"Tapi setidaknya untuk hari ini aja, Bu Kay. Agar Pak Aksa jera dan nggak ganggu lagi. Orang kayak Pak Aksa harus ada yang melawan, biar nggak semakin seenaknya."
"Saya sudah sering melawan,Shas, tapi apa hasilnya? Aksa memang sepertinya tahan banting deh. Dan dengan meminta tolong pada Mas Dion, apa itu namanya bukan memanfaatkan, Shas? Saya minta Mas Dion untuk datang menemani, tapi tujuannya hanya untuk membuat Aksa jera. Bukan karena saya ingin ia jadi pasangan saya di acara itu. Yang pada akhirnya nanti kita akan saling berpisah, melupakan hari ini yang penuh dengan kepura-puraan. Apa saya nggak semakin terkesan jadi orang jahat? Dan dari lubuk hati, saya juga sudah pasti tersiksa kan, bersama dengan Mas Dion hanya untuk sementara dan sandiwara. Saya nggak bisa melakukan itu, Shas. Itu sama aja dengan menyiksa diri sendiri."
"Tapi kan Pak Dion sudah tahu kalau Pak Aksa sering mengganggu kehidupan Bu Kay. Shasy pikir dia pasti paham dan mau bantu Mba Kay dari laki-laki jail itu. Kalau saja Pak Dion tahu tentang hal ini, dia pasti nggak bakalan tinggal diam. Bisa jadi tanpa Bu Kay minta untuk menemani, dia juga pasti udah punya inisiatif deh. Dengan senang hati menemani Bu Kau datang diacara ini."
"Saya sudah banyak merepotkan Mas Dion, jadi rasanya malu untuk meminta tolong lagi. Sudah nggak terhitung baiknya laki-laki itu, Shas. Sudah seperti malaikat baik bagi saya dan Erland. Sekarang saya sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupannya, Shas. Saya akan berusaha pelan-pelan untuk melupakan Mas Dion. Mengubur dalam-dalam perasaan saya selama ini. Meskipun rasanya sakit dan tidak mudah. Namun saya nggak ada pilihan lain."
"Kalau Shasy yang berada di posisi Bu Kay mungkin Shasy udah berontak. Tidak terima dengan keadaan yang sulit ini, Bu Kay selama ini sudah banyak mengalami hal yang menyakitkan, beban yang berat dan masalah yang bikin air mata terkuras. Sudah saatnya Bu Kay bahagia, tentunya dengan menjalin hubungan lagi dengan laki-laki baik seperti Pak Dion. Shasy yakin, dengannya hidupa Bu Kay akan bahagia."
"Pengen sih, Shas, berontak. Tapi buat apa? Berontak sama siapa juga? Tentang kebahagiaan, hal itu pasti akan datang nanti. Kita hanya bisa mengira-ira, Shas, kalau saja saya bisa terus bersama dengan Mas Dion, pasti nantinya hidup saya akan bahagia. Tapi apa kita sendiri bisa menjamin? Tidak selalu apa yang kita ingin dan bayangkan adalah yang terbaik untuk kita saat ini dan masa depan. Bisa jadi nanti akan ada masalah yang besar kalau saja saya dan Mas Dion tetap nekat melanjutkan hubungan ini."
"Maaf ya, Bu Kay, Shasy jadi malah ikut dalam masalah ini. Shasy cuma ikut nggak terima lihat keadaan Bu Kay seperti ini. Berat pasti ya, Bu, melupakan seseorang yang udah klik di hati. Sekarang malah datang laki-laki yang berbeda."
"Bukan berat lagi, Shas, udah bikin pening kepala. Pengennya kan istirahat dulu, pengen sembuhin luka dulu. Lha ini malah nambah-nambahin masalah aja, kayak gini banget ya, Shas, hidup saya."
"Karena memang Bu Kay orang hebat yang kuat dikasih ujian, kalau cuma kayak Shasy mah pasti udah ambruk lah. Shasy dihadapin sama dua laki-laki dengan masalah yang mereka bawa, masing-masing bikin menguras air mata."
"Kalau dilihat mungkin saya orang yang kuat ya, Shas, tapi kenyataannya nggak sekuat itu juga. Kadang kalau malam sendirian gitu langsung terasa banget. Lihat Erland sudah tidur nyenyak, menatap wajahnya yang lucu dan polos, yang seharusnya masih butuh banget kasih sayang dari papanya. Tapi dia udah nggak bisa dapat itu, cuma saya yang jadi tumpuhan dia sekarang, itu pun waktu saya banyak yang terbagi. Saya nggak bisa dua puluh empat jam membersamainya secara penuh. Itu yang bikin saya sedih banget, Shas. Kemarin baru aja seneng ada Mas Dion, sekarang dia harus terbiasa tanpa omnya. Nggak tega lihatnya, Shas."
"Uuuu... Bu Kay, Shasy jadi berkaca-kaca ini, pengen nangis. Anak sekecil dia ujiannya udah berat kayak gini ya, Bu. Makanya Shasy sayang banget sama Erland, dia punya tempat spesial di hati Shasy."
"Makasih ya, Shas, kamu udah sayang sama Erland. Saya bersyukur banyak yang sayang dan peduli sama dia, meskipun ada juga yang nggak suka."
"Shasy heran deh, kok ada sih orang yang tega bersikap kayak gitu sama Erland. Padahal orang asing yang baru saja kenal sama Erland bisa dengan mudah sayang sama dia. Ini kok bisa-bisanya nggak ada simpatinya sama anak selucu dia. Padahal bukannya dia itu termasuk keluarga Bu Kay ya?"
"Maksudnya siapa? Tante Mei?"
"Iya lah, siapa lagi Bu?"
"Ya namanya juga orang banyak, Shas. Sifat dan sikapnya beda-beda, ada yang punya rasa simpati dan empati, ada juga yang sama sekali nggak punya. Ada yang dianugerahi rasa sayang, ada yang benci. Kita nggak bisa memaksakan semua orang untuk suka dengan kita kan? Mereka mempunyai sudut pandang masing-masing yang membuat mereka memiliki anggapan dan pendapat yang berbeda."
Tidak terasa, mereka sudah sampai di hotel Noe. Tempat parkir disana sudah dipenuhi dengan deretan mobil mewah. Tamu-tamu sudah berlalu lalang datang, terlihat begitu ramai. Dekorasi dari luar pun sudah sangat apik terpasang. Apalagi di dalam. Ada kebanggaan tersendiri dalam diri Kayana, melihat macam-macam bunga terpasang cantik dimana-mana, yaitu dari florist miliknya. Senyum manis tergambar, tidak menyangka usaha floristnya kini semakin banyak dikenal orang dan dipakai dalam segala acara.
Pagi ini dress abu-abu dengan sedikit mote di bagian lengan, membuat penampilan Kayana begitu memesona. Tas kecil berwarna hitam tergantung di lengan kiri. Meskipun terasa begitu malas, Kayana keluar mobil, disusul Shasy dari samping kemudi. Berjalan dengan santai berdua menuju ke dalam. Sebenarnya sedari tadi ia sedikit terganggu dengan ponsel yang bergetar dari dalam tasnya. Namun sengaja tidak ia angkat, karena sudah pasti Ferda yang memanggil.
Di dalam sana, Aksa sudah cemas menunggu kedatangan Kayana. Sebentar-sebentar ia melihat ke arah Ferda, menanyakan kejelasannya. Aksa sudah sangat berharap bahwa Kayana bisa datang di acara pentingnya. Menjadi tamu paling spesial dan di acara sambutan nanti, akan ia umumkan bahwa ia begitu mencintai Kayana. Rencananya di depan banyak para tamu yang datang, Aksa ingin melamar perempuan berwajah ayu itu. Mengungkapkan perasaan yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Ketika ia ingin menghampiri Ferda, terlihat Kayana sudah berada di depan pintu, terlihat ayu dengan make up yang hanya sederhana. Saat itu juga, Aksa seperti melihat bidadari yang cantik, senyumnya begitu puas melihat seseorang yang ia tunggu pun datang juga. Ferda yang juga melihat kedatangan Kayana, tersenyum lega. Rasa khawatirnya hilang begitu saja. Selain ia merasa semakin percaya diri dengan hasil dekorasinya, adanya Kayana akan sangat membantu memperlancar acara. Juga karena permintaan Aksa kemarin, yang begitu menginginkan Kayana hadir dalam acara grand opening hotel Noe. Untungnya berlipat, Aksa sudah janji akan memberinya bonus kalau Kayana benar-benar bisa hadir disana. Itu yang membuatnya semakin ngotot meminta pada Kayana agar wajib datang.
Uang memang selalu menjadi alasan untuk seseorang dalam bertindak. Mendengar tawaran Aksa kemarin, Ferda dengan sangat antusias membujuk Kayana. Dan benar, Kayana akhirnya bersedia datang memenuhi permintaan Ferda.
Aksa pun berjalan mendekati Kayana yang saat itu enggan duduk pada kursi yang sudah tersedia.