LEGENDA SUNAN BONANG DAN DAMPO AWANG SEJARAH REMBANGUpdated at Nov 4, 2021, 07:53
Berawal dari al-kisah sosok manusia yang dikenal dengan sebutan Dampo Awang. Pria asal Tiongkok tersebut , bukan saja terkenal sebagai pelaut namun juga seorang pedagang yang ulung, iapun akhirnya datang dan berniaga di Rembang, melaluu Pelabuhan Lasem kala itu , tepatnya di sebuah tempat yang sekarang di kenal sebagai desa Ndasun . Konon kedatangan mereka menggunakan jalur sungai , dan memanfaatkan sungai Babagan sebagai jalur transportasinya.
Hal ini berpengaruh Hingga di sekitar sungai Babagan menjadi sebuah perkampungan Pecinan dan banyak berdiri Klenteng-klenteng.
Salah seorang tokoh ternama saat itu bernama Cheng Ho Sang Laksamana laut dari daratan Tiongkok ini , mulanya hanya bermaksud tinggal sementara di Lasem Namun karena keberhasilanya menguasai perdagangan di Pesisir Rembang, ia semakin betah dan enggan meninggalkan wilayah tersebut . Wajar saja kalau rumah tempat tinggalnya konon di bikin cukup besar dan di jaga ketat oleh pasukan dari Tiongkok.
Namun demikian, Semula masyarakat pribumi bisa menerima keberadaan Dampo Awang dan kawan-kawan dengan baik, apalagi awalnya mereka bertabiat ramah juga santun , namun tak disangka pribadi yang baik tersebut seakan hilang dari diri Dampo Awang dan kawan - kawanya seiring dengan kesuksesan niaga yang mereka capai , Dampo Awang kian berubah menjadi sosok manusia yang sombong dan congkak.
Tak pelak hal tersebut menyulut kebencian masyarakat pada Dampo Awang, yang berbuntut perseteruanya dengan Sunan Bonang hingga harus berakhir dengan peperangan.
Mendengar kondisi demikian, Sunan Bonang selaku sesepuh , berniat menjernihkan persoalan dengan mengunnjungi kediaman Dampo Awang. Beliau datang bersama kedua santrinya saat itu.
Singkat cerita akhirnya sampailah Sunan Bonang dengan kedua santri tersebut di kediaman Dampo Awang. Mereka sekejap tertegun melihat sebuah tempat yang sangat megah di kelilingi tembok yang tebal dan tinggi, Dan lengkap dengan penjagaan.
Tiba - tiba
“Hai siapa kalian, berani-beraninya datang ke kediaman Lakmana Agung dari Tiongkok!” bentak seorang penjaga pada Sunan Bonang dan Santrinya.
“Kami dari Bonang saya dan Sunan (Bonang) ingin bertemu sebentar dengan Tuanmu" jawab Sunan Bonang menjelaskan maksud kedatangan ya.
Dampo Awang” begitu salah seorang santri menambahkan melengkapi jawaban gurunya.
“Hahahaha... seenaknya kalian ingin bertemu dengan Tuanku, kalian hanya rakyat jelata kalian tidak kami ijinkan!” kata penjaga itu kembali sambil memperlihatkan sikapnya yang congkak.
"hei jaga bicaramu penjaga...kalian tidak tau kalau beliau ini adalah Kyai dan Ulama’ Besar di Lasem ini.. " Sahut santri kembali yang seakan jengkel .
"sudah..sudah cukup tidak usah berseteru lagi..baiklah, kalau kami tidak diijinkan masuk sampaikan sekarang juga pada Tuanmu, Sunan Bonang ingin bertemu” sahut Sunan Bonang seraya memotong ucapan santrinya untuk menjernihkan suasana dan menyuruh penjaga tersebut menyampaikan pada tuannya.
“Baiklah..” jawab seorang penjaga yang Kemudian menemui Dampo Awang yang nampak sibuk menghitung hasil perniagaannya.
“Ampun Tuanku, Ada 3 Orang ingin bertemu Tuan...salah satunya adalah Sunan Bonang” begitu penjaga itu menyampaikannya pada Dampo Awang.
“Sunan Bonang? (Jawab Dampo Awang seakan terkejut,) baiklah suruh mereka masuk”
Bergegas sang penjaga kembali dan mempersilahkan Sunan Bonang untuk masuk.
“Selamat datang saudaraku, lama tidak bercengkarama denganmu..silakan duduk..silahkan..dan nikmati hidangan yang ada di meja...” seraya Dampo Awang menyambut kedatangan Sunan Bonang dan muridnya.
“Terimakasih Dampo Awang...bagaimana kegiatan perniagaanmu?” sahut Sunan Bonang.
“hahaha...angin barat tahun ini agaknya sedikit menghambat kegiatanku berlayar dan berdagang” jawab Dampo Awang.
“Tak apalah Dampo Awang kiranya Laksamana Sebesar anda sudah terbiasa dengan kondisi alam seperti ini” sahut Sunan Bonang kembali seakan menghibur.
“hahaha...emm sebenarnya ada apa Sunan dan santri sunan bersedia berkunjung ke kediamanku, sepertinya ada hal penting?” Jawab Dampo Awang seraya menanyakan tujuan kedatangan Sunan Bonang:
“Saudaraku...sebelumnya saya minta maaf atas kedatanganku ini..bukan bermaksud apa-apa Cuma saya mendapat banyak keluhan dari warga Lasem tentang anda, sikap anda kepada pedagang kecil dan penduduk sekitar” jelas Sunan Bonang pada Dampo Awang:
“sikapku yang mana Sunan?” sahut Dampo Awang kembali.
“Mohon maaf sekali lagi, bukan maksud saya memfitnah anda..mereka bercerita tentang sikap sombong anda serta kesewang-wenangan anda kepada pedagang kecil di sekitar Pelabuhan Lasem” Mendengar ucapan Sunan Bonang itu Dampo Awang mulai naik pitam...ia marah dan tersinggung dengan ucapan Sunan Bonang
“ Sunan Bonang...aku teringgung dengan ucapanmu itu..pengawal usir mereka dari sini...” Dampo Awang sambil marah memerintahkan sejumlah pengawalnya untuk mengusir Sunan Bonang.
“Dampo Awang kamu telah bersikap tidak sopan dengan sesepuh Lasem..keterlaluan kamu...in