Sepakat tanpa cinta: Hubungan tanpa label atau cinta?Updated at Jun 4, 2025, 08:18
Reina (33), seorang pengacara andal dengan masa depan gemilang, punya satu prinsip hidup yang ia pegang teguh: cinta itu overrated. Terbentuk dari pengalaman pahit—perceraian orang tua yang meninggalkan luka dan deretan hubungan yang selalu berujung kecewa—Reina memutuskan untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat. Baginya, hidup yang ideal adalah hidup yang bisa dikontrol. Dan cinta? Terlalu kacau, terlalu berisik.Namun segalanya berubah ketika dia bertemu kembali dengan Tama (34), teman lama dari masa kuliah yang kini menjelma menjadi creative director flamboyan di sebuah agensi iklan ternama. Tama pun tak kalah skeptis soal cinta. Mereka berbagi candaan sarkastik dan pengalaman pahit, dan dari situ muncul ide yang terdengar logis sekaligus gila: menjalani hubungan fisik tanpa cinta, tanpa komitmen—hanya kebutuhan yang saling terpenuhi.Awalnya, semuanya terasa mudah. Ada aturan. Ada batas. Tak ada ruang untuk drama. Tapi perlahan-lahan, celah mulai terbuka. Malam-malam yang semula dingin mulai terasa hangat. Obrolan ringan berubah jadi percakapan yang terlalu dalam. Rasa nyaman menjelma jadi rindu yang tak diakui."Sepakat Tanpa Cinta" adalah kisah tentang dua orang dewasa yang mencoba melawan kodrat hati dengan logika. Tentang bagaimana kita sering kali percaya bahwa kita bisa mengendalikan segalanya—bahkan cinta. Tapi saat perasaan mulai merayap masuk tanpa izin, mampukah mereka tetap berpura-pura tidak peduli? Atau justru harus memilih: menghancurkan perjanjian, atau kehilangan satu sama lain?Sebuah drama romantis dewasa yang menyentil, menyentuh, dan mengajak kita bertanya: benarkah cinta bisa dihindari hanya karena kita takut terluka?