bc

Pelayan Cantik Kesayangan Tuan Muda

book_age18+
23
FOLLOW
1K
READ
family
HE
fated
friends to lovers
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
bold
brilliant
assistant
like
intro-logo
Blurb

Nasib membawa Alya pada realita hidup yang berat, yang memaksanya untuk tetap berdiri di atas kakinya sendiri. Alya datang ke rumah keluarga Surya untuk menjadi pelayan. Namun, di hari pertama dia menginjakkan kaki di rumah itu, dia sudah menyaksikan hal yang tidak biasa. Hanya tekad yang membuatnya bertahan. Ia tidak peduli pada aturan ketat, rumah besar yang terasa asing, atau tatapan dingin para penghuni di dalamnya. Selama ia bisa bertahan hidup, semuanya bisa ia hadapi.Namun Tuan Surya sudah terobsesi padanya sejak awal. Baginya Alya bukan sekadar pelayan, melainkan sesuatu yang perlahan ingin ia kuasai.Di rumah itu, Alya belajar bahwa tidak semua sentuhan berarti perlindungan. Bahwa kekuasaan bisa berubah menjadi ancaman yang tidak terlihat, namun terasa nyata di setiap langkah.Ia ingin pergi. Namun ia tidak bisa. Karena rumah itu bukan sekadar tempat kerja, melainkan perangkap. Alya nyaris tak kuasa melindungi dirinya sendiri.Hingga Arga, Tuan Muda keluarga itu datang. Pria itu menatapnya dengan intens, yang membuat hati Alya berdebar lebih cepat daripada yang seharusnya. Berbeda dari ayahnya, Arga melihat Alya bukan sebagai sesuatu yang bisa dimiliki tapi seseorang yang ingin ia lindungi. Perhatian kecilnya terasa asing, namun justru itu yang perlahan menghancurkan pertahanan Alya. Karena untuk pertama kalinya ia merasa aman.Namun di rumah itu, keinginan tidak pernah sederhana.Surya yang semakin terobesi tak pernah berhenti. Dia terus berusaha mencari kesempatan. Sementara seseorang di rumah itu juga semakin membenci Alya karena dianggap sebagai saingan. Dan ketika kedua pria menginginkan hal yang sama dengan cara yang sangat berbeda,Alya harus memilih bertahan dalam ketakutan, atau mempercayakan hatinya pada seseorang yang bisa saja menghancurkan segalanya.

chap-preview
Free preview
Bab 1
“Ayo, masuk aja, Al. Nggak usah ragu-ragu. Kamu udah niat mau kerja di sini, kan?” Jana menarik lengan Alya, menyeretnya masuk ke dalam rumah besar itu. Alya sempat menahan langkah. Rumah itu terlalu besar. Langit-langitnya tinggi, lantainya mengilap, dan udara di dalamnya terasa dingin, berbeda dari rumah-rumah sederhana yang biasa ia lihat di kampung. “Ini… tempat kerjamu?” bisiknya pelan sambil mengedarkan pandangan. Jana terkekeh kecil. “Sekarang tempat kerja kita. Kamu harus cepat membiasakan diri.” Alya mengangguk, meski perasaannya masih campur aduk. “Nih ya,” lanjut Jana sambil mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, “Tuan Surya orangnya tegas, dan kadang galak juga. Jadi kamu harus manut, jangan banyak tanya.” “Iya…” Alya mengangguk lagi, lebih serius. “Ruang kerja beliau di atas, di ujung koridor. Dia udah nunggu kamu buat bahas kontrak.” Alya langsung menoleh. “Pakai kontrak juga, Jan?” “Ya iya lah,” Jana mendengus ringan. “Udah sering kecolongan. Pelayan kabur habis nerima panjar. Jadi sekarang dia lebih ketat.” Alya menelan ludah. Perasaannya mulai tidak enak. Dia hanya mau jadi pelayan, tapi pakai kontrak segala? “Udah, nggak usah takut. Yang penting nurut, pasti aman, kok.” Jana menepuk bahunya pelan, lalu mendorongnya ke arah tangga. “Naik sana. Buruan!” Alya menarik napas dalam sebelum melangkah. Lalu selangkah demi selangka ia menaiki anak tangga satu persatu sambil membulatkan tekad. 'Ayo, Alya, kamu butuh pekerjaan ini,' bisiknya pada diri sendiri dalam hati. Semakin naik, semakin terasa sepi. Lantai dua jauh lebih sunyi dibandingkan bawah. Lorongnya panjang, dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah. Dindingnya berwarna gelap, dihiasi lukisan-lukisan besar dengan bingkai emas yang tampak mahal, sekaligus membuat suasana terasa berat. Di ujung koridor, ada sebuah pintu besar. Itu pasti ruang kerja Tuan Surya, terpisah agak jauh dari ruangan lain. Dari jauh terlihat pintu di ujung koridor itu sedikit terbuka. Alya melangkah mendekat, sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup keras. Semakin dekat, ia mendengar suara-suara. Awalnya samar, namun semakin ia mendekat, suara itu semakin jelas. Suara napas yang tidak beraturan dan desahan pelan. Juga ada suara rintihan yang membuat langkahnya benar-benar berhenti. Alya membeku, berusaha menajamkan pendengaran. Itu… suara apa…? Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Tuan Surya sedang menunggunya untuk membahas kontrak, tapi dia sedang apa di dalam sana? Alya melangkah lagi, pelan dan mulai ragu, mau terus atau balik saja. Perasaannya tidak enak. Tapi kesadaran bahwa ia butuh pekerjaan ini membuat kakinya terus melangkah, semakin dekat ke pintu yang ternyata tidak tertutup sempurna itu. Suara yang ia dengar semakin jelas. Suara desahan dan rintihan seorang perempuan, diselingi suara pria yang terdengar berat. Bukan suara kesakitan, tapi jenis suara lain yang membuat bulu kuduknya perlahan meremang. Alya menelan ludah, meremas tangannya yang mulai dingin. 'Harusnya aku balik aja ya?' Tapi dia tadi memang disuruh ke sini. Kalau dia pergi, mungkin dia akan kehilangan kesempatan ini. Alya terjebak dilema, Alya tetap mendekat ke pintu itu Dan tanpa benar-benar berniat mengintip, mata Alya melihat ke dalam ruangan itu. Dan detik itu juga dunia seperti berhenti. Di atas meja kerja besar itu, dua tubuh saling berdekatan tanpa jarak. Dua orang, laki-laki dan perempuan yang sedang bergelut dalam gaya aneh. "Aah... Terus, Tuan, Anda membuatku sesak," Suara perempuan yang gemetar oleh gairah. Laki-laki itu menggeram, tubuhnya bergerak semakin cepat. Alya yang sedang terpaku di depan pintu melihat jelas bagaimana bagian tubuh pria itu memasuki si wanita dengan cepat. Wajahnya langsung panas. Ia sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Jantungnya berdentam keras. Suara dari dalam ruangan itu semakin memenuhi telinganya. Napas yang kian memburu, desahan, erangan, gerakan yang semakin cepat dan sepertinya tak lagi terkendali. Alya ingin memalingkan wajah jengah, namun tubuhnya seperti tidak mau bergerak. Kakinya terasa lemas. Seolah berubah jadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Ya Tuhan… Alya hanya bisa terpaku, hingga akhirnya kedua orang itu berteriak keras bersamaan dan tubuh laki-laki itu rubuh di atas si perempuan. Alya seolah baru tersadar dan ingin berbalik, namun Tuan Surya yang baru menjauhkan diri menoleh ke arah pintu. Tatapan mereka bertemu. Alya langsung membeku, ketakutan karena ketahuan mengintip. “Oh,” suara pria itu terdengar datar. “Sudah datang?” "I-ya, Tuan," Alya menjawab, tergagap dan gemetar. Sementara Tuan Surya tidak terlihat terkejut sama sekali juga tidak terlihat malu. Lelaki berusia lebih dari separuh baya itu berdiri santai, membetulkan pakaiannya seolah tidak terjadi apa-apa. Begitu juga si perempuan, turun dari atas meja, merapikan pakaian kerjanya dengan cepat. Wajahnya tenang, bahkan sempat melirik Alya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Alya masih tidak bergerak, menunggu dengan perasaan berkecamuk, takut, malu dan merasa mual setelah melihat adegan tak terduga itu. “Kamu pelayan baru?” tanya pria itu lagi. Alya menelan ludah. “I-iya… Tuan…” “Masuk.” Titah pria itu tenang, seolah barusan tidak terjadi apa pun. Alya ragu, namun kakinya tetap melangkah masuk. Tubuhnya masih gemetar, tapi ia harus menyelesaikan urusan ini. Yang dia pikirkan hanya pekerjaan yang harus segera dia dapatkan, demi agar tidak terlunta-lunta di kota Jakarta yang baru ia datangi sekali ini sepanjang hidupnya. Tuan Surya melambaikan tangan, memberi isyarat pada perempuan yang baru beradu syahwat dengannya tadi untuk keluar. Perempuan itu mengambil tasnya, lalu berjalan melewati Alya tanpa berkata apa-apa. Aroma parfum mahalnya tertinggal sesaat di udara. "Tutup pintunya." Titah Tuan Surya lagi. "Baik, Tuan," Pintu tertutup di belakangnya. Sekarang tinggal mereka berdua. Tuan Surya sudah duduk di kursinya, bersandar santai, sambil tatapannya kembali ke Alya. Menilai. “Masih memikirkan apa yang kau lihat tadi?” tanyanya. Alya langsung menunduk. “S-saya… tidak, Tuan…” Ada jeda singkat. Lalu, senyum tipis muncul di bibir pria itu. “Bagus.” Ia mengetuk meja pelan. “Kalau kamu mau kerja di sini, satu hal yang harus kamu ingat,” Alya menggenggam ujung blus sederhananya. “Iya, Tuan…” “Apa pun yang kamu lihat di rumah ini nanti, anggap saja kamu tidak melihat apa-apa.” Kalimat itu diucapkan dengan tenang, namun terasa berat dan penuh tekanan. Alya mengangguk cepat. “Iya, Tuan…” Dia ingat kata-kata Jana tadi, dia harus manut biar aman. “Sekarang,” lanjut Tuan Surya, sambil menggeser map ke depan, “kita bahas kontrak kerja kamu.” Begitu tenang, seolah itulah satu-satunya hal penting di ruangan itu. Dan yang barusan terjadi tidak pernah ada. Tuan Surya menatap Alya yang berdiri canggung. “Duduk.” Alya tersentak kecil. “I-iya, Tuan…” Ia segera duduk di kursi di depan meja kerja itu. Berada begitu dekat di tempat yang menjadi tempat adegan tadi, dia mencium bau aneh. Bukan wangi parfum mahal atau kayu furnitur, tapi sesuatu yang lain, yang membuat perutnya langsung bergejolak. Alya refleks menahan napas. Matanya tanpa sengaja melirik ke permukaan meja. Dan di sana jejak itu masih ada. Tidak mencolok. Namun cukup jelas bagi mata yang baru saja melihat apa yang terjadi beberapa menit sebekumnya. Tangannya langsung mencengkeram ujung blusnya lagi, kebiasaan setiap kali ia gugup atau takut. Perutnya masih bergejolak, dan kepalanya terasa sedikit ringan. Jangan lihat… jangan lihat… Ia buru-buru menunduk, memaksa fokus ke pangkuannya sendiri sambil menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. 'Ini hanya soal kerjaan…' batinnya. Namun bayangan tadi terlalu segar, dan terlalu nyata untuk disingkirkan dari pikirannya. "Siapa namamu?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Alya tersentak. "A-Alya, Tu-Tuan..." Jawab Alya, masih tergagap. “Baiklah, Alya.” “I-iya, Tuan…” “Fokus. Saya saat ini sedang menilai apakah kamu layak untuk pekerjaan ini.” Nada suara itu datar, namun cukup untuk membuat Alya langsung menegakkan punggungnya, meski tubuhnya masih terasa tidak nyaman. “Iya, Tuan…” Tuan Surya membuka map di hadapannya, seolah tidak ada yang aneh di ruangan itu. Seolah meja itu tidak menyimpan sisa dari sesuatu yang baru saja terjadi. “Ini kontrak kerja kamu.” Map itu didorong lebih dekat ke Alya. Alya mengambilnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia membuka halaman pertama, berusaha mati-matian memusatkan perhatian pada tulisan di sana. Bukan pada meja, pada bau yang masih tertinggal dan pada bayangan yang terus muncul di kepalanya. Ini soal nasibnya selama di sini. “Baca.” “I-iya, Tuan…” Alya menunduk lebih dalam. Huruf-huruf di kertas itu terlihat jelas, namun sulit masuk ke pikirannya. Kata-kata seperti kewajiban, kepatuhan, larangan dan konsekuensi, terasa semakin berat dibaca. Perutnya masih tidak nyaman. Ia menelan ludah, mencoba mengabaikan rasa mual yang naik perlahan. “Tuan…” suaranya pelan, nyaris serak. “Hm?” “Saya… kurang paham…” Ia berhenti sejenak, menarik napas pelan agar tidak terdengar gemetar. "Beberapa bagian ini…” “Tidak perlu paham semuanya.” Jawaban itu memotong kata-katanya cepat. “Seiring waktu kamu akan belajar memahaminya dengan perlahan.” Tuan Surya begitu tenang, seolah memang tidak penting. Alya mengangkat sedikit wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Dan entah kenapa, itu justru membuat rasa tidak enak di perutnya semakin kuat. “Yang penting kamu mengerti satu hal,” lanjutnya. Alya menggenggam kertas itu sedikit lebih erat. “Di rumah ini… kamu harus patuh pada semua peraturan yang saya tetapkan.” “Iya, Tuan…” “Tidak boleh banyak tanya.” “Iya…” “Dilarang menolak pekerjaan apapun.” Alya menunduk lebih dalam. “Iya, baik, Tuan…”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
657.1K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
894.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
315.8K
bc

Not just, the Beta

read
321.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook