Story By Rinduwan Pancur
author-avatar

Rinduwan Pancur

bc
ASAL USUL DESA GEMBLENGMULYO
Updated at Nov 4, 2021, 09:34
ASAL USUL DESA GEMBLENGMULYO "Innovel writing contest-The Big name Rinduwan" Gemblengmulyo adalah desa yang merupakan bagian dari wilayah kecamatan Pancur kabupaten Rembang. Desa yang berpenduduk ekitar 1400 orang ini , memiliki luas wilayah kurang lebih 153,33 Ha, dan mayoritas berpenduduk petani. Sejarah desa Gemblengmulyo meski terabaikan menjadi cerita rakyat, namun baru sebatas cerita dari-mulut ke mulut masyarakat setempat dan belum sekalipun tersirat dalam wujud cerita tertulis. Cerita yang mengisahkan perjalanan hidup Mbah Ridwan selaku cikal bakalnya desa Gemblengmulyo ini akhirnya di abadikan dalam tulisan ini . Singkat cerita, konon Mbah Ridwan sebenarnya bukan merupakan penduduk setempat melainkan seorang pendatang yang berasal dari wilayah kabupaten Pati. Peristiwa ini terjadi diperkirakan pada masa akhir pemerintahan kerajaan Pajang. Mbah Ridwan sendiri adalah seorang muslim, dalam perjalananya ke wilayah timur pada akhirnya sampailah di suatu tempat yang bernama Ngrandu atau Randu , yang saat ini menjadi sebuah dukuh yang bernama Randumeteng yang letaknya di desa Pandan kecamatan Pancur kabupaten Rembang. Di hutann Randu kemudian bertemulah mbah Ridwan dengan seseorang yang bernama Jumali atau Syeh Jumali . Keduanya menjalin hubungan yang sangat baik, hingga layaknya saudara kandung. Namun demikian, Syeh Jumali sering melihat peri laku Mbah Ridwan yang sembranan (seenaknya sendiri) misalnya mengulur waktu dalam beribadah, karena alasan itulah akhirnya Syeh Jumali menyebutnya dengan panggilan Ki Sembrono artinya orang yang suka sembranan.( se-enaknya sendiri ). Pada saat itu terjadilah suatu kesepakatan antara Syeh Jumali dan mbah Ridwan, setelah keduanya menyadari kalau mereka tidak mungkin selamanya berkumpul karena keduanya harus melanjutkan tugasnya masing-masing, Syeh Jumali menyarankan agar mbah Ridwan membangun pemukiman ke arah timur dari tempat mereka tinggal saat itu yaitu hutan Randu, sementara syeh Jumali menuju ke barat yang konon sampailah ia di erada di sebuah tempat yang sekarang ini menjadi desa Tuyuhan Kemudian Mbah Ridwan meneruskan langkahnya menuju ke Timur yaitu ke hutan Jati sebelah timur hutan Randu. Mbah Ridwan atau Ki Sembrono pun memulai babat alas (menebang hutan) untuk mendirikans ebuah pemukiman. Hutan jati yang berada di sepanjang sungai sedikit demi sedikit dibabat atau di tebang oleh Ki Sembrono. Di tengah-tengah perjalanan Ki Sembrono dalam babat alas, Ki Sembrono bertemu dengan seekor macan putih (harimau putih) yang sangat buas., hal ini sungguh menjadi penghalang bagi Ki Sembrono untuk babat alas, karena setiap kali harimau putih itu muncul dan menyerang Ki Sembrono yang seakan tidak bisa menerima kalau hutan jati yang sudah menjadi tempatnya berlindung itu di babat atau di tebang. Akhirnya terjadilah petrkelahian sengit antara Ki Sembrono melawan macan putih (Harimau putih) tersebut. Dengan segala kehebatanya akhirnya Ki Sembrono mampu menundukan macan putih tersebut, namun Ki Sembrono tidak sampai membunuh macan putih, melainkan menjinakkan dan memeliharanya dengan baik hingga pada akhirnya macan putih menjadi jinak dan akrab hingga seolah laksana pengawal pribadi Ki Sembrono. BERSAMBUNG
like
bc
LEGENDA SUNAN BONANG DAN DAMPO AWANG SEJARAH REMBANG
Updated at Nov 4, 2021, 07:53
Berawal dari al-kisah sosok manusia yang dikenal dengan sebutan Dampo Awang. Pria asal Tiongkok tersebut , bukan saja terkenal sebagai pelaut namun juga seorang pedagang yang ulung, iapun akhirnya datang dan berniaga di Rembang, melaluu Pelabuhan Lasem kala itu , tepatnya di sebuah tempat yang sekarang di kenal sebagai desa Ndasun . Konon kedatangan mereka menggunakan jalur sungai , dan memanfaatkan sungai Babagan sebagai jalur transportasinya. Hal ini berpengaruh Hingga di sekitar sungai Babagan menjadi sebuah perkampungan Pecinan dan banyak berdiri Klenteng-klenteng. Salah seorang tokoh ternama saat itu bernama Cheng Ho Sang Laksamana laut dari daratan Tiongkok ini , mulanya hanya bermaksud tinggal sementara di Lasem Namun karena keberhasilanya menguasai perdagangan di Pesisir Rembang, ia semakin betah dan enggan meninggalkan wilayah tersebut . Wajar saja kalau rumah tempat tinggalnya konon di bikin cukup besar dan di jaga ketat oleh pasukan dari Tiongkok. Namun demikian, Semula masyarakat pribumi bisa menerima keberadaan Dampo Awang dan kawan-kawan dengan baik, apalagi awalnya mereka bertabiat ramah juga santun , namun tak disangka pribadi yang baik tersebut seakan hilang dari diri Dampo Awang dan kawan - kawanya seiring dengan kesuksesan niaga yang mereka capai , Dampo Awang kian berubah menjadi sosok manusia yang sombong dan congkak. Tak pelak hal tersebut menyulut kebencian masyarakat pada Dampo Awang, yang berbuntut perseteruanya dengan Sunan Bonang hingga harus berakhir dengan peperangan. Mendengar kondisi demikian, Sunan Bonang selaku sesepuh , berniat menjernihkan persoalan dengan mengunnjungi kediaman Dampo Awang. Beliau datang bersama kedua santrinya saat itu. Singkat cerita akhirnya sampailah Sunan Bonang dengan kedua santri tersebut di kediaman Dampo Awang. Mereka sekejap tertegun melihat sebuah tempat yang sangat megah di kelilingi tembok yang tebal dan tinggi, Dan lengkap dengan penjagaan. Tiba - tiba “Hai siapa kalian, berani-beraninya datang ke kediaman Lakmana Agung dari Tiongkok!” bentak seorang penjaga pada Sunan Bonang dan Santrinya. “Kami dari Bonang saya dan Sunan (Bonang) ingin bertemu sebentar dengan Tuanmu" jawab Sunan Bonang menjelaskan maksud kedatangan ya. Dampo Awang” begitu salah seorang santri menambahkan melengkapi jawaban gurunya. “Hahahaha... seenaknya kalian ingin bertemu dengan Tuanku, kalian hanya rakyat jelata kalian tidak kami ijinkan!” kata penjaga itu kembali sambil memperlihatkan sikapnya yang congkak. "hei jaga bicaramu penjaga...kalian tidak tau kalau beliau ini adalah Kyai dan Ulama’ Besar di Lasem ini.. " Sahut santri kembali yang seakan jengkel . "sudah..sudah cukup tidak usah berseteru lagi..baiklah, kalau kami tidak diijinkan masuk sampaikan sekarang juga pada Tuanmu, Sunan Bonang ingin bertemu” sahut Sunan Bonang seraya memotong ucapan santrinya untuk menjernihkan suasana dan menyuruh penjaga tersebut menyampaikan pada tuannya. “Baiklah..” jawab seorang penjaga yang Kemudian menemui Dampo Awang yang nampak sibuk menghitung hasil perniagaannya. “Ampun Tuanku, Ada 3 Orang ingin bertemu Tuan...salah satunya adalah Sunan Bonang” begitu penjaga itu menyampaikannya pada Dampo Awang. “Sunan Bonang? (Jawab Dampo Awang seakan terkejut,) baiklah suruh mereka masuk” Bergegas sang penjaga kembali dan mempersilahkan Sunan Bonang untuk masuk. “Selamat datang saudaraku, lama tidak bercengkarama denganmu..silakan duduk..silahkan..dan nikmati hidangan yang ada di meja...” seraya Dampo Awang menyambut kedatangan Sunan Bonang dan muridnya. “Terimakasih Dampo Awang...bagaimana kegiatan perniagaanmu?” sahut Sunan Bonang. “hahaha...angin barat tahun ini agaknya sedikit menghambat kegiatanku berlayar dan berdagang” jawab Dampo Awang. “Tak apalah Dampo Awang kiranya Laksamana Sebesar anda sudah terbiasa dengan kondisi alam seperti ini” sahut Sunan Bonang kembali seakan menghibur. “hahaha...emm sebenarnya ada apa Sunan dan santri sunan bersedia berkunjung ke kediamanku, sepertinya ada hal penting?” Jawab Dampo Awang seraya menanyakan tujuan kedatangan Sunan Bonang: “Saudaraku...sebelumnya saya minta maaf atas kedatanganku ini..bukan bermaksud apa-apa Cuma saya mendapat banyak keluhan dari warga Lasem tentang anda, sikap anda kepada pedagang kecil dan penduduk sekitar” jelas Sunan Bonang pada Dampo Awang: “sikapku yang mana Sunan?” sahut Dampo Awang kembali. “Mohon maaf sekali lagi, bukan maksud saya memfitnah anda..mereka bercerita tentang sikap sombong anda serta kesewang-wenangan anda kepada pedagang kecil di sekitar Pelabuhan Lasem” Mendengar ucapan Sunan Bonang itu Dampo Awang mulai naik pitam...ia marah dan tersinggung dengan ucapan Sunan Bonang “ Sunan Bonang...aku teringgung dengan ucapanmu itu..pengawal usir mereka dari sini...” Dampo Awang sambil marah memerintahkan sejumlah pengawalnya untuk mengusir Sunan Bonang. “Dampo Awang kamu telah bersikap tidak sopan dengan sesepuh Lasem..keterlaluan kamu...in
like