Hay, selamat datang di lapakku.
enjoy your read guys ...
jangan lupa masukkan ke perpustakaan kalian ....
semoga suka dan terhibur
Instagram @Naini_Nay2
"Kamu sekarang berani ya sama ibu! " ucap wanita itu dengan nada menggebunya. Sedangkan di sisi lain ada ibu muda yang lebih geram menahan semua rasa sesak di dadanya.
"Bu, dia tidak akan seperti itu jika ibu tidak memulainya."
"Mulai bagaimana? Bukankah ibu berkata benar mas?! "
'Sabar... sabar ... ' batin ibu muda itu dengan tangan gemetarnya memegang sendok berisi nasi yang sampai tidak kuat untuk ia masukan ke dalam mulut.
"Loh ... ibu kalau gak mau Syafa membantah makanya ibu juga harus bisa instrospeksi diri. Jangan bisanya menyalahkan aja, dia juga perempuan sama seperti ibu, tapi kenapa ibu tidak paham jika apa yang ibu ucapkan berulang itu menyakiti hatinya! "
Lagi, pembelaan itu terus di dengar oleh telinga ibu muda tadi.
"Tuh, lihat! " sarkasnya sambil menunjuk-nunjuk.
"Apasih Bu, aku cuma mau tenang! Nggak lebih. Aku cuma mau ibu diem, dan jangan terlalu mencampuri urusanku atau hidupku. Ibu boleh menasihatiku, tapi tolong jangan terus diulang. Ini telinga punya batas sabar juga, aku sudah cukup sabar ya dengerin semua ocehan ibu. Cukup, sudah! "
Piring di tangannya ia hentakkan begitu saja di samping dirinya berasa tepat di atas sofa yang tadi ia duduki.
Nayla tidak pernah berfikir akan menyandang status pacar dari seorang dosen yang sangat disegani juga memiliki banyak fans di kampusnya itu. Tentang segala cekcok dan rumor yang selalu beredar kala dulu tentang dirinya dan sang dosen, jujur tidak pernah ia bayangkan bisa merubah semuanya. Sampai cintanya pun ikut kandas karena ulah temannya.
"Orang mah nikah kalau udah mapan, udah cukup umur juga lah. Lah ini, udah keburu nikah nggak punya apa-apa. Kaya nikah cuma modal cinta aja! "Shit... Batinku mengusik. Ingin rasanya menggertak nyinyiran itu, tapi apalah daya kekuatan mulut orang di depanku melebihi kapasitasku yang hanya bisa diam dan bergemuruh sendiri di tempat. Sedangkan calonku.... "Cerewet, suka-suka aku lah. Aku yang mau nikah kok situ yang sewot. Kita mau makan apa pun terserah kita lah, situ kalau nggak mau biayain mending diem. Dasar tetangga julid!"Lagian benar sih, kita nikah juga kemauan kita. Lagian aku sama calon juga nggak muda-muda amat. Cukuplah... aku 23 tahun calonku juga 23 tahun. Ya... walaupun terkesan kaya muda banget sih. Tapi udah cukup umur kok, meskipun doi tergolong kurang dikit tapi dia cukup dewasa bagiku. Kerja keras juga tanggung jawab menurutku, jadi ya... bukan masalah besar bukan? "Dikasih tau tuh dengerin malah nyolot! ""Aduh buk, ini mah bukan nyolot. Tapi ngasih tau juga, ibuk mah mending diem deh. Kebiasaan banget suka ikut campur urusan orang! "kulihat doi mulai emosi, kutahan dia dengan tangan yang aku gunakan juga untuk mengelus pundaknya seolah berkata. "Sabar... nggak usah diladenin."