Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kayana memutuskan agar Shasy dan salah satu temannya untuk datang ke hotel Noe, mengantar bunga pesanan untuk Delisya event organizer. Kayana yakin bahwa mereka mampu melakukan pekerjaan ini, disamping itu ia hanya tidak ingin bertemu dengan Aksa.
Dengan dua karyawan yang lain, Kayana tetap melakukan aktivitas seperti biasanya di florist sambil menunggu kabar dari Shasy. Hatinya masih kacau, ditambah membaca pesan dari Dion.
[Kayana Evelin, susah payah untukku membohongi diri. Terlihat baik-baik saja tanpa kabarmu, padahal nyatanya hatiku berantakan karena menunggumu, kamu apa kabar? Dan bagaimana dengan Erland, kesayanganku? Kay, aku ingat bahwa kamu pernah memintaku agar melupakan rasa cintaku untukmu bukan? Maaf, aku tidak pernah mau satu kali pun melakukannya. Dan celakanya, doaku pada Tuhan yang kupilih. Kamu tahu apa itu doaku? Jikalau nanti aku lupa ingatan, jangan hilangkan ingatanku tentang kamu. Aku mau semua memoriku terisi dan terekam namamu secara utuh. Kay, jika suatu saat aku tidak dapat memilikimu dan kamu juga sudah melupakanku, satu hal yang harus kamu tahu bahwa sedikit pun cintaku tidak ada pernah berubah untukmu. Percayalah, aku akan menjadi orang pertama yang selalu ada untukmu. Meski kamu enggan menerimaku. Kay, mungkin bidadari pun cemburu jika melihat rasa cintaku padamu.] from Mas Dion.
Hanya tangis yang ia tahan membaca pesan panjang melalui aplikasi hijaunya. Ia sudah tak terhitung lagi berapa kali matanya berarir dan hujan. Dan untuk kali ini, hal yang ingin sekali ia minta yaitu hidupnya bisa normal kembali seperti waktu masih ada Julio.
Ponsel yang baru saja ia gunakan untuk membaca pesan tiba-tiba berdering. Shasy memanggil. Kayana memang sudah menunggu-nunggu kabar darinya.
"Bu Kay, maafin kami, ya!"
"Kenapa, Shas?"
"Jadi tadi ada kecelakaan ringan dan bunga-bunga kita banyak yang rusak."
"Ha, serius, Shas? Terus gimana kondisi kalian sekarang?"
"Kami nggak apa-apa, Bu Kay. Tapi gimana ya ngomongnya?"
"Kenapa, ada apa? Udah bilang aja, Shas."
"Jadi pihak EO nya marah-marah, Bu Kay."
"Marah? Karena bunganya banyak yang rusak?"
"Iya, Bu Kay, tapi rusaknya sebenarnya nggak begitu parah, sih."
"Banyak banget yang rusak?"
"Ya lumayanlah bu dan mereka minta ganti yang baru lagi."
"Iya nggak apa-apa, langsung aja kamu menghubungi Rengganis, minta diantar bunga kesana, nanti saya yang urus biayanya."
"Iya, Bu Kay, kita udah menghubungi rengganis untuk menyiapkan beberapa bunga sebagai penggantinya."
"Mereka bisa mengantar kesana kan?"
"Bisa kok, Bu Kay."
"Nah itu mereka bisa, yang penting kalian tetap solid ya. Jangan saling menyalahkan, namanya juga kecelakaan yang nggak disengaja. Udah beres kan sekarang, kita udah berusaha mengganti kesalahan kita. Nanti kalian bisa langsung pulang kalau sudah selesai."
"Iya, Bu Kay, cuma EO nya tetap aja ngeselin. Mereka masih minta tanggung jawab lagi."
"Lho, apa lagi? Kan udah diganti bunga-bunga yang rusak, cuma itu kan masalahnya?"
"Sebenarnya ya cuma itu, tapi mereka belum percaya kalau bukan Bu Kay sendiri yang meminta maaf ke mereka."
"Ya Tuhan, ya udah nanti saya yang telepon Ferda untuk meminta maaf. Kalian tenang aja ya."
"Udah, Bu, tadi Shasy udah bilang gitu ke mereka kalau Bu Kay yang akan menghubungi. Tapi mereka maunya Bu Kay datang kesini untuk bicara langsung."
"Ha, ada-ada aja sih? Sesuatu yang mudah kenapa harus dipersulit."
"Nggak tahu, Bu, maafin kami ya, karena ketidak mampu menyelesaikan masalah sendiri."
"Nggak perlu minta maaf, nggak seharusnya juga kalian saya lepas sendiri. Oke, kalian tenang aja sekarang ya, saya bentar lagi menyusul."
"Baik, Bu Kay hati-hati di jalanya!"
Kayana bersiap, melaju sendiri dengan mobilnya. Hatinya cemas, juga entah bagaiaman nanti jika disanbertemu dengab aksa. Laki-laki yang tengah oa hindari. Rasanya ingin sekali membuang jauh-jauh angannya ketika tiba-tiba ingat akan Aksa. Laki-laki yang sudah mengganggunha, yang membuat pikirannya harus bercabang. Padahal usianya juga belum biaa dibilang tua.
Memang hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai di Hotel Noe, namun rasanya lama sekali.
Shasy dan satu orang temannya menunggu ďi depan pintu masuk ketika Kayana sampai disana. Menunggu dengan cemas kedatangannya.
"Bu Kay, syukurlah akhirnya sampai juga."
"Gimana? Lama banget nunggunya?"
"Nggak juga kok, Bu Kay."
"Maaf ya, oh iya rengganis sudah sampai sini belum?"
"Sudah kok, Bu."
"Ya udah, kita masuk dulu. Dimana Ferda?"
"Sudah menunggu di dalam, Bu."
"Mereka marah besar atau gimana?"
"Ya kayak gitu lah, Bu, kami nggak bisa menjelaskan."
Kayana kemudian mencari keberadaan Ferda, team dari event organizer yang sudah lumayan akrab dengannya. Ia lihat perempuan itu tengah mengarahkan teamnya.
"Selamat sore, Ferda."
"Oh, Mbak Kayana udah datang."
"Iya baru saja, bunga yang rusak apa sudah diganti dengan yang baru?"
"Sudah, Mbak."
"Syukurlah, apa masih ada masalah lagi?"
"Sudah beres kok, Mbak."
"Ya sudah, maaf atas keterbatasan kami. Tetapi ini bukanlah kesengajaan, kecelakaan adalah kejadian yang tidak kita inginkan. Jadi harap maklum dan jangan terlalu menekan anak buah saya."
"Ya, ini memang ketidaksengajaan, tapi saya mau lihat bagaimana tanggungjawab Mbak Kayana dalam sebuah pekerjaan."
"Baik, lalu apakah saya kurang tanggungjawab?"
"Ya."
"Dalam hal?"
"Mengatasi masalah dan mencari solusi."
"Saya sudah mengganti bunga-bunga yang rusak dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendatangkan barang ganti kan? Kenyataannya sebelum saya sampai disini, team kami sudah datang membawanya. Apa masih kurang?"
"Tetapi seharusnya, sebelum saya komplain atas kerusakan, team dari Mbak Kayana sudah tahu dong kalau bunga itu rusak."
"Kami hanya manusia biasa yang bisa saja mempunyai kesalahan, itu manusiawi dan kami juga sudah segera tanggungjawab."
"Ya saya terima niat baik Mbak Kayana."
"Kami sudah mengganti rugi barang yang rusak dengan segera, kami juga sudah meminta maaf pada kamu, Fer. Sudahlah, jangan mempersulit dan memperpanjang masalah lagi."
"Bukannya saya ingin mempersulit, tapi kalau kita bisa saling bicara langsung begini kan lebih enak Mbak."
"Iya, tapi masalah kan sudah bisa diatasi tanpa harus saya menyusul kesini, saya juga harus menghandle pekerjaan di florist. Fer, saya sudah mengirimkan team saya untuk datang kesini. Jadi saya rasa sudah cukup mewakili kan?"
"Belum Mbak, saya lebih puas kalau Mbak Kayana sendiri yang menghandle semua keperluan kami, seperti yang sudah ada diperjanjian awal. Saya hanya tidak ingin mengecewakan costumer saya, apalagi ini acara besar dan dia adalah orang yang terpandang. Jadi untuk besok acara inti, saya minta Mbak Kayana mendampingi saya di hotel Noe ini sampai selesai."
"Apa?"
Kayana melotot, tidak percaya dengan permintaan konyol ini.