Masih sekitar pukul empat sore, mobil milik Kayana sudah terparkir rapi masuk garasi. Mendengar suara lirih mobil, Erland berlari dari dalam rumah, buru-buru keluar untuk menghampiri mamanya. Ia sudah rapi, kelihatan sudah selesai mandi. Wangi parfum dari tubuh Erland tercium harum ketika Kayana baru saja keluar dari dalam mobil. Senyum keduanya sudah terkembang, saling mendambakan pertemuan itu. Kayana yang sudah tidak sabar ingin segera sampai rumah dan Erland yang sedari tadi menunggu kedatangan sang mama.
Anak laki-laki itu disusul oleh omanya dari dalam, memastikan bahwa memang Kayana yang datang. Dengan memakai piyama berwarna kuning, kulit Erland terlihat semakin putih dan bersih. Giginya yang rapi menampilkan kebersihan dan membuat dia semakin gemas.
Anak dan mamanya itu saling menghampiri, dengan kedua tangan yang merentang tanda mengharapkan pelukan. Dan benar apa yang dikatakan oleh Shasy, rasa lelah dan pusingnya pasti akan hilang begitu bertemu dengan Erland. Baru saja melihat senyumnya, Kayana sudah merasakannya, rasa nyaman dan damai.
Akhirnya mereka saling berpelukan, melepas rindu karena seharian tidak bertemu. Tadi ketika Kayana sudah berangkat, Erland terlihat masih tertidur pulas. Hanya beberapa kecupan yang mamanya tinggalkan sebelum melaju pergi. Jelas saja Erland begitu merindukan Kayana.
“Ye, mama pulang!” teriaknya sambil berlari memeluk Kayana.
“Hm, sayang, mama kangen banget sama Erland.”
“Erland juga kangen banget sama Mama.”
“Maaf ya, tadi mama pergi nggak bilang-bilang sama Erland.”
“Iya, Ma. Nggak apa-apa, emangnya kenapa sih mama perginya kok nggak pamit sama Erland dulu?”
“Mama buru-buru sayang, lagian tadi waktu mama pergi Erland belum bangun.”
“Kok Erland nggak dibangunin sih, Ma?”
“Mama kasihan banget mau bangunin Erland, Erland bobokya nyenyak banget sih? Sambil peluk-peluk boneka dino lagi. Nanti kalau mama bangunin terus dinonya ikut bangun gimana? Terus nangis nyariin mama dino dong, padahal mamanya dino masih di toko kan, belum dibeli sama Erland.”
“Iya juga ya, Ma. Tapi kan Erland jadi nyariin mama waktu Erland bangun tidur.”
“Erland nyariin mama?”
“Iya.”
“Coba bilang ke mama, Erland nyariin mama dimana?”
“Pertama, Erland nyariin mama ke kamar, nggak ada.”
“Terus?”
“Terus ke kamar mandi, ke dapur, ke ruang TV.”
“Ada nggak?”
“Nggak ada juga.”
“Terus akhirnya?”
“Terus Erland ajakin Oma ke florist. Tapi mama tetap nggak ada”
“Erland nangis?”
“Enggak nangis, Ma. Tapi Erland sedih.”
“Sedih kenapa?”
“Ya karena mama nggak ada dimana-mana.”
“Kan biasanya juga Erland sering ditinggal sama Mama.”
“Iya, tapi kan mama abis itu ketemu, perginya Cuma sebentar. Terus sebelum pergi mama bilang dulu kan sama Erland. Tapi tadi mama nggak bilang dulu.”
“Mama kan udah bilang sama Oma, sama Bibi juga kalau Mama mau pergi seharian.”
“Tapi Erland nggak dengar sendiri, Ma.”
“Terus Erland nggak percaya gitu tadinya?”
“Iya.”
“Kalau mama nggak bilang sama Erland, mama pasti kasih pesan lewat Oma. Oma kan nggak pernah bohong sama Erland, jadi Erland harus percaya sama Mama.”
“Tapi Oma bilang kalau mama perginya nggak lama, kenyataannya sampai seharian.”
“Iya, sayang. Maafin mama ya, tadinya memang acaranya Cuma sebentar, tapi ternyata tempatnya jauh jadi perjalanannya lama, macet pula dijalan. Jadi seharian deh.”
“Emangnya dimana ma? Erland udah pernah kesana belum?”
“Belum sayang, pokoknya jauh deh.”
“Mama kesana ngapain?”
“Ngantar bunga.”
“Sama siapa, Ma?”
“Sama Tante Shasy, seperti biasanya.”
“Oh, gitu.”
“Iya, Erland maafin mama nggak?”
“Iya, Erland maafin mama, tapi mama janji besok kalau pergi Erland dibangunin dulu, biar Erland tahu mama perginya ke mana?”
“Iya deh, mama minta maaf ya, besok-besok mama janji pasti bangunin Erland dulu buat pamitan.”
“Nah gitu dong, Ma.”
“Iya deh iya, hm.. anak mama udah wangi nih! Masuk rumah yuk!”
Kayana menggendong anak kesayangannya masuk rumah, mengajaknya duduk di sofa ruang TV. Ada Mama Anandita yang berjalan membersamai mereka. Menyimak setiap percakapan ringan diantara anak dan cucunya.
“Erland wangi banget sih? Tadi mandi sama siapa?”
“Sama Bibi.”
“Hm, udah makan?”
“Udah dong.”’
“Pakai apa sayang?”
“Pakai sup ikan buatan Oma.”
“Enak?”
“Enak banget, ma.”
“Oh, iya, tadi mama beli cokelat buat Erland.”
“Iya ma? Wow, mana ma?”
“Ini dia. Tara..” Kayana mengeluarkan dua batang cokelat dari tas plastik belanjaan.
“Yeee, makasih ya, Ma. Mama baik banget sama Erland.”
“Sama-sama sayang, udah nggak marah lagi kan?”
“Erland nggak marah, Ma. Cuma sedih aja.”
“Oh iya ya, masih sedih?”
“Nggak dong, Ma. Erland udah nggak sedih kok, Erland senang banget hari ini, Ma. Mama tahu nggak kenapa?”
“Nggak tahu. Kenapa dong?”
“Tebak dong, Ma.”
“Hm, apa ya.. abis makan es krim?”
“Bukan.”
“Abis dibeliin mainan sama Oma.”
“Hm, kurang tepat.”
“Apa sih?”
“Ayo dong, cari alasan lagi.”
“Hm, udah deh, Mama nyerah kali ini.”
“Tadi Erland abis dibeliin mainan baru.”
“Wow, seneng dong. Terus kalau bukan Oma siapa yang beliin?”
“Om Dion, Ma. Bentar ya, Ma, Erland ambilin dulu biar mama tahu mainan baru Erland bagus banget, Ma.” Erland berlari menuju kamar, mengambilkan mainan barunya yaitu miniatur dinosaurus.
Kayana tercengang, heran mendengar Erland menyebut nama Dion yang membelikan mainan baru.
“Ma, lihat dong, Ma. Bagus banget kan?”
“Wah, iya bagus banget ya?”
“Iya dong, Om Dion emang selalu bagus kalau beliin mainan buat Erland.”
“Hm, nanti kita main bareng ya, kalau mama abis mandi.”
“Oke, Ma.”
“Oke, emang tadi Om Dion kesini?”
“Iya, Ma, tadi Om Dion kesini. Kan tadi Om Dion libur nggak periksa pasien.”
“Oh ya?”
“Iya, Ma, Om Dion tadi beliin Erland es krim juga, ras cokelat, Ma. Enak banget.”
“Mama dibagi nggak nih?”
“Udah habis, Ma. Maaf ya, Ma. Besok deh kalau Om Dion kesini lagi bawa es krim, pasti Erland bagi.”
“Emang Om Dion bilang mau kesini lagi?”
“Iya, Ma, kan Om Dion pasti kesini lagi mainan sama Erland.”
“Hm, iya deh, seneng banget yang punya om.”
“Iya lah, Ma, Om Dion kan sayangnya Erland, udah kayak papanya Erland. Pokoknya Erland sama Om Dion itu nggak boleh dipisahkan.”
“Wah, berarti sayang banget dong sama Om Dion.”
“Iya, mama, Erland sayang banget sama Om Dion.”’
“Oke deh, terus tadi omnya lama nggak disini?”
“Nggak lama sih, Ma, soalnya tadi Oma Mei nyusul kesini, terus bilang sama Erland kalau Oma Mei sama Om Dion mau ngobrol sama Oma.”
“Iya, terus?”’
“Terus kata Oma, Erland masih anak kecil nggak boleh dengar obrolan orang dewasa.”
“Pinter anak mama, terus abis itu gimana?”
“Karena Erland nggak boleh dengar obrolan orang dewasa, Bibi ajak Erland main ke taman. Terus pulang dari taman, eh.. Om Dion udah nggak ada di rumah, kata Oma mereka udah pulang. Udah deh, Erland jadi nggak bisa mainan lama sama Om Dion.”
“Oh, kasihan anak mama.”
“Padahal Erland masih kangen banget lho, Ma, sama Om Dion.”
“Hm, Om Dion banyak kerjaan kali, Er.”
“Enggak, mama, kan Om Dion bilang kalau lagi libur nggak periksa pasien.”
“Hm, atau kalau nggak ada pasien mendadak.”
“Tapi kenapa yang nyusul kesini Oma Mei ya, Ma?”
“Ya mungkin Oma Mei yang ditelpon sama dokter di rumah sakit.”
“Iya, ya, Ma?”
“Huum, bisa jadi tuh, Er.”
“Iya deh, namanya juga dokter ya, Ma?”
“Iya, tuh Erland tahu. Seorang dokter itu harus siap kapan aja dipanggil sama pasien, meskipun itu adalah hari libur.”
“Emang kenapa, Ma?”
“Karena, orang yang sakit itu tidak boleh ditunda pertolongannya. Dokter harus segera memeriksa dan memberi obat, biar penyakitnya tidak tambah parah. Om Dion dulu pernah lho, Er, waktu malam-malam pas lagi tidur nyenyak dapat panggilan dari rumah sakit.”
“Iya, Ma? Terus gimana?”
“Ya mau nggak mau Om Dion harus pergi ke rumah sakit demi pasien yang sakit.”
“Berat ya, Ma jadi dokter itu.”’
“Ya setiap pekerjaan pasti ada berat dan ringannya, Er. Tapi kalau dilakukan dengan rasa iklhas, pasti jadi ringan. Seperti Om Dion, meskipun sedang tidur nyenyak, sedang makan, sedang main sama Erland, tapi kalau saat itu dapat telpon dari rumah sakit, Om Dion harus segera datang.”
“Om Dion itu seperti pahlawan dong, Ma?”
“Iya.”
“Kayak superman, Ma?”
“Iya, Om Dion itu pahlawan bagi pasien-pasiennya yang membutuhkan, Er. Pahalanya banyak lho, makanya Erland harus semangat kalau pengen jadi dokter seperti Om Dion.”
“Om Dion nggak Cuma jadi pahlawan buat pasien-pasiennya kok, Ma. Tapi buat Erland juga.”
“Masa sih?”
“Iya, Mama, Om Dion itu seperti pahlawan disaat Erland membutuhkan Om Dion.”
“Misalnya apa?”
“Disaat Erland sakit, Om Dion pasti yang periksa, kasih Erland obat habis itu sembuh, dulu waktu Mama sakit juga Om Dion yang periksa.”
“Ada lagi?”
“Ada banyak, Ma. Waktu Erland pengen jalan-jalan, Om Dion yang antar. Terus waktu Erland kangen sama Papa, Om Dion juga yang jadi obatnya, Om Dion datang menghibur Erland.”
“Hm, sayang ya sama Om Dion?”
“Sayang banget, Ma. Kalau Erland kangen papa, Om Dion peluk Erland, gendong Erland, terus ngasih tahu Erland banyak hal, semuanya bikin kangen Erland ke papa sembuh. Jadi hilang kangennya kalau sudah sama Om Dion. Makanya Erland pengen banget sama Om Dion terus, Ma.”
“Memangnya kalau Om Dion kasih tahu Erland banyak hal, hal apa aja yang Om Dion bilang?”
“Banyak, Ma. Om Dion bilang kalau Erland nggak boleh gampang nangis karena Erland anak laki-laki.”
“Iya, terus?”
“Kata Om Dion, kalau Erland gampang nangis pasti papa juga sedih di surga, mama pasti sedih lihat Erland nangis.”
“Jadi, Erland harus apa?”
“Erland harus jadi anak kuat yang nggak gampang nangis.”
“Pinter, terus apa lagi?”
“Erland harus jadi anak pintar, bisa bikin mama dan papa bangga.”’
“Erland udah jadi anak yang kuat dan membanggakan kok.”
“Masa sih, Ma?”
“Iya, serius deh.”
“Terus kata Om Dion, Erland kalau besok udah gede harus bisa jagain Mama, bikin Mama senang, bahagia dan nggak nangis.”’
“Hm, pinter banget sih anak Mama?”
“Makasih ya, Ma. Pokoknya Erland janji sama Mama, Erland pasti bikin mama dan papa bangga kalau sudah besar. Nanti gantian Erland yang jagain, Mama. Erland nggak akan ninggalin Mama kalau udah besar.”
“Erland, sayang. Mama jadi terharu, kan Mama jadi nangis.”
“Mama jangan nangis, Erland nggak nakal kok.”
“Mama nangis bukan karena Erland nakal kok, tapi karena Erland udah jadi anak yang hebat. Jadi anak baik, yang selalu menghibur Mama.”’
“Tapi kok Mama nangis?”
“Nangis bahagia sayang, Mama bahagia memiliki anak yang bisa bikin Mamanya bangga.”
“Ma, jadi kalau menangis itu bukan berarti sedih ya? Orang senang dan bahagia bisa nangis juga?”
“Iya, jadi ada orang yang saking bahagia dan senangnya jadi nangis karena nggak kuat menahan rasa bahagianya.”
“Oh gitu ya, Ma. Jadi tadi waktu Erland pulang dari taman, Erland lihat Oma lagi habis nangis.”
“Oma nangis?”
“Iya, Ma. Waktu Erland tanya kenapa kok Oma nangis. Oma bilang nggak kenapa-napa. Mungkin Oma bahagia banget ya, Ma?”
“Iya, pasti itu. Oma tadi pasti lagi bahagia banget, jadi malah nangis deh.”
“Erland juga sering lihat Mama nangis di kamar.”
“Ih, kapan?”
“Sering kok, tapi Erland Cuma lihat dari pintu kamar. Terus Erland nggak berani mau masuk, takut Mama jadi sedih karena lagi nangis. Erland ikut sedih lihatnya, Ma.”
“Hm, harusnya Erland masuk aja biar Mama nggak nangis lagi. Sekarang Erland udah tahu kan, kalau orang yang sedang menangis itu nggak selalu karena sedih. Bisa karena saking bahagianya. Jadi Mama kalau lagi nangis bukan berarti Mama sedih. Erland nggak boleh ikut sedih makanya.”
“Oke, Ma, sekarang Erland udah tahu. Tapi Mama jangan sering-sering nangis dong, kalau ada apa-apa Mama bilang sama Erland. Pasti Erland bisa jagain Mama.”
“Oh.. anak hebat, anak pintar, mama senang banget ada Erland di hidup Mama. Mama sangat bersyukur sama Tuhan sudah dikaruniai anak yang luar biasa hebatnya. Jadi Mama nggak pernah sedih, Mama punya anak yang siap menghibur. Mama juga nggak pernah merasa takkut karena ada Erland yang selalu menemani Mama. Sayang, terima kasih ya sudah hadir dalam hidup Mama. Erland adalah matahari bagi hidup Mama yang selalu bersinar menerangi jalan Mama di sepanjang hari.”’
“Sama-sama Mama, Erland juga mau bilang terima kasih buat Mama.”
“Memangnya terima kasih buat apa?”
“Terima kasih karena Mama sudah jadi Mama yang hebat buat Erland, Mama selalu memenuhi apa yang Erland mau.”
“Oh, sama-sama sayang.”
“Mama janji ya sama Erland.”’
“Janji apa sayang?”
“Mama nggak boleh sedih meskipun sudah nggak ada papa disini, karena Erland yang akan jagain Mama nanti. Mama nggak boleh merasa sendiri karena Erland selalu menemani Mama. Dan Mama nggak boleh capek-capek, nanti kalau Erland sudah besar, Erland yang akan gantian cari uang buat Mama.”
“Makasih ya, sayang. Mama udah nggak bisa bilang apa-apa lagi. Erland udah bikin Mama bahagia, Mama percaya kelak Erland pasti jadi orang hebat kayak Papa yang selalu sayang sama Mama.”
“Iya, Ma. Erland janji.”
“Nah, sekarang Mama mau mandi dulu. Mama gerah banget, pengen mandi pakai air hangat. Nanti habis mandi kita makan bareng-bareng ya, terus kita main lagi. Oke anak ganteng?”
“Oke, Mama. Mandi yang bersih dan wangi kayak Erland ya, Ma!”
“Siap Bos. Sekarang sama Oma dulu, ya.”
Erland mengangguk, sedangkan Kayana bergegas masuk kamar. Sedetik ia membalikkan badan, matanya sudah tidak lagi bisa menahan tangis. Tangis itu pecah ketika sudah berada di kamar, mengeluarkan emosi hatinya, begitu menyentuh sekali pemikiran Erland yang masih sangat kecil. Begitu besarnya tekad Erland jika kelak dewasa. Ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh orang tuanya.