47

2516 Kata
Senyum Erland terkembang ketika melihat Kayana ada di halaman florist, duduk santai di meja kafe. Kayana menurunkan ponsel yang ia pegang ke meja, menyambut Erland dengan senyuman penuh harap. Ia melambai ke arah Erland yang saat itu sudah tersenyum bahagia, berjalan dengan bibinya. Kakinya berlari kecil ketika hampir saja sampai. Memeluknya penuh kasih sayang. Bisa memeluk Erland adalah hal yang sangat menentramkan bagi Kayana. Bisa bersama sepanjang waktu merupakan sebuah anugerah yang indah. Namun karena sebuah keadaan, Kayana harus menjadi ibu paruh waktu. Membagi waktunya untuk bekerja. Sebenarnya terkadang ia merasa bersalah, di masa-masa emas Erland, ia tidak bisa dengan leluasa menemani sepanjang waktu. Dulu, Erland tidak pernah bisa walau sedetik saja berpisah dengan Kayana. Meski hanya sekedar ke kamar mandi saja, bocah kecil kesayangannya selalu mengekor. Lucunya. Namun setelah kepergian Julio, Erland seakan dipaksa untuk mandiri, bisa dengan sementara berpisah dengan mamanya. Bocah kecil itu meloncat memeluk sang mama dengan manja. Kayana pun menyambut dengan penuh cinta dan kecupan sayangnya. Semua yang berada disana tidak ada yang luput dari pandangan ibu dan anak itu. Melihat dengan penuh rasa haru, sering mereka merasa iba dengan mereka berdua yang kehidupannya harus berubah seratus delapan puluh derajat. Dari kehidupan yang tidak pernah merasa kesusahan, kesulitan dan serba ada, sekarang semua harus dimulai dari nol dan usaha yang membutuhkan banyak waktu, tenaga, materi yang tersita. “Erland sayang udah mandi? Tumben main kesini?” tanya Kayana masih menggendongnya. “Udah mandi dong, Mama, Erland pengen lihat Mama ngapain di toko.” Ucapnya dengan polos. Kemudian turun dari gendongan, duduk di kursi dekat mamanya. Di meja kafe. Sudah ada Shasy dan Briyan di dalam coffe shop. “Baiklah, sayangnya Mama. Erland kangen ya?” Erland hanya mengangguk, Bibi Ana kemudian lanjut menyuapinya. “Tadi Erland susah banget diajak mandinya, Bu Kay, pakai dibujuk-bujuk dulu. Mau mandi tapi syaratnya harus minta jalan-jalan ke florist gitu. Ya sudah, akhirnya kesini.” “Hm, lucunya anak Mama ini. Emang tadi kenapa sih kok susah diajak mandi? Dingin ya?” Kayana menjawil hidung kecil dan mancung itu, gemas sekali melihat tingkah laku anak laki-lakinya. Lagi-lagi ia hanya mengangguk, mengunyah makanannya dan fokus pada mainan yang tadi ia bawa. Erland memang selalu membawa mainannya kemana-mana. “Erland kangen ya sama Om Briyan?” tanya Briyan dari dalam kafe kecil itu, kepalanya mendongak dari dalam jendela. “Ih kamu kepedean banget sih, Bri?” Shasy seperti tidak mau kalah, “Erland kangen sama Tante Shasy ya?” “Kenapa sih, Mbak? Sama Erland aja juga cemburu, bilang aja kalau kamu yang kangen sama aku kan, Mbak?” “Siapa juga yang kamu sama kamu, kurang kerjaan aja.” “Tuh merah mukanya, Mbak! Kenapa hayo?” “Apaan sih?” “Ngaku aja deh kalau kamu juga kangen sama aku kan, Mbak? Tenang aja, aku juga kangen kok. Jadi nggak bakalan bertepuk sebelah kanan.” “Briyan, bisa diem nggak? Nggak lucu tahu, malu tuh dilihat Erland.” “Kenapa malu, kan Cuma bilang kangen? Kamu aja tadi juga bilang kangen sama Erland kan, Mbak?” “Ha ha ha, kalian ini emang lucu tahu nggak? Udah pada nggak usah kebanyakan gengsi, kalau emang pada suka ya suka aja.” Kayana terkekeh melihat tingkah laku ke dua karyawannya yang hobi sekali bertengkar layaknya Tom dan Jerry. “Bu Kay,” panggil Shasy dengan cemberut,”kok jadi ikut-ikutan sih Bu? Kamu sih Bri!” lalu netranya bergantian memandang Briyan kesal. Semua yang ada disana terkekeh, tak terkecuali Erland. “Ya kalian berantemnya kan di depan saya. Saya juga udah kayak mama kalian. Nggak ada salahnya kan? Sekarang daripada saling memendam perasaan, mending saling mengungkapkan. Biar semuanya jelas.” Kayana masih dengan mimik yang menggoda, senyum-senyum sambil melihat Shasy dan Briyan bergantian. Shasy terlihat malu-malu, sedangkan Briyan bersemangat sekali meskipun salah tingkah. Diam-diam Shasy melihat Briyan yang tengah senyum-senyum sendiri sambil pura-pura sibuk dengan beberapa kotak kopi di depannya. Dan ketika Briyan sadar, ia menangkap basah Shasy yang menatapnya. Laki-laki itu semakin percaya diri dibuatnya. Shasy yang ternyata ketahuan memperhatikan Briyan pun menunduk malu. “Kalau Briyan sih udah mengungkapkan Bu, tapi nggak tahu tuh Mbak Shasy, nggak pernah mau jawab.” Timpal Briyan sambil memainkan alisnya. “Ha, apaan? Kamu emang pernah mengungkapkan apa?” “Ya cinta lah, Mbak. Masa ya mengungkapkan kopi?” “Ih, garing banget bercandanya. Emangnya kapan?” “Cieee.. kode tuh, Bri. Udah tembak langsung! Shasy tuh sukanya yang to the point, nggak pakai basa-basi.” “Bu Kay nih.” Shasy menginjak-injakkan kakinya ke lantai, merengek malu, persis seperti Erland yang merajuk minta es krim. “Oh jadi selama ini aku kurang jelas ya bilang cintanya, Mbak?” “Briyan, udah ah lama-lama kamu kacau banget sih?” “Mbak, serius nih!” “Dih, apaan coba? Tuh ada yang beli, bercanda terus ntar kabur pembelinya.” Dan benar, ada pembeli yang datang untuk memesan minuman pada Briyan. Percakapan terjeda, Briyan pun sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan yang lain masih santai duduk-duduk disana. Red Flo lumayan tidak begitu ramai setelah jam dua siang tadi. Jadi Kayana dan Shasy bisa sedikit bersantai, setengah hari tadi sudah cukup menguras tenaga dengan beberapa pesanan buket. “Tante Shasy minta makannya boleh nggak, Er?” ucap Shasy pada Erland sambil duduk mendekat. “Boleh dong, Tante, makan yang banyak biar gendut.” “Ah, nggak mau ah kalau bikin gendut.” “Iya, Erland, nanti kalau Tante Shasy gendut Om Briyan jadi nggak suka. Ha ha ha,” Briyan menimpali dari dalam sana. Masih dengan aktivitasnya. “Briyan, nyamber aja sih kamu, kayak petir.” “Ha ha ha, galak banget sih, Mbak? Bentar deh abis bikin pesanan ini, aku ngomong serius ke kamu.” godanya lagi. Lagi-lagi yang melihat hanya bisa tertawa geli. Shasy yang tadinya bersikap manis pada Erland jadi salah tingkah. “Bri, selesaikan dulu pekerjaannya. Nanti malah jadi salah bikin kopinya. Saya masih disini siap jadi saksi cinta kalian.” Kayana masih terus mendukung dan menggoda. “Bu Kay, Shasy ke dalam dulu ya. Mau beresin meja, bentar lagi kan pulang.” “Eits, ngapain buru-buru sih? sengaja mau kabur ya? Udah, disini aja, emang meja kamu seberantakan apa sih?” “Ya kan biar ntar nggak buru-buru kalau mau pulang, Bu Kay!” “Udah, santai dulu disini kenapa sih, Shas?” “Iya deh, Bu Kay. Main yuk, Er!” Shasy menyerah, tetap duduk di kursi itu dengan Erland. Bocah laki-laki itu lalu memainkan mobil mainannya ke arah Shasy. Briyan memperhatikannya dari dalam, menyelesaikan pekerjaannya. Menyerahkan dua gelas kopi yang dibungkus dengan rapi dan cantik pada seorang pembeli yang menunggu di luar. Kemudian berjalan keluar menuju Shasy. Yang berada di luar pun terkejut melihat Briyan dengan senyum manisnya melangkah ke arah mereka. “Mbak, lihat aku dong, Mbak!” pinta Briyan ketika sudah berada di depan Shasy, membawa cokelat hangat dengan gambar hati di atasnya. Shasy mendongak ke atas, menurut saja melihat Briyan. “Kenapa?” “Mbak, kamu suka es nggak?” “Enggak.” “Kalau pedes suka nggak?” “Enggak, kenapa sih?” “Terus kalau durian suka nggak, Mbak?” “Enggak, kamu kenapa sih yang ditanya dari tadi yang aku nggak suka?” “Hm, kalau yang ini coba, Mbak!” “Apaan sih?” “Nah, kalau sama aku suka nggak, Mbak?” Briyan kali ini sama sekali tidak cengengesan, dengan wajah seriusnya menyodorkan cokelat panas buatannya tadi. Netra Shasy memandang kanan kiri, ke arah Kayana dan yang lainnya dengan muka sok polos. Semua mengangguk memberikan dukungan, berharap ada jawaban menyenangkan sore itu. “Suka apa nih maksudnya?” “Ya, suka sama aku, Mbak. Jadi pacarku.” “Kamu mau pacaran sama mbak-mbak?” Shasy melirik, merasa dia lebih tua, padahal umur mereka hanya terpaut satu tahun. “Emang kenapa? Kan juga cewek, nanti kalau jadi pacarku bukan Mbak Shasy lagi.” “Terus jadi apa?” “Jadi Mbak Pacar lah.” Penembakan model apa kah ini? Penuh canda dan celotehan, namun semua tahu, Briyan serius menyatakan cinta pada Shasy. Shasy masih saja diam, melihat lelaki di depannya, senyum yang begitu manis dan rambut hitam cepak. “Mbak, mau nggak jadi pacarku?” “Kamu nih nggak malu apa dilihat Bu Kay gini?” “Ngapain malu sih, Mbak? Ini yang namanya cowok gentle, berani bilang cinta di depan bos kita pula.” “Ya tapi nggak gini juga.” “Terus maunya gimana dong?” “Enggak, nggak mau apa-apa?” “Terus, kalau sama aku mau nggak, Mbak?” “Ih, Briyan.” “Aku mau jawaban kamu nih, Mbak. Please dong, Mbak, mau ya jadi pacarku.” “Kalau aku nggak mau gimana?” “Aku maksa sampai kamu mau lah, Mbak.” “Idih, maksa banget.” “Buruan, Mbak, mau kan?” “Hm, gimana ya?” Shasy mendongak ke wajah Briyan. “Emh, iya deh, mau.” Ucapnya sambil mengangguk. “Yes!” Briyan melompat kegirangan. Menatap wajah Shasy yang juga tengah terlihat bahagia. Lalu tiba-tiba Briyan mendekati Erland dan menggendongnya, menimang-nimangnya karena saking senangnya. “Yey, Erland om diterima.” ucapnya pada Erland, tetapi bocah kecil itu hanya bisa tertegun keheranan, ia belum tahu kenapa Briyan kegirangan seperti itu. Yang ia tahu, semua orang dewasa disana tertawa bahagia dan ia hanya bisa ikut meramaikannya. Di tengah-tengah keramaian dan suasana yang menggembirakan itu, ada sebuah mobil sport yang berhenti di halaman florist. Nampak seorang lelaki yang turun dari pintu depan sebelah kiri, laki-laki yang baru beberapa kali bertemu dengan Kayana. Erland bersembunyi dalam gendongan Briyan, tiba-tiba terlihat ketakutan. Ia yang tadinya ceria dan tertawa hingga terbahak-bahak, mendadak tak bersuara. Briyan yang tengah menggendong Erland pun merasakan ada hal yang aneh pada anak laki-laki itu, karena rasa penasarannya, Briyan dengan lirih bertanya pada Erland. “Erland kenapa?” Erland hanya menggeleng dan semakin erat ia memeluk Briyan. “Nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa Erland ketakutan kayak gini,” batin Briyan. Laki-laki itu adalah Aksa. Melihat Aksa semakin dekat berjalan ke arah mereka, semakin dalam Erland menyembunyikan mukanya ke d**a Briyan. “Mama..” Erland merengek memanggil Kayana. “Ma, Erland takut. Erland mau pulang!” lanjutnya. Kayana mendekati Erland dan mengusap pundaknya. “Takut kenapa, Er? Hai, anak Mama anak pemberani kan?” “Tapi Erland mau pulang, Ma. Erland takut.” “Takut apa, Nak? Bilang sama, Mama.” Erland semakin merengek, sedangkan semua ikut cemas dengan Erland yang mendadak ketakutan seperti itu. Sekarang Aksa sudah berada di tengah-tengah mereka. Mencoba menyapa dengan senyuman manis terbaiknya. Melepas kacamata hitamnya kemudian dimasukkan ke dalam kantong kemejanya. “Sore Kay.” Sapanya pada pemilil Red Flo. Kayana hanya mengangguk, tersenyum masam membalas sapaan itu. Ia masih fokus pada Erland yang saat itu masih dalam gendongan Briyan. “Hei, Erland kenapa kok nangis? Sama Om sini, kita jalan-jalan yuk!” “Nggak mau.” Dan untuk pertama kalinya Erland menjawab sapaan Aksa, itu pun dengan singkat, padat dan jelas. Tangisnya semakin menjadi-jadi. “Maaf, Tuan, ada perlu apa?” Karena mulai tidak nyaman dan khawatir pada anaknya, Kayana tak mau jika Aksa kebanyakan basa-basi. "Aku ingin bicara sebentar." "Mama.. ayo, Ma." rajuknya lagi, kali ini ia menarik-narik dres di lengan Kayana. "Maaf, saya nggak ada waktu. Anak Saya menangis. Anda bisa meninggalkan pesan pada Shasy, dia orang kepercayaan saya. Mohon maaf, saya pergi dulu." "Ku mohon, beri aku waktu barang sebentar saja untuk mengobrol tentang hal ini." "Erland, anak baik, sekarang Erland pulang dulu sama Bi Ana ya! Nanti Mama menyusul." "Nggak mau, sama Mama aja." "Apa Erland mau sama Om Briyan digendong sampai rumah? Mama masih ada kerjaan, sebentar lagi pulang, kok." Briyan pun ikut merayu Erland dalam gendongannya. Erland menggangguk pelan. "Nah, anak baik. Kalau gitu biar saya aja yang antar Erland, Bu." Briyan yang akhirnya berhasil mengantar Erland pulang dengan Bi Ana. Berjalan bertiga le arah pulang. Shasy yang cukup mengerti pun lantas masuk ke dalam florist. Hanya tinggal Kayana dan Aksa yang berada disana. "Ada apa? Tolong jangan lama-lama!" ucapnya dengan marah dan sinis. "Apa benar kalau kamu sudah memiliki hubungan yang serius dengan seorang dokter yang bernama Dion?" "Bukan urusan anda." "Tapi aku ingin tahu, Kayana." "Untuk apa? Itu tidak penting untuk anda tahu, Tuan Aksa." "Aku harus tahu dengan siapa aku bersaing." "Cukup, sudah cukup Tuan mengganggu saya." "Sekali lagi aku bukan mengganggu, Kay. Aku sedang memperjuangkan cintaku." "Tapi itu mengganggu saya." "Apa karena laki-laki itu?" "Anda tidak berhak tahu. Karena anda bukan siapa-siapa. Benar atau tidak itu tidak berpengaruh untuk anda. Dan perlu anda tahu, bukan hanya saya yang terusik oleh kehadiran anda, tapi putra saya juga tidak nyaman ketika ada anda di tengah-tengah kami." "Apa maksudmu, Kay?" "Anda lihat sendiri bukan, setiap bertemu dengan anda, anak saya selalu tidak nyaman. Dia merasa ketakutan dan menangis." "Mungkin dia sedang tidak enak badan atau apa lah, bukan berarti dia takut dengan saya." "Dia baik-baik saja sebelumnya, bahkan sebelum anda datang, dia bisa tertawa lepas bercanda dengan kami. Tapi setelah melihat anda, dia merengek ketakutan. Bahkan untuk melihat anda pun, dia tidak berani. Tolong tuan, berhentilah! Saya mohon dengan sangat." "Kayana, wajar bagi anak kecil jika bertemu dengan seseorang yang baru ia kenal bersikap seperti itu. Aku perlu pendekatan, dan beri aku kesempatan." "Tidak, tuan. Dua kali bertemu sudah menjadi bukti bahwa Erland tidak nyaman dengan anda. Lagipula saya sudah bilang kan, saya tidak bisa menerima anda. Anda masih cukup asing untuk saya." "Apakah itu tandanya, aku masih bisa kenal lebih dekat denganmu agar aku tidak lagi asing untukmu?" "Tidak, Tuan Aksa. Sekali lagi cukup. Mohon maaf, saya harus pulang, anak saya membutuhkan saya." "Aku akan tetap mengejarmu sampai kamu mau menerimaku, Kay. Ingat itu!" "Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi, anda terlalu terobsesi, tuan. Dan saya rasa itu bukanlah cinta." "Ini cinta, Kay. Percaya padaku, aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama." "Cinta pada pandangan pertama hanya ada di negeri dongeng. Bukan kisah nyata, yang anda rasakan itu hanyalah nafsu. Dan perlu anda tahu, cinta itu tulus, tidak memaksa seperti ini." "Aku bukan memaksa, Kay. Aku cuma mau kamu tahu perasaanku." "Tapi anda sendiri belum paham betul bagaimana perasaan anda, tuan. Bukan cinta namanya kalau hanya ingin memiliki saja. Sedangkan anda tidak berpikir bagaimana bembuat orang itu nyaman. Anda tahu kan kalau saya tidak nyaman dengan pemaksaan ini. Cinta itu butuh timbal balik, perlakuan yang baik dan rasa yang menyenangkan. Bukan seperti ini, anda egois, tuan. Hanya memikirkan perasaan anda sendiri, anda hanya mementingkan keinginan sendiri. Saya mohon, tuan, jangan menghantui hidup saya." "Baik, Kayana. Aku akan buktikan bahwa perasaanku ini adalah cinta. Cinta yang akan membuatmu merasa berbeda. Akan aku pastikan kalau nanti kamu juga pasti akan membalas cintaku ini." "Sudah, tuan? Saya permisi, masih banyak yang harus saya kerjakan dibanding terus berdebat dengan anda." "Dan satu hal lagi, Kay. Jika kamu menolakku hanya karena dokter itu, aku tidak akan menyerah. Aku tidak takut bersaing dengan dia. Akan aku buktikan bahwa aku lebih layak memilikimu daripada dia." Kayana mencoba untuk tidak menghiraukannya lagi, berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Ia tutup telinganya agar tidak lagi mendengar apa pun yang keluar dari mulutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN