Hasrat Membara Uncle KaidenUpdated at May 10, 2026, 22:23
Apa jadinya jika pria yang kamu temui dalam satu malam penuh dosa ternyata adalah orang yang seharusnya kamu panggil paman?Aluna tidak pernah membayangkan hidupnya akan runtuh dalam satu malam. Ia dikhianati oleh pria yang ia cintai dan temannya sendiri, dihancurkan oleh kata-kata yang menghina harga dirinya sebagai wanita.Dalam pelarian dari rasa sakit itu, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya hingga terlibat One Night Stand dengan seorang pria asing, Kaiden Trayanda.Kaiden adalah pria dengan tatapan dingin, aura berbahaya, dan kendali yang nyaris sempurna, namun malam itu kendali itu retak karena kecantikan polos Aluna yang membungkam logikanya.Setelah malam itu mereka sepakat untuk saling melupakan. Bahkan tidak sempat mengetahui nama masing-masing. Bagi Aluna, malam panas itu hanyalah sebuah pelampiasan bodoh yang tidak perlu disesali. Bagi Kaiden, satu malam itu hanyalah sepotong keberuntungan setelah kesialan yang dia alami, dan bisa dilupakan dengan mudah.Namun takdir memiliki rencananya sendiri dan mempertemukan mereka kembali.Ketika Aluna memulai magang untuk penulisan tesisnya, ia justru menemukan kenyataan yang mengguncang, pria asing itu adalah pamannya sendiri, adik angkat ayahnya, yang hanya pernah ia temui saat ia masih kanak-kanak. Pria yang kini menjadi atasannya itu adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana tubuhnya bereaksi di bawah sentuhan yang tidak seharusnya.Sementara Kaiden yang tak pernah bisa melupakan Aluna malam itu seolah berhadapan dengan pusaran api yang terus membakar gairahnya. Namun mereka harus menahan diri, demi keluarga dan demi kepantasan. Hidup di bawah satu atap, dengan rahasia yang membakar, dengan jarak yang seharusnya dijaga tapi justru semakin runtuh adalah siksaan terberat bagi keduanya. Setiap tatapan, setiap sentuhan yang tidak sengaja dan kebersamaan yang terjalin hanya membuat mereka semakin tenggelam.Karena ini bukan sekadar hasrat. Ini obsesi dan kebutuhan dua jiwa yang saling mengejar.Dan saat perasaan mulai tumbuh di tempat yang salah, pertanyaannya bukan lagi “apa ini benar?”Tapi seberapa jauh mereka berani melangkah, sebelum semuanya terlambat?