48

1049 Kata
“Sekarang Mama tahu, Kay. Kenapa tiba-tiba Erland menangis ketakutan. Sudah dua kali ini kan kejadian kayak gini?” Baru berada di depan pintu, Anandita sudah memasang wajah kesal, ketika Kayana baru saja sampai di depan pintu. Ketika itu, ia baru saja keluar dari kamar Erland. Bisa dilihat bagaimana Kayana juga masih berapi-api. “Iya, Ma. Kayana juga baru sadar ternyata Erland takut sama Mas Aksa.” “Kamu kok bisa nggak peka gitu sih, Kay?” “Ya kalau kemarin kan nggak nyangka, Ma.” “Harusnya kan kamu juga hafal kalau Erland memang sering begitu kalau ada orang asing.” “Kay juga baru sadar setelah dua kali kejadian ini, Ma.” “Mama heran, tadi waktu tanya sama Bi Ana katanya ada Aksa disana. Rasanya kok sama persis kayak tempo dulu itu. Yang kayak gini, kamu harus lebih peka, Kay.” “Iya, Ma. Kay juga ngerti. Terus Kay harus gimana? Kay juga nggak tahu kalau dia mau datang ke florist.” “Ada perlu apa lagi ke florist? Ada pesanan lagi apa gimana? Atau kemarin masih ada kekurangan?” ucapnya seraya berjalan ke arah dapur, mengambil air putih untuk Kayana. “Nggak ada yang kurang, Ma. Tapi..” Kayana ragu untuk menceritakan perihal niat Aksa datang menemuinya. Ia takut mamanya jadi kepikiran karena itu. Karena selama ini memang Kayana belum pernah menceritakan masalah ini pada Anandita. Ia kira hal ini bisa ia selesaikan sendiri, tapi ternyata justru berlarut sampai saat ini. “Tapi apa, Kay?” Anandita mulai curiga, berjalan santai membawa segelas air putih. “Nggak kok, Ma.” Ia tersenyum melihat Anandita duduk disampingnya. Ia memijit-mijit kepalanya yang sedikit nyeri. “Kayana!” panggil Anandita penuh penekanan, “Bilang sama Mama, ada apa?” “Nggak ada apa-apa, Ma. Mama jangan khawatir ya!” “Lalu ada tujuan apa Aksa datang lagi untuk yang berapa kalinya kesini? Ayo lah, Kay, jujur sama Mama.” “Ma, kalau pun nanti Kayana jujur, Mama nggak usah khawatir ya! Kay yakin kalau Kay pasti bisa lewati ini.” “Katakan Kay, Mama harus tahu.” “Mas Aksa bilang kalau dia suka sama Kay, Ma.” “Ha, suka? Maksud kamu, dia menyukaimu?” “Iya, Ma.” “Memangnya Aksa itu belum menikah?” “Dia duda, Ma. Cerai dengan istrinya.” “Kamu nggak ada niatan buat terima dia kan?” “Ma, mana mungkin. Kita baru berapa kali ketemu, Kay juga sama sekali nggak respect sama dia, Ma. Gimana mungkin Kay percaya sama dia yang baru kemarin ketemu tapi udah bilang suka sama Kay.” “Kay, Mama tahu kamu pasti bisa membedakan mana yang tulus dan tidak. Apalagi melihat sikap Erland yang ketakuan tiap kali ketemu dengan Aksa. Dan Mama yakin, Erland justru lebih tahu, dia bisa merasakan ketidak nyamanannya dengan orang asing.” “Kay juga udah jelasin itu semua ke Mas Aksa, Ma. Kay udah minta dia untuk tidak lagi berusaha mengejar Kay. Rasanya capek, Ma. Masalah datang terus aja bergantian. Saat ini Kay sedang berusaha untuk berdamai dengan hati, Kay masih belum tahu bagaimana kelanjutan hubungan Kay dengan Mas Dion. Kay nggak tahu harus gimana, Ma. Kay bingung gimana caranya kasih pengertian sama Erland tentang Mas Dion.” “Mama paham, Kay. Karena itu Mama juga ikut sedih. Mama selalu tahu bagaimana keadaan kamu, jadi jangan kamu coba buat menyembunyikan apa pun dari Mama.” “Ma, maafin Kay, Kay Cuma nggak mau Mama ikut sedih dengan apa pun yang Kay hadapi. Kay bisa kok, Ma, Kay pasti sanggup.” “Iya, Kay. Mama yakin kamu sanggup, Cuma kamu dan Erland harapan Mama. Mama nggak mau kalian kenapa-napa. Mama ingin kalian bahagia lagi, sayang. Penuh kedamaian, kenyamanan, hidup yang aman dan nggak ada lagi kesedihan-kesedihan. Kay, Mama sampai saat ini masih berharap, kamu dan Dion bisa bersatu demi Erland. Besar harapan Mama pada Dion, Kay. Mama tahu betul dia sangat menyayangi kalian.” “Ma, Kay juga selalu berdoa yang terbaik untuk semuanya. Semoga ada jalan untuk kami bersatu, meskipun terkadang rasanya hampir menyerah. Kayana ngerasa nggak pantas bersanding dengan Mas Dion. Tapi Kay akui, Mas Dion luar biasa baik buat kita, Ma. Dia miliki semua yang Kay impikan, terutama bagaimana dia memperlakukan Erland. Sangat penyayang. Tapi balik lagi dengan restu yang belum dapat kami pegang, Ma. Itu yang kadang bikin Kay berhenti berharap.” “Sabar ya, Kay. Mama yakin pasti ada pelangi setelah hujan ini. Kamu pasti bahagia dengan cara yang Tuhan beri nanti.” “Amin, Ma. Kayana Cuma nggak habis pikir dengan orang-orang yang selalu memandang sebelah mata tentang status single parent. Kalau saja boleh memilih, Kay nggak akan pernah mau jadi seperti ini. Kay mau hidup Kay normal kembali. Kay ingin keluarga yang utuh dan bahagia seperti dulu. Andai orang-orang tahu bagaimana sulitnya hidup sendiri tanpa sosok suami. Apa masih tega mereka merendahkan seorang single parent?” “Mama juga nggak ngerti Kay, apa yang mereka pikirkan tentang status sosial. Sampai mereka punya pandangan yang selalu rendah, padahal kita hanya bisa menjalani, tanpa bisa memilih. Semua yang Tuhan tetapkan ke kita, sudah diluar batas keinginan kita. Tanpa mereka tahu bagaimana jatuh dan bangunnya yang mereka hadapi untuk tetap bangkit. Mereka mungkin lupa, ada hati yang terluka atas kata yang mereka ucapkan tentang sebuah hinaan. Namun mereka harus tahu, suatu saat mereka pasti akan mengalami hal yang sama, kehilangan. Dengan begitu mereka baru akan paham bagaimana rasanya kehilangan satu sayap.” “Kayana jadi tahu, Ma, dukungan untuk orang yang terpuruk tidak berlaku pada mereka yang belum pernah merasakannya. Tetapi justru mereka yang pernah di posisi yang terberat akan lebih peduli dengan orang yang sedang mengalami kesusahan. Itu karena mereka sama-sama terluka. Berbeda dengan mereka yang hidupnya selalu bahagia, tidak ada ruang untuk mengerti akan hal itu. Mereka hanya akan merendahkan, mencaci dan membuat mental menjadi down.” “Dan itu cukup membuat kita tahu, Kay, cemoohan mereka tidak mempengaruhi kehidupan kita. Disanjung atau pun direndahkan tidak membuat hidup kita berubah. Hanya kita yang memegang kendali atas kehidupan kita sendiri. Sekarang tak usah lagi memikirkan suara sumbang diluar sana yang pada akhirnya akan membuat kita hancur. Biar lah mereka mau bilang apa, cukup kita buang dan lupakan. Masa depanmu dengan Erland jauh lebih penting untuk dipikirkan, Kay.” “Baik, Ma, Kay tahu itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN