ASAL-USUL DESA GEMBLENGMULYO
ASAL USUL DESA GEMBLENGMULYO Oleh Rinduwan
Gemblengmulyo adalah sebuah desa yang merupakan bagian dari wilayah kecamatan Pancur kabupaten Rembang. Desa yang berpenduduk sekitar 1400 orang ini memiliki luas wilayah kurang lebih 153,33 Ha. Mayoritas pekerjaan penduduknya adalah petani.
Meski demikian Gemblengmulyo terkenal sebagai desa yang aman dan tentram, situasi kegotong-royongan senantiasa menghias setiap peradaban masyarakat di setiap harinya. Selain itu kegemaran mencintai budaya begitu melekat pada setiap jiwa para penduduk desa. Hal ini terlihat pada kegiatan khoul mbah Ridwan yang senantisa menjadi rutinitas tahunan warga desa Gemblengmulyo. Mbah Ridwan sendiri diyakini sebagai orang pertama yang bubak bumi Gemblengmulyo. Kegiatan khoul ini dilaksanakan di salah satu bukti sejarah yang merupakan peninggalan nenek moyang yaitu makam mbah Ridwan yang masih sampai sekarang.
Cerita Asal mula kejadian desa Gemblengmulyo dapat diketahui melalui cerita turun menurun oleh warga desa Gemblengmulyo. Para tokoh masyarakat seperti kepala desa, perangkat desa, BPD ataupun tokoh-tokoh lainya senantiasa memberikan cerita yang sama terkait dengan asal mula terjadinya desa Gemblengmulyo. Mereka meyakini kalau mbah Ridwan adalah sang cikal bakal desa Gemblengmulyo sebagaimana yang diceritakan oleh para pendahulunya.
Cerita rakyat tentang asal mula terjadinya desa Gemblengmulyo diperkuat oleh beberapa peninggalan sejarah yang sampai sekarang masih ada dan dirawat oleh masyarakat. Adapun bukti peninggalan sejarah tersebut diantaranya ;
1. Makam mbah Ridwan
Pada mulanya makam mbah Ridwan sangatlah sederhana, namun setelah melalui renofasi yang dilakukan oleh pemerintah desa Gemblengmulyo pada akhirnya kondisi makam menjadi jauh lebih baik seperti terlihat pada foto di atas
2. Bangunan Makam
Bangunan ini adalah satu-satunya bangunan dimana didalam bangunan inilah terdapat makam mbah Ridwan berada. Bangunan ini sendiri semula juga tidak sebagus demikian, hal ini juga merupakan hasil renofasi pemerintah desa, pada awalnya bangunan makam hanya berbentuk sederhana dan masyarakat biasa menyebutnya dengan bangunan cungkup. Bangunan ini sendiri berdiri dibawah pohon kepoh yang usianya mencapai ribuan tahun.
3. Pohon Jati
Pohon jati ini diperkirakan sudah berusia ribuan tahun. Menurut keyakinan masyarakat, konon pohon jati ini tumbuh bukan dari biji, melainkan ditanam dari ranting yang dipergunakan sebagai tapal batas desa.
KRONOLOGI CERITA
A. Kisah Mbah Ridwan Mendapat sebutan Ki Sembrono
Ridwan sebenarnya adalah bukan merupakan penduduk setempat melainkan adalah seorang pendatang dari wilayah kabupaten Pati. Peristiwa ini terjadi pada saat akhir pemerintahan kerajaan Pajang (sekitar abat 17) kala itu. Mbah Ridwan sendiri adalah seorang muslim, dalam perjalananya ke wilayah timur pada akhirnya sampailah di hutan Randu (sekarang menjadi dukuh Randumeteng desa Pandan ).
Di hutann Randu ini mbah Ridwan bertemu dengan seseorang yang bernama Jumali atau Syeh Jumali . Pertemuan keduanya menimbulkan hubungan yang sangat baik, hingga layaknya saudara kandung. Syeh Jumali yang sering melihat peri laku mbah Ridwan yang sembranan (seenaknya sendiri) terutama sering mengulur waktu dalam beribadah akhirnya Syeh Jumali sering terbiasa menyebut mbah Ridwan dengan sebutan Sembrono atau Ki Sembrono artinya orang yang suka sembranan.
B. Ki Sembrono dan Macan Putih
Peristiwa ini diawali dengan adanya kesepakatan yang dibuat oleh Syeh Jumali dan mbah Ridwan, karena mereka tidak mungkin selamanya berkumpul karena keduanya akan melanjutkan tugasnya masing-masing, Syeh Jumali menyarankan agar mbah Ridwan membangun pemukiman ke timur sementara syeh Jumali berada di barat mulai dari Tuyuhan sampai ke hutan Randu. Akhirnya keduanya sepakat dan mbah Ridwan meneruskan langkahnya menuju ke Timur tepatnya diwilayah hutan Jati sebelah timur hutan Randu.
Mbah Ridwan atau Ki Sembrono akhirnya memulai babat alas (menebang hutan) untuk mendirikans ebuah pemukiman. Hutan jati yang berada di sepanjang sungai sedikit demi sedikit dibabat atau di tebang oleh Ki Sembrono. Di tengah-tengah perjalanan Ki Sembrono dalam babat alas, Ki Sembrono bertemu dengan seekor macan putih (harimau putih) yang sangat buas., hal ini sungguh menjadi penghalang bagi Ki Sembrono untuk babat alas, karena setiap kali harimau putih itu muncul dan menyerang Ki Sembrono yang seakan tidak bisa menerima kalau hutan jati yang sudah menjadi tempatnya berlindung itu di babat atau di tebang. Akhirnya terjadilah petrkelahian sengit antara Ki Sembrono melawan macan putih (Harimau putih) tersebut. Dengan segala kehebatanya akhirnya Ki Sembrono mampu menundukan macan putih tersebut, namun Ki Sembrono tidak sampai membunuh macan putih, melainkan menjinakkan dan memeliharanya dengan baik hingga pada akhirnya macan putih menjadi jinak dan akrab hingga seolah laksana pengawal pribadi Ki Sembrono.
C. Ki Sembrono dengan Sumur Sejati
Sumur Sejati adalah sumur yang di buat senduri oleh Ki Sembrono, menyadari kalau dirinya akan bermukim di hutan Jati dalam waktu yang lama, akhirnya Ki Sembrono membuatlah sebuah sumur. Karena letaknya yang ada di tengah-tengah hutan Jati maka di sebutlah sumur itu dengan sebutan sumur jati , dan karena sumur tersebut merupakan sumur satu-satunya maka Ki Sembrono menamakan sumur tersebut dengan sebutan sumur sejati yang artinya satu-satunya sumur di hutan jati.
D. Kisah sebutan Gembleng.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun berganti tahun Ki Sembrono manjalani hidupnya sambil babat alas, tanpa terasa seluruh hutan jatipun habis terbabat. Sesuai wataknya yang sembranan, Ki Sembrono (mbah Ridwan) lupa kalau pernah ada kesepakatan yang dibuatnya dengan Syeh Jumali. Ketika hutan jati habis terbabat Ki Sembrono mulai membabat hutan Randu, Namun sebelum selesai babatnya, peristiwa ini diketahui oleh Syeh Jumali, yang akhirnya marah besar. Syeh Jumali menganggap kalau Ki Sembrono telah mengingkari kesepakatan yang pernah mereka buat. Dengan penuh amarah Syeh Jumali mendatangi Ki Sembrono untuk memperingatkan, namun disisi lain ki Sembrono tidak terima dengan peringatan Syeh Jumali yang menurutnya terlalu keras hingga ia merasa tersinggung.
Rupanya api amarah menyelimuti keduanya hingga terjadilah Gembleing (pertengkaran sengit) antara keduanya, dan timbul perkelahian. Hingga gembleing ini terjadi sampai berhari-hari, namun tak kunjung ada yang kalah ataupun yang menang Pada akhirnya keduanya kehabisan tenaga dan tak mampu berkelahi lagi. Api amarahpun mulai reda keduanya, hingga keduanya menyadari kalau pertengkaran mereka tidaklah ada gunanya dan mengakhiri perkelahian itu , untuk kembali pada kesepakatan semula. Keduanya berdamai dan menyepakati tapal batas wilayah keduanya, Akhirnya Syeh Jumali mengambil sepilah ranting jati yang sudah di tebang , kemudian menancapkan ketanah sebagai tanda pembatas wilayahnya dengan wilayah Ki Sembrono. Yang diluar kuasa manusia akhirnya ranting jati tersebut tumbuh dan hidup dan hingga saat ini pohon jati tersebut masih kokoh berdiri sebagai bukti peninggalan sejarah yang terjadi. Senjak peristiwa gembleing (pertengkaran sengit) itulah akhirnya Syeh Jumali menyebut tempat itu sebagai desa Gembleing.
Waktu terus berlalu hingga desa Gembleing bertambah banyak penghuni , karena banyak pula pendatang baru yang turut bermukim di situ, hingga akhirnya Ki Sembrono (mbah Ridwan) meninggal dunia dan jasadnya dimakamkan dibawah pohon kepoh yang hingga sekarang pohon tersebut masih hidup.
Setelah menggalanya Ki Sembrono masyarakat lebih nsering menyebut desa Gembleing dengan sebutan Gembleng yang artinya menyatu. Dari sinilah awal mula sebutan desa Gembleng itu ada yang karena berubahnya cara mengucap saja akhirnya yang semula namanya desa Gembleing berubah menjadi desa Gembleng.
E. Gemblengmulyo
Nama Gemblengmulyo merupakan perubahan kedua yang terjadi. Namun berubahnya nama Gembleng menjadi Gemblengmulyo ini terjadi setelah kurun waktu yang cukup lama, karena penambahan kata mulyo dibelakang Gembleng hingga menjadi Gemblengmulyo ini terjadi setelah Negara Indonesia berdiri. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1954, yaitu pada saat terjadi pemindahan pemukiman warga, yang semula warga desa Gembleng bermukim di sepanjang tepian sungai, namun oleh pemerintah setempat dipindahkan ke utara yaitu ke pemukiman yang sekarang. Adapun yang menjabat sebagai kepala desa pada saat itu bernama Ngarijan dan yang memberi tambahan kata mulyo hingga desa Gembleng menjadi Gemblengmulyo adalah camat Pancur yang bernama Sukoco. Demikianlah kronologi kisah terjadinya desa Gemblengmulyo yang sampai sekarang masih terabadikan menjadi cerita rakyat di desa Gemblengmulyo sendiri.
Penulis : RINDUWAN