44

1477 Kata
Hampir tiga jam lewat, Dokter Dion dan beberapa team medis yang mengerjakan operasi berada di bawah surgical light, dengan keringat yang menetes, menghadapi tindakan yang selalu menegangkan meskipun sudah biasa mereka lakukan. Di luar ruangan operasi juga sudah ada beberapa orang keluarga dari pasien yang menunggu selesainya tindakan. Dion terlihat lega sekali setelah proses selesai, menghela napas panjang, tersenyum dan mengucapkan selamat juga terima kasih pada semua team bedah. Setelahnya ia membersihkan diri, sedangkan team yang lain masih sibuk merapikan segala peralatan bedah dan lainnya. Beberapa masih fokus pada pasien, mengecek nadi, tensi dan lain-lainnya. Setelah menunggu keadaan stabil, pasien pun di bawa keluar dari ruang bedah menuju kamar pasien oleh tiga orang perawat. Dion masih tetap berada disana, duduk di bangku dengan dua kursi berhadapan yang hanya dipisahkan oleh tirai hijau dekat ruang operasi. Mengisi sebuah berkas atau catatan dari hasil operasinya tadi. Setelah selesai mengisinya ia kemudian menyerahkan beberapa lembar isian itu pada seorang perawat yang sejak tadi membantunya. “Dok, keluarga pasien mau dipanggilkan sekarang?” tanyanya ketika menerima berkas itu dari Dion. “Ya, tolong diminta datang kesini, Sus.” jawabnya dengan lembut. “Baik, Dok.” Dion sangat berharap bahwa yang akan datang menemuinya masuk adalah Aksa, adik dari pasiennya. Agar ia bisa sedikit tahu mengenai laki-laki itu. Namun kenyataannya justru lain, yang masuk menemuinya berbeda dengan kemarin. Seseorang yang datang adalah perempuan dewasa berumur sekitar empat puluh tahun, dengan mengenakan dres bermotif dan rambut yang tersisir rapi kebelakang. “Permisi, Dokter.” Sapanya dengan lembut pada Dion, kemudian duduk berhadapan. “Silahkan, Bu. Maaf, hubungan anda dengan Pak Rio apa ya?” “Saya istrinya, Dok.” “Oh ya ya, jadi begini, Bu..” Dion pun menjelaskan panjang lebar tentang proses operasi pasiennya tadi. Mengenai seberapa serius penyakitnya, jenis bius yang digunakan, berapa lama proses penyembuhan hingga hal-hal yang bisa mempercepat pemulihan. Semua dijelaskan hingga teliti, juga hasil dari rontgen kemarin. Kesempatan tanya jawab antara dokter dan pihak keluarga pun berangsur cukup lama hingga ada kesempatan bagi Dion menanyakan tentang Aksa. “Oh ya, Bu Rio, kemarin waktu di IGD yang berbincang dengan saya seorang laki-laki, menurut yang beliau katakan yaitu adik kandung dari suami anda. Benar ya?” “Ya memang benar, Dok, pasti Aksa ya?” Dion hanya mengangguk mantap. “Kebetulan hari ini Aksa adik ipar saya sedang ada kerjaan di hotelnya, Dok.” “Oh begitu, saya seperti tidak asing dengannya. Tapi saya lupa pernah bertemu dia dimana ya?” “Ya mungkin pernah, Dok.” ”Atau istrinya Pak Aksa adalah teman saya ya?” “Aksa sudah lama bercerai dengan istrinya, jadi saya rasa bukan.” “Oh, mungkin saya hanya salah orang saja, Bu. Mohon maaf.” “Nggak apa-apa, Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu, Dok.” “Silahkan, Bu.” Perempuan itu pun pamit keluar dari ruangan, meninggalkan Dion yang sudah semakin bertambah pula informasinya. Aksa saat ini berstatus duda setelah bercerai dengan pasangannya beberapa tahun yang lalu. Pantas saja ia mengejar-ngejar Kayana. Karena pekerjaannya sudah selesai, Dion bergegas mengganti pakaiannya. Melepas pakaian bedah berwarna hijau dan keluar dari ruang persiapan. Tak ingin lama-lama, ia kemudian menuju ruang poli untuk mengambil tasnya. Melewati lorong rumah sakit, Dion berjalan santai sambil memainkan gawainya. Mencari-cari nomor Barra disana, menelepon dan tak butuh waktu yang lama mereka sudah tersambung. "Halo, Bar." "Iya, Bro, gimana? Ada kabar apa?" "Ada satu informasi tentang Aksa. Lo udah pulang?" "Gue udah pulang, cuma belum sampai rumah. Mau ketemu sekarang atau gimana?" "Ya, pengennya sih gitu? Tapi kalau lo udah mau pulang ya besok aja lah ketemu di rumah sakit aja." "Halah, santai aja kenapa sih? Ya udah ketemu di cafe biasa. Gue mau ngabarin istri gue dulu kalau pulang telat." "Oke, Bro. Makasih." Dion pun mempercepat langkahnya menuju tempat parkir. Menemukan mobil putihnya. Dokter muda itu nampak begitu lelah hari ini, setelah selesai melakukan operasinya. Namun ketika lelahnya, ia seakan melihat senyum manis Kayana. Hangat dan menyenangkan. Seandainya rindu itu saat ini juga bisa ia sampaikan, mungkin rasa lelah yang ada pada diri Dion tidak lah penting. Sudah pasti tergantikan oleh rasa rindu bahagia. Namun rasa rindu itu justru semakin menyakiti, hanya bisa menahan dan berharap. Jalanan malam kota bandung begitu ramai, namun Dion tak pernah merasakannya. Ia begitu kesepian karena sumber keramaian hatinya ada pada Erland dan Kayana. Sehingga lalu lalang disana tidak lah membuat ruang hatinya terisi. Dion hanya sering bertanya dalam hati, saat ia merasa begitu rindu pada anak laki-laki Julio itu, apa ada juga rasa yang sama pada Erland? Bocah kecil itu begitu lucunya, yang selalu antusias menyambut kedatangan Erland. Sering juga Dion berandai-andai jika ia tetap nekat datang ke rumah untuk menemui mereka, apa reaksi yang akan ia dapat setelahnya. Apakah rasa bahagia atau kecewa? Terkadang hampir saja Dion ingin melakukannya, namun ia selalu teringat Kayana yang mengadu dipermalukan oleh Mei, mamanya. Itu yang membuatnya tidak sanggup untuk memberanikan diri. Dalam hati kecilnya ia juga tidak mau egois, hanya memikirkan perasaannya saja tanpa melihat resikonya nanti. Yang hanya bisa ia lakukan sekarang adalah merayu Mei dengan caranya. Agar mamanya itu mau merestui hubungan mereka dan menerima Kayana juga Erland sebagai keluarga barunya. Namun ternyata tidak semudah itu mendapatkan apa yang ia inginkan dari Mei. Melihat bahwa wanita itu memiliki pendirian dan ego yang kuat. Sulit dibujuk dan dirayu. Karna itu, butuh kesabaran yang ekstra untuk Dion mendapatkannya. Dion langsung memasuki cafe dimana ia dan Barra sepakat begitu sampai disana. Dilihatnya Barra yang sudah menunggu, dengan dua cangkir kopi panas dimeja. Sengaja sudah ia pesankan. Mereka saling berjabat dan menepuk pundak masing-masing. Kedua dokter yang memiliki karakter yang sama-sama kuat itu saling berbincang dengan begitu asyik dan seriusnya. "Capek, Bro?" Barra memperhatikan sahabatnya itu kala mulai menyeruput kopinya, nampaknya Dion begitu menikmatinya. "Cukup capek lah, kayak biasanya. Lo nggak nunggu gue tumben?" "Gue lupa, Bro, sorry ya. Tadi gue abis visite mampir ke ruangan lo, tapi udah kosong. Gue nggak kepikiran sih kalau lo ada operasi hari ini, ya gue kira lo udah pulang. Ya udah, akhirnya gue pulang tanpa lihat mobil lo yang masih ada di tempat parkir." "Huum, pantesan gue nggak lihat batang hidung lo juga seharian ini. Gimana hari ini, Bro? Ada kendala sama pasien lo?" "Nggak ada, aman sih." "Ya syukurlah." "Eh, Di, gimana? Ada kabar apa?" "Tadi kebetulan selesai operasi, bukan Aksa yang nemuin gue tapi istrinya." "Oya? Terus?" "Ya udah, akhirnya gue jelasin semuanya ke istrinya itu. Ya memang seharusnya sih begitu, istrinya yang lebih berhak tahu semuanya. Padahal sebenarnya gue sih berharap kalau Aksa yang datang." "Iya juga sih, gue kalau di posisi lo pasti juga berharap hal yang sama." "Tapi tadi gue malah bisa nanya-nanya tentang Aksa, kata Istri pasien gue, Aksa itu duda. Dia cerai sama istrinya beberapa tahun yang lalu." "Wow, dia duda ternyata? Hm, pantesan dia ngebet banget sama Kayana." "Namanya juga ada peluang, Bro." Dion menyeruput lagi kopinya, Barra mengikuti. "Terus rencana lo mau gimana, Di?" "Gue juga bingung, gimana ya, Bar?" "Lo temuin aja Aksa, tegur langsung aja coba." "Tapi gue belum dapat alamatnya kalau mau" "Ya siapa tahu besok ketemu lagi di rumah sakit?" "Coba lah besok." "Terus gimana tadi operasinya? Kebayang nggak lo sama Aksa?" "Wah, waktu mau masuk ruang operasi, gue sempat ragu, Bro. Ini yang bakalan gue operasi kakaknya Aksa kan? Ingat lah pasti, gue lagi kesel banget sama Aksa, lah ini yang gue perjuangin kakaknya. Tapi gue inget ini tugas kita kan? Nggak boleh yang namanya driskiminasi, apalagi menyangkut masalah pribadi. Nggak etis banget kan?" "Gila, makanya kemarin kan gue udah bilang. Jadi kebetulan begini ya? Nggak tahu lah semisal gue yang jadi lo, bisa-bisa gue mundur dari ruang operasi. Udah, nyari dokter lain aja." "Ya nggak gitu juga kali, gue masih punya perasaan, Bro." "Ha ha ha, ya lo ngerasa lagi nolong saingan lo nggak sih?" "Nggak kepikiran sampai situ sih gue, Bro. Gue sih nggak mikir dia saingan atau apa lah. Yang gue kesel karena dia udah berani banget maksa-maksa Kayana kayak kemarin." "Ya sama aja lah, Bro. Kalian sama-sama ngejar Kayana kan? Apa coba namanya kalau bukan saingan?" "Tapi kan bedanya Kayana nggak suka sama dia." "Ya kalau Aksa nanti ngejarnya mati-matian, terus lo datar aja ya lo bisa kalah, Bro." "Ya jangan sampai lah, Bro, tega banget doanya begitu?" "Ya nggak doain, Bro. Cuma lo musti lebih kuat ketimbang dia, kalau lo emang nggak rela Kayana jatuh di pelukan Aksa. Ngeri juga gue ngebayanginnya." "Gue udah berusaha buat mama gue kasih restu, Bro. Tiap saat gue rayu-rayu, susah banget luluhnya. Harus dengan cara apalagi ya, Bar?" "Ya coba deh, mama lo pengen apa gitu locariin. Atau ajak kemana biar seneng." "Udah, udah gue coba semua cara itu. Tapi tetep aja pada pendiriannya." "Suatu saat nanti Tuhan pasti bukain pintu hati mama lo buat Kayana. Jadi lo jangan mudah nyerah dong demi pilihan terbaik lo." "Iya, Bro, iya. Gue udah semangat banget ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN