Senyum merekah dari bibir Erland, secerah mentari pagi ini. Mobil milik Kayana sudah keluar dari garasi, siap untuk mengantar kemana pun Erland mau. Ibu dan anak itu sengaja memakai pakaian dengan warna senada, wardah.
Membahagiakan melihat Erland tumbuh berkembang, sehat dan ceria. Pencapaian yang selalu menjadi impian terbaik bagi orang tua. Dapat menemani sang buah hati melewati tiap tingkat perkembangan. Rasa syukur Kayana tidak pernah berkurang karena itu. Hanya memang terkadang ia tidak bisa seperti dulu, menemaninya selama dua puluh empat jam penuh.
Dalam perjalanan, Erland nampak begitu antusias. Menanyakan ini dan itu ketika melihat apa pun yang menarik untuk diketahui. Kayana juga senang sekali, tingkat keingintahuan Erland memang tinggi. Itu berarti anak laki-lakinya memang aktif.
Kali ini tidak dengan Oma atau pun Bi Ana, hanya ada Kayana dan Erland di dalam mobil. Ia memang sengaja hanya ingin pergi berdua saja.
Sebelum sampai di rumah sakit, Kayana menyempatkan untuk singgah sebentar di sebuah toko kue. Ia ingin membawakan cake kesukaan Dion. Berharap dengan ini Dion akan merasa senang. Memilihkan kue kesukaan Dion tidaklah sulit, ia sudah cukup hafal dengan itu.
Kalau bukan karena Erland, ia belum pernah terpikir sebelumnya untuk datang ke rumah sakit menemui Dion. Apalagi setelah hubungan baik mereka berubah.
Sebenarnya berat untuk Kayana datang, karena hanya akan membuat perasaannya akan kembali dilema. Beberapa hari ini mungkin pikiran Kayana tentang Dion sudah tidak begitu mendominasi. Sengaja ia persibuk diri agar hatinya tidak lagi sedih.
Hati dan pikiran orang dewasa bisa saja ditahan untuk tidak melakukan hal yang baru saja ingin dilupakan. Namun tidak untuk anak-anak. Sekuat dan semengerti Erland, ia tetap lah anak kecil yang punya keinginan dan kemauan. Sudah cukup lama Erland menanti Dion datang ke rumah, seperti yang sudah-sudah. Hari berganti dengan hari yang berbeda, namun harapannya masih tetap sama. Erland rindu suara mobil Dion yang setiap sore datang terparkir di halaman rumah. Karena saking rindunya, ada terbesit dari dalam hati untuk datang mencari om tersayangnya.
Di jam istirahat, Kayana sengaja memastikan untuk sampai saat Dion sedang tidak sibuk. Disamping tidak akan mengganggu perkerjaan Dion, Kayana ingin bahwa Erland mendapatkan waktu luang Dion meskipun hanya sebentar saja.
Ia gandeng tangan Erland dengan lembut, tangan kanannya menenteng paper bag berisi kue yang dia beli tadi. Juga tas selempang kecil berwarna senada dengan dressnya. Kayana memandang wajah Erland yang begitu bahagia. Berjalan melewati lorong rumah sakit, ia membaca setiap tanda-tanda dan arah menuju ruang yang dituju. Mencari ruangan Dion yang biasa ia gunakan untuk memeriksa pasiennya.
Tepat di depan ruang periksa, di poli ortopedi Kayana dan Erland berhenti. Di depan ruangan itu ada beberapa pasien yang tengah mengantre. Kayana tahu, tidak mungkin dengan lancang mengetuk pintu, melihat masih ada pasien yang belum dapat jatah nomor giliran masuk. Takut kalau saja ketukannya akan mengganggu aktivitas Dion.
Baru saja Kayana ingin menuju tempat duduk yanh kosong di bagian belakang, tepat di depannya namun masih tampak sedikit jauh. Dion berjalan dari arah berlawanan, dengan tergesa berjalan ke arahnya. Ada seorang perempuan yang berjalan di sampingnya dengan mengenakan jas putih yang sama dengan Dion. Guratan rasa tidak suka dari wajah Dion, sangat berbeda dengan perempuan disampingnya, terlihat begitu senangnya berada disana.
“Dokter Dion dan dokter Stevani memang cocok, ya, Mbak. Berarti saya nggak salah dengar waktu ada kabar kalau mereka pacaran,” ucap salah satu perawat di poli tersebut pada kawannya.
Dalam benak, Kayana mungkin sudah tidak lagi berharap ada ruang dihati Dion untuknya. Setelah mendengar percakapan mereka.
Mungkinkah secepat itu Mas Dion menemukan perempuan lain?
Lupakah Mas Dion dengan perkataannya tempo hari itu, yang akan selalu mencintainya dalam keadaan apa pun?
Apa hanya sampai disini saja Mas Dion memperjuangkan cintanya?
Apa selama ini Mas Dion hanya berpura-pura mencintaiku?
Atau kah aku hanya sebagai pelampiasannya saja?
Atau justru perempuan itu yang menjadi pelampiasan?
Sebenarnya sudah muncul berpuluh-puluh pertanyaan dalam hatinya. Yang tidak akan cukup dijelaskan hanya dalam satu waktu saja.
Di depan sana, Dion ragu untuk membenarkan dugaannya. Ia sudah melihat keberadaan Kayana dan Erland, suatu hal yang menurutnya mustahil. Namun benar adanya. Tidak bisa lagi diungkapkan bagaimana rasa bahagianya melihat dua orang yang begitu berharga di hati Dion. Ia mempercepat langkahnya, meninggalkan Stevanie yang sedari tadi masih berusaha untuk meminta perhatian Dion.
Berbeda dengan Kayana yang justru masih mematung melihat Dion dan Stevanie yang tengah berjalan bersamaan. Ingin sekali ia menyangkal pemandangan yang dilihatnya. Sudah terlanjur ketahuan, jika pun akhirnya Kayana memilih untuk berbalik arah, Dion tidak akan tinggal diam dan pasti akan mengejarnya. Tetap tinggal disana adalah cara terakhir. Biarlah akhirnya dia tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Dion kini sudah berada tepat di depan Kayana dan Erland. Sebegitu bahagianya Erland, sampai ia berteriak memanggil Dion. Tidak butuh untuk menunggu Erland meminta digendong, Dion segera mengangkat tubuh kecil itu, memeluknya dengan rasa rindu yang sudah tidak dapat terhitung lagi. Ada air mata yang tidak dapat lagi terbendung, Kayana membiarkannya keluar tanpa menghiraukan pandangan orang yang ada disana. Begitu pun dengan Dion, laki-laki dewasa yang sejak dekat dengan Erland jadi memiliki perasaan yang lebih peka.
Ada rasa penasaran pula dalam hati Stevanie melihat pemandangan itu. Pertanyaan pertama yang ingin ia tahu, siapa perempuan dengan anak satu ini.
“Om, Erland kangen banget sama Om.”
“Om Dion juga kangen banget. Hm, anak keren wangi banget sih?”
“Iya Om, kan Erland pakai parfum.”
“Eh, iya. Wangi banget jadinya. Erland kok tumben banget ke rumah sakit?”
“Erland pengen tahu kalau Om Dion periksa pasien.”
“Oh, jadi dokter kecil ini mau belajar periksa pasien ya?”
Erland mengangguk masih dalam gendongan. Asyik sekali mereka berdua melepas rindu, sampai tidak menyadari bahwa Kayana sedari tadi hanya bisa melihatnya.
“Iya, Om, boleh nggak kalau Erland lihat Om kerja?”
“Hm, boleh dong. Tapi sekarang masih jam istirahat, Er, dan pasien Om juga udah selesai diperiksa.”
“Yah.. Erland telat datangnya ya?”
“Iya, Er. Gimana kalau sekarang Erland masuk ke ruangan Om Dion. Kita lihat alat-alat periksa, Om. Nanti kita main dokter-dokteran, Erland jadi dokternya dan Om Dion jadi pasiennya. Mau nggak?”
“Mau.” Untuk yang kesekian kalinya Erland mengangguk. Lalu Dion berniat untuk mengajak Erland masuk ke ruangannya.
“Mas Dion, ini aku bawakan kue kesukaan Mas.” Dengan sedikit canggung, Kayana menyodorkan paper bag berisi kuenya pada Dion. Merasa berterima kasih karena sudah dengan baik hati menerima kehadiran Erland ditengah-tengah aktivitasnya.
Dion tersenyum begitu tampan, menatap mata Kayana dalam-dalam. Begitu menyakitkan, mencintai tanpa bisa memiliki. Senyum itu adalah hal terindah yang ingin Kayana lupakan. Meski melakukannya adalah pekerjaan yang sangat tidak ingin ia pilih.
“Terima kasih banyak, Kay. Seharusnya tidak perlu repot-repot, bisa bertemu dengan Erland seperti ini sudah sangat cukup untukku. Rinduku dengan Erland seperti mendapat penawarnya, Kay. Aku bahagia sekali dan nggak nyangka kalian datang kesini. Ini adalah hal istimewa pertama yang aku dapatkan selama ini. Terima kasih sekali lagi ya, Kay.”
“Tidak usah berlebihan, Mas. Aku yang harusnya berterima kasih sama Mas karena sudah menerima kami disini. Dan maaf ya, Mas, kalau kehadiran kami disini ganggu pekerjaan, Mas Dion. Kami Cuma sebentar kok, yang penting aku sudah menepati janjiku untuk mengantar Erland bertemu dengan Mas Dion.”
“Sama-sama, Kay, aku dan Erland sudah kangen banget. Ayo, Kay, masuk dulu ke ruanganku. Kita ngobrol di dalam.”
“Aku disini dulu aja, ya. Silahkan kalian menikmati waktu berdua, Erland udah nggak sabar pengen tahu alat-alat medis yang asli tuh, Mas.”
“Eh, iya. Ya udah, nanti langsung masuk aja ke dalam ya, Kay. Jangan sungkan.”
Kayana hanya mengangguk dengan pasti. Membiarkan mereka berdua masuk ke dalam. Kemudian ia lanjutkan niatnya yang tadi sempat tertahan, duduk di kursi tunggu di bagian belakang.
Rasanya ia tidak ingin mengganggu waktu yang hanya sebentar itu untuk mereka. Mengingat ada jadwal visite setelah ini.
Kayana jadi tidak begitu sadar dan ingat akan perempuan yang tadi ia lihat bersama Dion. Ternyata sedari tadi ia menyimak di dekat mereka dan ini menjadi kesempatan baik untuk Stevanie bertanya pada Kayana perihal hubungannya dengan Dion.
Ia mengekor Kayana dan ikut duduk di sebelahnya.
“Anda yang namanya Kayana?”
“Iya benar.”
Dua perempuan ini saling penasaran satu sama lain. Sama-sama ingin tahu perihal hubungannya dengan Dion.
“Oh jadi ini, perempuan single parent yang Dokter Dion bela mati-matian itu. Yang membuat Dokter Dion menolak banyak perempuan termasuk aku. Ternyata masih cantik aku, kamu terlihat biasa aja menurutku. Heran, kenapa dokter Dion justru lebih memilih kamu daripada aku.”
“Maaf dokter Stevanie,” Kayana dapat melihat nama itu dari name tag yang tertulis di jas putihnya, “apa selama ini kita pernah ada masalah? Sampai kamu lupa untuk menerapkan sopan santun terhadap orang lain pada saya.”
“Sebelumnya, kita memang tidak pernah saling bertemu apalagi ada masalah. Tapi justru sekarang masalah ini datang di waktu yang tidak tepat. Karena seharusnya Mas Dion menjadi milikku kalau saja tidak ada kamu.”
“Silahkan jika memang ingin memiliki Mas Dion. Tapi mohon maaf, kamu tidak perlu merendahkan juga menjelek-jelekkan saya jika ingin mendapatkan Mas Dion. Itu sangat tidak pantas untuk ukuran seorang dokter.”