POV AKSA
Kali ini aku harus benar-benar lebih pintar mengambil hati Kayana, bisa hancur reputasiku yang tidak bisa mendapatkan wanita cantik itu. Apalagi selama ini Kayana selalu bersikap dingin denganku, melihatku saja selalu dengan pandangan yang sengit. Kenapa? Sepertinya aku sudah selalu manis berbicara dengannya.
Sudah terlalu lama aku sendiri, juga belum pernah punya rasa tertarik dengan wanita sehebat ini. Biasanya aku akan merasa biasa saja tiap bertemu dengan makhluk lawan jenisku, meski mereka cantik, karier bagus, menawan dan dengan status perawan. Banyak dari saudara atau rekan yang sering berusaha mengenalkan wanita padaku, tapi belum ada yang pas dan klik di hati. Mereka hanya akan bertahan satu atau dua bulan menemaniku, setelah itu aku lebih senang membiarkan mereka begitu saja. Ku tinggal dan akhirnya menangis mengejarku.
Aku memiliki materi yang cukup banyak jika hanya untuk aku gunakan bersenang-senang. Teman-temam wanitaku juga banyak dan mereka bisa dengan mudahnya mendapat uang dariku untuk foya-foya. Membuat banyak wanita menyukaiku dan mengejarku adalah hal yang sangat mudah. Cukup mengeluarkan uang lembaran yang banyak, mereka sudah pasti tergila-gila denganku.
Kenapa berbeda dengan Kayana, wanita itu sulit sekali kudapatkan. Ucapan cintaku justru membuatnya membenciku. Barang-barang yang aku beri ditolak mentah-mentah di depanku. Padahal harusnya dia tahu pasti bukan barang murah yang aku beri. Semua kubeli dengan harga yang fantastis, merk yang pasti dia sudah tahu kalau itu merk yang banyak digandrungi wanita. Tetapi Kayana tidak melirik sedikit pun.
Benar-benar susah ditaklukkan, wanita spesial yang harus dengan cara spesial juga agar dapat ku miliki. Sepertinya harta bukanlah tujuan Kayana yang utama dalam memilih pasangan. Sudah kusuguhkan apa yang aku mililki. Kuperlihatkan usahaku yang pastinya bergengsi. Kuberi bayangan apa yang akan aku beri nanti untuknya jika ia mau menjadi istriku. Namun itu bukan yang Kayana mau. Lalu apa? Tampang yang menarik sepertinya sudah cukup aku miliki. Kay, Kay, kamu berhasil membuatku penasaran setengah mati. Membuatku tergila-gila.
Baik, hanya Ferda yang bisa diajak kerjasama sepertinya. Dan Ferda sudah bisa aku andalkan kemarin, sewaktu acara grand opening itu. Dia berhasil menggiring Kayana sampai di hotelku, menjadi tamu spesial.
Kemarin juga sudah kuungkapkan semua perasaanku di depan tamu-tamuku. Namun itu belum cukup membuatnya percaya. Lagi-lagi dia hanya marah, marah dan marah.
Pagi menjelang siang, kuputuskan untuk menemui Ferda ke kantornya. Mungkin akan ada solusi setelah kukatakan apa keinginanku. Harusnya Ferda akan banyak membantuku, mengingat sudah banyak sekali jasaku padanya.
Aku sengaja tidak memberinya kabar bahwa aku akan datang. Berharap Ferda ada di kantor dan bisa memberiku solusi.
Ku tapakkan kakiku di halaman depan kantor Delisya Event Organizer, tempat dimana Ferda bekerja. Kemudian memasuki ruangan tamu yang kira-kira berukuran empat kali enam meter. Ku lihat ada beberapa karyawan yang tengah sibuk kesana-kemari untuk mengerjakan pekerjaannya. Salah satu dari mereka kumintai tolong untuk memanggil Ferda. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu gadis itu. Ia datang dengan sedikit tergesa, mengenakan kemeja berwarna kuning polos yang bagian bawahnya dimasukkan dalam celana panjang.
“Siang, Pak Aksa. Ada apa, Pak? Tumben banget kesini?”
“Kamu sibuk, Fer?”
“Oh, nggak begitu, Pak? Bagaimana?”
Ferda lalu duduk di depanku, menatapku dengan rasa segan dan serius. Aku mulai menyusun kata-kata, sejelas mungkin.
“Tolong bantu aku lagi, Fer!”
“Tapi bantu apa, Pak?”
“Bantu aku untuk bisa mendekati Kayana lagi. Aku yakin kamu bisa membantuku, Fer. Aku sudah kehabisan cara untuk bisa menarik perhatiannya.”
“Caranya gimana, Pak?”
“Ya apa kek, biasanya kamu kan punya banyak cara, Fer. Oh ya, agenda ambil bunga ke Kayana kapan?”
“Empat hari lagi, Pak. Ada acara pernikahan.”
“Jadi sebelumnya kamu ga ada agenda ketemu?”
“Nggak ada, Pak. Kami biasanya tinggal telpon aja. Itu pun juga nggak selalu ketemu. Nanti karyawan Mbak Kayana yang akan mengantar, Pak. Dia biasanya nggak ikut. Apalagi gara-gara ada kejadian kemarin, Mbak Kayana marah dan bisa dipastikan untuk membahas event hanya mewakilkan karyawan, Pak.”
“Aduh, kenapa jadi begitu? Susah banget sih, Cuma mau ketemu sama Kayana aja, Fer.”
“Ya, kalau karyawannya bisa jalan kenapa dia harus melakukannya sendiri, Pak.”
“Iya juga sih, Fer. Kamu ada ide supaya aku bisa ketemu di satu event nggak, Fer?”
“Hm, apa ya, Pak? Kejadian kemarin bikin saya nggak enak hati sama Mbak Kayana. Dia udah marah-marah aja, Pak.”
“Ya jangan sampai dia tahu kalau kita sengaja bikin rencana ini.”
“Saya ada ide, Pak. Tapi rada jahat.”
“Apa tuh, Fer?”
“Tapi saya tega nggak ya, Pak?”
“Coba kamu bilang dulu sama saya.”
“Saya udah bikin Mbak Kayana sensi kemarin, masak sekarang mau bikin masalah lagi sih, Pak?”
“Emang ide kamu apa, Fer?”
“Gini, Pak, gimana kalau seandainya saya pura-pura minta bunga sama Mbak Kayana untuk event saya. Tapi tiba-tiba saat sudah waktunya diantar, saya nggak kasih kejelasan sampai akhirnya semua batal dan..”
Ferda menjelaskan panjang lebar mengenai ide menariknya dan aku rasa itu cukup menantang. Semoga saja setelah ini akan ada celah untukku mendekati Kayana. Hingga wanita pujaanku itu lama-lama bisa belajar mencintaiku.
“Hebat kamu, Fer. Kamu memang pintar ya, bisa punya cara yang mengejutkan kayak gini.”
“Tapi apa nggak jahat banget jadinya?”
“Udah, nggak apa-apa, Fer. Udah kamu tenang aja, semua bakalan berakhir baik kok. Aku yakin setelah ini Kayana bakalan bersikap manis padaku.”
“Tapi gimana dengan saya, Pak? Kalau nanti bikin Mbak Kayana jadi benci sama saya dan membatalkan kontraknya dengan kami gimana?”
“Nggak akan, tenang aja, Fer.”
“Padahal Red Flo termasuk florist yang bagus, Pak. Selama saya bekerja sama dengan banyak florist, Red Flo yang terbaik, Pak. Saya senang karena Mbak Kayana selalu menyediakan bunga yang fresh, harga dari mereka juga terhitung murah. Sayang kalau sampai Mbak Kayana sudah nggak mau bekerja sama dengan saya, Pak.”
“Kamu gimana sih, Fer? Yang kasih ide kan kamu, kenapa jadi nggak yakin gitu?”
“Saya kan bilang kemungkinan terburuknya, Pak. Gimana kalau itu terjadi.”
“Kamu yakin aja lah, Fer. Kan ada saya nanti yang bakalan bantu kamu. Kalau seandainya itu berhasil dan kamu kena dampaknya, aku nggak akan diam aja, kok.”
“Jadi solusi Pak Aksa apa kalau sampai itu terjadi?”
“Aku pasti tetap bantu kamu, Fer. Kita saling bantu lah. Seandainya kontrak kalian tidak diperpanjang, aku bakalan bantu meyakinkan Kayana untuk tetap bisa melanjutkan kontraknya dengan kamu.”
“Pak Aksa yakin?”
“Iya, aku yakin semua pasti bakalan sesuai rencana. Oke.”
“Ya udah lah, Pak. Saya ngikut Pak Aksa aja, daripada saya juga nggak bisa berbuat apa-apa. Kalau menurut Pak Aksa rencana saya tadi bakalan aman, ya apa boleh buat.”
“Nah gitu dong, Fer. Oke, sekarang kamu telpon Kayana coba.”
“Baik, Pak.”
Ferda tidak bisa melawan apa pun perintahku, dia memang cukup bisa diandalkan. Kulihat dia mulai sibuk dengan ponselnya, berkali-kali mencoba telpon tapi tidak diangkat. Rasanya cemas dan khawatir melihat Ferda yang sulit menghubungi Kayana. Setelah beberapa kali melakukan panggilan, Kayana baru terdengar memberi jawaban.
“Iya, Fer, kenapa?”
“Mbak Kay sibuk ya?”
“Oh iya, maaf tadi memang saya sibuk. Gimana?”
“Begini, Mbak, besok siang bisa siapin saya bunga?”
“Besok siang?”
“Iya, Mbak.”
“Acara apa, Fer?”
“Ulang tahun pernikahan, Mbak.”
“Kok mendadak sih, Fer?”
“Iya, Mbak. Katanya memang nggak direncanakan, bisa kan, Mbak?”
“Oh, bisa, Fer. Seperti biasa, kirim konsepnya dan shareloc dimana tempatnya kami bisa kirim.”
“Oke, Mbak, tapi untuk tempatnya menyusul aja ya, besok sekalian aja.”
“Ya udah, Fer. Terserah kamu aja.”
"Oke, terima kasih ya, Mbak."
"Sama-sama, Fer."
Aku tersenyum puas melihat ekspresi Ferda. Mendengar suara Kayana di seberang sana saja rasanya hatiku berdebar, apalagi bertemu dia. Rasanya ingin sekali saat ini juga aku datang menghampirinya, mengatakan cinta lagi, lalu anganku melayang dan berandai-andai. Kupeluk tubuhnya, kucium keningnya dan kumiliki semua yang ada padanya dengan utuh. Dan yang lebih aku inginkan adalah mengecup bibirnya yang indah itu. Kayana memang membuatku gila, tetapi aku aku menikmatinya.
Jika Kayana bisa menjadi milikku, kisah cintaku pasti akan menyenangkan. Aku sudah rindu berada dalam dekapan seorang wanita dan aku ingin dekali segera memiliki anak. Sudah sangat lama aku merinduka sebuah keluarga yang utuh.
Cara ini mungkin salah, mungkin juga sangat jahat. Tetapi kalau caranya hanya bisa begini, ya tak apalah, anggap saja ini adalah bentuk usahaku untuk bisa memiliki Kayana.