65

1328 Kata
“Oh ya, Kay, sebenarnya kamu dan Shasy ada cara kemana seharian tadi? Sampai buru-buru banget perginya.” “Emh, tadi diminta sama Ferda buat dampingi mereka, Ma.” “Dampingi apa? Sekarang kok ada pendampingan segala?” “Ya dampingi di eventnya mereka, Ma. Biar makin sukses acaranya, mereka bilang sih gitu.” “Kok aneh? Biasanya nggak pernah kayak gini, Kay. Jadi repot banget, tadi florist ramai lho, kasihan anak-anak sampai keteteran.” “Iya, Ma. Kay juga baru kali ini pakai acara kayak gini. Biasanya tinggal nganter barang terus beres, udah deh tinggal pulang.” “Bener kan, Mama meskipun nggak begitu paham sama kerjaan kamu, tapi Mama hafal biasanya kamu kerja ngapain aja. Emang event apa, Kay, sampai seheboh ini?” “Grand opening hotel, Ma.” “Oh, jadi kayak acara kamu kemarin itu?” “Ya, kurang lebihnya kayak gitu, Ma. Cuma bedanya ini acara besar, pengusaha hotel juga pasti relasinya banyak kan, Ma.” “Oh gitu, terus kenapa harus didampingi?” “Emh, Kay tadinya sih nggak mau cerita tentang hal ini ke Mama. Tapi daripada Mama ngejar terus kayak wartawan ya, Kay cerita aja deh ke Mama.” “Kenapa sih, Kay? Tentang apa?” “Tapi Mama jangan kaget dulu ya! Jadi yang punya acara itu Mas Aksa, Ma.” “Apa? Aksa? Yang kemarin bisa bikin Erland nangis tiba-tiba itu? Yang minta dikirim tanaman banyak kemarin? Serius kamu, Kay?” “Iya, Ma, Kay serius. Tadinya sih, Kay udah nolak buat kesana, Kay udah bilang kalau bakalan suruh Shasy yang dampingi Ferda, tapi dia nggak mau. Maunya Kay sendiri yang datang. Mereka takut kalau sampai ada kejadian kayak kemarin.” “Ah, bisa jadi itu Cuma akal-akalannya Aksa sama Ferda, Kay. Biar Aksa bisa ketemu sama kamu. Mama curiga jadinya.” “Nggak tahu lagi deh, Ma. Bisa jadi kayak gitu sih. Kay nggak ngerti juga kenapa bisa kebetulan gini.” “Kalau Mama rasa sih mereka udah kompromi deh, Kay. Terus kemarin ada kejadian apa emang?” “Kemarin mobil yang dibawa Shasy kecelakaan, Ma.” “Kecelakaan? Terus keadaan mereka gimana?”’ “Mereka aman kok, Ma. Nggak ada yang luka. Yang nabrak juga nggak kenapa-napa.” “Syukur lah, Kay. Kamu kok ya nggak bilang sama Mama sih kalau ada kecelakaan gitu.” “Maaf, Ma. Kay Cuma nggak mau lihat Mama khawatir.” “Tapi paling nggak kan kamu cerita, Kay. Gimana Mama nggak khawatir, namanya juga anak.” “Tuh kan, Mama udah langsung khawatir gitu aja. Nggak apa-apa kok, Ma. Beneran! Jadi kemarin itu Cuma kecelakaan ringan aja, mereka nggak ada yang luka. Tapi bunga-bunga yang mereka bawa banyak yang rusak. Jadi team event organizernya kecewa, marah-marah juga sama Shasy. Padahal kita udah ganti semua bunga yang rusak, Ma. Tapi mereka tetap aja pengen Kay yang terjun langsung. Mereka takut bikin kecewa di acara Aksa, makanya buat jaga-jaga mereka minta Kay tetap ada disana.” “Walah, ada-ada aja sih, Kay? Kok team event organizer yang ini ribet banget kayaknya? Yang lain pada nggak punya aturan begitu deh.” “Kay juga heran banget ko, Ma. Jadi bikin Kay malas kalau dikontrak lagi.” “Dan akhirnya tadi kamu jadi datang ke hotel?” “Ya mau gimana lagi, Ma? Udah terlanjur terikat kontrak sama mereka. Jadi kena beban berat deh.” “Terus kalian ketemu sama Aksa?” “Ya, ketemu lah, Ma. Namanya juga sama yang punya rumah, masa nggak ketemu.” “Terus?” “Jadi kemarin, dua hari sebelum acara, Mas Aksa datang ke florist buat kasih undangan ke Kay, Ma. Dia bilang undangan VVIP, khusus buat Kay.” “Kay, Kay, kamu ini lho kok bisa-bisanya nggak cerita ke Mama tentang hal kayak gini.” “Ya, kemarin Kay sebenarnya udah nggak ada niat buat datang kesana, Ma. Kay datang juga karena hal mendesak, niatnya karena kerja. Eh malah disana Kay dibikin malu banget di depan banyak tamu.” “Dibikin malu gimana maksud kamu, Kay?” “Mas Aksa kasih pengumunan ke tamu-tamunya kalau yang intinya dia mau melamar Kay, dia mau menjadikan Kay istri.” “Ha? Benar-benar nekad banget ya si Aksa itu. Bikin emosi aja.” “Eh, Mama, Mama inget dong! Jangan mudah emosi, yang kayak gini nih kalau diceritain. Bawaannya mau marah-marah aja, padahal Kayana udah nggak apa-apa. Mama yang slow aja deh.” “Mama gemes, Kay. Aksa kok kayaknya ngebet banget. Dia udah tergila-gila sama kamu, hati-hati lho, Kay.” “Iya, Ma. Udah dong, Mama tenang aja. Pokoknya Mama doain aja yang terbaik buat Kay. Jangan panikan dan jangan terlalu khawatir, nanti malah Mama jadi sakit.” “Iya deh, iya, anak Mama sayang. Mama Cuma nggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa.” “Mama percaya ya sama Kay, Kay pasti bisa jaga diri dengan baik.” “Wajar kalau Mama selalu khawatir sama kamu, Kay. Karena kamu adalah anak Mama satu-satunya. Selain kamu, Mama nggak punya siapa-siapa. Meskipun kamu udah dewasa bahkan sekarang udah punya Erland, kamu tetap anak Mama yang manis. Rasa sayang Mama, rasa khawatir ini nggak pernah berubah dari dulu. Makanya kalau ada apa-apa jangan kamu simpan sendiri ya! Mama selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan kamu.” “Hm.. Mama, Mama terbaik buat Kay. Terima kasih ya, Ma.” “Sama-sama, maafin juga ya kalau Mama suka bawel sama kamu. Kay, kamu nggak ada niat buat telpon Dion?” “Telpon buat apa, Ma?” “Ya kali aja mau bahas tentang kejadian tadi.” “Entah lah, Ma, Kay bingung harus gimana. Rasanya pengen banget kayak dulu, bisa dengan bebas berkeluh kesah sama Mas Dion. Dapat solusi, dapat suport, kadang juga dapat ide dan bisa pergi jalan meskipun Cuma muter-muter aja.” “Iya, Kay. Mama juga pengen kayak dulu, lihat Erland bahagia banget tiap hari karena omnya datang. Dia jadi nggak sering murung juga.” "Kita ikuti alur aja ya, Ma. Gimana nanti Tuhan mengatur hidup Kay." "Iya, tetap jadi Mama yang kuat buat Erland ya, udah cukup satu kali aja kamu terpuruk kayak dulu. Sekarang kamu harus bisa lebih kuat ya." "Semoga ya, Ma. Nanti Kay mau telpon Mas Dion, tapi Kay takut baper lagi, Ma." "Mama juga jadi bingung, Kay." "Mama tenang aja, ya. Kay ke kamar dulu, mau telpon Mas Dion." "Iya, Kay. Langsung istirahat aja ya nanti." Kayana mengiyakan, masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan niatnya. Mengambil ponsel di atas meja, jarinya mulai sibuk dengan layar di benda pintarnya. Memanggil nama Dion dalam kontak. Tanpa harus memanggilnya berkali-kali, Dion sudah dengan cepatnya menjawab. "Halo, Kayana." "Iya, Mas Dion." Ada rasa canggung saat memulai percakapan, kata-kata yang tadinya sudah tersusun ingin ia katakan, tiba-tiba buyar hilang begitu mendengar suara Dion. Andai Dion tahu, hatinya sudah berdesir merasakan rindu yang tertahan. "Kay, apa kabar?" sebegitu lembutnya suara Dion dari seberang sana. Membuat Kayana terdiam cukup lama. "Kay, kamu dengar suaraku?" "I i iya, Mas." "Kamu sehat kan?" "Iya, aku sehat." "Maaf ya, tadi aku datang menemui Erland tanpa meminta ijin dari kamu." "Aku yang harusnya meminta maaf sama Mas Dion, hanya karena Mas Dion datang ke rumah justru membuat Tante Mei semakin marah." "Kamu nggak usah memikirkan apa yang mamaku bilang, Kay. Itu tidak berpengaruh padaku, aku bahagia lihat Erland seneng banget. Aku udah nggak bisa menahan rasa rinduku buat Erland, makanya aku nekad datang ke rumah. Maaf ya!" "Mas, terima kasih sudah membuat Erland merasa bahagia hari ini. Aku menangis mendengar ceritanya, Mas. Aku nggak tega lihat dia banyak berharap dengan Mas Dion. Mas.. aku bisa apa? Maju dan mundur aku sama-sama bakalan sakit. Maafkan aku jika terkesan labil." "Kay, aku rela dibenci mama asal aku bisa melihat kamu dan Erland bahagia. Alasanku bahagia adalah kalian, melihat kalian bisa tertawa adalah tujuannku, Kay." "Mas, aku rapuh untuk yang kedua kalinya. Aku malu sama Mas Dion, aku sudah menolak tetapi Mas masih saja ingin membahagiakan kami. Aku hanya bisa menahan rasa ini, Mas, aku tahu diri."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN