bc

Sepakat tanpa cinta: Hubungan tanpa label atau cinta?

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
one-night stand
HE
friends to lovers
single mother
heir/heiress
drama
bxg
kicking
city
office/work place
disappearance
secrets
friends with benefits
actor
passionate
like
intro-logo
Blurb

Reina (33), seorang pengacara andal dengan masa depan gemilang, punya satu prinsip hidup yang ia pegang teguh: cinta itu overrated. Terbentuk dari pengalaman pahit—perceraian orang tua yang meninggalkan luka dan deretan hubungan yang selalu berujung kecewa—Reina memutuskan untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat. Baginya, hidup yang ideal adalah hidup yang bisa dikontrol. Dan cinta? Terlalu kacau, terlalu berisik.Namun segalanya berubah ketika dia bertemu kembali dengan Tama (34), teman lama dari masa kuliah yang kini menjelma menjadi creative director flamboyan di sebuah agensi iklan ternama. Tama pun tak kalah skeptis soal cinta. Mereka berbagi candaan sarkastik dan pengalaman pahit, dan dari situ muncul ide yang terdengar logis sekaligus gila: menjalani hubungan fisik tanpa cinta, tanpa komitmen—hanya kebutuhan yang saling terpenuhi.Awalnya, semuanya terasa mudah. Ada aturan. Ada batas. Tak ada ruang untuk drama. Tapi perlahan-lahan, celah mulai terbuka. Malam-malam yang semula dingin mulai terasa hangat. Obrolan ringan berubah jadi percakapan yang terlalu dalam. Rasa nyaman menjelma jadi rindu yang tak diakui."Sepakat Tanpa Cinta" adalah kisah tentang dua orang dewasa yang mencoba melawan kodrat hati dengan logika. Tentang bagaimana kita sering kali percaya bahwa kita bisa mengendalikan segalanya—bahkan cinta. Tapi saat perasaan mulai merayap masuk tanpa izin, mampukah mereka tetap berpura-pura tidak peduli? Atau justru harus memilih: menghancurkan perjanjian, atau kehilangan satu sama lain?Sebuah drama romantis dewasa yang menyentil, menyentuh, dan mengajak kita bertanya: benarkah cinta bisa dihindari hanya karena kita takut terluka?

chap-preview
Free preview
Pertemuan di Atas Kota
Malam Jakarta berpendar di balik tirai kelamnya, ribuan lampu kota berkelip seperti bintang buatan. Di antara gedung-gedung pencakar langit yang berdiri tegak, sebuah rooftop bar mewah menyajikan pemandangan kota yang membentang luas—tempat di mana para penguasa dunia bisnis dan hukum berkumpul dalam suasana yang elegan namun penuh ketegangan terselubung. Di salah satu sudut balkon terbuka itu, berdiri seorang perempuan dengan postur atletis dan aura yang sulit dilewatkan begitu saja. Reina Pramesti. Tinggi sekitar 165 cm, rambut hitam pekatnya tergerai terombang-ambing angin malam. Blazer hitam yang ia kenakan membingkai wajah ovalnya yang tegas, dengan garis rahang yang memperlihatkan keteguhan dan profesionalisme. Matanya, cokelat gelap, tajam seperti pisau tapi menyimpan kehangatan yang hanya terlihat oleh mereka yang benar-benar dekat. Di pergelangan tangan kirinya, ada bekas luka kecil yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya yang penuh liku. Reina memegang gelas wine putih, cairannya berkilauan di bawah cahaya redup. Tatapannya kosong memandang cakrawala kota yang tak berujung. Suara musik jazz instrumental memenuhi udara, lembut dan melankolis, bergema seperti cerita lama yang belum tuntas. Gelas-gelas beradu pelan, obrolan berbalut sopan santun yang sering kali terasa palsu. Di dalam benaknya, sebuah monolog mengalun dengan suara lembut tapi penuh kepastian: "Cinta itu overrated. Kontrak pernikahan bahkan bisa dibatalkan. Aku lebih percaya MoU." Perempuan itu menghela napas panjang, tubuhnya yang ramping menyandarkan diri pada railing dingin. Suasana sekitar membuatnya merasa semakin terasing. Basa-basi yang mengelilinginya di ruangan dalam terasa melelahkan. Ia bukan tipe orang yang nyaman dalam keharusan berpura-pura. Dengan langkah pelan tapi pasti, Reina memutuskan keluar, menjauh dari keramaian dan hiruk-pikuk percakapan yang penuh kepura-puraan. Angin malam menyambutnya hangat, membelai kulitnya yang halus, membawa sedikit ketenangan dalam jiwa yang penuh gejolak. --- Tidak lama kemudian, dari balik pintu elevator yang terbuka, muncul seorang pria. Tama Wirawan. Tinggi, dengan tubuh atletis dan aura santai yang kontras dengan suasana formal di sekelilingnya. Kemeja kasual yang sedikit longgar dan blazer yang membalut bahunya membuatnya terlihat effortlessly chic. Rambut cokelat tuanya sedikit berantakan, menambah kesan kreatif dan bebas, jauh dari kesan kaku dunia hukum yang Reina geluti. Matanya yang hazel berkilau dengan kilau hijau, penuh perhatian dan sedikit misterius, tertuju pada sosok Reina yang berdiri sendiri di balkon. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Tama merasa tertarik—bukan sekadar karena wajah cantik atau penampilan elegan, tapi lebih pada aura dingin yang terpancar dan membuatnya penasaran. Tama melangkah mendekat, suaranya ringan namun membawa kehangatan. # “Reina Pramesti? Serius... kamu makin kelihatan seperti partner firma, tapi masih belum senyum juga ya?” Tama mengangkat alis, matanya menyelidik penuh kehangatan sambil menyelipkan senyum nakal tipis, seolah ingin menguji dinding tebal yang selama ini Reina bangun. Reina menoleh, sedikit terkejut, tapi secepat kilat dia menutupinya dengan senyum tipis—bukan senyum lepas, tapi seperti rahasia yang hanya dia dan malam tahu. “Kalau aku mulai senyum, nanti kamu pikir aku sudah terpesona sama semua basa-basi ini,” jawabnya pelan, nada suaranya menyiratkan sindiran halus sekaligus kepercayaan diri yang tak mudah dijatuhkan. Tama tertawa, suara itu hangat, mengalir seperti angin malam yang menyapu daun-daun kering. “Ya, aku tahu kamu selalu lebih percaya pada logika daripada perasaan. Itu yang bikin kamu beda. Tapi serius deh, sesekali kamu harus kasih kesempatan senyum itu keluar. Buat nyegerin suasana, dan... buat kamu juga.” Reina menatapnya lama, matanya yang tajam dan penuh perhatian seolah menimbang setiap kata. “Aku nggak tahu… mungkin aku takut senyum itu nanti jadi alasan buat orang mengira aku gampang terpengaruh. Aku bukan tipe yang mudah luluh, Tama.” Tama menyandarkan punggungnya ke railing, sedikit santai tapi penuh arti. “Aku paham. Tapi kamu tahu kan, bahkan orang paling kuat pun butuh momen lepas. Sesekali. Senyum bukan tanda lemah, malah bisa jadi perisai yang lebih kuat.” Mereka berdiri berdampingan di bawah langit malam, dua sosok yang berbeda tapi terikat oleh luka yang sama. “Dunia kita memang beda,” kata Reina, suaranya hampir seperti bisikan yang hanya untuk dirinya sendiri. “Tapi aku rasa, hati kita… sama-sama pernah terluka.” Tama mengangguk, matanya mengisyaratkan pengertian yang dalam. “Nah, itu dia. Kadang, yang kita butuhin cuma satu senyum kecil buat mengingatkan, kita nggak sendirian.” Reina tersenyum sedikit lebih lebar, tapi tetap penuh misteri. “Mungkin kamu benar. Mungkin juga aku hanya takut, Tama.” Tama memandangnya penuh simpati, tanpa kata lagi. Cukup malam dan angin yang bicara di antara mereka. --- Percakapan mereka mengalir perlahan dari formalitas ke nostalgia, dan akhirnya menjadi sebuah tawa hangat yang membuat malam di atas kota terasa lebih hidup. “Masih ingat nggak waktu kuliah dulu?” tanya Tama sambil menyesap minumannya. Reina tersenyum kecil, bayangan masa lalu melintas dalam matanya. “Ingat. Kamu itu yang selalu bikin kelas gaduh. Aku yang jadi penjaga ketertiban.” Tama mengangkat bahu santai. “Ya, aku memang suka bikin hidup lebih berwarna. Tapi kamu itu yang bikin aku mikir dua kali sebelum ngelawak.” Reina tertawa, suara itu berbeda dari biasanya—lebih hidup, lebih manusiawi. “Serius itu penting, tapi kadang aku merasa terlalu berat. Kayak harus jaga segala sesuatu supaya tetap sempurna.” “Aku ngerti. Aku juga punya sisi yang susah aku bagi ke orang lain,” kata Tama, tatapannya tiba-tiba dalam. “Kadang aku pakai humor sebagai pelindung diri.” Mereka saling pandang, dalam keheningan yang terasa nyaman. --- Percakapan beralih ke hubungan dan cinta, tapi tetap dengan sentuhan sarkasme dan satir. “Kamu pernah punya toxic ex?” tanya Tama dengan nada bercanda. Reina mengangkat gelasnya, tersenyum sinis. “Toxic? Semua mantanku kayak racun berjalan. Aku lebih percaya MoU daripada perasaan.” Tama tertawa. “Aku juga. Kadang cinta itu cuma kontrak sosial buat bikin orang pusing dan capek.” Mereka tertawa bersama, suara mereka menyatu dengan hembusan angin malam, melayang ringan ke langit gelap. --- Saat malam semakin larut, dan mereka mulai berpisah, Tama menatap Reina dengan tatapan yang berbeda. Lebih dalam, lebih serius. “Kamu tahu nggak? Dari dulu kamu itu kayak batu karang. Keras, kokoh, tak tergoyahkan. Tapi batu pun bisa retak, loh.” Reina diam sejenak, menahan getaran dalam hatinya sebelum menjawab dengan suara tegas. “Aku lebih pilih jadi karang daripada buih yang hilang kena ombak.” Mereka saling pandang—dua jiwa yang sama-sama skeptis tapi juga penasaran. Reina melangkah mundur, berbalik masuk ke dalam gedung. Namun sebelum hilang dari pandangan, matanya menoleh ke arah Tama yang masih berdiri di ujung rooftop, menatap langit malam penuh misteri.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.7K
bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

TERNODA

read
204.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook