bc

Mahkota tanpa Tahta

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
time-travel
arranged marriage
kickass heroine
stepfather
drama
tragedy
lighthearted
serious
kicking
like
intro-logo
Blurb

"Kamu sekarang berani ya sama ibu! " ucap wanita itu dengan nada menggebunya. Sedangkan di sisi lain ada ibu muda yang lebih geram menahan semua rasa sesak di dadanya.

"Bu, dia tidak akan seperti itu jika ibu tidak memulainya."

"Mulai bagaimana? Bukankah ibu berkata benar mas?! "

'Sabar... sabar ... ' batin ibu muda itu dengan tangan gemetarnya memegang sendok berisi nasi yang sampai tidak kuat untuk ia masukan ke dalam mulut.

"Loh ... ibu kalau gak mau Syafa membantah makanya ibu juga harus bisa instrospeksi diri. Jangan bisanya menyalahkan aja, dia juga perempuan sama seperti ibu, tapi kenapa ibu tidak paham jika apa yang ibu ucapkan berulang itu menyakiti hatinya! "

Lagi, pembelaan itu terus di dengar oleh telinga ibu muda tadi.

"Tuh, lihat! " sarkasnya sambil menunjuk-nunjuk.

"Apasih Bu, aku cuma mau tenang! Nggak lebih. Aku cuma mau ibu diem, dan jangan terlalu mencampuri urusanku atau hidupku. Ibu boleh menasihatiku, tapi tolong jangan terus diulang. Ini telinga punya batas sabar juga, aku sudah cukup sabar ya dengerin semua ocehan ibu. Cukup, sudah! "

Piring di tangannya ia hentakkan begitu saja di samping dirinya berasa tepat di atas sofa yang tadi ia duduki.

chap-preview
Free preview
Lembaran Baru
"Selamat ya mas, mba. Sekarang udah resmi jadi suami istri. Jangan ada kata pisah ya ... karena pernikahan itu memang ibadah terpanjang seumur hidup yang jika dibilang susah ya susah tapi akan terasa mudah jika kalian selalu mengutamakan satu sama lain di dalamnya. Jika ada salah banyak atau dikit kalau bisa kalian hadapi dengan hati yang legowo dan juga jangan pakai emosi karena mempertahankan itu memang sulit. Tetapi percayalah, jika kalian memang bisa memulai semuanya ini dari sekarang Insya Allah rumah tangga kalian akan selamanya di dunia dan akhirat." Damn... seperti ada yang aneh di ucapan itu, Syafa hanya menyunggikan senyum sekilas lantas bersikap cuek setelahnya. "Insya Allah kita bisa Pakde, " sahut Arkana. Sang mempelai pria yang dari se-jam lalu resmi menjadi suami Syafa Nadhira. Pegawai minimarket depan komplek yang mencuri hati laki-laki itu. "Nak Syafa, kalau ada apa-apa jangan sungkan ya sama Pakde. Anggap aja Pakde ini Pakdemu juga sekarang. Ketemu di jalan juga panggil-panggil aja, nggak usah malu-malu. " Syafa menyunggingkan senyumnya di hadapan sosok itu. Arkana menoleh, "Kamu istirahat aja sana. Capek kan pasti. " "Nggak apa-apa Mas. Lagian kalau aku mau istirahat juga nggak enak sama Ibu, sama Mbak, sama Pakde, dan juga sama saudaramu lainnya yang masih pada di sini. " " Udah nggak apa-apa Nak Syafa, kamu kalau mau istirahat, istirahat aja. Kita di sini masih mau ngobrol-ngobrol." Ucap wanita paruh baya yang menyandang status mertua bagi Syafa sejak hari ini. Pandangan Syafa melirik ke arah Ningrum, Kakak perempuan Arkana yang tampak cuek dengan segala kedataran wajahnya. Sebuah tepukan mendarat di pundak Syafa, "Udah nggak usah diladenin. Kamu istirahat aja nggak apa-apa, nurut sama omongan ibu nanti aku nyusul kalau kamu udah ke dalam duluan. " Di tempat lain beberapa menit kemudian. Syafa menoleh ke arah sekitarnya, "Aku nggak salah jalan kan ya?! " gumamnya dalam hati. Ada sedikit rasa tak tenang datang dari dalam dirinya semenjak tatapan tak enak ia dapati beberapa menit yang lalu. Syafa menghela nafas berat. "Enggak, ini udah pilihanku. Semoga aja apa yang aku takutkan tidak beneran terjadi, dan semoga saja itu hanya sebuah ketakutan biasa yang dialami oleh pengantin baru yang belum terbiasa dengan lingkungan barunya. " "Yah ... apapun keputusanmu kali ini udah kamu pikirkan matang-matang di waktu sebelumnya, dan ... Bismillah aja semua bakal berjalan melawan segala keraguan keraguan yang tiba-tiba muncul ini. " Cklek.... Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok laki-laki berbadan tegap dengan seulas senyum disunggingnya. "Sayang." "Iya Mas. " "Ada pikiran yang mengganjal di hati kamu kah?" "Nggak ada kok Mas. " "Beneran?! " Ragu, namun Syafa tak bisa berkata jujur. "Iya... aku capek sih Mas, boleh nggak aku tidur sebentar? Rasanya pinggangku seperti mau patah Mas huhuhu..... " Arkana menghampiri Syafa semakin dekat. "Loh ya bolehlah, buat apa nggak boleh. Tidur aja nggak apa-apa, aku juga capek mau istirahat bentar biar agak enakan badannya." "Tapi Mas, apa nggak apa-apa. Nggak enak sama mbakmu juga ibumu. " Sembari menggeser keberadaan Syafa, Arkan menggitak kening istrinya. "Kamu itu terlalu berlebihan sayang, udah nggak udah dipikirin. Kalau mereka aja cuek kamu juga nggak usah banyak ketakutan. Bobok yuk, Mas ngantuk." Padahal hari ini baru menunjukkan pukul 16:50 WIB. Tapi entahlah, beberapa hari lalu memang melelahkan untuk kedua pasutri itu yang apa-apa segala urusannya mereka atasi sendiri tanpa bantuan orang lain. ∆∆∆∆ Adzan berkumandang, membuat Arkan mengeliat penuh saat sebuah ketukan pintu juga hadir menyapa telinganya beberapa detik lalu. "Mas, magrib... bangun, kalian pada tidur ya? Ini udah magrib, pamali jam segini tidur. Yuk bangun, Sholat!" Syafa mengucek matanya berkali-kali, matanya sibuk mencari keberadaan jam dinding yang yang dapati ada di atas pintu kamar menunjukkan pukul 18.05 WIB. Di sampingnya sang suami tampak sudah terduduk dengan wajah lusuhnya ciri khas bangun tidur. " Mas Apakah itu suaranya ibu? " tanya Syafa. " Iya sayang siapa lagi kalau bukan ibu, misal Mbak Ningrum juga pasti nggak berani bangunin kita. " Mendengar itu Safa tampak mengangguk-anggukkan kepalanya penuh seolah paham apa yang dimaksudkan sang suami. "Mas.... " "Ini kalian tuh sebenarnya udah pada bangun apa belum sih, kok nggak ada yang nyaut satupun. Kalau belum bangun ya bangun dulu, kalau udah bangun ya kasih tanda dong kalau kalian dengar omongan ibu. " " Udah Bu udah kita udah bangun, kita juga denger kok ibu ngetuk-ngetuk pintu dari tadi. Udah ibu sana aja ke sana, kita masih capek. Kita juga nggak bakal lupain kok buat sholat. Tapi bentaran, Ibu pergi aja jangan di situ kayak orang ngapain aja keder-gedor pintu dari tadi malah tambah keras banget lagi. " "Hus Mas, kamu itu loh ngomong sama ibumu sendiri kok yo nadanya agak nyelekit! " bisik Safa kepada sang suami yang terlihat tak nyaman dengan perilaku ibunya yang dari tadi masih sibuk menggedor-gedor pintu seolah tidak lengah jika ia dan suaminya tidak kunjung bangkit dari kamar. "Oh... ya udah, orang ibu juga cuma bangunin kalian kok. Gitu aja kok marah-marah Mas ... Mas. Ya siapa tahu kan kalian belum pada bangun jadi ibu bangunin, siapa tahu kalian tuh apa namanya. Eum... nggak denger kalau udah ada adzan Maghrib jadinya kan ya niat ibu kan baik. " "Iya Bu iya, udah sana ibu jangan di depan pintu kamar lagi. Syafa juga udah bangun kok. Ibu kalau mau duluan duluan aja sama mbak Ningrum, kalau mau sholat kita nanti nyusul. " " Oalah, ya sudah kalau begitu nanti kalau udah jangan lupa langsung sholat terus makan habis makan terserah deh mau ngapain lagi yang penting jangan lupa sholat. " Tidak dihiraukan seperti ucapanku tadi kini Arkana tampak bangkit dari ranjang. "Mas, Mas mau sholat sekarang? Tungguin aku dong... " " Bentar sayang Mas belum mau sholat, Mas cuma mau ambil minum nih haus. " "Kirain kan, siapa tahu Mas mau langsung sholat. " Ya... di dalam kamar Arkana memang terdapat sebuah galon di ujung kamar sana. Suasana kembali sunyi seperti semula, kelihatannya pun sanak saudara dari suaminya itu sudah pada pergi karena tidak ada satupun kalimat-kalimat yang berseliweran yang mampir di telinga Syafa. Kening Syafa berkerut, " Mas kok sekarang jadi tenang ya ... nggak kayak tadi banyak omongan ngalor ngidul yang nggak jelas. Maksudnya kayak berisik banget gitu loh, apa saudara-saudaramu udah pada pulang ya Mas. " Arkana duduk, setelah tangan kanannya mengulurkan gelas berisi air putih pada Syafa. "Diminum dulu, bangun tidur itu enaknya minum dulu. Ya mungkin aja udah pada pulang beberapa, misal pun masih ada yang di sini paling juga Mbak Ningrum sama anak-anaknya. Kan suami sama ibu mertuanya tadi udah pulang duluan, paling juga Mbak Ningrum nginep lagi di sini. " "Makasih sayang. " "Sama-sama, udah sekarang diminum dulu habis itu kita keluar salat magrib terus makan. " "Iya Mas... " ∆∆∆∆ " Mas itu kalau mau makan lauknya ada di atas meja itu ketutup tudung saji, Syafa di ambilin sekalian. Suruh makan juga sekalian. " "Iya bu, " sahut Arkana dan Syafa berbarengan. Kedua pasutri baru itu kini tampak sibuk dengan piring dan juga sendoknya yang berada di tangan mereka masing-masing kini tengah menuang beberapa lauk pauk ke atas piring secara bergantian. Di satu sisi, wanita paruh baya bernama Puji Astuti itu tengah berduduk santai dengan kedua anak perempuannya juga dengan dua bocil-bocil yang tengah asik dengan mainannya di atas karpet yang digelar di ujung ruang keluarga sana. Tidak ada obrolan apapun lagi, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Arkana dengan Syafa sesekali saling melirik ke arah Astuti dan juga Ningrum dengan adik perempuannya yang sibuk bermain HP. Lala dan Diva, anak Ningrum, beberapa detik kemudian mulai cekcok saling berebut mainan sampai membuat Arkana sedikit geram namun masih ia tahan karena ia masih berusaha untuk tetap makan dengan tenang di tempatnya. Syafa menghelan nafas pelan, "Mas? " panggilnya pada sang suami. " "Dalem, " Arkana menoleh. "Itulah Lala sama Diva kok pada berantem gitu ibunya diam aja ya? " "Biasa kamu sendiri juga tahu kan watak Mbak Ningrum itu kayak gimana. "

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
11.0K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
231.0K
bc

HASRAT MEMBARA KAKAK SEPUPU

read
98.8K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook