bc

topeng keheningan

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
arrogant
princess
drama
bxg
scary
campus
medieval
mythology
ancient
like
intro-logo
Blurb

Langit di atas Kota Metropolia selalu diselimuti kabut tebal, bukan kabut alami, melainkan asap dari pabrik-pabrik yang bekerja siang-malam, mencetak kekayaan bagi segelintir orang. Di balik tirai kelam itu, di sebuah aula yang remang-remang dengan dinding berpanel kayu mahoni, berdiri Aksel, seorang pemuda dengan tatapan mata yang terlalu tua untuk usianya.​Aksel memegang topeng porselen putih di tangannya. Dingin, halus, tanpa ekspresi. Tepat di atas bahunya, bayangan dua pria tegap dalam setelan hitam—sepasang penjaga yang identitasnya tersembunyi di balik topeng serupa—menjadi latar yang mengancam. Mereka adalah simbol 'Organisasi', entitas bayangan yang mengendalikan hampir semua sendi kehidupan di Metropolia.​Wajah Aksel sendiri dibiarkan kabur, ditutupi simbol tanda tanya yang samar. Ia adalah mata rantai yang hilang, sebuah misteri yang baru akan terungkap saat topeng itu ia kenakan.​"Kau siap, Aksel?" Suara berat itu datang dari sudut ruangan. Bukan dari para penjaga, melainkan dari Maestro, pemimpin Organisasi yang selalu bersembunyi di balik kegelapan.​Aksel merasakan beban topeng itu. Bukan berat fisik, melainkan beban moral. Topeng itu bukan hanya penutup wajah; ia adalah penutup nurani. Memakainya berarti menerima warisan dosa-dosa Organisasi, menjadi bagian dari mereka yang bersembunyi di balik fasad kesempurnaan.​"Topeng ini," lanjut Maestro, "bukan untuk menutupi siapa dirimu. Topeng ini adalah pernyataan tentang siapa dirimu sekarang. Keheningan. Ketidakberpihakan. Efisiensi."​Aksel tahu, ia tidak punya pilihan. Sejak kecil, ia diasuh dan dilatih di dalam bunker rahasia Organisasi. Namanya, latar belakangnya, bahkan emosinya—semuanya dibentuk untuk menjadi 'Pewaris Keheningan'. Tugasnya: menggantikan Maestro dan menjaga agar sistem tetap berjalan. Sebuah sistem yang, bagi orang luar, mungkin tampak adil, tetapi bagi yang tahu, adalah sangkar emas yang menindas.​Tangannya gemetar saat mengangkat topeng itu lebih dekat ke wajah. Ia melihat pantulan samar matanya sendiri di permukaan porselen yang mengkilap. Matanya dipenuhi ketakutan dan secercah pemberontakan yang hampir tak terlihat.Beberapa hari setelah 'Upacara Penobatan', Aksel resmi beroperasi. Ia kini dikenal sebagai 'Nomor Satu'. Pria-pria bertopeng lainnya, yang disebut 'Siluet', mematuhinya tanpa cela.​Tugas pertamanya adalah 'membersihkan' insiden kecil—seorang jurnalis muda bernama Lena yang mulai menggali terlalu dalam tentang proyek infrastruktur Organisasi yang baru. Proyek itu hanyalah kedok untuk menyalurkan dana gelap.​Aksel melacak Lena ke apartemen kumuhnya. Ia masuk tanpa suara, ditemani dua Siluet. Lena tidak ada. Di mejanya, Aksel menemukan peta pikiran yang rumit, menghubungkan nama-nama petinggi kota dengan simbol Organisasi. Di tengah peta itu, ada foto masa kecil yang buram: dua anak laki-laki bermain di reruntuhan. Salah satunya adalah Aksel.​Jantungnya berdebar kencang di balik topeng yang dingin. Aksel tidak punya ingatan tentang masa kecil di luar bunker. Siapa anak laki-laki itu? Dan mengapa Lena memilikinya?​Topeng itu terasa mulai mencekik. Ketidakberpihakan. Efisiensi. bisik suara Maestro di benaknya.​"Bakar semua ini," perintah Aksel dengan suara yang kaku dan teredam oleh topeng.​Saat Siluet mulai bekerja, Aksel mencuri satu hal: foto masa kecil itu. Ia menyembunyikannya di lapisan terdalam setelannya.Malam itu, di kamar pribadinya—sebuah sel mewah tanpa jendela—Aksel melepas topengnya untuk pertama kalinya sejak penobatan. Ia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang nyaris sempurna, tanpa cacat, tanpa kerutan emosi. Wajah yang telah dicuci bersih dari masa lalunya.​Ia mengeluarkan foto itu. Anak laki-laki di sampingnya tersenyum lebar. Senyum yang sama sekali asing bagi Aksel sekarang. Di bagian belakang foto, tulisan tangan yang pudar: Kami akan membangun kota yang baru, Kawan. —R.​R. Siapa dia? Mungkinkah dia kakaknya? Atau sahabatnya?​Ketukan di pintu. Dua Siluet masuk. "Tuan Nomor Satu. Maestro meminta Anda untuk datang. Ada masalah."​Di ruangan Maestro, yang gelap dan dipenuhi bayangan, sang pemimpin Organisasi sedang melihat sebuah layar. Layar itu menampilkan Lena, sedang siaran langsung di internet, duduk di depan tumpukan dokumen.​"Ia tidak hanya mengumpulkan data," kata Maestro dingin. "Ia juga memiliki back-up. Dan ia baru saja mengaktifkan tombol panik."​Lena, di layar, berteriak, "Organisasi! Topeng-topeng putih! Mereka mengambil semua dari kita! Mereka bahkan mengambil Raja dari saya!"​Mendengar kata 'Raja', Aksel merasakan sengatan listrik. Raja. Itu adalah nama panggilan masa kecilnya. Nama yang hanya diketahui oleh satu orang.​"Dia adalah adikmu, Aksel," kata Maestro, seolah membaca pikirannya. "Atau lebih tepatnya, adik dari Raja. Namanya Lena, dan dia adalah masa lalu yang kau tinggalkan."Maestro memberi perintah: "Temukan dia. Hentikan siaran. Bersihkan semua yang berhubungan dengannya. Lakukan sendiri, Aksel. Uji kesetiaanmu."Aku akan melakukannya

chap-preview
Free preview
topeng keheningan
Langit di atas Kota Metropolia selalu diselimuti kabut tebal, bukan kabut alami, melainkan asap dari pabrik-pabrik yang bekerja siang-malam, mencetak kekayaan bagi segelintir orang. Di balik tirai kelam itu, di sebuah aula yang remang-remang dengan dinding berpanel kayu mahoni, berdiri Aksel, seorang pemuda dengan tatapan mata yang terlalu tua untuk usianya.​Aksel memegang topeng porselen putih di tangannya. Dingin, halus, tanpa ekspresi. Tepat di atas bahunya, bayangan dua pria tegap dalam setelan hitam—sepasang penjaga yang identitasnya tersembunyi di balik topeng serupa—menjadi latar yang mengancam. Mereka adalah simbol 'Organisasi', entitas bayangan yang mengendalikan hampir semua sendi kehidupan di Metropolia.​Wajah Aksel sendiri dibiarkan kabur, ditutupi simbol tanda tanya yang samar. Ia adalah mata rantai yang hilang, sebuah misteri yang baru akan terungkap saat topeng itu ia kenakan.​"Kau siap, Aksel?" Suara berat itu datang dari sudut ruangan. Bukan dari para penjaga, melainkan dari Maestro, pemimpin Organisasi yang selalu bersembunyi di balik kegelapan.​Aksel merasakan beban topeng itu. Bukan berat fisik, melainkan beban moral. Topeng itu bukan hanya penutup wajah; ia adalah penutup nurani. Memakainya berarti menerima warisan dosa-dosa Organisasi, menjadi bagian dari mereka yang bersembunyi di balik fasad kesempurnaan.​"Topeng ini," lanjut Maestro, "bukan untuk menutupi siapa dirimu. Topeng ini adalah pernyataan tentang siapa dirimu sekarang. Keheningan. Ketidakberpihakan. Efisiensi."​Aksel tahu, ia tidak punya pilihan. Sejak kecil, ia diasuh dan dilatih di dalam bunker rahasia Organisasi. Namanya, latar belakangnya, bahkan emosinya—semuanya dibentuk untuk menjadi 'Pewaris Keheningan'. Tugasnya: menggantikan Maestro dan menjaga agar sistem tetap berjalan. Sebuah sistem yang, bagi orang luar, mungkin tampak adil, tetapi bagi yang tahu, adalah sangkar emas yang menindas.​Tangannya gemetar saat mengangkat topeng itu lebih dekat ke wajah. Ia melihat pantulan samar matanya sendiri di permukaan porselen yang mengkilap. Matanya dipenuhi ketakutan dan secercah pemberontakan yang hampir tak terlihat.Beberapa hari setelah 'Upacara Penobatan', Aksel resmi beroperasi. Ia kini dikenal sebagai 'Nomor Satu'. Pria-pria bertopeng lainnya, yang disebut 'Siluet', mematuhinya tanpa cela.​Tugas pertamanya adalah 'membersihkan' insiden kecil—seorang jurnalis muda bernama Lena yang mulai menggali terlalu dalam tentang proyek infrastruktur Organisasi yang baru. Proyek itu hanyalah kedok untuk menyalurkan dana gelap.​Aksel melacak Lena ke apartemen kumuhnya. Ia masuk tanpa suara, ditemani dua Siluet. Lena tidak ada. Di mejanya, Aksel menemukan peta pikiran yang rumit, menghubungkan nama-nama petinggi kota dengan simbol Organisasi. Di tengah peta itu, ada foto masa kecil yang buram: dua anak laki-laki bermain di reruntuhan. Salah satunya adalah Aksel.​Jantungnya berdebar kencang di balik topeng yang dingin. Aksel tidak punya ingatan tentang masa kecil di luar bunker. Siapa anak laki-laki itu? Dan mengapa Lena memilikinya?​Topeng itu terasa mulai mencekik. Ketidakberpihakan. Efisiensi. bisik suara Maestro di benaknya.​"Bakar semua ini," perintah Aksel dengan suara yang kaku dan teredam oleh topeng.​Saat Siluet mulai bekerja, Aksel mencuri satu hal: foto masa kecil itu. Ia menyembunyikannya di lapisan terdalam setelannya.Malam itu, di kamar pribadinya—sebuah sel mewah tanpa jendela—Aksel melepas topengnya untuk pertama kalinya sejak penobatan. Ia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang nyaris sempurna, tanpa cacat, tanpa kerutan emosi. Wajah yang telah dicuci bersih dari masa lalunya.​Ia mengeluarkan foto itu. Anak laki-laki di sampingnya tersenyum lebar. Senyum yang sama sekali asing bagi Aksel sekarang. Di bagian belakang foto, tulisan tangan yang pudar: Kami akan membangun kota yang baru, Kawan. —R.​R. Siapa dia? Mungkinkah dia kakaknya? Atau sahabatnya?​Ketukan di pintu. Dua Siluet masuk. "Tuan Nomor Satu. Maestro meminta Anda untuk datang. Ada masalah."​Di ruangan Maestro, yang gelap dan dipenuhi bayangan, sang pemimpin Organisasi sedang melihat sebuah layar. Layar itu menampilkan Lena, sedang siaran langsung di internet, duduk di depan tumpukan dokumen.​"Ia tidak hanya mengumpulkan data," kata Maestro dingin. "Ia juga memiliki back-up. Dan ia baru saja mengaktifkan tombol panik."​Lena, di layar, berteriak, "Organisasi! Topeng-topeng putih! Mereka mengambil semua dari kita! Mereka bahkan mengambil Raja dari saya!"​Mendengar kata 'Raja', Aksel merasakan sengatan listrik. Raja. Itu adalah nama panggilan masa kecilnya. Nama yang hanya diketahui oleh satu orang.​"Dia adalah adikmu, Aksel," kata Maestro, seolah membaca pikirannya. "Atau lebih tepatnya, adik dari Raja. Namanya Lena, dan dia adalah masa lalu yang kau tinggalkan."Maestro memberi perintah: "Temukan dia. Hentikan siaran. Bersihkan semua yang berhubungan dengannya. Lakukan sendiri, Aksel. Uji kesetiaanmu."Aku akan melakukannya,Aku akan melakukannya." ​Suara Aksel terdengar kaku, teredam oleh topeng porselen, namun nadanya tegas dan tanpa cela. Di balik fasad Keheningan, jantungnya berdebar kencang, memompa adrenalin yang bercampur dengan rasa takut dan sedikit harapan yang aneh. ​Maestro tidak bisa melihat raut wajah Aksel, tetapi ia merasakan getaran dalam keheningan yang lama. "Bagus. Aku ingin kau menyelesaikannya secara pribadi, Aksel. Ini bukan tentang menghilangkan ancaman; ini tentang menghapus masa lalu. Kelemahan harus dihilangkan di akarnya." ​Maestro mengalihkan pandangannya ke layar, di mana siaran langsung Lena telah berakhir, digantikan oleh pesan error teknis yang berhasil diintervensi oleh tim Organisasi. ​"Dia berada di area Sektor Lima, distrik industri lama yang ditinggalkan. Dia pasti memiliki markas cadangan. Jangan gagal, Nomor Satu. Jika kau ragu sedetik pun, Organisasi akan meragukanmu selamanya." ​Aksel membungkuk sedikit, sebuah gestur penghormatan yang dingin. "Keheningan akan dilaksanakan." ​Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan Maestro yang gelap, membawa beban ganda: topeng yang dingin dan foto usang yang hangat tersembunyi di lapisan terdalam setelannya. ​Ketidakberpihakan. Efisiensi. Bisikan itu kini terasa seperti jerat tali di lehernya. ​Aksel menuju ruang kendali pribadinya. Di sana, ia tidak memanggil Siluet. Jika ia membawa tim, tidak ada yang bisa menjamin keamanannya—atau, lebih penting, keselamatan Lena. ​Ia menggunakan terminal untuk melacak jejak digital Lena. Sektor Lima. Distrik pabrik yang ditutup setelah 'kecelakaan' besar 15 tahun lalu. Kecelakaan yang menewaskan ayah Aksel. Ingatan itu datang lagi, tajam dan menyakitkan, seolah chip memorinya telah terstimulasi oleh nama Lena. ​Aksel mematikan sistem pelacakan GPS di setelannya. Ia tidak bisa dilacak. Ia mengambil kendaraan utilitas hitam yang tidak mencolok, mobil yang biasa digunakan untuk operasi rahasia, bukan limo mewahnya yang akan menarik perhatian. ​Di tengah jalan, ia menarik mobil ke tepi jalan yang sepi, di bawah jembatan layang yang meneteskan air karat. Ia melepas topengnya. Udara Metropolia terasa berat dan berbau zat kimia, tetapi di luar porselen itu, Aksel bisa merasakan embusan angin yang nyata. ​Ia menatap foto itu lagi. Kami akan membangun kota yang baru, Kawan. —R. ​R. Raja. Itu dia. ​Ia mencoba memaksa dirinya untuk mengingat. Kilasan-kilasan memori seperti pecahan kaca: seorang gadis kecil tertawa, bau oli mesin, ayunan yang reyot di halaman belakang yang kotor. Cukup. Itu cukup untuk memicu keraguan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.3K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
12.0K
bc

Ninja Itu Suamiku!!/Play In Deception: Camouflage (END)

read
54.4K
bc

Dalam Kuasa Kegelapan/Play In Darkness (END)

read
58.8K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.5K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook