64

2604 Kata
Selesai menidurkan Erland di kamar dengan tembok yang berwalpaper bintang-bintang, warna biru muda kesukaan Erland. Di sisi kiri dekat tempat tidur ada sebuah rak yang berukuran lumayan besar, benda itu tertempel di dinding. Rak yang digunakan untuk menyimpan mainan-mainan Erland yang cukup banyak. Dari mulai kecil dan besar. Ada juga figura foto yang terpasang disana, foto gambar dirinya dengan mama dan papa. Terlihat sangat menyenangkan. Kayana berkali-kali mengecup kening Erland, sambil mengusap air matanya yang masih sulit berhenti sejak tadi sore. Penuh rasa sesak dalam dadanya, rasa yang sulit untuk dijelaskan sebab sudah banyak sekali yang tertumpuk disana. Yang jika dibiarkan begitu saja hanya akan menimbulkan penyakit. Dan sebagai cara meluapkannya, Kayana hanya bisa menangis sendiri di dalam kamar, bermaksud agar tidak ada yang tahu bahwa dirinya tengah hancur dan tidak bisa lagi membendungnya. Meskipun ternyata selama ini diam-diam Erland tahu dan memperhatikannya. Ia sering melihat Kayana menangis di dalam kamar. Erland, anak kecil yang punya pemikiran dewasa, mempunyai bakat yang bijaksana. Mungkin ia bisa seperti itu karena keadaan. Ya, karena keadaan yang memaksa dia untuk bersikap dewasa. Melihat Erland tidur membuat Kayana semakin merasa bersalah, sebab ia sering sekali meninggalkan Erland karena pekerjaan. Rasa bersalahnya semakin besar mengingat obrolan mereka sore tadi. Erland yang sudah memiliki keinginan besar untuk menjadi orang yang hebat demi mamanya. Pemikiran yang jarang sekali dimiliki oleh anak-anak seusia dirinya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu dan tidak berganti detik, pintu kamar Erland terbuka. Ada Mama Anandita yang terseyum seraya membuka pintu. “Kay, Erland sudah tidur?” sapa Anandita dari balik pintu dan tidak berniat untuk masuk kamar. “Sudah, Ma, sekitar setengah jam yang lalu.” “Syukurlah, apa sudah bisa kamu tinggal, Kay?” “Sudah, Ma, Erland sudah nyenyak banget.” “Bagus, Mama mau bicara denganmu, bisa? Kita ngobrol di ruang TV yuk!” “Bisa, Ma, Mama duluan ya, Kay menyusul.” “Iya, Mama tunggu disana ya, sudah Mama buatin teh hangat buat kamu, Kay.” “Terima kasih, Ma.” Anandita menutup kembali pintu itu dan setelah merapikan selimut Erland, Kayana segera menyusul sang mama ke ruang TV. Membuka dan menutup pintu dengan pelan agar Erland tidak merasa terganggu dengan suara itu. Di ruang TV, Anandita sudah mulai menyeruput teh panasnya sambil menonton acara di salah satu stasiun televisi kesayangannya. Kayana lalu ikut duduk di dekatnya, tersenyum pada Anandita untuk menyamarkan bekas tangis matanya. “Kay, duduk sini, Nak.” Anandita menepuk-nepuk sofa sebelahnya. “Iya, Ma. Nonton apa sih? Asyik banget kayaknya.” “Biasa, Kay, sinetron.” “Hm, Mama nih hobinya nonton sinetron mulu.” “Ya habisnya mau nonton apa coba malam-malam? Adanya ya Cuma sinetron itu.” “Ya apa kek, nonton bola atau apa gitu. Nanti jadi baper lho.” “Ah, kayak anak muda aja baper, Mama sih udah nggak ada kata baper-baperan begitu.” “Masa sih?” “Iya, masa Mama bohong.” “Terus kenapa kata Erland tadi Mama nangis? Mama baper kan? Kenapa tuh? Yang ditaksir punya gebetan baru ya?” “Hush, kamu ini apa sih Kay, Kay. Mana ada Mama naksir sama orang. Mama ini udah tua, udah nggak pantas punya perasaan kayak gitu.” “Tapi banyak kok yang seumuran Mama pada nikah lagi.” “Ya iya sih, tapi kalau Mama udah ogah banget. Di hati Mama Cuma ada Papa kamu, Kay. Mama sekarang udah mending lihat anak cucu. Jagain Erland tiap hari udah bikin Mama seneng, udah cukup ini aja hiburan Mama.” “Ya barang kali aja, sebenarnya Mama suka sama seseorang terus nggak berani bilang sama Kay, ha ha.” “Dih, ngaco banget lama-lama. Kurang kerjaan aja sih oma-oma punya pacar. Udah malu sama umur, Kay.” “Ih.. Mama, Kay sayang sama Mama.” Tiba-tiba Kayana memeluk Mamanya dengan erat, sambil menumpahkan air matanya. Saat ini pelukan Mama adalah tempat ternyaman kedua setelah Erland. Anandita sangat paham dengan apa yang Kayana rasakan. Ia kemudian mengelus-elus punggung anak perempuannya itu. “Mama lebih sayang lagi sama kamu, Kay.” “Ma, Mama kenapa tadi nangis?” “Nggak kenapa-napa kok.” “Mama, Kay bukan Erland yang bisa Mama bohongi.” “Mama nangis bahagia seperti yang kamu bilang pada Erland tadi.” “Tuh kan, nggak mau jujur. Mama kenapa?” “Maaf ya, Kay. Mama sedih.” “Kenapa, Ma?” “Sakit hati Mama, Kay.” “Iya tapi kenapa?” “Mama sedih dengar perkataan Mbak Mei tadi siang.” “Udah Kay duga, pasti ada hubungannya dengan Tante Mei. Kenapa lagi sih, Ma? Belum puas dia nyakitin Kay?” “Iya, jadi Mbak Mei bicara mengenai pertetangan antara kamu dan Dion.” “Kenapa Tante Mei nggak bosan-bosan sih? Kay udah menjauh lho dari Mas Dion, Ma.”’ “Mama juga nggak tahu Kay, kenapa jadi begini. Silaturahmi kita dengan keluarga Julio jadi rusak gara-gara masalah ini.” “Iya, Ma, maafin Kay ya. Kay jadi sedih banget kalau ingat masalah ini.” “Kamu yang kuat ya, harus bisa melewati ini semua, Kay. Kamu nggak perlu minta maaf sama Mama.” “Semoga, Ma. Sebenarnya tadi gimana sih ceritanya, kok Tante Mei bisa bikin Mama nangis?” “Jadi tadi Dion kesini, bawain mainan buat Erland.” “Emang tadi Mas Dion nggak ke rumah sakit?” “Dia dapat cuti bulanan katanya.” “Oh, gitu. Tumben datangnya sama Tante Mei?” “Nggak, Kay. Dion sendiri kesininya.” “Terus Tante Mei?” “Mbak Mei nyusul ternyata, katanya sih curiga sama Dion, waktu bilang dia libur tapi didatangin ke apartemennya nggak ada.” “Dan nyari kesini gitu?” “Iya, dia datang pas Dion lagi asyik main sama Erland. Terjadilah adu mulut antara Dion dan Mbak Mei. Karena Mama nggak pengen Erland dengar, akhirnya Mama suruh Bibi buat ajak Erland jalan-jalan keluar.” “Ya Tuhan, kasihan banget Erland, Ma.” “Padahal tadi Erland seneng banget saat tahu Dion datang, kelihatan kangen sama omnya, Kay. Mama nggak kuat lihatnya, mereka saling menyayangi. Cara Dion memperlakukan Erland sama persis seperti Julio, Kay.” “Benar, Ma, makanya Kay sering banget nahan tangis kalau lihat keakraban mereka. Mereka udah mirip seperti anak dengan papanya.” “Tadi Erland manja banget sama Dion, kay, minta disuapin sambil dipangku sampai mau buang air kecil aja minta Dion yang nemenin, Kay.” “Iya kah, Ma? Ya Tuhan, Erland.. mungkin dia rindu saat-saat masih ada Mas Julio, Ma. Dulu memang selalu begitu, setiap kali Mas Julio libur, Erland pasti mengekor kemana pun papanya pergi, maunya selalu papanya yang nemenin. Dan Mas Dion juga memperlakukan Erland penuh dengan cinta, pasti lah Erland langsung manja dan maunya apa-apa sama Mas Dion.” “Kasihan Erland ya, Kay.” “Kay nggak kuat tiap kali Erland menceritakan tentang Mas Dion dan mengungkapkan keinginannya agar Mas Dion jadi papanya. Kay bingung, Ma, harus bilang gimana sama Erland.” “Mama juga bingung kok, Kay. Mana mungkin kita tega sama Erland, jujur kalau Dion tidak bisa menjadi papanya.” “Tapi kalau nggak dikasih tahu, Kay khawatir kalau Erland akan terus berharap bahwa Mas Dion pasti bakalan jadi papanya. Erland masih sangat kecil dan belum mengerti kalau kita kasih tahu yang sebenarnya.” “Mama nggak tega mematahkan harapan Erland, Kay.” “Sama, Ma, Kay juga berpikiran seperti Mama. Makanya Kay mau cari solusi.” “Bingung, Kay. Dan yang bikin Mama sakit hati tadi, Kay, melihat ekspresi dan jawaban Mbak Mei sewaktu Erland ingin mencium tangannya.” “Emang kenapa, Ma?” “Erland dengan polosnya menghampiri Mbak Mei begitu tahu ada yang datang, tapi apa? Mbak Mei nggak mau terima uluran tangan Erland, Kay. Saat itu juga, hati Mama seperti di iris. Sakit sekali.” “Ya Tuhan, sampai segitu bencinya Tante Mei pada Erland, dia nggak tahu apa-apa, Ma. Erland belum punya dosa, nggak sepantasnya Tante Mei memperlakukan Erland seperti itu.” “Iya lah, Kay, harusnya janga bawa-bawa anak kecil dalam masalah orang dewasa, itu nggak adil kan, Kay.” “Jelas lah, Ma. Harusnya Tante Mei jangan ikut membenci Erland, Kay nggak masalah kalau dia mau benci bahkan sampai memaki-maki Kay. Tapi jangan bersikap yang sama dengan Erland.” “Kejam, Kay. Mbak Mei juga seorang ibu, dulu Dion adalah anak kecil yang sama seperti Erland. Kenapa dia sama sekali nggak ada rasa simpatinya dengan anak kecil yang dengan polosnya ingin bersalaman.” “Bisa Kay bayangin gimana rasanya jadi Erland, Ma.” “Untung saja, Mama punya inisiatif menyuruh Bibi untuk mengajak Erland keluar. Kalau nggak pasti Erland dengar percakapan kami. Dan dia bakalan merekam suara demi suara dan sikap mereka yang ia lihat.” “Apalagi daya ingat Erland luar biasa ya, Ma.” “Iya, Erland adalah anak yang cerdas, Kay. Kalau dia dengar, pasti setelah itu ia bakalan cari tahu maksud dari percakapan orang dewasa.” “Mereka lama disini, Ma?” “Nggak begitu, karena akhirnya Mama suruh mereka untuk pulang. Mama nggak mau mereka berdebat disini.” “Apa lagi yang mereka obrolkan, Ma?” “Ya banyak lah, Kay, persis seperti apa yang pernah kamu ceritakan sama Mama dulu.” “Masih menyinggung tentang status Kay?” “Iya, justru itu yang jadi masalah utamanya.” “Kenapa ya, Ma, dangkal sekali pikiran mereka hanya tentang status sosial?” “Entah lah, Kay, terkadang orang kalau belum pernah mengalami hal yang sama, mereka tidak akan pernah tahu caranya menjaga hati dan ucapan pada orang yang tengah mengalami. Yang ada dipikiran mereka hanyalah rasa puas karena bisa menghina.” “Ternyata orang yang berpendidikan belum tentu punya adab yang baik ya, Ma? Kita tahu Tante Mei itu kan orang yang berpendidikan tinggi, ilmunya sudah pasti jauh lebih banyak dari pada kita. Tapi ia tidak tahu bagaimana menghargai orang. Padahal orang akan kelihatan sifat aslinya dengan cara bagaimana ia memperlakukan orang lain.” “Ya, Mama setuju dengan pendapat kamu.” “Jika ia memperlakukan seseorang dengan baik, berarti sikapnya bisa dikatakan baik dan sebaliknya.” “Kok bisa ya, Kay, Mama dan anak sifatnya jauh banget. Dion kan baik, meskipun ia seorang dokter tapi dia tidak pernah membeda-bedakan orang lain. Dia selalu bersikap sopan sama Mama, kelihatan banget kalau dia tipe orang yang cinta keluarga. Berbeda dengan Mbak Mei, galak, sinis, judes dan menyebalkan.” “Yang Kayana sampai saat ini nggak habis pikir adalah seorang perempuan, ibu dan orang yang berpendidikan, ia bisa dengan ringannya mengeluarkan kata-kata yang menurut Kay itu kasar banget.” “Amit-amit deh, Kay, jangan sampai kita seperti itu. Mama meskipun tidak berpendidikan tinggi, seumur-umur nggak pernah berbicara kasar di depan orang, apalagi dengan papa dan kamu.” “Iya, Ma, Kayana bersyukur mempunyai Mama yang lembut dan penyayang.” “Dan sekarang menurun padamu, Kay. Maafin, Mama ya, Kay.” “Maaf untuk apa Ma?” “Mama nggak bisa berbuat apa-apa untukmu.” “Ma, mama jangan punya pemikiran kayak gitu. Kayana nggak akan bisa apa-apa tanpa Mama. Selama ini Mama yang mendoakan Kay, menemani Kay, rela melakukan apa pun demi Kay. Lalu maksud Mama nggak bisa berbuat apa-apa itu bagaimana? Udah cukup semua pengorbanan Mama buat Kay sampai detik ini.” “Tapi Mama sedih nggak bisa bantu kamu menyelesaikan masalahmu, Nak. Apalagi Mama nggak bisa membelamu di depan Mbak Mei dan Mama nggak bisa membuat dia percaya kalau kamu bukan seperti yang dia pikirkan saat ini. Mama hanya bisa mengutarakan apa saja yang Mama mampu.” “Ma, udahlah, jangan memaksakan orang yang sudah terlanjur membenci kita untuk menyukai kita. Semua itu tidak akan ada gunanya, Ma. Sampai kapan pun dia nggak akan percaya.” “Tapi seharusnya Mama bisa membuat dia berhenti berkata kasar pada Mama dan berhenti merendahkanmu, Kay.” “Tidak perlu, Ma, karena itu semua percuma. Dia akan tetap pada pendiriannya, meskipun kita sudah susah payah meyakinkan mereka. Tante Mei sudah terlanjur membenci Kayana, jadi meskipun di depan matanya ada sesuatu hal yang sudah jelas terbukti bahwa Kay orang baik, itu tidak akan merubah keadaan. Kay akan tetap jelek di mata Tante Mei.” “Mungkin memang benar begitu, Kay. Orang seperti mereka tidak akan bisa berubah kecuali niat dari dalam diri mereka sendiri ya, Kay.” “Begitulah, Ma.” “Mama jadi kasihan banget sama Dion, Kay.” “Pastinya, Ma, niatnya Mas Dion mau diam-diam menemui Erland. Ingin memberi kejutan pada Erland yang sudah kangen banget sama Mas Dion. Eh, sampai disini malah jadi bertengkar.” “Dion kelihatan tertekan sekali, Kay. Apalagi lihat matanya yang lelah, kayaknya dia susah tidur deh, Kay.” “Untung saja ya, Ma, Mas Dion tinggal sendiri di apartemen jadi ia tidak harus mendengar omongan Tante Mei setiap saat.” “Iya, Kay. Kasihan banget dia, yang jelas dia pasti malu melihat Mbak Mei marah-marah di depan Mama. Kay, Dion adalah laki-laki baik, Mama bisa melihat ketulusan cinta dia buat kamu dan Erland, dengan cara dia membela kamu ketika Tante Mei berpikiran negatif tentang kamu. Meskipun Mbak Mei keras seperti itu, tapi Dion bisa dengan sabar bicara padanya. Tentang menghormati orang tua, Dion juaranya.” “Mas Dion memang selalu bersikap baik dan menghormati perempuan, Ma, terutama pada Tante Mei.” “Andai saja ya, Kay, hubungan kalian bisa dengan mudahnya berlanjut ke pelaminan. Kamu pasti sangat beruntung memiliki suami seperti dia.” “Kayana sudah tidak mau lagi banyak berharap, Ma. Kayana takut jatuh lagi. Selama ini Kay sudah berharap sama Mas Dion, karena Mas Dion selalu baik dan membuat Kay nyaman. Dengan susah payah Kay membuka hati buat dia, mulai berani percaya pada seorang laki-laki untuk mendampingi Kay dan jadi papa yang baik untuk Erland. Namun kenyataannya harapan itu hancur, Ma.” “Mama tahu perasaanmu, Kay, Mama sangat paham. Karena Mama juga merasakan hal yang sama, Mama kecewa, mungkin lebih tepatnya pada keadaan. Karena Mama tahu ini bukan salah Dion. Semenjak Dion jujur pada Mama waktu itu tentang perasaannya, Mama pun sudah menjatuhkan harapan pada Dion, Kay. Karena Mama yakin bahwa Dion pasti bisa membuat kamu bahagia. Dan Mama akan merasa tenang karena ada yang mendampingimu lagi membesarkan Erland. Itu harapan Mama selama ini pada Dion, Kay. Apalagi melihat Erland yang seperti sudah memiliki chemistry dengan Dion, Mama sering mebayangkan kalau kalian bertiga adalah keluarga kecil yang utuh dan saling menyayangi. Dan sekarang kenyataannya berbeda, Mama juga merasakan hal yang sama dengan kamu, Kay.” “Tapi Kayana mohon pada Mama, jangan terlalu berat memikirkan hal ini, Ma. Nggak perlu terlalu khawatir, Kayana yakin bahwa semua pasti bisa dilalui. Kayana nggak mau Mama jadi banyak pikiran. Kay takut malah bikin Mama sakit. Kay nggak akan rela kalau lihat Mama sakit hanya karena memikirkan hal ini.” "Nggak, Kay. Kamu tenang aja, selama Mama masih sehat dan masih mampu untuk berpikir, Mama ingin selalu ada buat kamu. Menemani kamu sepanjang hidup Mama. Saat ini hanya kalian yang Mama punya, Kay. Karena dari itu sebisa mungkin Mama akan ikut mengusahakan yang terbaik untuk kamu dan Erland. Mama nggak mau lihat anak dan cucu Mama terluka. Kalian berhak untuk bahagia, Kay. Mama hanya bisa mendoakanmu yang terbaik, siang dan malam." "Iya, Ma, terima kasih banyak untuk semuanya. Tapi jangan dipaksakan, Ma. Kay pasti bisa melewati ini semua dan itu karena doa-doa Mama buat Kay dan Erland. Sampai detik ini Kay sudah banyak membuat Mama sedih, khawatir, dan masih banyak lagi. yang jelas Kay sudah banyak sekali merepotkan Mama. Maafin Kay ya, Ma." Mereka hanya bisa saling berpelukan, berharap dengan cara itu rasa sedih yang bercampur dengan kecewa itu bisa terobati. Karena saat itu tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain saling mendukung satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN