“Bilang apa dia sama kamu, Kay? Jangan mudah percaya sama dia dan semua omongan dia nggak perlu kamu masukin ke hati apalagi sampai terbawa pikiran.”
“Ya, biasa lah, Mas. Obrolan perempuan nggak kok, aku anggap ini biasa, yang jelas dia nggak suka sama aku karena kedekatan kita. Dan aku bilang ke dia kalau seharusnya dia nggak perlu cemburu padaku, karena dia jauh lebih baik dari aku.”
“Tapi demi Tuhan, aku nggak ada hubungan apa-apa dengannya, Kay. Dia memang selalu berusaha deketin aku, tapi aku nggak ada perasaan apa pun ke dia. Tadi dia yang sengaja ngikutin aku sampai sini.”
“Sekarang mungkin kalian memang nggak ada hubungan apa-apa, Mas, tapi bisa jadi nanti Suatu saat kalau memang waktunya sudah tepat, Mas Dion bisa dengan mudah menyukai dokter Stevanie. Karena bisa jadi Mas belum terbiasa dengan kehadiran dia, tetapi nanti bisa saja rasa itu tumbuh, Mas.”
“Aku masih akan tetap menunggumu, mencintaimu dan memperjuangkanmu, Kay. Kamu kurang yakin apa denganku? Aku siap menjadi ayah untuk Erland, bukan hanya tentang aku dan kamu saja. Aku sangat serius, Kayana Evelin.”
“Sudah aku bilang, Mas. Bukan aku yang nggak yakin dengan Mas Dion, tapi status sosial kita yang membuatku ragu. Mas, benar kata dokter Stevanie, kalian memang pasangan serasi, pantas saja banyak orang yang mengelu-elukan kalian. Seharusnya memang begini, Mas, seorang Mas Dion yang bagiku sangat sempurna, sudah sepantasnya mendapatkan yang sempurna juga. Sedangkan bagaimana aku tidak merasa minder bersanding denganmu. Banyak orang yang pasti akan menyayangkan jika Mas Dion hanya akan memiliki pasangan seperti aku yang tentunya sudah banyak yang tahu aku ini siapa. Dokter Stevanie lebih pantas mendapatkan cinta Mas Dion. Bukan aku, wanita single parent yang jauh dari kata pantas mendampingi Mas.”
“Kay, aku yang menjalani. Persetan dengan omongan orang, aku tidak peduli. Ku mohon jadilah milikku, terimalah aku dengan banyak kekuranganku. Kita besarkan Erland berdua, Kay, menjadikan ia laki-laki yang tanggung dan bisa menjagamu kelak. Bagiku kamu adalah yang terbaik, tidak ada dalam pikiran dan benakku tentang apa yang kamu ucapkan ini, Kay. Terlalu picik bagiku. Kamu adalah wanita istimewa, wanita hebat yang sanggup menjalani pahit getirnya ujian hidup. Sudah waktunya untukmu bahagia lagi, Kay, setelah semua masalah yang kamu hadapi. Dan ijinkan aku menjadi orang yang menopang hidupmu, yang setia mendengar keluh kesahmu dan menjadi penyemangat ketika kamu mulai kehabisan kekuatan. Di hatiku Cuma ada namamu, Kay.”
“Mas, buka mata dan hati Mas Dion lebar-lebar. Dokter Stevanie cantik, single, pintar dan berprofesi sama seperti Mas. Kurang apa dia? Sedangkan aku ini? Sudahlah Mas, Tante Mei juga pasti senang kalau tahu hubungan kalian. Aku nggak apa-apa kok, Mas. Aku sadar diri. Melihat Stevanie, aku yakin perempuan yang tengah diidamkan sebagai calon pendamping hidup Mas Dion, semuanya ada pada diri Stevanie. Buatlah Tante Mei bahagia, Mas. Sudah saatnya Mas Dion membahagiakan mereka.”
“Perasaan cinta tidak bisa dipaksa, tidak bisa pula dihentikan. Lagi pula, membuat mereka bahagia tidak harus dengan ini caranya. Iya kalau nanti aku bahagia dengan yang mereka mau, kalau tidak? Ku rasa aku juga punya hak untuk bahagia dengan pilihanku, sebab nanti aku yang menjalani semuanya.”
“Aku mengalah, Mas. Mas Dion masih banyak kesempatan dan bisa dengan mudah mendapatkan perempuan yang lebih baik seperti Stevanie. Masa depan Mas juga masih panjang. Abaikan aku, Mas.”
“Jangan bicara tentang itu lagi, Kay. Bukan itu yang aku mau, aku Cuma mau kamu. Kalau kamu tidak mau menerimaku, nggak perlu kamu kasih aku saran yang sama sekali tidak aku butuhkan. Karena aku nggak butuh perempuan lain, Cuma kamu yang ada di hatiku. Harus dengan apalagi aku bilang ke kamu, Kay. Sekian lama hatiku seperti mati, tidak ada wanita yang mampu membuka hatiku lagi selain kamu. Karena kehadiranmu, hatiku mulai hidup lagi. Dan sekarang dengan santainya kamu bilang ke aku agar aku mengabaikanmu. Tidak mudah, Kay, dan kamu pasti juga merasakan hal yang sama. Karena selama ini kamu tidak mudah untuk membuka hati lagi kan? Kita sama Kay. Kita dipertemukan dalam keadaan yang sama-sama sakit, kita enjoy, kita mengerti bahwa tidak mudah membuka hati. Karena itu, apa kamu bakalan semudah itu melupakan aku?”
“Mas Dion, maafkan aku. Aku sendiri juga nggak bisa berbuat banyak. Aku sudah banyak merepotkan Mas Dion, entah jadi apa kalau kemarin nggak ada Mas Dion di sampingku. Dan sekarang ketika aku sudah merasa nyaman, aku harus kembali dipaksa untuk berjalan sendiri. Melupakan Mas Dion disaat semua tengah berjalan dengan indahnya. Tapi inilah hidup, Mas, yang penuh dengan pilihan. Kita mungkin memang saling memilih namun keadaan tidak berpihak pada kita. Aku menyerah, Mas, jika nanti Mas Dion menemukan seseorang yang baik, aku ikhlas. Aku ikut bahagia melihat Mas Dion mendapatkan perempuan yang lebih pantas mendampingi Mas.”
“Silahkan, Kay, jika kamu ingin menyerah, itu adalah hak kamu. Tapi karena janjiku pada Julio, aku akan tetap mencintaimu mau bagaimana keadaannya. Entah kamu suka atau nggak, entah kamu akan menerimaku atau nggak, aku akan tetap menjagamu meski dalam kejauhan.”
“Mas, sudah cukup semua pengorbananmu untukku. Aku tidak mau banyak merepotkan lagi, aku tidak bisa membalas semua kebaikan Mas Dion selama ini. Jangan buatku semakin merasa bersalah, Mas. Mas Dion berhak bahagia dengan orang yang tepat yang mempunyai masa depan cerah. Karena jika denganku semuanya akan tersa sulit.”
“Lalu bagaimana jika masa depanku yang baik hanya akan terjadi kalau aku menjalaninya denganmu? Sudah ku bilang aku hanya ingin kamu, Kay. Otomatis aku akan bahagia dan denganmu masa depanku akan lebih baik. Aku yang lebih tahu apa yang harus aku lakukan, karena masa depanku, aku sendirilah yang akan menjalaninya.”
“Mas belum mencobanya, cobalah buka hati, Mas. Jangan hanya terpaut denganku, Mas Dion pasti bisa. Apalagi banyak di luaran sana, perempuan lajang dengan karier bagus yang memimpikan Mas Dion untuk menjadi pasangan hidup mereka. Mas Dion hanya tinggal membuka hati dan memilih yang terbaik.”
“Jangan menyuruhku melakukan hal yang aku tidak suka, Kay. Jika hanya mencari yang cantik, pintar atau apalah yang kamu pikir, sudah sejak dulu aku melakukannya. Tetapi bukan itu yang aku cari, Kay, dan aku nggak pernah mematok seorang perempuan sesuai tipeku untuk aku jadikan pasangan hidup. Kamu bilang aku harus mencoba apa yang kamu suruh, apa kamu bisa menjamin aku bisa bahagia? Sekarang semua aku kembalikan ke kamu, apa kamu mau hidup bersamaku, memperjuangkan cinta denganku?”
“Mas, tolong mengerti keadaanku. Bagaimana mungkin aku masih punya nyali untuk membaur dengan mereka. Aku sudah jelas-jelas ditolak oleh mamamu, Mas. Mana ada tempat untukku berada disana?”
“Kalau begitu biarlah aku tetap mencintaimu, biarlah itu menjadi urusanku kalau kamu benar-benar sudah tidak mau lagi berjuang denganku. Apa kamu kira aku tidak sakit, Kay? Setiap hari aku harus menahan rindu pada kalian, aku selalu kesepian dalam keramaian. Erland sudah mencuri perhatianku dan kasih sayangku, aku sudah candu karenanya, Kay.”
“Sama, Mas. aku pun demikian. Tapi itu lebih baik, ketimbang aku harus sakit setiap hari diperlakukan tidak baik, direndahkan karena status sosialku. Aku mengalah, Mas, aku pamit.”
Kayana meraih tangan Dion, menggenggamnya dengan erat. Air matanya begitu deras. Lalu entah dapat keberanian dari mana, ia memeluk Dion dengan begitu sadar. Menikmati aroma parfum khas yang menempel di baju Dion. Sungguh membuatnya begitu tenang. Dion terkejut, ia sama sekali tidak menyangka akan ada perlakuan seperti ini. Dion membalas dekapan itu dengan erat, ia memejamkan mata yang ternyata sudah mulai basah. Dion bisa merasakan betapa lelahnya hati Kayana, juga fisik dan pikirannya. Badanya yang mulai kurus lagi akibat kesibukannya sekarang. Ia tahu ini semua Kayana lakukan karena ingin melupakan masalahnya.
“Mas, ijinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali. Meluapkan semua perasaanku. Aku ingat dulu waktu pertama kali dalam pelukanmu, pelukan yang menenangkanku ketika dulu aku terpuruk. Pelukan yang menjadi tempat ternyaman untuk Erland. Kini Mas Dion bisa terbebas dari itu. Terima kasih untuk semua hal baik yang sudah Mas Dion berikan dan lakukan untuk kami selama ini. Terima kasih karena tidak pernah sekali pun menyakiti aku dan Erland. Mas Dion yang sudah selalu ada, siap antar jaga dalam keadaan apa pun. Aku nyaman berada di dekatmu, Mas. Rasanya begitu aman sekali jika ada Mas Dion. Tetapi bersama denganmu bagaikan memeluk duri, yang setiap saat bisa saja terluka.”
“Kay, dengarkan aku. Aku bisa dan akan berusaha membuatmu bahagia, Kay. Pernah aku bertanya dengan salah satu temanku bahwa seorang laki-laki yang ingin menikah tidak membutuhkan wali, jika pun mamaku tidak setuju dengan hubungan kita, kita masih akan tetap bisa menikah. Tidak dengan mereka juga tidak jadi masalah buatku, sebab aku yakin kamu adalah orang yang tepat yang bisa menjadi istriku.”
“Mas, bukan itu yang aku mau. Aku ingin menikah dengan restu dari semua keluarga kita, agar aku juga akan lebih tenang menjalani hidup berumah tangga. Jangan jadi anak yang tidak berbakti pada orang tua karena lebih memilih aku, justru itu akan membuatku lebih buruk lagi di mata mereka. Karena aku bisa dianggap membawa dampak yang buruk padamu. Keluarga adalah yang nomor satu, Mas. Bagaimana pun juga Mas Dion bisa seperti ini karena ada mereka dan atas jerih payah mereka. Aku hanya lah orang asing dalam hidup Mas, aku hanya orang baru yang datang dengan segala kekurangan. Kemudian ingin menikmati kebahagiaan yang Mas Dion punya? Enak sekali ya? Tidak sepantasnya aku yang justru Mas Dion bela. Dan wajar saja kalau Tante Mei tidak suka dengan aku, Mas. Seorang mama pasti akan mengharapkan anaknya mendapatkan yang terbaik. Aku mungkin tidak akan sanggup berada dalam kehidupan mereka yang sudah terang-terangan tidak menginginkan aku.”
“Mudah, Kay, jika kamu mau, aku bisa membawamu pergi. Kita tidak harus berada disini yang setiap saat bisa bertemu dengan orang tuaku, jadi kamu tidak perlu merasa takut tersakiti. Nanti kita bosa cari tempat dimana pun kamu bisa merasa nyaman.”
“Mas, cukup, jangan berlebihan seperti itu. Mas Dion yang aku kenal bukanlah seperti ini. Mas orang yang baik, sangat baik. Jadi jangan lakukan hal yang buruk itu. Pulanglah ke keluarga Mas, jangan hiraukan aku, sudahi pertikaian ini. Jangan lagi bertengkar dengan mereka, sudah saatnya mereka bahagia melihat anaknya sukses dan memiliki keluarga kecil yang sempurna. Bahagiakan mereka, ikuti apa yang mereka mau. Jika mereka menginginkan Mas melupakan aku, maka lakukanlah demi kebaikan bersama. Aku tak apa, Mas. Sungguh aku sudah bisa menerima itu semua. Dari Tante Mei dan dokter Stevanie aku belajar bahwa aku harus banyak belajar dan berusaha memantaskan diri. Benar kata mereka, Mas, aku hanyalah single parent yang dengan banyak kekurangan.”
“Tidak, Kay, kamu bukan yang ada dalam pikiranmu saat ini. Yang harus kamu tahu, Kay, perasaanku tetap sama, akan tetap mencintaimu. Akan aku tunggu kamu sampai kapan pun itu. Karena bahagiaku hanya denganmu. Aku yakin suatu saat mereka akan sadar dengan yang aku rasakan saat ini. Dan mereka pasti akan menyesal jika nanti melihat ketulusan kita.”
“Lupakan saja, Mas. Jadilah anak kesayangan keluarga yang bisa dibanggakan, terutama tentang memilih pasangan. Aku pamit pulang, terima kasih ya sudah mewarnai hidup ku menjadi indah. Terima kasih juga sudah mengukir kebahagiaan dalam senyuman Erland. Berhentilah merindukan kami, Mas.”
Kayana melepas pelukannya, mengusap pipinya yang basah. Setelah itu menarik tangan Erland dan mengajaknya itu pulang. Sebenarnya berat kakinya untuk melangkah meninggalkan Dion dengan air matanya yang belum juga berhenti. Ingin rasanya Dion menahan mereka untuk tetap tinggal, namun bagaimana juga ia harus menghargai keputusan Kayana.
“Erland, pamit dulu sama Om Dion, kita pulang ya habis ini!”
“Ma, Mama nangis?” Erland mendongak, melihat wajah Mamanya yang penuh dengan air mata.
“Enggak kok, Mama Cuma kelilipan aja.”
“Mama bohong! Om, Mama kenapa?” laki-laki kecil itu bergantian melihat Dion, berharap ada jawaban lain yang lebih tepat dan jujur.
Dion berjongkok, mensejajarkan posisinya dengan Erland. Dion kemudian memeluknya untuk yang kesekian kalinya. Setiap kali berada di dekat Erland, ia selalu ingat dengan Julio. Juga dengan semua pesan-pesannya. Dan itu semua membuatnya merasa bersalah karena belum bisa menepati janjinya untuk mejaga mereka.
“Erland, Mama nggak kenapa-napa kok. Tadi kelilipan debu, maaf ya ruangan Om kotor jadi debunya masuk ke mata. Erland mau pulang ya? Hati-hati ya, Erland ingat pesan Om kan? Jadi anak baik, nurut sama Mama dan bisa jagain Mama.”
“Iya, Om. Erland bisa jaga Mama kok. Kapan-kapan Erland boleh main kesini lagi nggak?”
“Boleh, boleh banget.”
“Besok kalau Om Dion udah nggak sibuk, Om main ke rumah kayak dulu ya! Erland sering kesepian, Om.”
“Iya, Om usahakan ya Er.”
“Ayo sayang, kasihan Omnya udah ditunggu sama pasien. Salim dulu.”
Erland menurut, mencium tangan Dion dengan penuh hormat. Dion sudah tidak lagi menahan tangisnya, ia peluk lagi Erland sebentar dan membiarkannya keluar dari ruangannya.
Hal seperti ini yang sering membuatnya sakit. Bertemu hanya untuk berpisah. Megobati rindunya hanya untuk menumpuk rindu berikutnya yang lebih dahsyat. Juga menciptakan tangis ketika senyumnya mulai mengembang. Tidak bisa bersatu hanya karena restu adalah hal yang menyakitkan, saling menyayangi dan mengharapkan namun tidak bisa bersatu. Sesakit itu saling menahan rindu.
Meski berat, namun melangkah pergi adalah pilihan. Setiap pilihan pasti ada resiko yang harus dijalani. Kayana tahu, setelah ini Erland pasti akan lebih sering lagi menanyakan Dion. Mengharapkan Dion datang dan bisa jadi ia akan meminta untuk diantar ke rumah sakit lagi. Erland belum tahu apa-apa, yang dia tahu adalah kebersamaan dengan Dion hanya terjeda karena kesibukan, dan nanti pasti akan ada waktu untuk bersama lagi. Karena itu ia masih selalu berharap bisa bertemu dengan Dion lagi. Namun kenyataannya lain, dan tidak semua permasalahan orang dewasa harus ia pahami. Juga tidak selalu harus ia mengerti. Yang saat ini masih menjadi PR untuk Kayana adalah bagaimana agar Erland tidak merasa ada yang janggal antara mama dan omnya. Agar Erland masih merasa semua biasa dan baik-baik saja.