46

2282 Kata
Sungguh di luar dugaan, karena merasa tidak puas dengan jawaban Dion, Stevanie masih saja berusaha mengejarnya. Masih memanggil-manggil nama dokter tampan itu. Namun Dion tetap pada pendiriannya, tidak ada niatan untuk berhenti apalagi untuk menanggapi lawan bicaranya tadi. Menjelaskan sesuatu padanya hanya akan menambah pelik urusan. Sampai pada akhirnya langkah Dion harus terhenti ketika di lorong mendapati sekelompok team medis sedang mendorong ranjang pasien yang tengah kesakitan. Mau tidak mau ia harus berhenti terlebih dulu untuk memberikan jalan pada mereka, di saat itulah Stevanie berhasil mengejarnya kemudian memegang lengan Dion dengan erat. Dion tidak bisa lagi untuk menghindar, membiarkan tangan itu melingkar di lengannya. Rasanya seperti mempermalukan diri sendiri, dilihat di depan tenaga medis yang pastinya mereka sudah mengenalinya. Mereka melihat Stevanie tengah menggandeng lengan Dion. Yang apabila ia melepas dengan paksa tangan itu, mereka juga pasti akan dengan jelas melihatnya. Ini adalah keadaan yang sama-sama merugikan baginya. Baru ketika mereka sudah berlalu, Dion pun segera melepaskan tangan Stevanie. “Maaf, dokter Stevanie, sikap anda barusan itu sangatlah tidak pantas. Tolong jangan membuat citra anda sendiri jadi tidak baik.” “Saya tidak bermaksud seperti itu, Dok. Dokter Dion yang keterlaluan menghiraukan panggilan saya.” “Tadi saya sudah bilang kan, Dok, apalagi yang ingin anda sampaikan?” “Saya nggak habis pikir, dokter Dion justru lebih memilih seorang single parent dibandingkan dengan saya yang masih lajang?” “Itu bukan urusan anda, Dok, berhentilah mengurusi kehidupan orang lain.” “Ini mungkin bukan urusan saya, Dok, tapi saya perlu memastikan lagi, apa benar dia itu adalah perempuan single parent? “ “Apa yang anda pikirkan dengan perempuan dengan status seperti itu? Apakah menurut anda status itu jauh lebih buruk dari pada anda?” “Bukan begitu, Dok. Apa sih yang menarik dari seorang single parent, sudah jelas perempuan yang masih lajang dengan segala talentanya lebih banyak dan pantas dijadikan pasangan.” “Dokter Stevanie, jangan hanya terbiasa melihat sesuatu dari sampulnya saja, kita tidak tahu kan dalam dan isinya seperti apa? Meskipun ia single parent namun ia perempuan baik-baik, dia berpendidikan, dia juga punya banyak talenta, dia tidak pernah mengejar-ngejar laki-laki, dia juga tidak pernah meminta perhatian dari laki-laki, apalagi sampai dengan terang-terangan mengutarakan isi hatinya. Karena dia tahu bagaimana menjaga harga dirinya. Jadi tolong, tidak perlu mempermasalahkan bahkan merendahkan status sosial seseorang. Karena tidak akan menutup kemungkinan, anda pun suatu saat bisa juga menyandang status yang sama.” “Dok, saya minta maaf, bukan maksud saya begitu. Saya hanya merasa aneh, kenapa dokter justru lebih tertarik dengan seorang single parent, padahal banyak perempuan-perempuan lajang yang menyukai dokter.” “Sekali lagi, istilah single parent itu hanyalah sebuah status kan, Dok? Dia juga perempuan, sama seperti ini anda yang berhak pula dicintai dan mencintai. A³⁴wwànda perempuan juga kan? Seharusnya perasaan anda lebih peka, bagaimana jika anda yang berada pada posisi dia, dan anda tengah direndahkan hanya karena status tersebut.” “Dok, mana mungkin saya tahu, saya belum pernah mengalaminya.” “Ya, karena itu, berarti anda harus banyak-banyak belajar untuk lebih peka. Harusnya sesama perempuan, anda lebih bisa memahami bagaimana rasanya direndahkan. Itu juga kalau anda masih punya perasaan.” “Kok Dokter Dion malah bersikap seperti itu dengan saya?” “Sebenarnya diantara kita memang tidak ada masalah ya, Dok. Saya menghargai anda sebagai kawan sejawat, namun saya merasa tersingggung jika anda sampai mempunyai pikiran yang hina tentang status sosial. Apalagi sampai hati untuk merendahkannya, harusnya anda lebih bisa menjaga hati dan perkataan, Dok. Mohon maaf, saya sudah cukup lelah hari ini. Saya tidak mau berdebat lebih lama lagi.” “Saya minta maaf, Dok, atas perkataan saya yang mungkin tidak pantas.” “Anda tidak perlu minta maaf, toh bukan dengan saya anda salah, tapi dengan para perempuan-perempuan single parent diluar sana yang sudah anda rendahkan. Lagipula itu adalah hak pribadi anda, tapi yang membuat anda salah adalah anda sudah menyampaikannya pada saya.” “Baik, Dok, saya mohon maaf. Saya akui saya hanya cemburu dengan perempuan itu, saya merasa saya jauh lebih baik dari dia. Karena itu mungkin cara pandang saya yang salah.” “Sudah cukup, Dok. Saya tidak mau lagi membahas ini, cukup satu kali ini saja saya mendengar opini receh dari anda. Maaf kalau anda tersinggung, saya permisi.” Kali ini Dion mempercepat langkahnya meninggalkan Stevanie yang diam mematung merasa menyesal. Ia pastikan bahwa perempuan itu tidak mungkin punya nyali untuk mengejarnya lagi. Untuk pertama kalinya, Dion berdebat sampai seperti ini pada seorang perempuan. Karena selama ini ia tidak pernah bersikap kasar pada semua perempuan. Tetapi kali ini Stevanie sudah keterlaluan, ia hanya tidak ingin banyak orang yang mempunyai pikiran negatif tentang seorang single parent. Ditambah lagi sebenarnya ia sudah cukup emosi karena perdebatannya dengan Aksa. Yang tadi sudah ia coba untuk menghindar dari Stevanie. Dion membuka pintu mobilnya, menyalakan mesin dan musiknya dengan volume yang cukup keras. Mulai melaju dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya. Dengan asal Dion menjalankan kemudinya, belum tahu pasti kemana arah ia akan melaju. Yang jelas ini bukan jalan menuju ke apartemennya. Pikirannya masih bercampur aduk, jika mungkin diambilnya satu persatu akan membutuhkan banyak waktu agar bisa berjejer semuanya. Seperti benang kusut, kepalanya sudah terlalu penuh. Karena merasa asing dengan arah tujuannya, Dion pun menghentikan mobilnya di tempat yang cukup sepi. Di pinggir jalan, di bawah sebuah pohon. Sepertinya ini adalah jalan yang cukup jauh dengan daerah perkotaan. Di samping kanan dan kiri jalan masih belum padat rumah atau pertokoan. Namun terasa asri, jauh dari hingar bingar kehidupan yang penuh persaingan sengit. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia lakukan, namun semua rencanya hilang begitu saja, terkalahkan oleh rasa yang sulit dijelaskan. Menghadapi Aksa yang keras kepala, membuat amarahnya memuncak. Ada perasaan yang panas dan sengit mendengar ucapan Aksa yang sulit untuk dinalar. Ia yang merasa tulus mencintai Kayana, yang rela memberikan kebahagiaan, memberikan rasa nyaman dan rasa aman. Saat itu juga harus berhadapan dengan laki-laki yang bertolak belakang dengannya. Laki-laki yang arogan, kasar, juga suka memaksakan keinginannya. Dengan penjelasan yang sudah Dion utarakan, jika laki-laki itu tidak keras kepala harusnya sudah lah cukup paham untuknya mundur teratur. Ada perasaan takut dalam diri Dion bahwa semakin diminta berhenti, Aksa akan semakin nekat mendekati Kayana. Dion pun semakin khawatir, takut akan terjadi apa-apa dengan Kayana. Ingin rasanya ia menjaga Kayana dua puluh empat jam, namun bagaimana mungkin hal itu bisa ia lakukan. Kalau saja, cara menikahi Kayana begitu mudah, mungkin saat ini juga hal itu akan ia lakukan. Mengingat bahwa ada tembok besar yang menentang, itu membuat Dion mudah sekali frustasi. Selain itu, ingin rasanya ia meluapkan emosinya di depan Stevanie yang dengan beraninya merendahkan Kayana dengan perkataan yang tidak pantas. Kayana adalah wanita spesial, wanita yang penuh dengan rasa cinta, tanpa sedikitpun ia melihat pada status sosial. Wanita yang ia eman-eman, agar ia bangkit lagi demi masa depannya dan Erland. Yang dengan sekuat tenaga mendukung, menghibur agar ia kembali lagi dengan semangatnya yang baru. Begitu sakitnya melihat Kayana terpuruk. Dan kini di depan matanya Kayana direndahkan, rasanya lebih sakit dari kesakitannya sendiri. Ia lebih baik direndahkan daripada melihat orang lain merendahkan Kayana. Ia tidak rela ada yang dengan sengaja menyakiti hati perempuan spesialnya itu. Stevanie bukan siapa-siapa, dia sama sekali belum pernah bertemu dengan Kayana. Tapi dengan lancangnya mempunyai pandangan yang buruk terhadap Kayana. Jelas itu membuatnya tidak terima, karena Kayana jauh lebih baik dari apa yang ia katakan. Mendengar perkataan itu rasanya ia langsung teringat dengan Mei, mamanya. Mei dan Stevanie memiliki pandangan yang hampir sama. Mereka sama-sama menganggap remeh dan rendah seseorang dengan status yang tengah disandang Kayana. Terlalu picik bagi Dion jika hanya hal sepele seperti itu justru menjadi alasan yang utama. Menjadi alasan untuk menolak, untuk menjatuhkan mental seseorang dan menjadikan bahan omongan. Terasa sangat mendiskriminasi. Di dalam mobilnya, Dion memijit-mijit kepalanya yang sedikit terasa sakit. Pantas saja Kayana juga sering merasakannya ketika masalah berat menghampirinya. Ternyata memang benar, beberapa faktor penyebab datangnya penyakit adalah masalah yang berat dan terpaksa harus memikirkannya hingga melebihi batas kemampuan berpikir. Sesekali mata itu menerawang jauh ke depan, ke ujung jalan yang hingga tak bisa ia lihat. Hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang dan para pejalan kaki yang terlihat tidak begitu banyak. Tenggorokannya terasa kering, ia lupa kapan terakhir meneguk air barang segelas pun. Ia pun mencari sesuatu di dalam sana, barangkali ada air mineral yang tertinggal. Namun nihil, tak ia temukan setetes pun. Baiklah, karena rasa hausnya, Dion memutar balik arah perjalanannya. Setelah hatinya yang bergemuruh itu membuatnya tak kontrol hingga sampai di tempat yang ia sendiri tidak tahu dimana. Sekian kilometer ia melaju, ponselnya berdering. Barra memanggil. “Ya, halo, Bar.” “Woy, lo kemana sih? Dari tadi gue telepon nggak diangkat, ngilang kemana sih lo? Lama-lama lo udah kayak avatar tahu nggak, pas dibutuhin malah menghilang.”’ “Lo telepone gue? Kapan?” “Satu tahun yang lalu, gila lo ya? Hampir sembilan ratus sembilan puluh sembilan gue telepon sama sekali nggak ada yang diangkat. IGD lagi panik banget nyariin lo tahu nggak?” “Sorry, Bro, suruh dokter lain gantiin gue ya, please!” “Udah, udah ada dua juta dokter yang gantiin lo gara-gara lo susah banget dihubungin.” “Syukurlah, Bro. Ada kejadian apa di rumah sakit?” “Ada kecelakaan beruntun, sampai ada dua korban jiwa. Baru kali ini lo susah dihubungin, bikin orang-orang pada panik tahu nggak.” “Sorry, sorry.” “Di, lo kenapa sih? kayak lemes banget suaranya? Lo dimana?” “Nggak apa-apa, Cuma lagi haus aja ini mau nyari minum.” “Astaga, kebangetan banget lo ya sampai kehausan kayak lagi di gurun aja. Lo dimana sih? belum jawab juga ditanya.” “Gue juga nggak ngerti sekarang lagi dimana.” “Lah, jangan bercanda dong lo? Emang lo sama siapa? Sama Stevanie?” “Sembarangan aja lo ngomongnya, gue sendiri, Bro. Stevanie, enak aja gue jalan sama dia. Nggak ngimpi gue.” “Terus kenapa ini warga rumah sakit pada bilang kalau kalian tadi berduaan, kalau nggak sama Stevanie terus sama siapa?” “Hah, sialan. Jadi orang-orang disana pada ngomongin gue sama Stevanie?” “Iya lah, emang ada apa sih? Kenapa misteri banget kalian berdua ini, nomor nggak bisa dihubungi setelah kalian berduaan tadi. Ya jelas pada ngira kalau kalian pergi berdua lah.” “Wah, bakalan kena masalah ini kayaknya gue besok.” “Tenang, Bro, tenang. Coba lo shareloc ke gue sekarang, gue susul lo terus lo cerita semuanya.” “Wah, nggak usah lah, Bro, jauh banget ini soalnya. Yang jelas gue juga tadi sempat bingung kenapa gue sampai disini, saking pusingnya kepala gue.” “Emang lo pusing kenapa? Tapi beneran kan lo nggak lagi sama Stevanie?” “Ya Tuhan, ngapain sih gue bohong. Nggak mungkin lah gue pergi sama cewek menor model begituan. Gue sendiri, Bro.” “Oke, oke, gue percaya. Terus lo kenapa?” “Gue habis adu mulut sama Aksa.” “Hah, sumpah?” “Iya, emosi banget gue, Bar. Itu orang kayaknya emang nggak sembarangan deh.” “Maksud lo?” “Gue udah jelasin banyak hal ke dia, udah gue larang dia agar dia nggak datang lagi ke red flo. Tapi dia masih ngotot, Bar, dia nggak peduli meskipun gue udah bilang kalau gue udah lamar Kayana. Dia masih bersikukuh untuk ngedapetin Kayana. Gue kesel banget, itu orang susah diajak baik-baik deh kayaknya.” “Sabar, bro, tenangin diri. Lo jangan gampang emosi kayak gitu lah.” “Lo bisa nasehatin gue karena lo nggak dengar langsung dia ngomong sih, Bar. Coba kalau lo denger, wah.. udah pengen nonjok aja bawaannya.” “Iya sih, tapi orang dengan model kayak gitu justru bakalan semakin nekat kalau dikerasin.” “Bener yang lo bilang, Bro. Semakin gue larang, dia semakin nantangin gue tahu nggak?” “Nah, iya kan? Nggak bakalan ada habisnya, Di. Semakin lo emosi, dia semakin seneng. Santai tapi jelas, gitu aja sekarang. Kita pikirin bareng-bareng nanti, lo jangan kayak gitu dong.” “Pusing banget gue, bar. Gue kira orang kayak gitu Cuma ada di sinetron. Tapi ternyata gue malah ngadepin sendiri.” “Ha ha ha, gue malah nggak tahu kalau di senetron ada yang begituan? Diam-diam ternyata lo suka banget nonton sinetron ya?” “Enak aja lo bilang.” “Ya lagian lo hafal banget sifat orang di sinetron. Heh, ganti topik pembahasan nih sekarang.” “Apaan?” “Lo abis ngapain sih tadi sama Stevanie, sampai-sampai orang pada bilang kalau kalian jalan berdua.” “Nah, tuh cewek juga bikin gara-gara tadi sama gue.” “Kenapa lagi? Dia ngajak kencan?” “Tahu sendiri lah, dia gimana kalau udah ngajak ngobrol. Jadi ceritanya dia nguping gue waktu debat sama Aksa yang akhirnya dia tahu kalau gue lagi deket sama Kayana. Sampai dia ngerti gimana status Kayana. Dia ngejar gue, pegang lengan gue pas banyak orang disana. Ya gue serba salah kan? Mau lepas paksa tangan gue, gue takut nggak bisa kontrol emosi. Mungkin itu yang bikin orang-orang ngira kira berduaan.” “Ya Tuhan, jadi gitu ceritanya? Gue jadi hampir percaya aja tadi, sorry ya, Bro.” “Rese lo, harusnya kan lo paham gimana perasaan gue ke Kayana. Nggak mungkin lah gue jalan sama Stevanie.” “Iya, ya, abis ini kayak kebetulan banget gitu lho. Lo ngilang pas abis berduaan sama Stevanie. Kan gue juga jadi mikir kesitu.”’ “Ah udah lah, gue fokus pulang dulu. Takut nyasar lagi gue. Gue tutup ya, Bro.” “Iya udah, hati-hati.” Panggilan terputus, Dion pun melihat riwayat panggilan terakhir, hampir lima belas kali panggilan dari Barra dan beberapa kali dari nomor kantor. Saking hilangnya fokus pada hal-hal sekitar, membuatnya tidak sadar dengan ponselnya yang sedari tadi berdering.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN