“Aku bukannya menjelek-jelekkan kamu, tapi itu kenyataan kan?”
“Ya, aku memang single parent dan aku nggak pernah meminta untuk menjadi itu. Ku rasa kamu juga nggak akan mau berada di posisiku saat ini. Kalau kamu merendahkanku dan juga menjelek-jelekkanku hanya demi mendapatkan hati Mas Dion, kamu salah besar. Untuk apa? Kalau aku sudah buruk di mata Mas Dion, mau ku ubah jadi sebaik mungkin dia tetap nggak akan suka. Sebaliknya, mau kamu buat aku seburuk yang kamu lakukan, kalau Mas Dion menganggapku baik aku akan tetap baik di matanya.”
“Heh, jangan sok bijak ya! Apa kamu pikir kamu lebih baik?”
“Aku nggak bilang kalau aku baik, itu Cuma contoh. Aku tahu, kamu pintar, berpendidikan pula, harusnya kamu tahu bagaimana cara memantaskan diri tanpa harus menjatuhkan aku.”
“Aku sudah pasti pantas untuk Dokter Dion dan aku merasa tidak sejajar bersaing denganmu.”
“Benar, Dokter Stevanie, kamu memang lebih baik segala-galanya dari aku. Lalu apa yang anda takutkan dan khawatirkan? Seharusnya kamu nggak perlu mengabaikan kehadiranku jika kamu merasa jauh lebih baik. Asal kamu tahu ya, dokter, aku tidak pernah merasa mempunyai saingan dengan siapa pun. Karena itu, tenang lah, Mas Dion akan memilihmu jika memang kamu adalah yang terbaik untuk dia.”
“Siapa yang khawatir dan takut bersaing dengan kamu. Asal kamu tahu ya, semua orang di rumah sakit ini tahu dan mengelu-elukan aku dengan dokter Dion. Semua memuji kami pasangan yang serasi, sama-sama dokter berprestasi. Jadi harusnya kamu yang takut bersaing denganku.”
“Ya, dokter, aku percaya. Karena dari itu, kamu santai aja, tenang dokter Stevanie. Aku ikut senang kalau memang Mas Dion nanti memilihmu.”
“Jangan munafik dan sok tenang ya, kelihatannya aja biasa tapi dalam hati kamu takut kan?”
“Jadi Dokter maunya aku gimana? Ketakutan gitu? Maaf ya, dokter, kamu salah orang. Ada yang mau dibicarain lagi nggak denganku?”
“Belagu banget sih kamu?”
“Aku biasa aja sih, dok. Udah kan? Kalau memang udah nggak ada lagi? Saya permisi dulu ya, mau masuk ke dalam. Seperti yang Mas Dion bilang tadi, aku diminta kesana.”
Kayana tersenyum puas masuk ke dalam ruangan Dion, meninggalkan Stevanie yang masih kesal. Dokter yang gemar sekali mengenakan lipstik merah merona itu memanyunkan bibirnya, komat kamit menggerutu sendiri. Merasa kesal dengan gaya Kayana yang santai.
“Hiiiih, nyebelin banget sih itu cewek. Sok santai, sok cantik, sok elegan. Dasar!”
Hingga sampai depan pintu, Kayana masih mendengar ocehan Stevanie. Suara itu terdengar begitu menjengkelkan. Kayana justru geli mendengarnya, sebelum masuk ia sempatkan menoleh sebentar melihat Stevanie. Mereka
saling pandang, Kayana menyunggingkan senyuman. Puas melihat eksresi dokter itu. Tadinya sebelum ngobrol dengan Stevanie, Kayana benar-benar sudah merasa cemburu. Namun setelah bertemu dan melihat sifatnya, Kayana rasa tidak ada gunanya merasa cemburu dengan Stevanie. Lagipula Kayana juga sudah benar-benar pasrah. Meskipun rasa cintanya pada Dion masih tersimpan rapi, namun untuk mendapatkannya ia tidak berani berharap banyak.
Terlepas dari itu, sifat Stevanie membuatnya merasa geli sendiri. Dokter muda itu begitu percaya diri, seolah-olah dia memang satu-satunya wanita yang paling pantas untuk Dion. Terlintas dalam benak Kayana untuk menjadikannya alasan agar Dion melupakan dirinya dan mempertimbangkan Stevanie menjadi pasangannya. Meskipun dalam hatinya tidak rela melepaskan Dion untuk perempuan lain. Sudah bisa Kayana bayangkan betapa sakitnya melihat ia bersanding dengan perempuan pilihannya yang tepat.
Perlahan Kayana membuka pintu, melihat Erland yang begitu bahagia sedang berpura-pura menjadi seorang dokter. Ia mengenakan stetoskop asli dan bukan mainan digantungkan di lehernya. Belajar memainkan alat tensi dan alat-alat yang lainnya. Kayana tidak ingin menganggu Erland bermain, ia kemudian duduk di atas kursi dan memperhatikan tiap detik antivitasnya.
Melihat keakraban mereka berdua, ingin rasanya ia membiarkan mereka bermain sepuasnya. Karena bisa melihat Erland tertawa terbahak-bahak seperti itu sudah otomatis membuat hatinya bahagia.
Dilihatnya Erland tengah mengecek suhu tubuh Dion menggunakan termometer. Sambil menunggu hasilnya satu persatu, Erland mulai memeriksa Dion dengan teliti.
"Besok lagi makannya jangan telat ya, Pak dan minum air putih yang banyak." pesannya bak dokter profesional.
"Baik, dokter Erland. Apa boleh saya makan pedas?"
"Tidak boleh, Pak."
"Kalau es krim?"
"Ya tidak boleh."
Semakin asyiknya mereka bermain peran hingga lupa waktu dan hampir ada satu jam lebih. Kayana mencoba membujuk untuk mau diajak pulang. Lagipula jam visite Dion akan segera berlangsug.
"Er, kita pulang dulu yuk!"
"Nggak mau, Erlanď masih mau main sama Om Dion."
"Besok main lagi, Om Dion masih banyak kerjaan sayang."
"Emang iya, om?"
"Iya, Er. Om Dion harus memeriksa pasien-pasien Om lagi." Dion menjelaskan dengan lembut, berusaha agar Erland tidak kecewa dan mau diajak pulang.
"Erland ikut lihat ya!"
"Erland sayang, nggak boleh nak! Kan anak kecil nggak boleh masuk ke ruangan orang-orang yang sakit."
"Memangnya kenapa, Om?"
"Erland anak pintar, begini ya, Er, orang yang sakit itu banyak kuman jahat, virus dan bakteri yang bisa menular ke orang lain, apalagi ke anak kecil gampang sekali normalnya. Om Dion nggak mau kalau Erland tertular, kan kalau sakit jadi nggak bisa main-main. Iya kan?"
"Iya, Om."
"Pinter, jadi mainnya udahan dulu ya. Besok kita main lagi."
"Janji ya, Om. Besok main lagi."
"Iya, Nak."
Erland kemudian menghampiri Kayana, dan menurut untuk di ajak pulang. Duduk disampingnya dan tersenyum.
"Mas Dion, aku mau bicara sebentar." Kayana nampak sangat serius, menatap Dion yang sebenarnya membuat hatinya semakin getir saja.
"Baik, Kay."
"Sebentar ya, Er, mau mau bicara sama Om Dion dulu. Erland tunggu sebentar ya."
Erland mengangguk, lalu mulai fokus dengan mainannya lagi. Dion pun duduk di sebelah Kayana, bersiap dengan apa yang ingin perempuan itu ucapkan.
"Mas, maafkan aku datang kesini ya, yang sebenarnya aku sendiri nggak ada rencana. Semua karena Erland yang pengen banget ketemu sama Mas, dia bilang dia kangen sama Mas."
"Sekali lagi jangan meminta maaf, Kay. Justru harusnya aku yang berterima kasih, aku seneng banget bisa ketemu sama Erland dan main sama dia."
"Mas, jujur bertemu denganmu adalah hal terindah namun ingin aku hindari saat ini. Dan sekarang, setelah bertemu rasanya membuatku sulit untuk membendung perasaanku sendiri. Semakin bertemu denganmu, cinta ini menyiksaku, Mas. Aku ingin melupakan rasaku ini."
"Kay, apa maksudmu? Aku kira ini akan lain dari biasanya, yang aku harapkan tadi ketika tahu kamu ada disini adalah hubungan kita yang akan semakin membaik. Aku lihat kamu kasih aku waktu lagi untuk bersama dengan Erland. Hal yang sangat aku inginkan, Kay. Aku mengira kamu kasih aku kesempatan lagi. Dan kita bisa berjuang bersama."
"Mas, terlalu jauh untukku berharap denganmu. Aku tidak pantas bersanding denganmu, nggak seperti dokter Stevanie."
"Kay, demi Tuhan aku nggak ada hubungan apa-apa dengan dia. Dia yang datang padaku, sudah ku jelaskan kalau aku tidak suka dengannya."
"Tapi dia memang lebih pantas mendapatkanmu, Mas."