Sejak kecil, Wilis sudah memendam perasaan pada teman kakak laki-lakinya Arga Kamandaka. Sifatnya yang pemalu membuatnya terus memendam perasaan itu hingga ia tumbuh dewasa. Wilis sudah puas dengan mengagumi Arga dari jauh, tapi tidak setelah ia tahu kalau Arga akan bertunangan dengan kekasihnya.
Hati Wilis hancur, dia yang selama ini takut mengungkapkan perasaan cintanya pada Arga hanya bisa meratapi saat laki-laki yang ia cinta bersama dengan wanita lain.
Saat itulah, Argo Kamandanu yang merupakan adik dari Arga menjadi pahlawan bagi hati Wilis yang terluka. Dia menawarkan diri menjadi tunangan Wilis. Siapa sangka kalau Wilis akan menerimanya dengan mudah. Mereka pun akhirnya bertunangan menyusul Arga yang lebih dulu bertunangan.
"Ayo kita tunangan. Lupakan saja kakakku!" ajak Argo Kamandanu.
"Ya udah ayo, terpaksa," jawab Wilis menerima pinangan Argo.
"Aku nggak maksa."
"Aku sendiri yang maksa."
"Oh."
Namun, bagaimana jika Arga sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama pada Wilis? Dia bertunangan semata-mata karena tahu Argo menyukai Wilis.
"Aku menginginkan Indah."
"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Indah itu istriku! Istriku!"
"Ya, aku menginginkan istrimu," ucap Anjas tanpa rasa berdosa apalagi bersalah.
"Jangan gila kamu, ya!"
"Sayangnya aku memang sudah tergila-gila pada istrimu."
Yuda terjebak diantara pilihan sulit. Indah adalah istrinya meski hanya di atas kertas, tapi dia tidak akan rela memberikan istrinya pada Anjas, sahabatnya sendiri.
"Apa kau pikir aku ini barang? Sudah cukup aku diperlakukan sebagai pajangan di rumah ini dan sekarang Mas Yuda ingin menjualku? Apa Mas Yuda waras?" pekik Indah.
Ini adalah kisah Anjas, Yuda dan Indah. Kisah cinta segitiga yang lahir dari hasrat terlarang seorang pria pada wanita yang menjadi istri dari sahabatnya sendiri.