Kayana tidak lagi menjawab, hanya dengan cara ini Aksa bisa berhenti berbicara. Dengan berat hati, lelaki bertubuh tinggi itu pun memutuskan untuk pulang, meninggalkan Kayana yang masih terdiam. Sebelumnya ia sempatkan untuk menatap Kayana yang masih bersungut-sungut. Meskipun begitu, wajahnya masih terlihat ayu, matanya yang indah dan tajam melihat Aksa dengan sengitnya.
Aksa berlalu, masuk ke dalam mobil dan melaju kencang tanpa peduli dengan derasnya hujan yang masih berpihak pada sore itu. Bagi Aksa, mendekati Kayana adalah tantangan tersendiri. Hatinya yang begitu sulit untuk disentuh membuatnya semakin penasaran. Apalagi sikapnya yang dingin dan tidak mudah dirayu, membuat Aksa tergila-gila. Kayana bukan lah wanita yang mengidam-idamkan harta, karena itu ketika disuguhkan barang yang biasanya bisa membuat perempuan merasa terpikat, Kayana sama sekali tidak tertarik.
Begitu tahu kalau Aksa sudah pergi, Shasy dengan segera kembali ke dalam ingin memastikan bahwa Kayana baik-baik saja. Owner Red Flo itu tengah duduk ketika Shasy masuk, merebahkan badannya di badan sofa. Tangan kanannya memijit pelipis yang mulai terasa sakit, sedang tangan yang lain sibuk dengan ponselnya. Shasy mendekat, sebelumnya ia sambar botol air mineral di mejanya lalu ia berikan pada Kayana.
"Bu Kay pusing lagi? Ini minum air putih dulu, Bu. Shasy ambilin obat ya, biar hilang pusingnya! Bu Kay tunggu bentar, Shasy ambil ke rumah."
"Nggak usah, ini masih bisa ditahan. Cuma puisng dikit kok, lagian sebentar lagi kita tutup kan, Shas, nanggung kalau pulang dulu."
"Bu Kay kalau semisal mau pulang dulu nggak apa-apa kok, biar Shasy sama anak-anak lain yang beresin florist. Jangan dipaksain nanti malah jadi sakit sendiri kan, Bu?"
"Nggak apa-apa, Shas, nanti kita beresin bareng-bareng. Saya cuma sedikit pening aja, bentar lagi juga hilang, udah kamu tenang aja."
"Jangan dipaksa kalau nggak kuat ya, Bu. Shasy khawatir jadinya, takut Bu Kay sakit kayak yang dulu. Terus gimana tadi? Ada apa lagi Pak Aksa kesini, Bu? Jangan-jangan Bu Kay pusing karena tadi?"
Kayana belum menjawab, malah telunjuknya ia arahkan ke benda yang ada di atas meja.
"Tuh lihat!"
"Ini apa Bu Kay? Yang tadi dibawa sama Pak Aksa ya?"
"Buka aja coba, saya juga belum lihat. Tadi sebenarnya sudah saya tolak, Shas, tapi dia memaksa dengan ancamannya yang konyol itu. Itu orang memang nekat, bisanya bikin kesel aja."
Shasy pun membuka paper bag itu sesuai perintah Kayana, isinya adalah satu tas berukuran kecil dan sepasang sepatu branded berwarna senada. Warna maron kesukaannya.
"Wow, Tas sama sepatu nih, Bu Kay. Wah, nggak kaleng-kaleng ini mah, sudah pasti mahal harganya. Duh duh duh, bagus banget. Warnanya juga pas banget sama favorit Bu Kay, kayaknya Pak Aksa tahu deh kalau Bu Kay emang suka warna maron. Ih mewah gini, keren banget."
"Ambil aja kalau kamu mau, Shas. Saya nggak minat mau pakai, barang-barang saya juga masih bagus, lagian tas kayak gitu mau saya pakai kemana? Udah kayak ibu-ibu sosialita aja, kalau cuma tukang bunga seperti saya ini ya nggak cocok."
"Bu Kay, ini mahal lho. Ah, Bu Kay emang suka merendah. Florist ini sekarang udah jadi florist yang peminatnya banyak banget lho, kalau cuma mau buat beli tas mahal, Bu Kay bisa banget. Kan udah jadi bos sekarang, jadi siapa bilang nggak cocok. Bu Kay cantik, pintar, masih muda, stylist dan pastinya berkelas. Shasy yang malah nggak pantes pakai beginian. Ini cocok banget buat hang out, Bu. Ck ck ck, Pak Aksa mainnya gini ya, pake cara sogokan."
"Apalah, Shas, kalau cuma mau mikir gaya hidup sih bakalan nggak ada habisnya. Yang terpenting sekarang saya harus bisa bikin Erland bahagia, bisa menyenangkannya dan memfasilitasi kebutuhan dia, itu semua yang saya usahakan. Sudah bukan jamannya lagi bagi saya berfoya-foya sendiri. Beli taslah, sepatulah, baji atau pun barang-barang mewah lainnya, mungkin saya bisa tetapi mau buat apa? Nggak adà manfaatnya. Beneran, pakai aja kalau kamu mau, tuh bisa buat kencan sama Briyan. Ambil aja buat kamu."
"Ah, nggak lah, Bu Kay. Gimana besok kalau Pak Aksa kesini terus lihat, barang pemberiannya dipakai sama karyawannya. Bisa jadi berabe nasib Shasy, Bu." Shasy masih memperhatikan dua barang itu. "Nih seumur-umur Shasy baru sekali ini pegang barang mahal. Ternyata memang bagus banget, istimewa sekali. Lah ini apa, Bu?" Shasy pun meraih selembar benda yang satunya. "Undangan?"
"Iya, baru aja kita bahas tentang grand opening tadi, ini saya malah dikasih undangan."
"Yang masalah sama EO aja belum kelar ya, Bu, mau gimana solusinya. Eh, ini malah terang-terangan dikasih undangan sama yang punya acara. Bisa pas begini sih?"
"Iya, Shas, saya tadinya malah nggak kepikiran bakalan dikasih undangan ini, lho."
"Bu Kay nggak ingat apa kalau Pak Aksa naksir berat. Ya kalau Shasy sih sebenarnya udah menduga bakalan dapat undangan. Benar kan, VVIP lagi undangannya. Masa sih dia bikin acara besar-besaran Bu Kay nggak diundang."
"Kan saya bukan siapa-siapa. Shas, gini aja ya. Besok sore yang antar bunga kamu sama anak-anak aja, terserah kamu mau ajak siapa. Yang penting cari yang mampu dan cekatan, kamu pasti lebih tahulah harus siapa yang diajak, tapi yang jelas jangan Briyan lho. Biar saya yang jaga di florist, gimana kira-kira?"
"Ya Tuhan Bu Kay, masa iya Shasy ajak Briyan. Hm, Ide yang bagus, Bu Kay. Shasy sih ikut aja. Jadi lusa gimana nasib undangannya?"
"Ya Udahlah biarin aja, malas banget kalau mau datang. Saya sudah nggak nyaman, Shas, takutnya malah bikin suasana hati jadi nggak bagus kan? Nanti bukannya enjoy malah jadi emosi."
"Iya juga sih, Bu Kay. Kalau gitu udah jangan dibikin pusing ya, Bu."
"Huum, kalau memang ada yang mudah kenapa dibikin sulit ya, Shas?"
"Iya juga ya, Bu, karena kita ztadi udah panik duluan, jadi cara berpikirnya sempit. Padahal tinggal nggak usah berangkat aja udah selesai."
"Lah iya kan? Heran banget saya sama Mas Aksa, nggak ada berhentinya sih dia datang kesini. Padahal udah jelas selalu dapat penolakan, kamu juga lihat sendiri gimana sikap saya kalau menanggapi dia. Kalau dia sudah paham pastinya bakalan mundurlah, coba deh kamu pikir, Shas, bisa-bisanya dia datang terus."
"Itu namanya pantang menyerah, Bu Kay. Dia sudah terlanjur terobsesi jadi dalam pikiran dia pasti gimana pun caranya supaya bisa dapatin, Bu Kay."
"Ih, ngeri banget deh, Shas."