Cahaya matahari pagi masuk melalui celah-celah jendela yang sepertinya lupa tidak ditutup dengan sempurna, rasanya enggan bagi Kayana untuk bangun lebih awal. Rasa lelah dan pusing yang mendominasi dirinya semalam membuatnya malas untuk menyibakkan selimut yang rapi membungkus tubuhnya. Ada rasa heran juga kenapa alarm di ponselnya tidak berdering, atau memang karena begitu lelapnya sehingga ia tidak mendengar suara itu.
Ponsel di meja tidur sampingnya pun ia raih, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Ketika dengan sadar ia mencoba membuka kunci pada layar ponselnya, ternyata ponselnya mati. Ia baru ingat bahwa sejak semalam ponselnya memang sengaja ia matikan, agar tidak ada seorang pun yang dapat menghubunginya malam itu. Ia butuh mengistirahatkan hati, pikiran dan fisiknya setelah kejadian yang melelahkan kemarin.
Ada banyak pesan yang masuk dan panggilan yang tidak terjawab. Sebagian dari beberapa nomor baru yang menanyakan tentang buket, dan sisanya dari orang-orang yang memang menjadi daftar kontak yang sering ia hubungi, termasuk Dion dan Riyu. Dion adalah orang yang paling rajin mengirimkan pesan padanya, meskipun tidak selalu ia balas, namun ia tetap tidak mau melewatkan waktunya tanpa singgah di menu aplikasi hijaunya.
Seperti yang sudah ia baca, ada puluhan pesan yang masuk darinya semalam, terakhir ia menanyakan keberadaan Kayana yang tiba-tiba nomornya tidak aktif. Dion dengan jelas mengungkapkan kekhawatirannya, bisa Kayana rasakan dalam hatinya bahwa ia benar-benar merasa nyaman dengan sikap dan perhatian Dion. Namun semakin ia mendapatkan perlakuan itu, semakin sakit pula rasanya dan itu cukup membuatnya kesusahan untuk membuang jauh rasa cintanya.
Kayana sadar, cintanya dengan Dion tidak mungkin bisa bersatu maka dari itu ia memilih untuk melewati pesan-pesan itu setelah selesai membaca kemudian melarang jari-jarinya untuk memberikannya balasan. Akhir-akhir ini Dion lebih sering mengirimkan kata-kata indah, sebuah ungkapan perasaannya yang tertulis begitu rapi, dengan bahasa yang ringan namun begitu mengena di hati. Dari sana, Kayana bisa merasakan cinta Dion yang begitu besar. Tidak ada yang bisa Kayana lakukan sejauh ini, dalam benaknya Dion adalah seseorang yang sama sekali tidak pantas ia sakiti.
Dengan semua hal baik yang sudah ia lakukan untuk Kayana, tidak seharusnya terbalas dengan sebuah penolakan. Bukan itu yang Kayana mau, membuatnya terluka bukanlah keinginannya. Semua berjalan berlawanan hingga menjadikan tujuan tidak dapat bertemu pada satu titik. Sebenarnya sayang bagi Kayana untuk mengabaikan pesan yang isinya sangat menyentuh, membuatnya nyaris menghabiskan air mata. Kira-kira begini isinya.
Kayana, kerinduan yang aku rasa selama ini terjawab sudah ketika aku menemukanmu. Kala itu keadaanmu membuatku menangis, hingga kini kulihat garis senyum yang sudah menandai kebahagiaanmu. Kehadiranmu dalam hidupku membuat semuanya menjadi indah. Setelah sekian lama ruang rinduku begitu hampa, namun semenjak ada kamu dihidupku, ruang itu terasa penuh oleh bayanganmu. Tak tersisa barang sejengkal pun. Ruang rindu itu mutlak milikmu, Kay dan tidak akan pernah terisi oleh nama lain selain kamu. Meski jutaan ragu menyiksaku untuk menggantikan rasa itu pergi. Namun rindu memilih untuk tetap tinggal, dengan keadaan yang baik dan harapan yang masih akan tetap hidup.
Aku tidak bisa apa-apa, Kay. Hanya bisa membiarkannya tetap tumbuh meski tidak pernah tersiram oleh pemiliknya, yaitu kamu. Ya, kamu hiraukan begitu saja cinta yang telah kamu jatuhkan pada hatiku. Sempat kamu lihat sebentar lalu kamu pergi tanpa berniat untuk membawanya. Anehnya ia tetap tegak berdiri, berani menanti sebuah hal yang belum pasti. Padahal kepergianmu sudah memberikan arti bahwa mustahil jika ia akan kamu ikut sertakan. Pernah ada ombak, namun ia masih mampu untuk tidak goyah. Sedangkan hujan hampir setiap waktu membasahinya, lagi-lagi ia tidak peduli. Sebab dalam keyakinannya pasti akan ada pelangi yang kemudian muncul setelahnya. Walaupun belum ia tahu dengan pasti kapan akan terganti.
Aku yakin kau tahu dan harusnya kau hafal sudah, apa saja perkataanku yang selalu kuulangi dengan nada yang sama. Kamu adalah doa yang selalu aku pintakan pada Tuhan, dalam penutup dan akhir dari untaian harapan-harapan indah. Yang sampai detik ini masih aku perjuangkan. Aku tahu, sesuatu yang mahal tidak semudah itu bisa kita miliki. Harus dengan usaha yang kuat agar mampu menggapainya. Kumohon tetaplah disana, di tempat tersembunyi dan hanya aku yang tahu, yang nantinya bisa kudatangi. Tidak masalah bagiku bagaimana lelahnya nanti, karena suatu saat nanti lelahku akan berubah menjadi sebuah senyuman kepuasan. Dan akan menjadi catatan bahwa aku pernah memperjuangkanmu.
Apakah akan menjamin cintaku dan cintamu bersatu? Tidak, memang dalam sebuah cinta tidak ada sebuah jaminan bersama, namun setidaknya jika nanti masa depan bertanya bagaimana aku bisa bertahan dalam masa lalu yang keras. Akan aku jawab bahwa mudah bagiku melewati semuanya hanya dengan mengingat namamu saja.
Kamu adalah berlian yang sungguh begitu menawan dengan mahar yang amat mahal. Sering aku menggambarkanmu seperti itu dan kenyataannya aku salah. Tepatnya adalah jauh lebih indah dari pada berlian, tidak ada yang setara di dunia ini untuk menggambarkanmu.
Aku sering merasa kesepian dan dengan cara mengingatmu, hatiku kembali riuh, berteriak memanggil namamu. Ketika semua terasa gelap, senyummu bagaikan lentera, hingga dapat membantuku melewatinya.
Kayana, ketika kamu memutuskan untuk meninggalkanku, aku sempat pula ingin pergi menjauh. Membuang semua kenangan indah saat berada di dekatmu. Namun semuanya gagal, apa kau tahu sesuatu apa yang menghalanginya? Sesuatu itu adalah senyummu. Dan akhirnya aku hanya bisa menyerah, diam dan bertahan di tempat yang sama, rasa yang sama dan harapan yang sama.
Kali ini harus aku katakan dengan jujur, Kay, hatiku terluka, hancur dan pecah berkeping-keping. Namun kamu tenang saja, bukan kamu yang membuatnya menjadi berantakan seperti itu. Sebuah alasan yang bagiku bisa kulewati, namun bagimu tidak mungkin bisa menapakinya. Lalu bagaimana semua akan selaras? Jika keyakinan dan harapan yang seharusnya menjadi modal pun berbeda.
Kay, hatiku hampa semenjak kamu berubah. Kini tidak ada lagi senyuman yang bisa kulihat dan kunikmati setiap hari sebagai obat lelahku. Dulu begitu mudah bagiku mendapatkan senyuman itu, namun sekarang hanya bisa kulihat bayanganmu. Bayangan yang justru tidak akan membohongi diriku, ia masih seperti kamu yang dulu. Penuh senyum manis, manja dan renyah. Begitulah kamu yang dulu. Namun Kayana yang aku lihat sekarang terlihat berbeda, lebih banyak diam dan gemar sekali mematahkan harapan. Rasanya ingin berulang kali melihat Kayanaku yang dulu, sebab Kayana yang sekarang penuh dengan luka. Yang sejatinya ingin aku sembuhkan dan kugantikan dengan senyum serta harapan. Sampai tidak ada lagi luka yang berani singgah.