Hujan, meski tidak disertai dengan angin namun berhasil membuat suasana sore ini sedikit syahdu dan dingin. Pengunjung florist tinggal beberapa saja yang masih bertahan dan datang. Sisanya memilih untuk seperlunya bahkan ada yang hanya datang memesan buket lalu akan diambil besok. Karena pekerjaan juga sudah mulai santai, Kayana membiarkan karyawannya untuk beristirahat sebelum jam pulang. Mereka terlihat asyik duduk di bangku cafe, salah satu dari mereka memainkan gitar dan yang lain terdengar bersenandung. Di hadapan mereka sudah ada gelas-gelas kopi yang berjejer.
Terdengar lirih suara nyanyian dari sana yang terkalahkan oleh derasnya hujan, Kayana menikmati itu. Ada rasa rindu semasa kuliah dulu, menghabiskan waktu bersama dengan kawan-kawannya, juga dengan Julio yang sama-sama satu fakultas kala itu. Ah.. rindu masa lalu hanyalah akan mencabik luka yang sudah kering.
Masalah hati, masalah perasaan hanya membuat Kayana tak habis pikir. Kehilangan seseorang yang teramat penting dalam hidup adalah sebuah mala petaka baginya, terpisah karena maut bukan karena saling menyakiti atau melukai. Namun karena takdir, waktu yang telah habis untuk menemaninya di dunia, harus menjadi alasan sebuah perpisahan. Tidak lagi bisa melihat fisiknya di dunia, rasa rindu itu hanya akan membuatnya semakin sakit dan tidak dapat terobati.
Sedangkan, kali ini ia harus kehilangan lagi. Sama-sama tidak menyakiti namun terhalang oleh restu. Masih bisa melihat wajahnya, merasakan kehadirannya dan mendapatkan diperhatiannya, namun tidak bisa memilikinya. Untuk yang kedua kalinya, Kayana harus bisa bangkit lagi setelah kehilangan. Cintanya mungkin belum begitu besar untuk Dion, namun ia sudah sempat menaruhkan harapan padanya. Apalagi dengan Erland yang masih saja berharap suatu saat nanti Dion lah yang akan menjadi papa sambungnya. Mengingat betapa dekatnya mereka tanpa ada batasnya. Namun kini, jangankan untuk bertemu sekedar melepas rindu, berkabar lewat telepon saja terasa berat.
Bayangan Dion muncul. Berangan-angan kembali pada waktu itu, kebersamaan yang indah. Pergi menghabiskan waktu dengannya yang beralasan untuk kebahagiaan Erland. Melakukan hal-hal positif hingga menemukan sebuah ide membuka florist. Dion menemani Kayana benar-benar dari nol.
Di waktu yang bersamaan dengan bayangan Dion, Aksa datang dengan santai, masuk ke florist. Tangan kanan dan kirinya sama-sama menenteng barang bawaan, paper bag warna merah muda dan selembar kertas dilapisi plastik. Dengan senyum Aksa yakin sekali, datang pada Kayana untuk menawarkan cintanya lagi.
Dengan awalan kata permisi, menyapa Shasy di meja kasir. Dari senyumnya sudah terlihat, tidak ada tujuan lain selain menemui Kayana, bukan mencari bunga apalagi tanaman hias lagi. Shasy yang baru saja selesai membicarakannya dengan Kayana jadi terheran-heran. Bagaimana laki-laki itu tiba-tiba datang di saat Kayana ingin menghindarinya. Sebelum Aksa menanyakan keberadaan Kayana, terbesit dalam hati Shasy untuk memberikan jawaban palsu. Ia ingin mengatakan bahwa Kayana sedang tidak ada di florist sore ini.
“Pagi, Mbak, bisa dipanggilkan Bu Kayana? Saya ingin bertemu, ada hal penting yang harus saya sampaikan padanya.” dan benar saja,
dugaan Shasy memang tidak meleset.
“Emh, maaf Bapak, Bu Kayana sedang tidak ada di..” belum juga Shasy selesai menjawab, Kayana keluar dari ruangannya dan memanggil Shasy dengan kerasnya.
“Shas, cek email ya!” ucapnya dengan pandangan mata masih pada ponsel yang ia pegang, sedangkan langkah kakinya sudah berjalan menuju Shasy.
“Baik, Bu Kay.” Jawabnya dengan nada terbata, ia berharap agar Kayana segera sadar dengan kehadiran Aksa disana. “Bu Kay, ada..”
“Iya, Shas, coba deh kamu buka, ada invoice dari..” matanya terbelalak tidak sempat menyelesaikan ucapannya, setelah ia melihat ada Aksa berada di depannya. Apa-apaan ini, sejak kapan ia berada disitu dan bagaimana mungkin ia tidak menyadari bahwa ada Aksa yang sudah memperhatikannya, mungkin sedari tadi.
“Hai, Kay.” Sapanya ketika Kayana sudah menatapnya dengan rasa heran.
“Anda kenapa sudah ada disini?” Kayana masih tidak percaya, harusnya ia tadi tidak buru-buru keluar dari ruangannya hanya karena ingin memberitahu sesuatu pada Shasy.
Shasy sadar diri, ia tidak mau terlibat dalam obrolan itu. Tidak sopan baginya meskipun tidak dengan sengaja mendengarnya, ia memilih untuk keluar dan bergabung dengan teman yang lain di depan cafe.
“Kamu pasti kaget kan? Sudah lama aku disini, Kay. Memandangmu dengan senangnya, melihat wajah ayumu, manis senyummu dan cantik rambutmu juga tubuhmu yang indah. Itu semua membuat hatiku melayang, rasa ingin memilikimu semakin menjadi-jadi, Kay.”
“Lama-lama anda tidak sopan ya.”
“Tidak sopan yang bagaimana, Kay. Aku jujur memujimu. Kamu sempurna dimataku, sungguh. Belum ada wanita yang ku lihat begitu memesona selain kamu selama ini.”
“Saya nggak butuh bualan anda, tuan Aksa. Untuk apa anda kesini? Jika hanya ingin merayu saya, lebih baik anda pulang saja.”
“Santai lah, Kay. Tawarkan aku tempat untuk sekedar duduk santai disini.Layaknya kamu memperlakukan pada tamu-tamumu, seperti waktu kita pertama bertemu dulu.”
“Ya, silahkan anda duduk, saya tetap disini.”
“Jangan gitu lah, Kay. Kalau kamu maunya berdiri santai disini, aku ikuti dan menurut padamu. Baik lah, aku ingin bicara serius kali ini.”
“Mau serius atau nggak saya nggak peduli.”
“Kay.. aku mau minta maaf soal perkataanku tempo hari yang mungkin tidak berkenan di hatimu, membuatmu tidak nyaman dan membenciku. Tapi memang itu perasaanku, Kay. Aku mencintaimu dan serius ingin memilikimu.”
“Anda mau minta maaf karena kejadian kemarin? Tapi apa anda sadar sudah melakukan hal yang sama barusan? Jaga lisan anda ya, tuan Aksa.”
“Kay, apa yang salah? Aku hanya memujimu, apa itu salah? Kalau kenyataannya memang begitu, kamu cantik, menarik dan senyummu yang manis. Ku kira semua orang yang melihatmu juga punya pemikiran yang sama seperti aku.”
“Tapi itu nggak sopan, tuan. Saya tidak nyaman, anda dengan santainya mengucapkan hal seperti itu.”
“Oke, aku minta maaf. Sebagai permintaan maafku, aku mohon kamu terima ini ya.”
Aksa lalu menyodorkan paper bag berukuran besar pada Kayana. Namun perempuan itu sama sekali tidak ada niat untuk menerimanya. Aksa sudah menduga sebelumnya, Kayana pasti tidak semudah itu menerima pemberian darinya. Dan cara lain hanyalah meletakkannya di meja sofa yang berafa di samping mereka.
“Maaf, saya tidak bisa menerimanya. Silahkan bawa pulang lagi barang bawaan anda. Itu semua tidak akan bisa menggantikan rasa sakit saya. Rasa sakit itu akan hilang jika anda benar-benar pergi dari hidup saya. Ambillah lalu bawalah pergi.”
“Maaf, Kay, mungkin memang benar, aku belum begitu paham dan mengerti karaktermu. Jadi untuk mengajakmu ngobrol pun aku belum tahu bagaimana seharusnya. Tapi setidaknya dengan cara ini bisa sedikit mengambil hatimu, Kay, maafkan aku. Beri sedikit saja peluang untukku mengenalmu. Ku mohon.”
“Sudahlah tuan, jangan anda tambah lagi beban pikiran saya. Anda sudah mengenal saya sebagai pemilik Red Flo, perempuan tukang bunga, sudah cukup kan?”
“Aku tidak peduli bagaimana latar belakangmu, yang terpenting hanyalah kamu saat ini. Aku ingin kamu jadi istriku.”
“Tuan Aksa, ku mohon berhentilah memaksaku! Pekerjaan saya masih banyak, tidak ada waktu untuk saya meladeni gombalan anda.”
“Kay, aku nggak akan berhenti sampai kamu mau menerima cintaku. Jadi aku tetap bakalan datang menemuimu, jangan bosa padaku. Mungkin kali ini aku akan menuruti permintaanmu untuk pergi, namun suatu saat nanti kedatanganku akan menjadi saat-saat yang kamu tunggu.”
“Susah bicara dengan orang yang terobsesi dengan sesuatu hal. Terserah apa kata anda, tuan aksa. Yang jelas saya tidak nyaman kalau anda berada disini.”
“Baik lah, aku pergi tapi sebelum aku pergi aku ingin meminta kamu terima barang yang aku bawa itu dan juga datanglah di acaraku lusa, ini undangan VVIP untukmu, Kay.”
Aksa juga meletakkan undangan di dekat barang bawannya tadi. Namun Kayana tak bergeming, membuang muka ketika Aksa tetap memandangnya.
“Saya tidak ingin apa-apa dari anda. Bawalah semua tanpa tersisa.”
“Kalau memang kamu nggak mau terima ini, akan aku tunggu kamu disini sampai nanti.”
“Anda jangan nekat, tuan Aksa. Semakin anda memaksa, saya juga akan semakin membenci anda.”
“Kalau kamu nggak mau aku nekat, tolong terima ini dan berjanji datanglah di acaraku besok. Cukup dan aku akan pulang sekarang juga.”
“Baik saya terima Ini, tapi untuk datang ke acara anda, saya tidak janji.”
“Sekali ini saja, Kay. Ku mohon! Datang ya. Ini adalah hari yang sangat bersejarah bagiku, datanglah untuk jadi tamu spesialku.”
“Saya tidak biasa berjanji, Tuan. Silahkan anda pulang.”
“Aku tetap disini sampai kamu bilang iya.”
“Tuan..” wajah Kayana memerah, emosinya sudah mulai naik.
“Ya, Kay.. datanglah meskipun hanya sebentar.”
“Pulanglah, tuan. Apa anda tidak tahu bahasa saya?”
Aksa mengangguk, kecewa sekali. Namun ia tidak ingin melihat Kayana berubah pikiran untuk mengembalikan barang bawaannya. Seandainya ia benar-benar tidak mau datang ke acara spesialnya besok, setidaknya ia tidak melempar barang pemberiannya.
“Baik lah, aku bakalan pulang. Tapi ku mohon kedatanganmu besok, Kay. Orang bilang memenuhi undangan itu wajib hukumnya, jadi semoga kamu dengan senang hati datang. Aku pamit, Kay. Terima kasih sudah menerima hadiah sebagai permintaan maafku, terima kasih juga telah tersenyum tadi meskipun bukan untukku. Tapi aku menyukainya."