Seperti biasa, setelah jadwal periksa di poli sudah selesai, waktu visite pun segera berlangsung. Ada beberapa pasien yang harus Dion kunjungi hari ini, termasuk Rio, pasien yang membuatnya bisa bertemu langsung dengan Aksa. Rencananya ia akan melakukan kunjungan di jam terakhir. Hal itu sengaja ia pilih dengan harapan, disana ia bisa bertemu dengan Aksa dan ingin mengajaknya berbincang perihal Kayana.
Dengan ditemani oleh seorang perawat, Dion masuk dari kamar satu ke kamar yang lain, memeriksa dengan sabar dan teliti pasien demi pasien tanpa ada yang ia beda-bedakan. Mulai dari melihat perkembangannya, menasehatinya, juga memberikan dukungan dan semangat agar segera sembuh. Kini Dion sudah mulai bisa kembali seperti Dion yang dahulu, ramah, penuh senyum, mau berbagi canda tawa dengan para pasien-pasiennya.
Kini tiba giliran Rio, pasca operasi ini pertama kalinya Dion datang ke kamarnya untuk memeriksanya.
Diketoknya pintu untuk beberapa kali dan mereka pun masuk ke ruangan VVIP, nampak Rio masih berbaring dengan selimut yang menutupinya setengah badan. Kepala bagian depan masih ditutup oleh perban yang ditengahnya masih terlihat warna merah darah yang bercampur dengan bebarapa tetes betadin.
Matanya mulai menyusuri seluruh ruangan berukuran lima kali empat meter itu, ukuran yang cukup luas untuk kamar pasien. Ada dua orang yang menemani Rio disana. Istrinya dan yang satu entah siapa. Tidak ada Aksa disana, jadi rencananya pun gagal. Dengan niat awal ingin berbincang dengan laki-laki yang sudah menggangu Kayana, harus terhenti sementara. Mungkin lain hari, pikirnya.
Ia pun masuk ke dalam, menyapa penghuni kamar dengan ramah. Stestoskop yang melingkar di leher pun ia pakai dengan benar, ditelinga dan mulai memeriksa pasien terakhirnya.
“Bagaimana kabarnya hari ini, Pak Rio? Sudahkah lebih baik?”
“Sudah lumayan enakan, Dok.”
“Syukurlah, ada pusing?”
“Sedikit Dok.”
“Ndak apa-apa, itu hanya akibat obat bius dan karena bapak yang kebanyakan tidur saja, itu yang membuat kepala menjadi pusing. Tapi tidak masalah, Pak.”
“Ya, Dok. Terima kasih sudah memberikan yang terbaik untuk saya.”
“Sama-sama, Pak. Besok pagi sudah bisa mulai latihan jalan ya. Selanjutnya nanti ada terapi juga. Untuk makanan yang baik dikonsumsi atau tidak, nanti ada ahli gizi dari kami yang akan menerangkan kesini. Kondisi Bapak sudah cukup baik, tekanan darah normal dan tinggal pemulihan saja.”
“Terima kasih, Dokter.”
“Sama-sama, yang jelas Pak Rio harus semangat, tetap berpikiran positif dan yang perlu diingat bahwa penyakit kalau mau cepat sembuh ya harus dilawan. Ada yang mau ditanyakan lagi, Pak?”
“Cukup Dokter, terima kasih.”
“Baik, sama-sama, Pak. Kalau begitu saya mohon pamit.”
Rio dan kedua orang yang menemaninya ikut bahagia mendapat kabar baik mengenai keadaannya. Itu lah yang selalu membuat pasien merasa mendapatkan semangat sembuh, para team medis yang ramah dan enggan menakut-nakuti pasien.
Dion pun tidak berniat untuk berlama-lama dalam kamar pasien itu. Ia dan perawat yang membantunya kemudian bergegas keluar. Dion tersenyum, bukti kelegaannya sudah menyelesaikan tugasnya hari ini. Tidak ada tujuan lagi selain pulang ke apartemen, hari ini rasanya ingin cepat-cepat merebahkan dirinya ke ranjang. Berdiam diri di ruangannya kali ini sepertinya tidak sedang ingin ia lakukan.
Baru saja, Dion keluar dari kamar VVIP 3, ada dokter Stevanie yang juga tengah selesai visite di kamar sebelah. Perempuan itu terlihat begitu bahagia bisa bertemu dengan pujaan hatinya.
Dengan memasang muka menggoda, Stevanie pun mendekat, memandang Dion dengan sangat antusias. Matanya melirik pada perawat yang tadi menemaninya, kemudian memberikan kode agar ia jalan lebih dulu.
“Dokter Stevanie, saya ijin ke ruang jaga dulu, permisi. Oh ya, Sus, mau bareng sama saya?” Ujar suster dengan name tag Arlani di baju seragamnya, seperti paham apa yang dokter Stevanie inginkan, lalu mengajak suster yang menemani Dion juga. Suster itu mengangguk dan meninggalkan kedua dokter itu.
“Oh, ya, Sus, nanti saya segera kesana.”
Akhirnya ada juga waktu untuk Stevanie mengobrol hanya berdua saja dengan Dion, melewati lorong kamar-kamar pasien. Ada perasaan tidak nyaman dalam diri Dion menghadapi perempuan ini dalam satu kesempatan.
“Dokter Dion udah selesai visitenya?” Stevanie memulai percakapan dengan basa-basi.
“Sudah, Dok.” Jawabnya begitu singkat sambil memasukkan ponselnya dalam saku jas putih kebanggaan. Meskipun ia merasa sama sekali tidak tertarik dengan dokter di sampingnya ini, ia tetap menghargai Stevanie. Salah satunya dengan tidak fokus pada ponselnya.
“Sama dong, saya juga sudah selesai. Oh ya, Dokter Dion ada jadwal operasi malam ini?”
“Nggak ada, Dok, sudah kemarin sore.”’
“Oh iya, saya kira nanti Dok, kemarin sempat lihat jadwal, berarti saya salah baca tanggalnya.” Stevanie masih tetap mencari-cari topik pembicaraan. Sebenarnya ia tidak salah baca, hanya saja untuk basa-basi bertanya. Dan karena merasa pertanyaannya tidak perlu dijawab, Dion hanya tersenyum.
“Dokter Dion, hari ini pasien di poli banyak ya?”
“Lumayan, Sus. Habis jam dua belas baru selesai.”
“Hm, banyak juga ya, Dok. Oh ya, pasien terakhir Dokter sakit apa?”
“Patah tulang, Dok, yang kemarin habis operasi.”
“Oh ya? Jatuh ya, Dok?”
“Kecelakaan mobil, Dok?”
“Oh ya ya ya, ngeri juga ya, Dok?”
“Ya begitu lah.”
Stevanie menggaruk-garuk kepalanya, merasa sudah kehabisan kata-kata.
“Dokter Dion udah mau pulang?”
“Iya nih, Dok, saya mau langsung pulang aja.”
“Nggak mau ngopi dulu mungkin?”
“Nggak, Dok, capek banget rasanya.”
“Ya, sekedar duduk aja, Dok, sambil istirahat gitu di kantin.”
“Lain kali mungkin, Dok.”
“Dokter Dion gitu terus, tiap kali diajak pasti jawabnya lain kali. Terus sekali-kalinya kapan dong, Dok?” Stevanie mulai cemberut dan merajuk pada laki-laki di sebelahnya, tapi sayang ia tetap saja dingin dan acuh.
Mereka masih terus berjalan menuju ruang jaga, namun dari arah depan dan berlawanan, Dion melihat seseorang yang ia tunggu dari tadi datang. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Aksa. Sepertinya Aksa ingin menjenguk kakaknya. Dion pun melanjutkan niatnya untuk menyapa dan mengajaknya berbicara.
Jarak pun semakin dekat, dari raut wajah Aksa pun sepertinya juga masih teringat akan Dion, dokter yang menangani Rio, kakaknya. Mereka akhirnya saling menyapa, mengangguk dan berhenti sejenak.
“Dokter Stevanie boleh duluan nggak apa-apa, saya ada perlu dengan bapak ini sebentar. Silahkan, Dok!” pinta Dion pada Stevanie begitu sudah berhadapan dengan Aksa.
“Nggak apa-apa Dokter, saya tunggu.”
“Maaf, Dok, tapi kami akan membicarakan sesuatu hal yang cukup pribadi.”
“Oh begitu ya, Dok. Baik lah kalau begitu saya duluan. Permisi.”
Dion dan Aksa mengangguk, membiarkan wanita itu jalan terlebih dahulu meninggalkan mereka. Namun ternyata Stevanie tidak berniat untuk pergi jauh, mendengar ada hal yang pribadi membuatnya ingin tahu apa sebenarnya hal itu. Stevanie memilih untuk bersembunyi di balik tembok jalan menuju ruang jaga yang tidak jauh dari mereka. Mendengarkan mereka berbincang tanpa mereka ketahui.
Rasa penasaran juga tengah dirasakan oleh Aksa, apa yang ingin Dion sampaikan padanya, apalagi menyangkut hal yang pribadi. Rasanya aneh, jika itu tentang kondisi kakaknya, itu bukanlah hal yang pribadi kan? Apalagi jika yang mendengar adalah sama-sama dokter, ia rasa itu tidak mengapa, mengingat sesama dokter pasti paham.
“Pak Aksa, boleh saya minta waktunya sebentar untuk mengobrol?” Dion pun meminta ijin terlebih dahulu pada Aksa, agar obrolan nanti lebih leluasa.
“Oh silahkan, Dokter. Mungkin ada permasalahan tentang hasil operasi kakak saya. Dengan senang hati saya punya banyak waktu untuk hal itu. Bagaimana kondisi kakak saya saat ini, Dok?”
“Kondisi kakak anda bagus, Pak. Sangat bagus meskipun untuk pemulihan memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.”
“Ya saya rasa itu wajar, Dokter, pemulihan memang tidak instan.”
“Ya, benar sekali, Pak. Karena itu beliau butuh dukungan yang kuat dari pihak keluarga besar.”
“Baik, Dokter, sebisa mungkin kami dari keluarga besar pasti akan memberikan banyak dukungan untuknya.”
“Betul, Pak, karena suport dari keluarga itu sangat berpengaruh bagi psikis seseorang yang sedang dalam kondisi tidak sehat.”
“Akan kami usahakan memberikan yang terbaik untuk kakak kami, Dokter. Lalu selain itu ada apa lagi, Dok?”
“Sebenarnya hal utama yang ingin saya sampaikan bukanlah ini, Pak. Karena untung kondisi pak Rio memang sudah membaik dan tidak ada yang mengkhawatirkan.”
“Maksud Dokter apa ya? Saya tidak mengerti, hal lain apa selain ini yang ingin Dokter sampaikan pada saya? Apa sebelumnya kita pernah saling kenal?”
“Ya, ada hal yang ingin saya sampaikan dan saya ingin meminta tolong pada Pak Aksa.”
“Mengenai apa, Dok?”
“Ini tentang Kayana.”
“Kayana?”
“Ya, Kayana Eveline pemilik Red Flo.”
“Maksud Dokter bagaimana? Ada apa dengan Kayana?” Aksa mengernyitkan dahi tanda heran dengan apa yang Dion katakan. Ia belum mengerti apa maksudnya.
“Saya minta dengan sangat pada anda, Pak Aksa. Tolong berhenti mengejar-ngejar Kayana.”
“Maksud Dokter? Apa hubungan anda dengan Kayana? Dan apa hak anda melarang-larang saya untuk mengejar dia?”
“Hubungan saya dengan Kayana sangat dekat, sangat-sangat dekat. Saya tahu Kayana tidak nyaman dengan anda dan dia sudah terang-terangan menolak anda, jadi saya mohon jauhi Kayana mulai saat ini juga, Pak. Jangan ganggu dia dan jangan membuatnya merasa tidak nyaman lagi.”
“Ha ha ha, hubungan yang sangat dekat itu yang bagaimana maksud Dokter? Dokter ini suaminya? Hm, saya tahu kok, Dok, kalau Kayana itu adalah single parent, itu tandanya ia belum menikah lagi kan?”
“Saya sudah melamarnya, jadi tolong jangan sekali-kali mendekatinya lagi.”
“Maaf, Dok, saya rasa kita sama-sama punya hak untuk mengejar bahkan mendapatkan Kayana, karena saya kemarin juga sudah melamarnya. Meskipun ya, saya memang ditolak, tapi tidak semudah itu untuk saya menyerah begitu saja. Selama Kayana belum sah menjadi milik laki-laki lain, saya akan tetap mengejarnya.”’
“Pak Aksa, tidakkah anda sadar bahwa Kayana sendiri tidak suka dengan anda. Dia tidak ingin lagi bertemu dengan anda kan? itu berarti Kayana tidak memiliki ruang di hatinya untuk anda. Tolong hargai keputusan Kayana. Jangan menjadi sesuatu yang menghantui Kayana. Masih banyak perempuan di luar sana yang bisa anda sukai dan buat mereka nyaman. Dan itu bukan Kayana.”
“Hei, Dokter, anda tidak berhak melarang-larang saya karena anda belum menjadi suami Kayana yang sah. Kita lihat saja nanti siapa yang layak menjadi pasangan Kayana. Saya atau anda? Mari kita bersaing dan anda tidak perlu lagi menyingkirkan saya hanya karena tidak mau ada halangan untuk mendapatkan hati Kayana. Sekali lagi, kita memiliki hak yang sama untuk memperjuangkan cinta Kayana.”
“Ternyata anda memang keras kepala, pantas saja Kayana begitu kesal dengan anda. Anda sama sekali tidak bisa mengerti apa itu arti dari penolakan. Saya dengar dengan telinga saya sendiri saat Kayana menolak anda, kenapa anda masih saja bersikeras untuk mendapatkan Kayana? Anda tidak paham? Sudahlah, Pak Aksa, berhentilah untuk mengusik kehidupan Kayana.”
“Hah, bukan saya namanya jika harus berhenti di tengan jalan. Saya akan memperjuangkan apa yang ingin saya miliki, Dokter. Jadi anda tidak perlu repot-repot untuk melarang saya. Karena meskipun saya pernah ditolak, tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat nanti ia yang akan gantian mengejar-ngejar cinta saya. Anda tidak perlu khawatir, Dokter, jika nanti Kayana memang jodoh anda maka kalian akan bersatu. Tapi kalau kalian tidak berjodoh ya, anda harus terima bahwa Kayana adalah jodoh saya. Jadi anda tidak usah takut kalau anda yakin anda jodohnya. Realistis saja lah, Dok, siapa yang nanti layak menjadi pasangan Kayana. Kita lihat saja nanti.”
Dion mulai bersungut-sungut, memang tidak ada habisnya berdebat dengan orang yang sangat keras kepala. Hanya akan membuang-buang waktu saja. Sekuat tenaga ia menahan emosi untuk tidak memperlihatkan kemarahannya pada Aksa. Karena hal itu hanya akan membuat lawannya merasa puas dan senang. Lebih baik Dion diam dan tidak melanjutkan perdebatan itu. Tidak akan ada gunanya.
“Bagaimana, Dokter? Ada lagi yang ingin anda sampaikan dengan saya? Oh iya, saya jadi ingat, jangan-jangan ini adalah akal-akalan anda saja ya? Menunda-nunda jalannya operasi kakak saya?”
“Apa maksud anda?”
“Dengan alasan pendarahan dan tindakan operasi yang harus ditunda keesokan harinya? Dengan mempermainkan kami agar mencari golongan darah yang sama karena stok di PMI kosong? Jangan-jangan sebenarnya semua itu hanya rekayasa? Dan anda bekerjasama dengan pihak rumah sakit untuk melakukan hal ini? Hanya karena anda tidak suka dengan saya?”
“Tolong jaga bicara anda, Pak! Ini tidak ada hubungannya dengan pasien kami yaitu Bapak Rio. Kami tidak pernah melakukan hasil pemeriksaan dengan rekayasa, masalah kesehatan dan keselamatan pasien adalah keutamaan kami sebagai tenaga medis. Jadi jangan anda hubung-hubungkan dengan masalah pribadi.”
“Halah, omong kosong. Kenyataannya kami merasa tidak mendapatkan pertolongan dengan cepat, untuk operasi saja kami harus menunggu selama semalaman. Padahal harusnya semua team medis tahu bagaimana rasanya menahan sakit selama itu. Dokter.. Dokter, harusnya anda malu, hanya karena hal seperti ini saja sampai menukar dengan nyawa seseorang. Anda sudah mempermainkan keselamatan seseorang. Saya bisa menuntut anda lho, Dok, kalau seandainya anda terbukti bersalah.”
“Silahkan kalau anda mempunyai bukti, yang jelas kami yang mempunyai catatan medis semua pasien kami. Dan kami tidak pernah asal-asalan memeriksa pasien kami apalagi memutuskan untuk segala tindakan yang akan kami berikan untuk semua pasien termasuk kakak anda. Jaga bicara anda ya, Pak Aksa, kami selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien kami. Kalau anda pikir saya melakukan perbuatan yang keji dan hina itu pada Bapak Rio, saya pastikan bahwa sampai saat ini beliau tidak akan selamat. Namun apa kenyataannya? Kakak anda sekarang sehat, kondisinya sudah sangat membaik. Ingat itu, Pak Aksa, kami bisa menuntut balik karena anda sudah berusaha memfitnah kami dan dengan pencemaran nama baik. Sekali lagi, hati-hati kalau bicara.”
“Menurut saya, anda yang harusnya hati-hati, Dokter. Saya permisi, sepertinya saya sudah membuang-buang waktu saja berbicara dengan anda.”
Tanpa menunggu jawaban dari Dion, Aksa pun melenggang pergi membelakangi dokter yang sudah berjasa pada kakaknya itu. Namun justru lain pembalasannya. Ingin rasanya memberi pelajaran pada lelaki itu, namun tangan Dion begitu berharga untuk sekedar menyentuh bagian tubuhnya. Di samping itu Dion juga tidak ingin menjadikan susana tempat bekerjanya keruh hanya karena masalah ini.
Akhirnya menahan amarah adalah satu-satunya cara untuk menghindari kekerasan fisik itu. Dion pun mencoba berkali-kali mengusap-usap dadanya, menghela napas panjang secara berkala untuk menenangkan diri.
Di sisi yang lain, Stevanie masih mematung di tempat ia bersembunyi. Mendengarkan dengan jelas apa yang menjadi perdebatan dua lelaki tadi. Dalam hatinya sungguh remuk, mengetahui bahwa pujaan hatinya itu telah mempunyai tambatan hati dan ternyata sudah dalam tahap melamar. Matanya memerah, ingin sekali ia menangis dengan kencang setelah mendengar pengakuan itu. Ia kemudian beranjak, berjalan mendekati Dion yang saat itu juga sudah melanjutkan perjalanan. Melihat Stevanie yang ternyata berada di balik tembok itu. Namun ia sudah tidak lagi peduli dengan keberadaannya, semuanya terkalahkan dengan rasa yang bercampur dalam hatinya.
“Dokter, saya sudah mendengar semuanya dan saya baru tahu kalau ternyata Dokter Dion sudah memiliki perempuan yang sudah Dokter lamar. Jujur, saya kecewa, Dok, kenapa Dokter tidak bilang sejak awal kalau memang Dokter sudah memiliki pasangan? Setidaknya saya akan lebih memprsiapkan hati saya yang sudah terlanjur cinta dengan Dokter Dion, agar saya tidak terlalu sakit, Dok.”
“Maaf dokter Stevanie, menurut saya tidak penting untuk mengumumkan sesuatu yang berhubungan dengan masalah pribadi. Saya mohon maaf, permisi.”
Dion tidak memperdulikan perempuan dengan keadaan yang sudah menangis yang ada di depannya itu. Saat ini dirinya sendiri saja sedang membutuhkan ketenangan. Ia pun melanjutkan langkahnya, sesegera mungkin ia ingin pulang. Urusan laporan hasil visite biarlah suster jaga yang akan menghandlenya. Dion butuh waktu untuk memahami apa yang ia butuhkan saat ini.