya wanita itu lagi. “Menikah itu bukan cuma soal suka.” Nadira menunduk perlahan. Tangannya saling menggenggam. Ia tahu… ia seharusnya pergi. Tapi tubuhnya tidak bergerak. "Ibu hanya tidak ingin kamu menyesal,” lanjutnya. Kalimat itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam d**a Nadira terasa sesak. “Aku bisa menjaganya, Bu,” jawab Arga. Menjaga. Bukan menerima. Bukan membela. Nadira menutup matanya sejenak. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di rumah itu… ia merasa seperti seseorang yang sedang dibicarakan, bukan seseorang yang benar-benar ada di dalamnya. Nadira membuka matanya perlahan. Langit-langit kamar masih sama, putih dan asing. Tidak ada yang berubah, kecuali perasaan di dalam dirinya. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri, seolah apa yang baru saja ia dengar tidak benar-benar berarti apa-apa. Mungkin memang tidak. Mungkin itu hanya kekhawatiran seorang ibu. Ia melangkah mundur sedikit dari arah dapur, berhati-hati agar langkahnya tidak menimbulkan suara. Ia tidak ingin percakapan itu terhenti karena kehadirannya. Tidak ingin mereka tahu bahwa ia sempat mendengar. Entah kenapa, rasanya lebih mudah berpura-pura tidak tahu. Nadira kembali ke kamar sebentar. Tangannya meraih ujung baju, merapikannya meski sebenarnya tidak ada yang perlu diperbaiki. Ia hanya butuh sesuatu untuk dilakukan, sesuatu yang bisa membuat pikirannya tidak kembali ke kalimat itu: “Kamu yakin dengan pilihanmu ini?" Ia memejamkan mata sejenak, lalu membuka lagi. Cukup, ia tidak boleh terlalu memikirkan itu. Belum. Dengan langkah yang lebih mantap, meski hatinya belum sepenuhnya ikut, Nadira kembali berjalan ke arah dapur. Kali ini, ia benar-benar masuk. Suara langkahnya membuat dua orang di dalam berhenti berbicara. Arga menoleh lebih dulu, diikuti oleh ibunya beberapa detik kemudian. Ada jeda kecil, singkat, tapi terasa. "Oh, kamu sudah bangun,” ucap Arga, nadanya biasa saja. Nadira mengangguk pelan. “Iya, Mas.” Ia menunduk sedikit ke arah ibu mertuanya. “Pagi, Bu.” “Pagi,” jawab wanita itu singkat. Tidak ada yang menanyakan sejak kapan ia berdiri di sana. Tidak ada yang menyinggung percakapan tadi. Seolah semuanya memang tidak pernah terjadi. Dan Nadira memilih untuk ikut diam. Ia melangkah mendekat, melihat meja dapur yang sudah hampir rapi. Tidak banyak yang bisa ia bantu. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanyanya pelan. Wanita itu tidak langsung menjawab, ia hanya melirik sekilas, lalu kembali pada pekerjaannya. “Tidak perlu, semuanya sudah selesai.” Nadira mengangguk, tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi. Ia berdiri beberapa detik terlalu lama sebelum akhirnya mundur satu langkah. Arga mengambil tas kerjanya, lalu berdiri. “Aku berangkat dulu, ya,” katanya, lebih ditujukan pada ibunya. “Iya, hati-hati di jalan,” jawab wanita itu. Arga mengangguk, lalu menoleh ke arah Nadira. “Kamu di rumah saja, ya, nanti istirahat dulu.” Kalimat itu terdengar biasa, perhatian, tapi entah kenapa terasa seperti jarak. Nadira tersenyum kecil. “Iya, Mas." Ia ingin mengatakan sesuatu, apa saja, mungkin tentang pagi tadi, mungkin tentang perasaannya. Tapi Arga sudah berjalan menuju pintu sebelum ia sempat membuka suara. Pintu rumah tertutup, dan suara itu terdengar lebih keras dari yang seharusnya. Sunyi langsung memenuhi ruangan, tinggal mereka berdua, Nadira dan ibu mertuanya. Ia berdiri di tempatnya, tidak tahu harus bergerak ke mana. Beberapa detik berlalu tanpa suara, lalu— “Kamu biasa bangun jam berapa?” Pertanyaan itu datang tiba-tiba, Nadira sedikit terkejut, tapi segera menjawab. “Biasanya pagi juga, Bu.” “Biasanya,” ulang wanita itu pelan, tidak ada nada marah, tidak juga sinis, tapi cukup untuk membuat Nadira merasa jawabannya tidak benar. Ia menunduk sedikit. “Iya, Bu." Wanita itu mengangguk kecil, lalu berjalan melewati Nadira begitu saja, tidak ada percakapan lanjutan, tidak ada arahan, hanya langkah kaki yang menjauh. Nadira tetap berdiri di sana, sendirian di tengah dapur yang tadi terasa hidup. Tangannya perlahan saling menggenggam, pikirannya kembali pada percakapan yang tidak sengaja ia dengar. Dan meskipun ia sudah berusaha mengabaikannya, rasanya tetap tertinggal, pelan, tapi pasti, seperti sesuatu yang belum terlihat jelas, tapi sudah mulai terasa. Pagi di rumah itu mulai lebih awal dari yang Nadira bayangkan sebelumnya. Suara peralatan dapur sudah terdengar, bahkan sebelum matahari benar-benar muncul di cakrawala. Nadira terbangun perlahan, merasa agak bingung beberapa detik sebelum akhirnya ia ingat bahwa ia sudah tidak lagi berada di rumah lamanya. Dan saat ia hendak bangun dari tempat tidurnya, ia mendengar namanya disebut dengan nada yang tidak ia kenal sebelumnya. Bahwa di rumah ini, ia mungkin harus belajar lebih dari sekadar menjadi istri, ia harus belajar bagaimana caranya tetap bertahan di tempat yang bahkan belum tentu menginginkannya. TO BE CONTINUED

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.2M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
644.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
881.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
309.6K
bc

Not just, the Beta

read
316.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook