Bersamaan dengan selesai membaca pesan dari Dion, sebuah panggilan dari Ferda masuk. Kayana menghela napas, bersiap untuk mendengar permintaan Ferda yang ia sendiri sudah tahu, pasti tentang acara hari ini. Sebenarnya enggan sekali, tapi kalau seandainya panggilan itu tidak ia angkat, Ferda pasti akan berkali-kali kembali memanggilnya.
"Halo, Fer."
"Halo, Mbak. Jangan lupa untuk acara hari ini ya, Mbak. Kami tunggu di hotel, kalau bisa sebelum acara Mbak Kayana sudah sampai disini ya."
"Saya nggak janji bisa datang lebih awal. Masih banyak pekerjaan di florist yang harus saya kerjakan dulu, juga harus saya pastikan karyawan saya bisa saya tinggal."
"Baik lah, Mbak Kay. Tapi yang jelas, Mbak Kay bisa datang kan?"
"Semoga, kalau nanti florist bisa saya tinggal ya mungkin saya datang. Tapi kalau memang florist butuh saya, maaf, saya tetap mewakilkan Shasy kesana."
"Tolong usahakan lah, Mbak. Kemarin kita sudah negosiasi lho, dan Mbak Kay kelihatan setuju dengan permintaan kami."
"Udah, Fer. Saya capek debat terus dari kemarin. Dengar ya, sudah saya jelaskan tadi. Tunggu aja nanti gimana, saya datang atau nggak. Kamu nggak bisa seenaknya memaksa yang bukan menjadi kehendaknya. Jangan egois hanya untuk kepentinganmu saja."
"Baik lah, Mbak. Yang jelas besar harapan kami Mbak Kay bisa datang."
"Ya, kita lihat nanti aja. Sudah ya, saya nggak mau menghabiskan waktu untuk hal-hal yang percuma. Masih pagi juga udah bikin mood saya jelek. Selesaikan urusanmu, saya juga harus mulai buka florist dulu."
Tanpa menunggu jawaban dari Ferda, panggilan sengaja ia putus. Kali ini Kayana hanya ingin mengurangi perdebatan yang tidak ada gunanya.
Kayana bangun dari tidurnya. Berjalan ke arah jendela, membuka gorden polos yang menutup jendela kaca kamarnya. Memperlancar cahaya matahari pagi yang menghangatkan, tanpa ia halangi untuk masuk ke dalam kamar tidurnya. Hingga menyapa tubuhnya yang kala itu masih memakai baju tidur. Setiap pagi, ia selalu berharap ada keajaiban yang datang pada hidupnya, menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin.
Datang ke hotel Noe bukanlah hal ia mau, tetapi jika tidak datang ia hanya akan mendapat teror dari Ferda. Rencananya setelah semua pekerjaan di florist bisa ditinggal, Kayana akan mengajak Shasy untuk menemaninya datang ke hotel. Shasy sempat menolak, karena melihat bagaimana perdebatan kemarin sudah membuatnya malas. Tetapi bagaimana pun, apa yang sudah Kayana perintahkan mau tidak mau harus ia lakukan.
"Bu Kay yakin mau datang?" tegasnya lagi pada Kayana ketika mereka sudah bersiap di dalam mobil.
"Nggak ada pilihan lain, Shas. Kalau kita nggak datang, sudah saya pastikan bakalan ada teror sepanjang hari. Ferda bisa saja melakukan hal yang konyol dan membuat kesan florist kita kurang baik."
"Kok ada sih team EO kayak Ferda? Menjengkelkan sekali, mentang-mentang kita udah terikat kontrak sama mereka. Mereka jadi seenaknya aja minta hal yang nggak masuk akal kayak gini."
"Nanti setelah kontrak ini habis, saya sudah memutuskan untuk tidak lagi memperpanjang, Shas. Berurusan dengan Ferda ternyata tidak semenarik yang kita bayangkan dulu."
"Benar, Bu Kay, ribet berurusan sama Ferda. Banyak maunya. Bu Kay, jangan-jangan ini cuma permainan Ferda sama Pak Aksa!"
"Kalau menurut saya sih kayaknya nggak mungkin deh, Shas."
"Kenapa nggak mungkin, Bu?"
"Aksa dan Ferda kemarin kelihatan kaget semua lho. Aksa yang kaget saat saya datang sebelum acara, dia nggak tahu kalau Ferda memakai bunga dari florist kita. Dia kira saya datang pada hari yang salah. Sedangkan Ferda terkesan malu banget, Shas, saat dia tahu kalau saya dan Aksa sudah saling mengenal."
"Malu?"
"Iya, mungkin dia malu sudah berdebat lama dengan saya. Memperdebatkan hal yang menurut saya nggak penting. Dia mengelu-elukan Noe dan pemiliknya. Dia bilang Aksa sangat berperan penting untuk EO nya selama ini. Laki-laki yang tidak biasa, orang terpandang lah, apa lah. Nggak ingat lagi saya. Dan setelah ia tahu, ternyata saya sudah mengenal Aksa, ia jadi kayak kerupuk diinjak tahu gak?"
"Ha ha ha, ada-ada aja. Rasain lo ah"
"Lucu kan?"
"Iya, Bu Kay. Tapi mungkin nggak sih setelahnya mereka jadi kompromi untuk hari ini?"
"Entah lah, yang jelas kita nggak ada pilihan lain selain datang kali ini."
"Aneh ya Bu, kalau dipikir-pikir. Untuk apa coba kita harus repot-repot mendampingi mereka. Kan cuma buang-buang waktu, padahal florist lagi rame banget."
"Iya dan nanti kemungkinan kita nggak bakalan ngapa-ngapain sih, kan persiapan mereka juga sudah sempurna. Paling juga nanti kita cuma duduk santai aja sih."
"Iya Bu Kay, dan kita ninggalin team kita yang sibuk hanya untuk menemani Ferda. Ngeselin kan? Kasihan juga sama anak-anak, Shasy cuma takut aja kalau mereka keteteran Bu."
"Hm, apa boleh buat Shas. Pokoknya nanti sekiranya aman dan nggak ada hal yang kira-kira mengkhawatirkan, kita langsung pulang aja. Saya juga nggak mau kelamaan lihat wajah Aksa."
"Nah iya, Bu Kay. Bu Kay harus siapin mental dari sekarang karena Pak Aksa nanti pasti udah banyak tingkah lihat Bu Kay datang. Shasy sih udah bisa ngebayangin gimana raut wajahnya nanti, pasti sudah mirip dengan orang yang tiba-tiba dapat berlian jatuh."
"Hm, yang jelas saya nggak mau banyak berdebat nanti. Karena hanya akan mempermalukan diri sendiri. Karena berdebat dan membela diri di depan Aksa adalah hal yang sia-sia."
"Kayaknya Pak Aksa udah nggak mempan deh kalau dikasih penjelasan apa pun dari Bu Kay. Atau justru bagi Pak Aksa, semua yang ia mau dan yakini pasti yang paling benar. Jadi dia nggak butuh penjelasan dari siapa pun."
"Ya, mungkin begitu, Shas. Kita juga nggak tahu kenapa sifat dia keras kepala kayak gitu."
"Kepala batu ya, Bu Kay. Bu, kenapa sih nggak coba ajak Pak dokter aja. Minta ditemenin ke acara ini. Dengan gini kan Pak Aksa nggak bakalan berani ganggu Bu Kay."
"Shas, ada banyak hal yang bikin saya nggak bisa lagi apa-apa tergantung sama Mas Dion. Kamu sudah tahu sendiri kan keadaannya sekarang gimana? Kalau saya masih terus minta bantuan ke dia, itu sama aja saya nggak punya pendirian. Mas Dion dan saya bakalan sulit untuk saling melupakan, Shas. Ada terbesit dalam hati saya untuk lakukan hal itu, setidaknya dengan adanya Mas Dion pasti jadi lebih baik. Akan ada orang yang melindungi saya dari Aksa pastinya. Tapi bagaimana nanti, perasaan kita akan semakin kacau kan? Semakin kita masih aja ketemu, kita akan semakin tersiksa dengan perasaan kita masing-masing. Memaksa untuk bertahan padahal sudah jelas kita nggak bisa bersatu."