Story By Ravael
author-avatar

Ravael

ABOUTquote
seorang biasa yang ini menjadi bintang ⭐
bc
KASUS PEMBUNUHAN DI KORIDOR KENCANA
Updated at Oct 23, 2025, 21:19
Detektif Misteri, Pembunuhan, Konspirasi Sekolah, dan Pengungkapan Rahasia.Bab 1: Papan Bukti dan Garis Merah​SMA Kencana adalah istana akademik, tertutup tirai keunggulan dan uang. Namun, bagi Arka Dirgantara, kemeja putih rapi dan kacamata tebalnya adalah penyamaran sempurna untuk obsesinya: mengungkap jaringan rahasia di sekolah itu. Malam itu, di gudang tersembunyi, Arka berdiri di depan sebuah kanvas besar yang ia buat sendiri—sebuah Papan Bukti darurat. Lampu telanjang di atas kepalanya menyorot tegas, memantulkan bayangan di wajahnya.​Papan itu adalah peta konspirasi: tiga siluet di atas, dua di bawah, terhubung oleh garis-garis yang rumit. Tiga siluet di atas telah dicoret tebal dengan tinta merah. Tinta yang sama dengan yang memercik di beberapa kertas di sekitarnya.​"Tiga orang itu sudah disingkirkan," bisik Arka pada dirinya sendiri, jemarinya menyentuh tulisan tangan miring di sudut: 'PRIVATE'. "Dan sekarang, mereka mengincar yang tersisa."​Pembunuhan Kepala Sekolah, Bapak Wijaya, dua hari lalu, secara resmi dicatat sebagai serangan jantung. Tetapi di laci meja Bapak Wijaya, Arka menemukan catatan yang berisi data-data tentang proyek akademik rahasia yang ia labeli sendiri: 'RESEARCH CONFIDENTIAL'. Proyek itu adalah jalan pintas ilegal bagi siswa-siswa elit tertentu. Arka yakin, Bapak Wijaya dibunuh karena ia akan membongkar semuanya.​Pintu gudang berderit pelan. Lana Samudra masuk, membawa buku catatan dan aura investigatif khasnya.​"Polisi bilang itu serangan jantung, Arka," ujar Lana, membenarkan letak kacamata bingkai tipisnya. "Tapi klub jurnalistik kami punya firasat buruk. Terlalu banyak pita 'DO NOT CROSS - CRIME SCENE' yang dipasang di berbagai tempat akhir-akhir ini."​Arka menunjuk papan itu. "Lihat. Bapak Wijaya adalah salah satu dari tiga siluet yang dicoret di atas. Dua lainnya adalah guru senior yang tiba-tiba pensiun sebulan lalu. Ini bukan serangan jantung, Lana. Ini adalah pembersihan oleh Jaringan Bayangan."​Bab 2: Peringatan 'DANGER' dan Foto WANTED​Lana mendekati papan. Fokusnya jatuh pada tulisan 'WANTED' di bawah foto siluet siswa. "Siapa ini?"​"Saksi kunci," jawab Arka, menarik sebuah laporan usang. "Anak ini, Rian, pernah bekerja di bawah Bapak Wijaya. Dia mengumpulkan data 'RESEARCH CONFIDENTIAL' itu. Rian menghilang sehari sebelum Bapak Wijaya tewas. Dia tahu terlalu banyak."​Saat mereka larut dalam analisis, suara teriakan memecah keheningan koridor. Mereka bergegas keluar.​Di lorong depan, pita kuning tebal bertuliskan 'DANGER' dan 'STOP' membentang dari dinding ke dinding, memblokir jalan menuju ruang guru. Di bawah pita itu, di lantai, ada sebuah amplop berisi foto Rian, dengan darah kering membingkainya.​"Mereka mengirim pesan," kata Lana, mencatat setiap detail di bukunya. "Mereka tahu kita sedang mencari Rian."​Arka mengambil amplop itu, tatapannya menyapu sekeliling. "Ini bukan hanya pesan. Ini pengalihan. Mereka ingin kita panik dan fokus pada Rian, sementara mereka menyingkirkan dua siluet yang tersisa di papan."​Dua siluet yang belum dicoret adalah: Bima (Ketua OSIS) dan Ibu Siska (Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum). Bima adalah siswa yang terancam dicoret dari proyek Research Confidential karena nilainya anjlok. Ibu Siska adalah orang yang menjalankan proyek itu.​"Siapa yang paling diuntungkan dari kepergian Bapak Wijaya?" tanya Arka.​"Ibu Siska. Dia naik jabatan dan otomatis mengendalikan semua dokumen rahasia," jawab Lana cepat.​Bab 3: Jurnal Pribadi dan Konflik Kepentingan​Keduanya memutuskan untuk membagi tugas. Arka fokus mencari Rian, menggunakan pola-pola pergerakan Jaringan Bayangan yang ia susun. Lana fokus mencari bukti di balik label 'PRIVATE' yang mungkin disembunyikan Ibu Siska.​Lana berhasil menyusup ke kantor Ibu Siska. Di balik bingkai foto, ia menemukan sebuah jurnal kecil. Jurnal itu bukan tentang akademis, melainkan tentang konflik pribadi Ibu Siska dengan Bapak Wijaya.​Ibu Siska menulis bahwa Bapak Wijaya mulai meragukan etika dari Konspirasi Penelitian tersebut dan mengancam akan membocorkannya ke dewan yayasan. Hal yang lebih mengejutkan, di halaman terakhir jurnal itu tertulis: "Wijaya tahu tentang Rian. Dia ingin menyelamatkannya sebelum kami menjadikannya 'WANTED'."​Lana memotret setiap halaman penting. Ini bukan hanya masalah akademik, pikirnya. Ini melibatkan perasaan, pengkhianatan, dan pembalasan.​Sementara itu, Arka melacak lokasi terakhir Rian. Ia menemukan ponsel Rian yang tersembunyi di balik loker usang. Di dalam draft pesan yang belum terkirim, ada sebuah pengakuan: Rian telah menjual data Research Confidential kepada pihak luar, berharap uang itu bisa membawanya lari dari tekanan Jaringan Bayangan.Bab 4: Konfrontasi di Koridor Kencana​Arka dan Lana bertemu kembali. Mereka menyatukan kepingan teka-teki.​Motif Ibu Siska: Menutup mulut Bapak Wijaya (karena akan membongkar konspirasi) dan menyelamatkan proyek (mengamankan keuntungan).​Motif tersebut. saksikan part seru dan fenomenal selanjutnya
like
bc
THE BLOOD ON THE CRYSTAL THRONE OF VAMPIRE
Updated at Oct 23, 2025, 18:38
Pangeran Kaelen von Aethelred Vampir Darah Murni Pewaris Tahta Anggun, dingin, cerdas, terbebani oleh rahasia dan aturan kaku ayahnya. Mencoba menyeimbangkan stabilitas kerajaan (manusia) dan kebutuhan klannya (vampir). Memiliki kekuatan psikis (memanipulasi emosi).Lyra "Si Sunyi" Manusia (Mungkin memiliki garis keturunan istimewa) Pelayan Perpustakaan/Informan Pemberani, logis, memiliki mata yang tajam dan ingatan fotografis. Tumbuh di antara bangsawan, tapi tahu seluk-beluk bawah tanah. Dipaksa bekerja untuk Kaelen karena suatu utang atau ancaman. Kekuatan: Kebal terhadap pesona vampir tingkat rendah.Lord Valerius Vampir Kuno (Elder) Kepala faksi purba, ingin menggulingkan Kaelen dan ayahnya, Raja Theron, yang dianggap terlalu "lunak" pada manusia. Kuat secara fisik dan ahli dalam sihir darah terlarang.Kerajaan Aethelred, sebuah kerajaan manusia yang dipimpin oleh dinasti vampir yang berkuasa secara rahasia. Teknologi maju (seperti kereta api uap atau komunikasi radio terbatas) bercampur dengan sihir darah kuno.Ancaman dari faksi vampir purba yang ingin kembali ke cara-cara lama (perbudakan dan pembantaian terang-terangan) dan intrik dari bangsawan manusia yang tahu rahasia raja.Istana Aethelred, megah namun diselimuti bayangan. Semua tampak sempurna dan damai, tapi ada ketegangan.Digambarkan saat sedang menghadiri pertemuan dengan dewan bangsawan manusia (Senat Malam). Ia harus terlihat sebagai pemimpin manusiawi, tapi di dalam hatinya ia membenci kepalsuan itu.Raja Theron (ayah Kaelen) tiba-tiba sakit parah (diduga diracun dengan racun perak/bunga vampir). Kaelen harus segera menemukan pelakunya sebelum berita itu bocor.Lyra: Ia sedang menyortir dokumen kuno di perpustakaan terlarang istana. Ia menemukan anomali dalam catatan logistik 'perbekalan istana' (kode untuk stok darah). Beberapa kantong darah terbaik telah dicuri.Kaelen memanggil Lyra (hanya sedikit yang tahu ia informan rahasia Pangeran). Kaelen memberikan tugas: "Temukan siapa yang mengambil darah itu, Lyra. Itu adalah darah yang akan digunakan untuk menjaga rahasia kita."Lyra membenci Kaelen, tetapi terikat oleh janji atau ancaman yang lebih besar.Lyra mengikuti jejak dari logistik. Petunjuk membawanya ke pasar gelap di "Kota Bawah" (area kumuh tempat manusia dan vampir tingkat rendah berinteraksi).​Ia disergap oleh sekelompok "Renfield" (manusia gila yang memuja vampir kuno) yang mencari petunjuk yang sama.​Kaelen datang tepat waktu untuk menyelamatkannya. Adegan menegangkan di mana Kaelen harus menggunakan kekuatannya (atau darahnya) untuk melindungi Lyra. Ketegangan Romansa/Ancaman: Lyra melihat sisi brutal Kaelen, tapi juga keengganannya untuk membunuh tanpa perlu.Lyra menemukan bahwa darah yang dicuri bukan hanya darah 'perbekalan' biasa, tetapi darah dari Garis Keturunan Raja (darah yang sangat murni dan kuat, digunakan dalam ritual suksesi).​Kaelen mengakui bahwa ada faksi kuno yang ingin mengembalikan "Era Kegelapan" saat vampir memerintah secara terbuka. Mereka membutuhkan Darah Raja untuk memperkuat ritual mereka. Valerius disebut untuk pertama kalinya.Lyra dan Kaelen menyusup ke katakombe. Mereka menyaksikan ritual Valerius yang hampir selesai, menggunakan darah yang dicuri.​Valerius melihat mereka. Pertarungan singkat dan brutal. Valerius mengejek Kaelen karena kelembutannya dan menggunakan sihir darah yang membuat Kaelen lumpuh sementara.​Pengorbanan Lyra: Lyra menggunakan pengetahuannya tentang arsitektur kuno untuk memicu jebakan, memberikan waktu bagi Kaelen untuk pulih. Mereka melarikan diri, tetapi Valerius lolos dengan sebagian besar kekuatan ritualLyra dan Kaelen menyusup ke katakombe. Mereka menyaksikan ritual Valerius yang hampir selesai, menggunakan darah yang dicuri.​Valerius melihat mereka. Pertarungan singkat dan brutal. Valerius mengejek Kaelen karena kelembutannya dan menggunakan sihir darah yang membuat Kaelen lumpuh sementara.​Pengorbanan Lyra: Lyra menggunakan pengetahuannya tentang arsitektur kuno untuk memicu jebakan, memberikan waktu bagi Kaelen untuk pulih. Mereka melarikan diri, tetapi Valerius lolos dengan sebagian besar kekuatan ritualKembali ke istana. Kaelen terluka. Lyra merawatnya. Momen intim dan pengakuan ketidakpercayaan Lyra terhadap vampir, dan keterasingan Kaelen dari dunianya sendiri.​Kaelen membuat keputusan berisiko: Ia harus menggunakan dirinya sebagai umpan. Ia mengumumkan ritual penobatan dirinya sebagai Pangeran-Bupati (mengambil alih kekuasaan sementara dari ayahnya yang sakit) di Tahta Kristal. Valerius pasti akan datang.Istana dipenuhi penjaga. Ketegangan tinggi.​Valerius dan pengikutnya (vampir purba dan Renfield) menyerang. Pertarungan epik di Istana Kristal. Kaelen memimpin pertahanan.​Lyra menemukan bukti terakhir: Valerius-lah yang meracuni Theron. Tahta Kristal Berlumuran Darah:​Puncak Pertarungan: Kaelen vs. Valerius di ruang tahta.​Valerius: "Kau hanya setengah vampir, Kaelen! Kau mencintai kotoran manusia ini!" Ia menunjuk Lyra.​Kaelen melawan dengan kekuatan
like
bc
topeng keheningan
Updated at Oct 22, 2025, 06:54
Langit di atas Kota Metropolia selalu diselimuti kabut tebal, bukan kabut alami, melainkan asap dari pabrik-pabrik yang bekerja siang-malam, mencetak kekayaan bagi segelintir orang. Di balik tirai kelam itu, di sebuah aula yang remang-remang dengan dinding berpanel kayu mahoni, berdiri Aksel, seorang pemuda dengan tatapan mata yang terlalu tua untuk usianya.​Aksel memegang topeng porselen putih di tangannya. Dingin, halus, tanpa ekspresi. Tepat di atas bahunya, bayangan dua pria tegap dalam setelan hitam—sepasang penjaga yang identitasnya tersembunyi di balik topeng serupa—menjadi latar yang mengancam. Mereka adalah simbol 'Organisasi', entitas bayangan yang mengendalikan hampir semua sendi kehidupan di Metropolia.​Wajah Aksel sendiri dibiarkan kabur, ditutupi simbol tanda tanya yang samar. Ia adalah mata rantai yang hilang, sebuah misteri yang baru akan terungkap saat topeng itu ia kenakan.​"Kau siap, Aksel?" Suara berat itu datang dari sudut ruangan. Bukan dari para penjaga, melainkan dari Maestro, pemimpin Organisasi yang selalu bersembunyi di balik kegelapan.​Aksel merasakan beban topeng itu. Bukan berat fisik, melainkan beban moral. Topeng itu bukan hanya penutup wajah; ia adalah penutup nurani. Memakainya berarti menerima warisan dosa-dosa Organisasi, menjadi bagian dari mereka yang bersembunyi di balik fasad kesempurnaan.​"Topeng ini," lanjut Maestro, "bukan untuk menutupi siapa dirimu. Topeng ini adalah pernyataan tentang siapa dirimu sekarang. Keheningan. Ketidakberpihakan. Efisiensi."​Aksel tahu, ia tidak punya pilihan. Sejak kecil, ia diasuh dan dilatih di dalam bunker rahasia Organisasi. Namanya, latar belakangnya, bahkan emosinya—semuanya dibentuk untuk menjadi 'Pewaris Keheningan'. Tugasnya: menggantikan Maestro dan menjaga agar sistem tetap berjalan. Sebuah sistem yang, bagi orang luar, mungkin tampak adil, tetapi bagi yang tahu, adalah sangkar emas yang menindas.​Tangannya gemetar saat mengangkat topeng itu lebih dekat ke wajah. Ia melihat pantulan samar matanya sendiri di permukaan porselen yang mengkilap. Matanya dipenuhi ketakutan dan secercah pemberontakan yang hampir tak terlihat.Beberapa hari setelah 'Upacara Penobatan', Aksel resmi beroperasi. Ia kini dikenal sebagai 'Nomor Satu'. Pria-pria bertopeng lainnya, yang disebut 'Siluet', mematuhinya tanpa cela.​Tugas pertamanya adalah 'membersihkan' insiden kecil—seorang jurnalis muda bernama Lena yang mulai menggali terlalu dalam tentang proyek infrastruktur Organisasi yang baru. Proyek itu hanyalah kedok untuk menyalurkan dana gelap.​Aksel melacak Lena ke apartemen kumuhnya. Ia masuk tanpa suara, ditemani dua Siluet. Lena tidak ada. Di mejanya, Aksel menemukan peta pikiran yang rumit, menghubungkan nama-nama petinggi kota dengan simbol Organisasi. Di tengah peta itu, ada foto masa kecil yang buram: dua anak laki-laki bermain di reruntuhan. Salah satunya adalah Aksel.​Jantungnya berdebar kencang di balik topeng yang dingin. Aksel tidak punya ingatan tentang masa kecil di luar bunker. Siapa anak laki-laki itu? Dan mengapa Lena memilikinya?​Topeng itu terasa mulai mencekik. Ketidakberpihakan. Efisiensi. bisik suara Maestro di benaknya.​"Bakar semua ini," perintah Aksel dengan suara yang kaku dan teredam oleh topeng.​Saat Siluet mulai bekerja, Aksel mencuri satu hal: foto masa kecil itu. Ia menyembunyikannya di lapisan terdalam setelannya.Malam itu, di kamar pribadinya—sebuah sel mewah tanpa jendela—Aksel melepas topengnya untuk pertama kalinya sejak penobatan. Ia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang nyaris sempurna, tanpa cacat, tanpa kerutan emosi. Wajah yang telah dicuci bersih dari masa lalunya.​Ia mengeluarkan foto itu. Anak laki-laki di sampingnya tersenyum lebar. Senyum yang sama sekali asing bagi Aksel sekarang. Di bagian belakang foto, tulisan tangan yang pudar: Kami akan membangun kota yang baru, Kawan. —R.​R. Siapa dia? Mungkinkah dia kakaknya? Atau sahabatnya?​Ketukan di pintu. Dua Siluet masuk. "Tuan Nomor Satu. Maestro meminta Anda untuk datang. Ada masalah."​Di ruangan Maestro, yang gelap dan dipenuhi bayangan, sang pemimpin Organisasi sedang melihat sebuah layar. Layar itu menampilkan Lena, sedang siaran langsung di internet, duduk di depan tumpukan dokumen.​"Ia tidak hanya mengumpulkan data," kata Maestro dingin. "Ia juga memiliki back-up. Dan ia baru saja mengaktifkan tombol panik."​Lena, di layar, berteriak, "Organisasi! Topeng-topeng putih! Mereka mengambil semua dari kita! Mereka bahkan mengambil Raja dari saya!"​Mendengar kata 'Raja', Aksel merasakan sengatan listrik. Raja. Itu adalah nama panggilan masa kecilnya. Nama yang hanya diketahui oleh satu orang.​"Dia adalah adikmu, Aksel," kata Maestro, seolah membaca pikirannya. "Atau lebih tepatnya, adik dari Raja. Namanya Lena, dan dia adalah masa lalu yang kau tinggalkan."Maestro memberi perintah: "Temukan dia. Hentikan siaran. Bersihkan semua yang berhubungan dengannya. Lakukan sendiri, Aksel. Uji kesetiaanmu."Aku akan melakukannya
like
bc
Ambisi Kenzi, Lamunan Anya, dan Jendela Itu
Updated at Oct 22, 2025, 05:56
Kenzi Wiratama Siswa berprestasi yang terbebani ekspektasi. Sering terlihat mengantuk atau beristirahat di atas tumpukan buku, menunjukkan kelelahan belajar yang ekstrem. Diam-diam menaruh perhatian pada teman sebangkunya.Anya Kirana Gadis yang tenang, sering terlihat melamun memandang keluar jendela. Ia punya dunia imajinasi sendiri dan ambisi artistik yang tersembunyi. Sering dicap "tidak fokus" oleh guru.Kenzi dan Anya adalah teman sebangku di kelas XII IPA. Secara fisik, mereka duduk sangat dekat, hanya dipisahkan tumpukan buku, namun secara mental, mereka berada di dunia yang berbeda.​Kenzi adalah calon dokter yang didikte jadwal belajarnya oleh orang tua, ia tertekan dan hampir selalu kelelahan. Anya adalah seorang calon seniman yang sering dituduh "membuang-buang waktu" karena ia lebih suka memandangi gerakan awan di luar jendela.​Cerita ini berfokus pada dinamika interaksi sunyi mereka. Kenzi mulai menyadari bahwa setiap kali ia mencondongkan kepala di atas tumpukan buku, ia melakukannya agar bisa lebih dekat ke rambut Anya yang diikat ekor kuda. Anya, di sisi lain, mulai memperhatikan pola napas Kenzi yang kelelahan. Jendela itu bukan hanya tempat Anya mencari inspirasi, tapi juga satu-satunya tempat ia bisa melihat refleksi wajah Kenzi yang tertidur.​Sebuah tugas sekolah (proyek ilmiah atau seni) memaksa mereka untuk benar-benar berinteraksi. Melalui kolaborasi ini, mereka perlahan membongkar dinding kelelahan dan lamunan masing-masing, menemukan bahwa ambisi mereka yang berlawanan ternyata bisa saling melengkapi dan mendukung.Pukul sepuluh pagi. Matahari sudah cukup berani menerobos tirai tipis di balik jendela kelas. Anya tidak menyukai jam pelajaran Biologi ini. Bukan karena ia membenci mitokondria atau retikulum endoplasma, tetapi karena pada jam ini, bayangan Kenzi selalu jatuh tepat di pangkuannya.​Anya menyandarkan dagunya di telapak tangan, matanya terfokus pada daun pohon mahoni di luar. Angin kecil menggerakkannya, seolah daun itu sedangmenari lambat di panggung tak terlihat.​"Anya, fokus!" Suara Bu Rosa terdengar tajam.​Anya hanya mengangguk samar tanpa menoleh. Ia sudah terlalu sering dimarahi.​Di sebelahnya, Kenzi—siswa dengan peringkat pertama seangkatan—telah t menjauh dari Kenzi. Namun, ia tidak bisa mengabaikan bau khas yang menguar dari tumpukan buku itu: aroma kertas baru yangbercampur sedikit wangi pelembut pakaian Kenzi. Aroma yang, entah kenapa, selalu mengingatkannya pada hari-hari yang ia 'bunuh' hanya untuk mencari inspirasi.​Tiba-tiba, Kenzi bergerak. Ia tidak bangun, tetapi lengannya yang bertumpu di buku tergelincir sedikit. Siku Kenzi kini hampir menyentuh pinggang Anya. Jantung Anya berdetak lebih cepat.​"Kenzi," bisik Anya pelan, nyaris tanpa suara.​Kenzi tidak bereaksi. Napasnya teratur, naik-turun, membuat ikat rambut ekor kuda Anya ikut bergerak halus.​Anya melihat keluar lagi. Kali ini bukan daun yang menarik perhatiannya, melainkan pantulan di kaca jendela. Refleksi wajah Kenzi yang sedang tidur itu tampak lebih tenang, lebih manusiawi, daripada wajah Kenzi yang sedang terjaga dan menghitung rumus limit.​Anya menyadari satu hal: Jendela itu adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa melihat Kenzi tanpa Kenzi melihatnya kembali. Dan untuk sesaat, ia membiarkan Kenzi beristirahat di sebelah tumpukan ambisi mereka.Anya masih terpaku pada pantulan wajah Kenzi di jendela ketika bel berbunyi nyaring, memecah keheningan yang tercipta oleh irama napas Kenzi. Bunyi itu bukan sekadar jeda, tapi alarm yang keras.​BRAK!​Kenzi tersentak hebat. Tubuhnya menegak, menyebabkan tumpukan buku yang menjadi bantalnya goyah dan beberapa jatuh ke lantai dengan suara keras. Wajahnya yang semula damai kini digantikan ekspresi panik yang khas dari orang yang ketahuan tidur di kelas. Matanya melebar, dan ia menoleh cepat, bukan kepada Bu Rosa, melainkan kepada Anya.​Anya tidak bergerak. Ia hanya menatap buku-buku yang berserakan, dan kemudian menatap Kenzi.​"Ma-maaf. Aku... aku ketiduran," bisik Kenzi, suaranya serak. Ia segera membungkuk, wajahnya memerah karena malu.​"Tidak apa-apa," jawab Anya datar, meskipun dadanya masih berdebar akibat kaget. Ia ikut membantu memungut buku-buku tebal yang baunya seperti janji-janji masa depan yang terlalu berat.​Saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan saat mengambil buku Kalkulus, Kenzi langsung menarik tangannya seolah tersengat listrik. Kecanggungan itu tebal, memenuhi ruang sempit di antara bangku mereka.​"Terima kasih," kata Kenzi, suaranya kini sedikit lebih normal, meski masih mengandung nada terburu-buru. Ia menyusun kembali buku-bukunya menjadi menara pelindung yang baru, seolah-olah itu adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan jarak mental di antara mereka. ​Anya hanya mengangguk kecil. Ia memperhatikan jari-jari Kenzi yang gemetar saat menumpuk buku, bukan karena gugup, tapi karena kelelahan yang akut. ​Bu Rosa yang sudah berada di ambang pintu berdeham keras. Baik, anak-anak. Sebelum kalian keluar, ada pengumuman. Proyek akhir itu
like