“Halo, Ferda.” Suara Kayana terdengar renyah, ia mengangkat telepone dari Ferda team Delisya event organizer yang telah mengontrak Red Flo.
“Halo, Mbak Kayana, besok sore tolong disiapkan bunga untuk event kami ya, Mbak.”
“Baik, siap, Ferda. Mau diambil atau diantar?”
“Diantar aja ya, Mbak. Soalnya kami bagi-bagi tugas, salah satu armada kami sedang di bengkel.”’
“Baiklah, nggak apa-apa, nanti kami yang antar.”
“Oke, Mbak, nanti aku kirim gambar dekorasinya, alamatnya dan juga Dpnya ke rekening Mbak Kayana.”
“Oke, Fer.”
Telepone terputus, beberapa menit kemudian pesan dari Ferda masuk. Mengirimkan beberapa gambar dekorasi dan alamat sebuah hotel. Dan yang membuatnya kaget adalah nama hotel yang menjadi tempat yang dikirimkan oleh Ferda. Kali ini hotel yang mereka gunakan adalah Hotel Noe. Hotel milik Aksa. Kayana spontan langsung berlari menghampiri Shasy yang saat itu terlihat masih santai di meja kasir.
“Shas, duh gimana ini ya?” Kayana menggoyang-goyangkan ponselnya seperti ingin memberitahukan tentang apa yang ada di ponselnya.
“Kenapa sih, Bu kay?”
“Delisya event organizer abis telepon.”
“Iya, kenapa? Kan udah biasanya mereka telepon minta bunga.”
“Tapi ini nggak biasa, Shas?”
“Emang kenapa Bu Kay?”
“Tadi Ferda bilang, besok sore mereka minta dikirim bunga.”’
“Iya, terus gimana? Ada yang aneh dari ini?”
“Bunganya minta diantar ke Hotel Noe.”
“Ha? Hotel Noe? Seriusan?”
“Serius, males banget rasanya, Shas.”
“Emang acara apa sih, Bu Kay?”
“Grand opening hotelnya, Shas.”
“Ya Tuhan, kenapa bisa kebetulan gini sih?”
“Ya makanya, Shas, gimana dong?”
“Padahal ini acara besar, Bu Kay. Grand opening hotel udah pasti dekornya besar-besaran.”’
“Nah itu dia, Shas, mau dibatalkan sayang banget kan?”
“Ya nggak semudah itu membatalkan kontrak, Bu Kay.”’
“Kalau semisal hanya satu event ini aja kira-kira gimana ya Shas?”
“Bu Kay, kita udah setuju lho, sudah tanda tangan kontrak. Mau nggak mau, suka nggak suka tetap harus maju. Kalau semisal kali ini kita cancle apa nggak bikin mereka kecewa, sedangkan Bu Kay baru mau merintis. Kasihan juga kan mereka, mereka bukannya sudah mempercayakannya ke Red Flo? Mereka mau cari ke florist lain kan pastinya repot.”
“Benar juga ya, Shas. Hm, jadi bingung nih.”
“Tenang, Bu Kay. Shasy yakin Bu Kay sudah profesional perihal pekerjaan ini. Pasti kita bisa.”
“Iya, Shas, Cuma rasanya malas banget kalau sampai ketemu sama Mas Aksa. Kok bisa sih dia nyari EO yang udah punya kontrak sama kita, Shas?”
“Ya mana Shasy tahu, Bu Kay. Sekarang gampang banget lah, iklan udah dimana-mana kan?”
“Bisa kebetulan gitu ya.”
“Emangnya Pak Aksa masi ngejar-ngejar Bu Kay?”
“Masih, Shas, makanya niatnya kan mau menghindar. Eh malah ini acaranya dia. Moga aja besok nggak ketemu sama dia.”
“Ya kemungkinan besar sih bakalan ketemu lah, Bu, ini acaranya Pak Aksa, ditempatnya pula. Masa iya sih dia nggak disana pas persiapan.”
“Bisa juga kan dia lagi ada kerjaan di luar, atau lagi persiapan yang lain. Moga-moga aja dia nggak tahu kalo bunganya dari kita.”
“Aamiin, semoga kekhawatiran Bu Kay tidak terjadi.”
“Besok kalau bisa kita buru-buru aja ya disana, biar nggak ketemu sama Mas Aksa.”
“Ya tergantung nanti gimananya, Bu. Ada yang kurang atau nggak, kalau permintaan mereka udah cukup ya kita bisa cepat-cepat pulang.”
“Nggak lah, jangan sampai ada yang kurang besok. Pokoknya kita bikin yang sesempurna mungkin, Shas. Habis ini kamu cek stok bunga kita ya, catat apa aja yang belum ada. Terus kamu telepon Rengganis minta siapin bunga.”
“Oke, Bu Kay. Untung kita dulu dapat suplier Rengganis ya, coba kalau yang lain, pasti udah mahal banget.”
“Iya, Shas. Itu juga berkat Mas Dion yang nyariin.”
“Jadi inget ya, Bu?”
“Hm, aku nggak bakalan lupa sama kebaikannya, Shas. Aku banyak hutang budi sama Mas Dion. Bisa
ada Red Flo ini juga karena dia. Dari awal merintis sampai sekarang udah banyak yàng mengenal Red Flo, semuanya karena Mas Dion. Dia orang baik, Shas. Belum pernah aku temui orang baik seperti dia. Shas, ku pikir tadinya bertemu dengan Mas Dion adalah anugerah, diberi perhatian olehnya adalah hal yang luar biasa."
"Kelihatan banget, Bu Kay kalau dia orang yang baik. Dengan Erland apalagi."
"Wah, kalau itu udah nggak diragukan lagi, Shas. Rasa sayangnya ke Erland mungkin bisa melebihi rasa sayangku."
"Pantas aja ya, Bu, Erland juga kelihatan sayang banget sama Pak Dion. Kadang kalau lihat kedekatan mereka, rasanya trenyuh campur bahagia. Hati mereka sepeti udah saling klik, kayak anak dan papanya. Mungkin kalau orang yang nggak kenal lihat mereka dikira ya anak dab papanya lho, Bu Kay."
"Iya, Shas, itu yang bikin berat untuk aku memilih pergi dan memberi jarak pada mereka. Apalagi Erland yang belum mengerti apa-apa, yang dia tahu Mas Dion adalah seseorang yang akan selalu ada buat dia."
"Sampai sekarang Erland masih sering nanyain Pak Dion ya, Bu Kay?"
"Hampir setiap hari tanya, Shas. Aku kadang sampai bingung cari alasan. Padahal Erland sering banget bilang keinginannya ke kami."
"Apa itu, Bu Kay?"
"Dia pengen banget Mas Dion jadi papanya."
"Erland bilang kayak gitu, Bu?"
"Iya, Shas, dan itu di depan kami."
"Itu setelah Pak Dion mengungkapkan perasaannya ke Bu Kay atau baru-baru ini?"
"Jauh sebelum itu, Shas. Karena Erland bisa merasakan kasih sayang Mas Dion yang udah seperti Mas Julio dulu. Mereka berdua sama-sama memanjakan Erland, Shas. Selama ini Mas Dion nggak pernah bisa menolak apa pun yang Erland mau. Semua yang Erland bilang pasti diturutin."
"Erland paham banget ya, Bu, mana yang tulus sayang sama dia."
"Iya, Shas, kalau ingat perhatian dan kasih sayang Mas Dion rasanya sakit sendiri. Harapan kami sudah sangat besar dengannya karena aku percaya dia bisa menjadi sosok pengganti Mas Julio di hati Erland. Aku percaya dia punya cinta yang sama seperti Mas Julio, meski caranya berbeda."