Aksa sudah tidak sabar melihat Kayana, wajah ayu itu membuat Aksa benar-benar terpesona. Ingin rasanya segera memiliki wajah dan tubuh itu, menjadi alasan untuknya bersemangat pulang ke rumah.
"Hei, perempuan cantikku. Aku seneng banget lihat kamu datang hari ini. Terima kasih ya sudah memenuhi undanganku. Ayo Kay, kita duduk disana."
"Saya tetap berada disini karena saya datang bukan untuk memenuhi undangan anda, tetapi saya datang untuk bekerja dengan Ferda dan teamnya, Tuan Aksa."
"Kay, jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Aku bukan tuanmu, ku mohon."
"Lalu apa? Anda adalah customer saya kan?"
"Tapi nggak harus tuan juga kan, Kay?"
"Tuan Aksa, sudah lah, anda nggak perlu mempeributkan hal sepele seperti ini. Atau saya pulang saat ini juga."
"Baik, baik, aku minta maaf. Kay, berbaiklah hati denganku kali ini saja, tetap disini sebagai tamu undanganku."
"Jika anda ingin saya tetap bersikap baik, maka diam lah. Jangan banyak mau dan jangan banyak menuntut saya. Anda paham?"
"Oke, tapi tolong, ikut aku duduk disana!" Aksa menunjukkan kursi VVIP di depan sana, dengan balutan kain yang mewah tentunya. Disana sudah duduk juga tamu-tamu undangan. Para rekan-rekan bisnisnya dan saudara Aksa.
Dan untuk menjaga sikap, Kayana tidak ingin banyak bicara demi menghindari perdebatan. Akhirnya ia dan Shasy berjalan ke arah yang ditunjukkan Aksa, meskipun sebenarnya ia sangat malas.
"Oke, saya bakalan duduk disana tapi tolong jangan banyak mau ya, Tuan."
"Baik, Kay. Terima kasih kerjasamanya."
Aksa mendahului, bahagia sekali ia hari ini. Duduk bersebelahan dengan Kayana dan melihat wajahnya yang ayu dengan jarak dekat.
"Kay, kamu cantik banget hari ini. Terima kasih ya karena kamu sudah hadir disini melengkapi hari spesialku. Suatu saat nanti kalau kamu sudah jadi nyonya Aksa, kamu yang akan membantuku mengelola Noe, Kay. Kelak kamu akan menjadi nyonya besar, dengan semua fasilitas yang kamu mau, pasti akan aku penuhi. Aku janji, Kay, akan menjadikanmu perempuan yang beruntung sudah mendampingiku."
"Anda ngomong apa sih? Jangan merusak mood saya pagi ini, semakin anda banyak bicara akan membuat saya semakin tidak nyaman."
"Kay, obrolan ringan kayak gini menurutku hal yang biasa. Bukankah perkataan itu adalah doa ya? Aku tengah berdoa untuk masa depan kita, ini yang aku rasakan. Apa dalam hati kamu tidak ada sedikit pun rasa untukku, Kay?”
“Anda nggak usah berlebihan, Tuan. Saya malas mendengar rayuan-rayuan anda ini.”
“Bukannya aku berlebihan, Kay. Wajar lah, aku sudah terlalu lama sendiri dan aku membutuhkan seorang wanita yang mau kujadikan istri. Yang akan menjadi obat lelahku setelah seharian bekerja. Menjadi ratu di rumahku dan juga ibu untuk anak-anakku kelak. Aku mau kamu, Kay. Ku mohon jadilah istriku.”
“Itu urusan anda, jika memang sudah terlalu lama sendiri mengapa tidak segera menikah saja sejak dulu?”
“Ya karena aku belum menemukan kamu, Kay. Karena itu, semenjak pertama bertemu denganmu, aku udah sangat yakin bahwa kamu adalah perempuan yang aku cari selama ini.”
“Fokuslah untuk acara anda hari ini, jangan terlalu banyak berharap ada apa-apa dengan kita. Selesai acara ini saya pastikan tidak akan ada lagi pertemuan-pertemuan berikutnya. Jika seandainya anda membutuhkan bunga atau apapun yang berhubungan dengan florist, anda tak perlu datang ke Red Flo. Saya justru khawatir itu akan membuat saya semakin membenci anda.”
“Nggak, Kay. Justru setelah ini hubungan kita akan membaik, kita akan saling bertemu dan membutuhkan. Bahkan barangkali kita akan jadi relasi kerja yang baik. Relasi yang spesial.”
“Cukup ya, Tuan.”
“Kay, kamu hanya belum terbiasa saja denganku. Nanti kalau kita sudah sering bertemu, kamu pasti akan mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan sekarang ini. Yakin lah, Kay. Buka hati kamu untukku.”
“Sekali lagi ada mengajak bicara tentang hal yang nggak penting dengan saya, saya pulang saat itu juga.”
“Oke, sabar dulu lah, Kay. Apa yang salah ketika aku megutarakan semua perasaanku, ini normal kan?”
Kayana diam, sesuai dengan keinginannya tadi. Ia ingin Aksa berhenti bicara saat ini juga. Saat ini pikirannya ada di rumah, memikirkan Erland yang tadi belum bangun ketika ia berangkat. Sedang semalaman ia juga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Badannya yang masih terasa lelah, kini membuatnya sedikit mengantuk.
Untung saja Shasy mau dengan setia menemani Kayana, sehingga ia tidak begitu merasa asing disana. Bagaimana ia tidak merasa demikian, tidak ada satu pun yang ia kenal dari tamu Aksa yang datang. Sedangkan rasanya pasti tidak nyaman berada di tempat yang belum ia hafal, tidak ada teman bahkan kenalan.
Sesekali Kayana melirik Shasy, ia tampak sibuk dengan ponselnya, senyum-senyum sendiri.
"Kamu lihat apa sih, Shas? Senyum-senyum sendiri dari tadi."
“Nggak lihat apa-apa kok, Bu. Cuma lagi chatingan aja.”
“Sama Briyan pasti?”
“He he, siapa lagi Bu Kay?”
“Dih, senengnya. Kenapa dia? Kangen ya?”
“Nggak, dia bilang kalau tahu ada acara begini mending ikut aja. Hm, dia mah maunya aja, Bu Kay. Enak banget mau ikut duduk-duduk santai.”
“Ya dia galau pasti nggak ada kamu di florist. Jadi nggak bisa lihat kamu yang jadi penyemangat kerjanya.”
“Ah, Bu Kay bisa aja, nggak tahu lah. Dia kadang bikin ketawa aja.”
“Tapi kamu suka kan?”
“Lucu aja, Bu Kay. “
“Itu yang namanya rasa bahagia, Shas, laki-laki akan mempunyai caranya sendiri untuk membuat pasangannya nyaman.”
“Briyan itu emang nggak romantis, tapi dia selalu bikin Shasy ketawa. Ada aja cara dia bikin suasana jadi asyik lagi.”
“Benar kan, apa yang saya bilang dulu, Shas, saya dukung kalian. Seneng banget lihat kalian pacaran, jadi kayak ada hiburan di florist.”
“Nggak nyangka sih padahal, selama ini kirain Briyan Cuma bercanda. Suka godain Shasy gitu, eh ternyata dia memang dasarnya begitu. Jadi susah bedain mana yang serius dan mana yang Cuma bercanda aja.”
“Tapi akhirnya kamu tahu kan, kalau dia serius sama kamu.”
“Iya, Bu Kay. Jadi kayak kejutan jadinya.”
Kayana lebih senang mengobrol dengan Shasy, ketimbang mendengarkan Aksa yang kebanyakan mengandai-andai, apalagi sangat berlebihan.
Tiba juga di inti acara, Aksa lalu berjalan menuju panggung megah yang sudah dibuat oleh team Ferda. Laki-laki itu terlihat begitu tampan memang, dengan memakai setelan jas warna navy dan kemeja dalam warna biru laut. Jam tangan terlihat sebagian dari lengan kiri, menambah kesan mewah pada dirinya.
Ia nampak mempersiapkan sambutannya. Hingga saat ia menyebut nama Kayana, yang disebut pun kaget. Apa-apaan ini?
“Hari ini bertambah spesial sekali bagi saya. Di acara saya yang sederhana ini, saya kedatangan tamu istimewa. Dia adalah perempuan yang saya cari-cari selama ini, perempuan manis, cantik dan memesona. Kemandiriannya membuat saya jatuh hati. Setelah sekian lama saya hidup sendiri, menjalani hari-hari tanpa seorang yang mendampingi. Kali ini saya ingin mengungkapkan perasaan saya pada perempuan itu. Dengan banyak yang menjadi saksi saya disini, saya ingin melamar dan tentunya dengan moment yang berharga ini. Dia cantik, suaranya yang merdu dan lembut, tidak pernah berkata kasar, keras dan begitu sopan menjaga kehormatan diri, mandiri dan tidak mudah menyerah menjalani hidup. Dia ibu yang hebat bagi putranya, yang sangat sayang keluarga dan bisa diandalkan. Perempuan itu adalah Kayana. Dia pemilik sebuah florist bernama Red Flo, seperti yang anda semua lihat disini. Semua bunga-bunga disini adalah bunga dari florist miliknya. Kayana, kali ini saya ingin lebih serius lagi padamu. Saya tidak main-main, Kay. Saya ingin menjadikanmu istriku. Menjadikanmu wanita istimewa dalam hidupku dan untuk yang terakhir kalinya. Kayana Evelin, aku tidak akan memaksamu untuk menjawab dan menerima cintaku saat ini juga. Aku ingin kamu tetap berada disini hingga dipenghujung acara. Lihatlah keseriusanku ini, rasakanlah cinta yang telah aku suguhkan ini. Sampai kamu tahu dan sadar, hingga akhirnya mau menerimaku menjadi suamimu. Baik lah, sekali lagi terima kasih saya ucapkan pada semua yang hadir di acara saya. Doakan agar usaha saya ini lancar dan sukses ke depannya.”
Aksa menuruni panggung diiringi tepuk tangan para tamu. Lega rasanya bisa mengungkapkan perasaannya pada Kayana di depan banyak orang. Dari banyak tamu yang hadir begitu kaget dan penasaran dengan pernyataan Aksa.
Kemudian para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia disana, stand demi stand sudah berjejer rapi.
Kayana semakin tidak mengerti apa maksud Aksa mengucapkan hal yang demikian di depan banyak orang. Apa yang dia katakan tadi seperti dibuat-buat dan jauh dari lubuk hati.
“Apa maksud anda mengatakan hal demikian?”
“Ya itulah perasaanku, Kay. Seperti yang sudah aku bilang tadi, kalau kamu memang belum siap untuk menerimaku, aku siap menunggu kok asal jangan terlalu lama. Aku beri kamu waktu untuk menerimaku, belajar mencintaiku dan menjadi istriku. Jadi jangan tergesa-gesa untuk menolak, Kay. Masih ada waktu untukmu berpikir ulang. Aku bakalan nunggu kabar baik dari jawaban yang aku tunggu.”
“Nggak usah GR, saya menolak anda dari kemarin karena saya yakin dengan jawaban saya bahwa saya tidak mau menerima anda. Tuan Aksa, coba anda jelaskan padaku, untuk apa anda mengatakan hal yang manis-manis tentang saya di depan orang banyak? Bilang kalau suara saya lembut dan tidak pernah keras, apa selama ini saya pernah melakukannya saat berbicara dengan anda? Tapi justru kebalikannya, saya tidak pernah berkata lembut dengan anda lho! Saya selalu berbicara keras jika sedang berbicara dengan anda. Kenapa anda suka mengada-ada, bilang saja sesuai dengan kenyataan, bahwa saya galak, judes, tidak pernah berbicara halus dengan anda.”
“Mana mungkin saya mengatakan hal seperti itu di depan relasi-relasi saya?”
“Lho, kenapa? Bukannya itu sebuah kenyataan? Apa masalahnya? Jujur itu baik, kok.”
“Kamu istimewa, sebisa mungkin kuperlakukan dengan istimewa, salah satunya memujimu dengan pujian-pujian yang baik meskipun kamu masih sering berkata keras dan galak denganku. Tetapi nggak masalah karena aku tahu suatu hari nanti kamu akan berubah menjadi perempuan lembut yang begitu mencintaiku jika nanti kamu sudah terbiasa dan sadar bahwa cintaku ini sangat besar untukmu. Jadi aku tidak rugi kok menujimu di depan mereka seperti tadi.”
“Dasar aneh, dengar ya Tuan Aksa. Saya ya saya, ini saya yang sebenarnya, bagaimana saya bersikap itu memang sudah sifat saya. Jadi saya tidak akan berubah, karena saya memang seperti ini. Anda tidak perlu banyak berharap karena saya tidak akan mudah berubah. Untuk apa anda menunggu saya yang seperti ini keadaannya. Di luar sana banyak perempuan yang baik dan bisa menjadi seseorang yang rela merubah dirinya hanya karena anda. Tapi tidak untuk saya. Karena saya akan menjadi diri saya sendiri. Jikalau ingin berubah baik itu bukan karena anda.”
“Bukan begitu maksudku, Kay. Bukannya aku ingin merubahmu jadi orang lain. Aku hanya bilang, suatu saat nanti sikapmu yang keras padaku akan berubah mejadi lembut jika memang sudah mengenaliku dengan baik dan terbiasa. Kamu akan mencintai aku karena terbiasa bertemu. Silahkan, aku tidak akan melarangmu apalagi menuntutmu menjadi yang aku inginkan. Cukup datang membawa senyuman, aku yakin kamu akan dengan mudah mencintaiku.”
“Saya pastikan bahwa kita tidak akan sering bertemu, saya akan menganggap bahwa kita tidak pernah bertemu dan semua urusan dengan anda akan saya hapus dari memori saya. Permisi, saya pamit.”
“Sabar dulu lah, Kay. Kamu bisa makan-makan dulu.”
“Tidak, saya harus pulang. Acara anda sudah selesai dan itu berarti pekerjaan saya juga sudah selesai. Lagi pula saya tidak punya nafsu makan disini. Saya juga sudah tidak nyaman berada disini, karena ulah anda banyak dari tamu anda yang melihat saya dengan tatapan yang aneh. Anda memang menyebalkan, Tuan Aksa."
"Itu karena mereka kagum denganmu, Kay. Mereka ikut bahagia karena akhirnya aku menemukanmu sekarang. Mereka kagum dengan kecantikanmu."
"Sudah lah, saya memang harus benar-benar pulang sekarang. Tapi sebelum pulang, saya akan berbicara dengan Ferda mengenai kerja sama ini. Dan untuk ke depannya, saya sudah tidak mau lagi menyediakan bunga untuk keperluan pribadi maupun hotel anda. Saya permisi, Tuan Aksa."
"Kamu benar-benar tidak mau makan dulu barang sedikitpun, Kay?"
"Terima kasih, sekali lagi saya tidak ingin makan di tempat anda."
"Baiklah, tidak masalah bagiku, Kay. Melihatmu datang kesini memenuhi undanganku saja, aku sudah sangat bahagia. Apalagi aku sudah mengungkapkan semua perasaanku padamu. Luar biasa sekali kebahagiaannya ini. Hati-hati di jalan ya, Kay dan mulai malam ini berpikirlah ulang tentang jawabanmu. Dan secepatnya beri jawaban IYA padaku."
Kayana lalu menarik tangan Shasy untuk segera meninggalkan Aksa tanpa menanggapi ucapan lelaki itu lagi. Dari kejauhan Ferda melihatnya dengan memasang wajah yang tersenyum lebar. Bagaimana tidak bahagia, sebentar lagi ia akan mendapatkan bonus cuma-cuma dari Aksa hasil membujuk Kayana untuk datang.
"Puas kan kamu, Fer? Melihat saya jadi bahan pendangan para tamu, apa jangan-jangan kamu dan Aksa memang sudah kerjasama? Ada hubungan apa sebenarnya kalian?"
"Mbak Kayana bilang apa sih? Dari kemarin saya sama sekali tidak tahu, malah saya yang heran kenapa Mbak Kay dan Pak Aksa sudah saling kenal."
"Tapi kenapa bisa kebetulan begini?"
"Mana saya tahu? Saya meminta Mbak Kay mendampingi karena hubungan kerjasama kita, bukan karena hal lain, Mbak. Bahkan dari awal saya juga nggak tahu kalau Pak Aksa menyukai Mbak Kay."
"Ternyata kamu dan Aksa sama saja, suka sekali berhobong. Fer, tolong setelah ini jika nanti ada acara di hotel ini dan kamu membutuhkan bunga, jangan libatkan saya lagi, saya tidak bisa bekerjasama dengan tidak nyaman seperti ini. Silahkan untuk mencari florist lain, Fer. Yang kwalitas bunganya lebih baik dari Red Flo, saya tidak mau ribut lagi ketika sedang bekerja."
"Terima kasih, Mbak Kayana. Terima kasih karena sudah datang dan menjadi relasi kami yang baik. Profesionalisme Mbak Kay tidak bisa diragukan lagi. Ternyata Mbak Kay benar-benar bisa memberikan yang terbaik untuk costumernya. Saya bangga dan senang bekerja sama dengan Red Flo. Berkat Mbak Kayana acara Pak Aksa berjalan sukses, banyak yang memuji dekorasi kami Mbak, itu juga berkat florist milik Mbak. Mbak, kualitas Red Flo memang sudah memuaskan. Pak Aksa senang sekali, malah sepertinya beliau ingin berlangganan dengan kami karena Mbak Kay."
"Jangan kamu ulangi lagi deh, Fer. Cukup kali ini saya menyediakan bunga untuk Aksa. Saya bisa menyiapkan segala sesuatunya yang istimewa untuk kalian tapi kalau berhubungan dengan Aksa, saya mundur. Saya udah nggak bisa, Fer."
"Kenapa sih, Mbak? Mau dengan Pak Aksa atau yang lain bukannya sama aja? Kita sama-sama bekerja, melayani pembeli dan cari uang. Dengan siapa pun kita harus memberikan yang terbaik kan? Itu salah satu bentuk profesionalitas kita. Dengan begitu orang akan mengenal baik produk kita dan tidak menutup kemungkinan kalau mereka akan memakai jasa kita lagi. Kan kita yang untung, Mbak."
"Ya, untung memang yang kita cari. Tapi kenyamanan dalam bekerja juga penting, Fer. Dan saya tidak nyaman bekerja dengan Aksa, orang yang selalu kamu anggap penting dan bukan orang biasa itu. Fer, tolong mengerti saya. Setelah ini jangan lagi paksa-paksa saya. Karena suatu saat nanti kalau kamu berada di posisi saya, kamu juga pasti tidak mau dipaksa seperti ini."
"Maaf Mbak, saya minta tolong ke Mbak Kay sampai memaksa juga karena pengecualian. Kalau bukan acara Pak Aksa, saya nggak bakalan seperti ini. Sekali lagi maaf ya, Mbak."
"Maafmu akan ada artinya jika diiringi dengan penyesalan, Fer. Kenyataannya adanya saya disini juga nggak ada gunanya kan? Aman-aman aja dari tadi."
"Saya cuma takut terjadi kayak kemarin, Mbak. Maaf ya."
"Sudah lah, Fer. Saya pamit ya, sudah selesai kan pekerjaan saya? Silahkan kamu tunggu sampai selesai. Saya pulang dulu."
"Baik, Mbak. Terima kasih, untuk pelunasannya akan segera kami transfer setelah ini."
"Ya, baik lah."
Tidak ingin berlama-lama lagi di tempat ini, Kayana sesegera mungkin mengajak Shasy untuk pulang. Sedari tadi, Shasy tidak banyak bicara. Ia hanya menjadi pendengar ketika Kayana berbincang dengan siapa pun. Ia paham bagaimana perasaan Kayana, membela diri dengan orang yang keras kepala dan egois adalah hal yang melelahkan. Apalagi tentang pekerjaan. Ingin rasanya bagi Shasy ikut membela Kayana, tapi ia bisa apa? Apalagi berdebat dengan Aksa, tidak akan ada gunanya. Ia pun hanya bisa menahan rasa kesalnya melihat hal itu. Dan sampai saat ini, Shasy hanya bisa diam. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk Kayana, dia tahu saat ini Kayana tidak butuh banyak nasihat. Apalagi Shasy tidak tahu harus mengucapkan kata apa untuk membuat perasaan Kayana menjadi lebih baik.
Ketika sudah hampir sampai tempat parkir mobil, ada dua orang perempuan dan laki-laki yang tersenyum pada Kayana. Ia balas senyum itu dengan sekilas, namun ternyata mereka seolah ingin mengajaknya ngobrol.
"Mbak Kayana ya?" sapa perempuan itu.
Kayana mengangguk, sebenarnya ia sudah lelah dan malas kali ini. Namun kalau tidak ditanggapi, ia takut terkesan sombong.
"Iya, Bu. Saya Kayana Eveline."
"Saya tempo hari sempat memesan buket di Red Flo."
"Oh ya? Wah, terima kasih banyak, Ibu. Silahkan untuk berkunjung lagi di florist kami. Bagaimana kesan pertama, Bu?"
"Wah, saya suka sekali buketnya dan teman yang saya kasih juga senang. Rangkaiannya bagus, bunga-bunga disana juga lengkap. Semoga semakin sukses floristnya ya, Mbak Kayana."
"Terima kasih banyak, Bu. Aamiin, doa yang sama juga untuk Ibu dan Bapak. Semoga tidak kapok dan berlangganan dengan kami."
"Pastinya Mbak, kita pasti bakalan datang lagi ke Red Flo. Ngomong-ngomong saya ikut senang tahu kalau Mbak Kayana dan Pak Aksa ternyata punya hubungan khusus. Semoga awet sampai ke pelaminan ya, Mbak."
"Maaf, Bu, saya dan Pak Aksa tidak mempunyai hubungan apa-apa."
"Ah Mbak Kayana ini bercanda. Jelas-jelas tadi Pak Aksa mengungkapkan hal yang sangat menggembirakan. Kenapa harus ditutup-tutupi lagi?"
"Serius, Bu. Memang seperti ini kenyataannya."
"Ya, meskipun begitu tapi semoga jadi awal yang baik ya. Mbak Kayana dan Pak Aksa bisa saling mengisi satu sama lain. Saya sudah cukup lama mengenal beliau, Mbak. Dia orang baik, pekerja keras, tanggungjawab dan pebisnis muda yang sudah tidak diragukan lagi kekayaannya. Kalian sangat cocok lho, Mbak."
"Maaf, saya tidak bisa banyak menjawab Bu."
"Nggak apa-apa, Mbak Kayana. Memang hubungan asmara itu sulit untuk dijelaskan, apalagi dengan orang yang baru dikenal. Dan juga menentukan pilihan itu tidak mudah. Semoga nanti segera ada jawaban ya, Mbak."
"Terima kasih, Bu. Mohon maaf saya buru-buru, ada pekerjaan lain yang sudah menunggu."
"Oh ya, silahkan Mbak Kayana."
"Saya duluan ya, Bu. Kami tunggu kedatangannya lagi di Red Flo."
"Baik, Mbak Kayana."
Lagi, lagi dan lagi. Semua tentang Aksa. Kayana terlihat begitu kesal hari ini. Dari masuk mobil sampai setengah perjalanan, belum ada obrolan satupun diantara Kayana dan Shasy. Kayana yang sibuk dengan dirinya sendiri, menahan emosi, melawan pikirannya dan mencoba menenangkan diri sendiri. Sedangkan Shasy sudah cukup bingung bagaimana mau memulai percakapa dengan bosnya. Gadis itu hanya bisa sesekali melirik Kayana yang juga tengah mengemudikan mobil. Andai saja ia bisa menggantikan Kayana mengemudikan mobil, mungkin perempuan itu bisa beristirahat barang sejenak.
"Seberapa hebatnya sih Aksa itu. Sampai banyak orang mengelu-elukan dia. Jelas-jelas sikap dia nggak baik sama saya, kok bisa-bisanya mereka bilang hal yang berbeda dengan kenyataan. Kesel banget rasanya, yang belum kenal juga ngapain ikut-ikutan aja. Kesel banget rasanya, Shas."
"Iya, Shasy tahu gimana kesalnya Bu Kay saat ini. Shasy juga minta maaf nggak bisa banyak bantu, Shasy ngerasa jadi orang yang nggak ada gunanya tadi. Cuma bisa diam dan jadi pendengar, padahal dalam hati kesel banget. Rasanya pengen marah, emosi dan pengen nonjok mereka satu-satu. Tapi kenyataannya Shasy cuma bisa diam kayak patung. Maafin ya, Bu Kay."
"Nggak apa-apa, Shas, kamu ada dan nemenin saya tadu udah sangat cukup membantu. Coba kalau tadi nggak ada kamu, udah pasti saya makin kesel lah. Mending ini, saya bisa meluapkan emosi sama kamu, kalau tadi saya sendiri kan nggak ada yang saya ajak ngobrol."
"Ya Shasy bisanya cuma nemenin aja, kalau pun Bu Kayana pengen cerita, Shasy juga cuma bisa jadi pendengar aja. Nggak bisa kasih solusi apalagi bikin Bu Kay tenang. Tapi setidaknya Bu Kay bisa lega karena udah cerita. Sabar yang banyak ya, Bu."
"Sebisanya, Shas. Moga aja saya bisa segera terlepas dari laki-laki menyebalkan itu. Capek, Shas, abis ini saya langsung pulang ke rumah ya. Tolong kamu handle semuanya di Florist."
"Siap. Udah tenang aja, Bu Kay silahkan istirahat dulu lah, main-main sama Erland di rumah. Nanti pasti langsung ilang capek dan keselnya. Bu Kay nggak usah mikirin florist dulu, yang penting jangan banyak pikiran, lupakan dulu sementara masalah hari ini. Takut sakit kepalanya malah kambuh. Nanti kalau ada apa-apa Shasy bilang ke Bu kay."
"Makasih ya, Shas, kamu emang bisa diandalkan. Ini kepala rasanya udah pening banget, pengen cepat-cepat rebahan."
Tidak mudah bagi Kayana untuk melupakan dan tidak memikirkan masalah hari ini.