"Iya, Mbak. Kami harap Mbak Kayana sampai besok tetap stay disini. Kami butuh Mbak Kayana untuk memperlancar acara besok."
"Fer, tapi untuk apa? Saya juga sudah sangat sering bekerjasama dengan banyak event organizer dan mereka bisa-bisa aja kok bekerja tanpa saya. Bukankah tugas saya hanya menyediakan bunga-bunga yang kalian perlukan? Hanya sebatas itu kan?"
"Ya, mungkin memang benar tapi bagaimana kalau nanti ditengah-tengah acara ada yang kurang bahkan rusak seperti tadi, Mbak? Siapa yang akan bertanggung jawab kalau bukan Mbak Kayana sendiri."
"Ya tapi saya juga nggak harus memantau disini kan? Kalian bisa kok langsung telepon saya kalau ada apa-apa, saya bakalan siaga di florist atau nanti biar team saya yang mendampingi kalian disini. Cukup kan? Yang penting ada yang disini dan nggak harus saya juga kan."
"Kami maunya Mbak Kayana langsung yang mendampingi kami, lagian belum tentu juga kan kalau karyawan Mbak paham keinginan kami bagaimana. Ribet, Mbak, koordinasinya kalau cuma lewat mereka yang ujungnya juga harus tanya-tanya dulu sama Mbak. Ingat kan kalau kita sudah tanda tangan kontrak bulan lalu, Mbak? Kami punya hak lho dapat pelayanan yang baik dari Red Flo."
"Iya, tapi dalam perjanjian nggak ada pernyataan seperti itu kan? Lagian selama ini selalu aman-aman saja kok, bunga dari saya selalu fresh. Kejadian barusan itu karena kecelakaan, Fer."
"Memang tidak ada perjanjiannya, tapi apa ini nggak bisa Mbak Kayana jadikan salah satu bentuk pelayanan terbaik dari Red Flo? Mbak Kayana juga bakalan untung kok dari ini, karena nanti pasti banyak orang-orang yang akan mengenal Red Flo. Karena tahu bagaimana kualitas dan pelayanan dari florist yang Mbak "
"Ferda, mohon kerjasamanya, kita sama-sama punya kewajiban dipekerjaan. Pekerjaan saya juga bukan hanya dengan event organizer kalian saja. Masih banyak yang harus saya kerjakan dan pikirkan di florist, ada beberapa pekerjaan yang kalau saya tinggal belum tentu karyawan saya bisa mengerjakannya. Apa tidak bisa saya nego, Fer? Ayolah, biar semua sama-sama jalan dan selesai."
"Ya kami kan juga perlu diprioritaskan, Mbak. Hanya untuk kali ini saja kok."
"Fer, gini ya. Saya sudah menyediakan apa yang kalian butuhkan, untuk dekorasi juga kalian sudah hampir selesai kan sore ini juga? Sedangkan untuk acara besok semua sudah rapi pastinya, lalu apa gunanya saya disini, untuk apa? Yakin deh, semua pasti berjalan dengan lancar. Sedangkan bagaimana florist saya besok kalau saya tinggal kesini? Biasanya juga saya nggak perlu memdampingi kalian di event-event yang sudah berjalan kemarin."
"Mbak, sudah saya katakan tadi kalau pemilik hotel ini bukan orang biasa. Saya sudah menjadi langganan beliau dari dulu, jadi saya hanya ini memberikan yang terbaik dihari berharganya beliau. Jadi tolong Mbak Kayana paham maksud saya."
"Seberapa hebatnya sih owner dari hotel ini? Sampai bisa membuat kalian berubah jadi team paling ribet yang pernah saya tahu."
"Mbak, bukannya kami ribet tapi kami hanya minta tolong ke Mbak agar acara besok berjalan sempurna. Itu aja, Mbak."
"Heran saya jadinya. Kalau kayak gini caranya saya jadi nggak bisa jalan semuanya, Fer. Kasihan juga karyawan saya di florist hanya karena harus menemani kalian.”
“Please, Mbak. Untuk kali ini bantu kami.”
“Aku dan Shasy sama aja, Fer. Dia sudah cukup bisa diandalkan. Dia sudah sering menghandle pekerjaan saya di luar. Dia pasti bisa kok mendampingi kalian disini.”
“Kalau begitu kenapa bukan Shasy saja yang tetap ada di florist besok? Kan dia juga pasti bisa Mbak, kami mohon.”
Kayana menyerah, diam seketika dan malas untuk berdebat lagi. Baru ia sadari akhir-akhir ini ia tengah dikelilingi dengan orang-orang yang egois, yang suka memaksakan kehendaknya. Ia berdecak kesal, menghadapi situasi seperti ini hanya akan membuatnya semakin pusing.
Dan hal yang ia tidak inginkan pun terjadi, Aksa perlahan menghampiri Kayana dan Ferda. Aksa yang terlihat begitu kaget pun tidak tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan waktu istimewa itu. Dengan mengenakan kaos berkerah warna navy, tetap membuat lelaki itu terlihat tampan layaknya eksekutif muda. Memang tidak kalah menarik secara fisik jika disandingkan dengan Dion. Tapi sifat dan waktaknya yang membuat Kayana tidak begitu suka dengannya.
Senyumnya terkembang, seperti mendapatkan berlian ketika tahu Kayana berada disana. Melihat matanya yang tajam dan bibirnya yang berlapis lipstik warna nude, membuat pikiran Aksa jauh melayang. Membayangkan jika apa yang Kayana miliki dapat dia nikmati seutuhnya. Ia semakin mendekat dan semakin terlihat jelas pula apa yang baru saja ia bayangkan. Kayana memang memiliki nilai plus bahkan berlebih di hati, mata dan pikiran Aksa. Dan lama-lama rasa candu pun menguasai dirinya.
“Kay, kamu disini? Acaranya kan baru besok? Apa kamu salah baca undangannya?” Aksa tersenyum lebar, mendekati Kayana yang justru tidak nyaman berada disini. Ferda kebingungan, sepertinya heran dengan nada bicara Aksa yang terdengar akrab menyapa rekan kerjasamanya. Ada hubungan apa diantara mereka berdua?
“Anda nggak usah GR, saya kerja disini. Jadi tidak ada hubungannya dengan undangan yang anda kasih ke saya kemarin.”
“Iya kah? Coba jelaskan, Ferda! Sejelas-jelasnya.”
“Oh, maaf, Pak,” Ferda terlihat gugup, “event organizer kami memang bekerja sama dengan florist Mbak Kayana. Jadi memang, kami meminta Mbak Kayana untuk mendampingi kami, karena kami takut ada yang kurang sampai acara besok.”
“Oh jadi begitu, kok bisa kebetulan begini ya? Kay, kamu kemarin kenapa nggak bilang kalau bunga-bunga dari florist kamu yang bakalan dipakai sama Ferda di acaraku besok? Apa kamu memang sengaja mau bikin kejutan sama aku?”
“Maaf, Pak Aksa, saya permisi dulu, mari Mbak Kayana.”
Ferda pun membalikkan badan, berniat untuk meninggalkan mereka. Ada rasa tidak enak pada Kayana, karena susah sempat berdebat dengannya. Dan ternyata Aksa sudah mengenal Kayana, mengenal baik bahkan. Ada rasa khawatir kalau saja Kayana mengadu tentang perdebatan tadi pada Aksa. Bisa-bisa Aksa sudah tidak mau lagi memakin EO nya disetiap acara-acaranya.
“Oke, Fer, tapi sebelum kamu pergi, aku perlu memberi tahu kamu sesuatu. Tolong bersikap baiklah pada Kayana, dia orang yang paling spesial untuk saya. Bekerjasamalah yang baik dengannya.”
“Baik, Pak Aksa. Mohon maaf jika tadi saya bersikap kurang baik dengan Mbak Kayana. Saya permisi ya, Pak, Mbak.”
Ferda buru-buru untuk pergi, merasa malu dan tidak enak hati dengan Kayana.
“Kay, jadi kenapa kemarin waktu aku kasih undangan itu, kamu nggak mau bilang kalau memang kamu bakalan kesini? Jadi aku tidak perlu lagi merayumu untuk bisa datang kesini.”
“Memangnya harus ya? Peduli apa saya?”
“Kamu memang mau kasih kejutan sama aku ya? Kayana, Kayana, dunia memang begitu sempit ya? Ternyata ada aja cara untuk bertemu dengan kamu. Semoga memang benar kamu jodohku, Kay.”
“Hei, Tuan Aksa, kayaknya anda memang harus belajar tentang arti dari setiap ucapan yang keluar dari mulut saya. Saya disini karena kerja, itu juga karena darurat, kalau tidak mana mungkin saya kesini. Apalagi saya tahu kalau anda yang memakai jasa even organizer dari Ferda, tadinya saya memang tidak ada niat satu pun untuk kesini. Jadi jangan harap saya kesini karena memenuhi undangan anda, apalagi ingin memberi kejutan. Sama sekali tidak pernah terbesit dalam diri saya.”
“Kay, Kay, kenapa sih kamu sebegitu bencinya sama aku? Awas lho, nanti berbalik jadi cinta. Benci dan cinta itu beda tipis, tipis banget.”
“Nggak akan, ingat kata-kata itu, tuan Aksa.”
“Jangan begitu, kamu nggak akan tahu lho bagaimana akhirnya nanti, siapa tahu nanti kamu memang jodohku. Dan kita akan hidup menua bersama dengan anak-anak kita, bahagia dan melewati hari-hari tua dengan penuh cinta.”
“Anda jangan kebanyakan berkhayal deh, saya malas dengarnya. Dan tolong ya, anda nggak usah bilang ke orang-orang tentang saya. Apa maksud anda bilang ke Ferda tadi, pakai bilang kalau saya adalah orang spesial segala.”
“Kamu jangan berlagak nggak paham maksudku lah, Kay. Sudah jelas kan kalau kamu adalah perempuan spesial dalam hidupku? Aku ini serius bilang begitu ke Ferda biar dia tahu dan dia bisa bersikap baik denganmu, biar banyak orang yang tahu bahwa aku ingin menikahimu, kalau pun seandainya kamu sudah siap, sekarang juga aku berani. Gimana?”
“Dasar orang gila. Maaf tuan, saya nggak perlu pembelaan dari anda agar Ferda bersikap baik dengan saya, atau biar orang-orang menghargai saya berkat anda. Saya nggak butuh hal itu.”
“Iya, Kay, aku memang tergila-gila padamu. Terserah kamu mau anggap aku apa, tapi yang jelas aku benar-benar ingin memiliki kamu seutuhnya dan bagaimana pun caranya akan aku tempuh. Kamu tahu Kay, kamu tercipta untukku.”
“Tapi sayangnya, saya akan melakukan berbagai cara untuk menolak anda, Tuan Aksa. Anda paham?”
“Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang disini. Aku atau kamu. Ayolah, Kay, kita sama-sama membutuhkan pasangan dan aku rasa kita cocok kok. Usia kita tidak terpaut jauh, kita juga sama-sama pengusaha, cocok kan? Dan nanti kamu nggak perlu lagi capek-capek terjun kerja sendiri seperti ini, Kay. Kamu tinggal mengawasi karyawan kamu. Kita bisa memperbesar florist kamu, kita buka cabang-cabang ke kota mana pun yang kamu mau. Aku bisa memenuhi semua keinginan kamu dan kita bisa sukses bersama, Kay. Ayolah, kamu tunggu apa lagi?”
“Tapi saya butuh pasangan yang tulus, yang benar-benar mencintai saya, sayang pada anak saya dan pastinya bukan hanya memikirkan nafsu saja. Bukan hanya materi yang saya butuhkan, Tuan. Apa anda pikir saya ini matre? Yang tergila-gila dengan harta yang melimpah? Saya juga tidak terobsesi untuk memiliki florist yang besar atau pun cabang seperti yang anda katakan tadi. Saya cukup enjoy dengan hasil saya yang sekarang, sudah bisa bertahan dan memberikan fasilitas yang baik untuk Erland saja saya sudah cukup. Kalau pun nanti saya bisa memperbesar florist, saya akan berusaha sendiri. Jadi anda tidak perlu mengiming-imingi saya dengan materi yang berlimpah. Anda salah menilai saya, Tuan.”
“Kay, bukan maksudku menilai kamu seperti itu, tapi aku hanya ingin kamu tahu keseriusanku. Ya, aku tahu kamu wanita yang mandiri yang bisa bertahan dengan keadaan yang sulit. Tapi semandiri apapun seorang wanita pasti butuh sosok laki-laki di sampingnya, Kay. dan aku mau menjadi seseorang itu. Kay, aku benar-benar mencintai kamu, hanya kamu yang saat ini aku inginkan, aku juga ingin dekat dengan Erland tapi mana pernah kamu kasih aku kesempatan. Dan satu lagi, bukan hanya nafsu yang ada pada diriku tapi aku memang mencintaimu. Masalah waktu, kenapa dengan waktu? Cinta itu tidak bisa diatur masalah kapan ia harus datang. Aku mencintaimu dari awal bertemu, wajar kan? Banyak diluar sana yang punya pengalaman seperti aku. Dan aku tidak pernah bohong dengan hatiku, aku mencintaimu bukan hanya sebatas nafsu. Tolong kamu pahami, Kay!”
“Tapi ini aneh, dan yang saya tangkap selama ini setiap kali mendengar perkataan anda pada saya, hampir semua yang anda ucapkan hanyalah nafsu, anda tertarik pada saya hanya dari fisik saya saja dan itu yang namanya terobsesi. Berulang kali sudah saya katakan bahwa saja tidak suka dengan anda apalagi cara anda.”
“Dan aku juga udah berkali-kali bilang sama kamu kalau aku nggak akan berhenti mengejarmu sebelum aku bisa mendapatkanmu. Kay, aku serius padamu. Katakan padaku apa yang kamu inginkan dariku, agar aku bisa mendapatkan hatimu. Aku bisa kok menjadi laki-laki seperti yang kamu inginkan. Asal kamu benar-benar mau menerimaku.”
“Dengar ya, Tuan Aksa, Cuma satu yang saya inginkan dari anda. Lupakan saya dan jangan anda berani-berani lagi datang mencari saya.”
“Kay, jodoh itu unik lho, kamu berusaha menghindari saya tetapi Tuhan justru memberikan kejutannya, kenyataannya sekarang kita ketemu tanpa sengaja kan? Ini tanda kalau kita jodoh lho, Kay.”
“Anda jangan sembarangan berhayal ya, tuan. Saya tidak suka lelucon anda.”
“Aku tidak sedang melawak, Kay. Aku memberikan contoh padamu agar kamu mau membuka pintu hati untukku. Atau memang kamu lebih memilih dokter itu daripada aku?”
“Cukup tuan, jangan anda sebut-sebut nama itu dan jangan sekali-kali anda merendahkan dia. Harus anda tahu, dia lebih baik daripada anda.”
“Benarkah? Seberapa baiknya dia di mata kamu, Kay? Dan sudah berapa jauh hubungan kalian?”
“Bukan urusan anda.”
“Ha ha ha, sayangnya aku juga tidak peduli dengan semua itu. Yang aku tahu saat ini kamu belum menikah, jadi aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan kamu. Dan dokter itu juga bukan satu-satunya orang yang berhak atas kamu, jadi dia sama sekali tidak berhak pula melarangku untuk mendekati kamu.”
“Anda jangan sok tahu ya. Ah entahlah, saya capek dari tadi berdebat terus. Anda juga sepertinya tidak bisa memahami apa yang saya ucapkan. Bikin saya semakin tambah pusing. Maaf, saya rasa pekerjaan saya sudah selesai dan saya harus pulang. Sampaikan pada Ferda kalau saya pulang lebih dulu. Permisi.”
“Kay, aku tidak bermaksud untuk membuat kamu pusing. Tolong tinggallah sejenak disini, aku masih ingin bersama kamu, Kay. Aku juga belum selesai bicara. Kay!”
Kayana sama sekali tidak menghiraukan panggilan Aksa. Ia mencari Shasy kemudian mengajaknya kembali ke florist. Rasanya menjengkelkan sekali berhadapan dengan laki-laki itu. Tidak akan ada habisnya berdebat dengan orang yang keras kepala seperti Aksa, hanya akan membuang-buang waktu saja.
Akhirnya Aksa membiarkan Kayana pergi begitu saja, sampai belum mengingatkan kembali padanya untuk datang di acara besok pagi. Dan salah satunya cara yang bisa ia tempuh yaitu melakukan kompromi dengan ferda.
“Ferda! Bisa tolong kesini sebentar, ada hal yang perlu aku sampaikan dengan kamu.”
Aksa memanggil perempuan muda yang menjadi penanggung jawab event organizernya. Tidak ada perlawanan dan penolakan apa-apa, yang bisa Ferda lakukan hanyalah menuruti apa yang Aksa minta. Ia terlihat tergopoh-gopoh berlari menuju Aksa berdiri. Menghampiri laki-laki yang sudah sering membantunya dalam mempromosikan event organizernya, hingga ia bisa dikenal banyak orang. Karena itu, Ferda merasa banyak hutang budi dengan Aksa.
“Iya, Pak Aksa? Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh, tentu.”
“Apa itu, Pak?”
“Kamu sudah lama bekerjasama dengan Red Flo?”
“Belum kok, Pak, baru dua bulan ini. Kenapa, Pak?”
“Kamu kenapa nggak bilang sama aku kalau selama ini kalian memakai bunga dari florist milik Kayana?”
“Maaf, Pak, kami memang selama ini tidak memberitahu pada siapa-siapa dari mana kami ambil bunga untuk dekorasi kami.”
“Kenapa, Fer? Harusnya kamu bilang lah padaku.”
“Ya karena menurut kami dengan siapa kami membeli bunga itu tidak penting, Pak. Lagipula selama ini apa saya tahu kalau Pak Aksa dan Mbak Kayana itu saling kenal? Tidak, Pak.”
“Baik lah, sekarang aku mau minta bantuan padamu.”
“Apa itu, Pak? Saya bisa apa?”
“Kamu bisa bekerjasama dengan saya, Kayana kemarin aku kasih undangan untuk datang kesini besok tapi dia nggak mau datang. Mungkin dengan cara kamu tadi, Kayana mau datang. Kalau seandainya besok kamu bisa bikin dia benar-benar datang kesini, aku bakalan kasih kamu bonus, Fer.”
“Oh, baik, hal yang tidak begitu sulit sepertinya. Tadi saya memang sudah bicara dengan Mbak Kayana untuk mendampingi saya besok, karena saya tahu acara Pak Aksa besok pasti sangat penting dan berharga. Memang dia belum memastikan bisa datang kesini, Pak dan ternyata itu ada hubungannya dengan Pak Aksa ya? Pantas saja tadi Mbak Kayana kelihatan nggak nyaman waktu datang kesini.”
“Ya, begitu lah, makanya tadi aku kaget banget ketika tahu ada Kayana disini, ternyata karena ada kerjaan dengan kamu, Fer.”
“Iya, Pak. Karena saya selalu puas dengan bunga-bunga dari Red Flo, harga dari sana juga cukup hemat lah, jadi kami memutustak untuk mengontrak florist Mbak Kayana selama tiga bulan ini.”
“Hm, bagus Fer. Aku harap kamu bisa diandalkan.” Aksa mengangguk puas, ada sebuah rencana yang tiba-tiba muncul dari otaknya. Dan dengan Ferda, rencana itu akan dia lakukan melalui bantuannya. Aksa semakin percaya diri bahwa Kayana akan dengan mudah ia dapatkan.