49

1006 Kata
Semalaman begitu panjang bagi Kayana, rasanya tak mau barang sedetik pun menjauhkan pandangan dari Erland. Sejak kejadian di florist kemarin sore, Kayana jadi merasa sangat bersalah. Tidak seharusnya laki-laki itu datang dalam kehidupannya, membuat Erland jadi ketakutan. Hati seorang anak memang lebih peka, ia lebih bisa merasakan mana yang benar-benar tulus dan hanya pamrih. Dengan Aksa, belum juga bertemu bahkan berkenalan, hanya melihat dari kejauhan pun Erland sudah merasa aneh. Ia ketakutan, hal yang terkadang sulit untuk dinalar oleh hati dan pikiran orang dewasa. Berbeda ketika dengan Dion. Sedari tadi malam, rasanya tidak mau berpisah dengan Erland. Bangun pagi biasanya Kayana sudah sibuk bersiap ke florist sebelum Erland bangun. Dan semua tentang Erland adalah menjadi tugas Bi Ana. Namun hari ini, semua ia lakukan sendiri. Ketika Erland bangun tidur, pertama kali yang ia lihat adalah wajah ayu mamanya. Melihat cinta tulus seorang ibu pada anaknya. Seperti bernostalgia, masa-masa beberapa tahun silam. Ketika masih ada Julio, Kayana benar-benar menjadi ibu penuh waktu. Erland terlihat begitu bahagia, ada Kayana di dekatnya, kesempatan yang tidak biasa selama florist buka. Memeluknya, menggendongnya dan menciumnya untuk mengawali pagi yang indah. Sebelumnya, Kayana sudah memberitahu Shasy untuk menghandle semua pekerjaan di florist. Ia ingin benar-benar menebus hari kemarin pada Erland. Kayana harap anak semata wayangnya itu bisa melupakan kejadian kemarin. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan berdua saja dengan Erland, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa sebisa mungkin ia akan mengupayakan yang terbaik untuk Erland. Juga hari ini akan menjadi hari yang istimewa untuknya. Selepas mandi, dengan sangat telaten Kayana menyuapi Erland makanan kesukaannya. Anak laki-laki itu terlihat begitu lahapnya, makan makanan yang dimasak dengan penuh cinta oleh Kayana. “Erland sayang, besok-besok jangan nangis lagi ya! Mama sedih lihat Erland nangis kayak kemarin. Mama bingung harus gimana? Lebih baik besok bilang jujur sama Mama, Erland mau apa, minta apa, atau ajak kemana. Erland tinggal bilang aja ya, biar Mama bisa ngerti apa yang Erland mau." "Erland kemarin udah bilang kan sama Mama kalau Erland takut." "Iya, tapi Erland nggak bilang ke Mama yang bikin Erland takut itu apa. Sayang, coba Erland bilang sama Mama. Erland kemarin takut kenapa?" "Erland takut sama Om Aksa." "Alasannya?" "Erland nggak tahu ma, Erland cuma takut tiap kali ada Om Aksa disana." "Om Aksa nggak nyakitin Erland kan?" Erland menggeleng, ia menyelesaikan kunyahan terakhirnya. "Enggak, Ma. Tapi Erland takut kalau Om Aksa nyakitin Erland. Erland nggak mau." "Ya udah, besok lagi ingat pesan Mama ya. Kalau ada apa-apa langsung bilang ke Mama, jangan bikin Mama Khawatir lagi ya sayang." "Baik, Ma." "Nah, gitu dong anak Mama. Kan Erland pinter mau jadi orang hebat." "Iya, dong. Hebat kayak papa." "Yes, keren pokoknya. Erland senang nggak hari ini apa-apa yang nememin mama?" "Senang sekali lah, Ma. Erland sayang sama Mama. Erland udah lama nggak dimandiin Mama, nggak nemenin Erland mainan mobil remot berdua." "Hm, coba kalau tiap hari ya?" "Erland bisa senang banget, Ma. apalagi tadi pas bangun tidur udah lihat ada Mama di dekat Erland." "Iya, hari ini pokoknya Mama pengen berdua terus sama Erland." "Bener, Ma?" "Iya, Mama serius, Er. Erland sayang, maafin mama selama ini ya, yang sering ninggalin Erland kerja, kesana kesini nggak diajakin. Maaf ya, Mama belum bisa jadi mama yang hebat buat Erland. Tapi semua yang Mama lakukan semata-mata buat kamu, Er." "Iya, Ma." "Er, Erland mau minta apa hari ini? Atau mau dibuatin brownis lagi? Apa Erland mau dibeliin mainan?" "Nggak, Ma. Tapi Erland mau ketemu Om Dion aja." "Tapi kan Om Dion kerja sayang." "Iya, Ma. Erland juga mau lihat pekerjaannya Om Dion itu gimana?" "Selain itu mau nggak? Kita jalan-jalan yuk!" "Nggak mau, Mama. Erland cuma mau ketemu Om Dion aja." "Tapi anak kecil kan nggak boleh masuk ke rumah sakit." "Kenapa nggak boleh sih, Ma?" "Di rumah sakit banyak banget virusnya, sayang. Dan virusnya kan macam-macam. Anak-anak itu mudah terserang penyakit. Makanya anak kecil dilarang masuk kesana." "Ma, tapi Erland udah kangen banget sama Om Dion, Ma. Boleh ya, Ma. Sebentar aja." "Om Dion ditelepon ajab suruh kesini ya." "Jangan Mama, kita ke rumah sakit aja. Dion pengen lihat gimana Om Dion kerja, Ma." "Ya udah, Mama antar Erland ke tempat Om Dion kerja. Tapi ingat ya, Erland nggak boleh nakal. Cukup lihat aja. Jangan ganggu pekerjaan Om Dion ya!" "Iya, Ma." "Ya udah, Mama antar sekarang. Kita siap-siap sekarang, ya!" Hal yang paling membuat Kayana serba salah adalah menghadapi Erland yang setiap harinya ingin bertemu dengan Dion. Menolak namun Erland selalu memaksa untuk tetap bertemu. Dan hal itu akan membuatnya sedih, berjam-jam Erland akan diam jika ditanya. Itu adalah bentuk kekecewaannya. Namun jika hal itu ia perbolehkan. Maka gagallah sudah rencananya untuk menjauhinya dan intensitas bertemu hanya akan membuatnya sulit melupakan Dion. Tidak bertemu dengan Dion terlalu lama, membuat Erland merasa sepi. Ia merindukan sosok Dion yang sangat penyayang padanya. Sosok yang ia yakini sebagai pengganti Julio, papanya. Dengan hati yang masih bimbang, Kayana dan Erland mempersiapkan diri. Ia memakai dress terbarunya, santai namun tetap stylist. Memakaikan pakaian dengan kaos dan celana yang senada pada Erland. Mereka sudah siap untuk berangkat. Anandita yang tahu bahwa mereka sudah bersiap pun keluar dari dapur, memastikan bahwa mereka akan pergi dengan tujuan yang jelas. "Kay, mau jalan kemana?" "Erland minta ke rumah sakit, Ma." "Lho, ada apa?" "Dia mau ketemu sama Mas Dion, Ma." "Oh, baik lah, Kay. Mama senang kamu masih mau berusaha bertemu dengan Dion." "Demi Erlanď, Ma. Tadi Kay udah janji dengan diri Kay sendiri, hari ini Kay ingin menebus kesalahan Kay selama ini pada Erland, Ma. Kay udah banyak menghabiskan waktu tanpa dia, akhir-akhir ini Kay sibuk kerja sampai Kay kurang waktu buat Erland. Hari ini Kay ingin menurtuti apa saja yang Erland mau. sebisa mungkin berusaha membuatnya bahagia." "Mama mendoakanmu, Kay. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk memperbaiki hubungan kalian. Mama yakin, Erland satu-satunya yang akan membuat hubungan kalian menjadi lebih baik." "Semoga saja, Ma. Meskipun Kay tidak mau banyak berharap tentang hubungan kami. Bisa menuruti Erland saja untuk bertemu dengan Mas Dion udah lebih dari cukup, Ma. Hal yang membuat Erland bahagia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN